Menu

Faktor Risiko Pada Penyakit Jantung Koroner

Monday, August 12, 2019

Faktor Risiko Pada Penyakit Jantung Koroner. Gangguan pada pembuluh darah koroner atau yang lebih dikenal dengan aterosklerosis yang menyebabkan saluran pembuluh darah koroner menyempit. Inilah yang merupakan penyebab penyakit jantung, sehingga disebut penyakit jantung koroner. Proses aterosklerosis tidak hanya berganung pada meningkatnya kadar kolesterol saja, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor resiko seperti merokok, diabetes melitus, kegemukan (obesitas) dan kurang berolahraga. 
Faktor Risiko Pada Penyakit Jantung Koroner

Berbagai keadaan atau kelainan yang dapat mempercepat terejadinya penyakit jantung koroner disebut faktor risiko. Berbagai macam faktor risiko yang ada bisa dikelompokan dalam dua bagian, yaitu ; 

Faktor Risiko yang Bisa Diubah

Sebagai salah satu pencegahan, maka faktor risiko yang bisa diubahlah yang perlu mendapat perhatian. Yang termasuk faktor risiko yang bisa diubah, antara lain :
  1. Dislipidemia
  2. Hipertensi
  3. Mmerokok
  4. Diabetes mellitus
  5. Diet lemak jenuh dan kolesterol
  6. Inaktivitas fisik
  7. Stres psikososial
  8. Kepribadian tipe A


Faktor Risiko yang Tidak Bisa Diubah

Yang termasuk faktor risiko yang tidak bisa diubah, antara lain :
  1. Usia
  2. Jenis kelamin laki-laki
  3. Riwayat penyakit jantung dalam keluarga. 

Dislipidemia 

Akibat meningkatnya beban kerja jantung dan hipertrofi maka kebutuhan jantung akan darah (oksigen) meningkat, terjadilah iskemia. Dislipidemia mengandung salah satu atau lebih pengertian berikut : hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia, hiper LDL-emia, hippo-HDL-emia, dan rasio kolesterol total/HDL lebih dari 4,5.

Hipertensi

Hipertensi disertai kadar kolesterol darah yang tinggi (hiperkolesterolemia) insiden penyakit jantung koroner meningkat 16 kali lipat. Batasan hipertensi adalah tekanan darah sistolik 160 mmHg atau lebih dan atau tekanan darah diastolik 95 mmHg atau lebih.

Peningkatan tekanan darah sistemik ini akan meningkatkan tahanan ejeksi darah dari bilik jantung kiri, sebagai kompensasi untuk meningkatkan kekuatan kontraksi, maka akan terjadi penebalan bilik jantung (hipertensi ventrikel).

Merokok

Perokok dibedakan menjadi beberapa kategori, yaitu :
  1. Perokok ringan 1-9 batang/hari;
  2. Perokok sedang 10-19 batang/hari;
  3. Perokok berat 20 babtang atau lebih perhari

Studi Framminghan dalam penelitiannya selama 26 tahun menyatakan bahwa laki-laki setengah umur yang perokok, risiko terkena penyakit jantung koroner meningkat 4x lipat dan risiko mati mendadak bahkan mencapai 10x lipat pada pria dan 5x lipat pada wanita. 

Pengaruh rokok antara lain mempercapat terjadinya aterosklerosis dan trombosis, penurunan kolesterol HDL, peningkatan kadar fibrinogen dan jumlah sel darah putih, dan juga mengurangi kontraktilitas otot jantung. 

Diabetes Mellitus

Para penderita diabetes mellitus (kencing manis) menanggung risiko menderita infark miokard akut 2 kali lebih besar dari pada mereka yang non-diabetik. Prosesnya adalah diabetes mellitus menyebabkan hiperlipidemia sekunder dan yang terpenting adalah jaringan mikroangiopati. 

Diet Lemak Jenuh dan Kolesterol

Risiko aterosklerosis sejalan dengan peninggian kadar kolesterol lipoprotein densitas rendah (LDL=Low Density Lipoprotein) dan sebaliknya kolesterol lipoprotein densitas tinggi (HDL= High Density Lipoprotein). Justru sebagai proteksi secara kimiawi bisa dijelaskan, LDL bertugas membawa kolesterol dari hati ke jaringan perifer yang di dalamnya terdapat reseptor-reseptor yang akan menangkapnya (termasuk pembuluh darah koroner), untuk keperluan metabolisme jaringan. Kolesterol yang berlebihan akan diangkut kembali ke hati oleh HDL, untuk dideposit. 

Jadi, apabila LDL dan kolesterol meningkat serta HDL menurun, maka akan terjadi penimbunan kolesterol di jaringan perifer termasuk pembuluh darah koroner, sehingga terjadi aterosklerosis. Oleh karena itu tetaplah kiranya dikatakan makanan-makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol juga akan meningkatkan risiko terkena penyakit jantung koroner. 

Inaktivitas Fisik

Korelasi antara inaktivitas fisik (kurang atau tidak berolahraga) dan meningkatnya insiden penyakit jantung koroner telah banyak diteliti. Sejumlah studi mengatakan insiden penyakit jantung koroner hampir 2x lipat lebih banyak pada pria yang kurang melakukan aktivitas fisik dibanding dengan mereka yang secara teratur berolahraga. 

Manfaat utama latihan terutama untuk mengurangi kebutuhan oksigen miokard untuk suatu beban kerja submaksimal yang berarti meningkatkatkan kapasitas fungsional. Latihan fisik secara konsisten meninggikan kadar kolesterol HDL dan menurunkan kadar kolesterol LDL.

Sejumlah studi juga melaporkan dampak positif latihan dalam mengendalikan faktor risiko lainnya, seperti dislipidemia, merokok, diabetes mellitus, stres psikososial, dan hipertensi.

Stres Psikososial

Status psikologis juga meningkatkan, menambah rasa percaya diri, kestabilan emosi, mengurangi depresi, dan ketakutan. Dampak dari stres dapat menimbulkan gangguan irama jantung yang fatalm gangguan aliran darah koroner secara langsung maupun tidak langsung sebagai akibat spasme pembuluh darah koroner (oleh karena stres merangsang pelepasan katekolamin)

Stres juga erat kaitannya dengan faktor risiko lainnya, seperti hipertensi, dislipidemia dan merokok. 

Kepribadian Tipe A
Yang dimaksud dengna kepribadian tipe A adalah perilaku tertentu yang ditandai dengan adanya kecenderungan bersifat ambisius, agresif, kompetitif, tidak sabar, pemarah mudah tersinggung, tegang, sikap bermusuhan, gaya bicara cepat dan tepat. Kepribadian tipe A hampir 2,5 kali lebih mudah terkena penyakit jantung koroner daripada tipe B (lawan tipe A).

Sebenarnya masih ada satu lagi faktor risiko yang termasuk faktor risiko yang bisa diubah, yaitu obesitas atau kegemukan. Namun, obesitas sebagai salah satu faktor risiko koroner yang berdiri sendiri masih banyak diperdebatkan. 

Obesitas ternyata lebih banyak berkaitan dengan faktor risiko lainnya, seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan dislipidemia. Cara mengukur tingkat kegemukan dengan menghitung berat badan relatif. 

Berat badan relatif = Berat Badan (Kg)/ (Tinggi Badan-100 (cm))x 100%

Usia

Usia masih merupakan prediktor kuat terjadinya penyakit jantung koroner, meskipun tidak jelas kerentanan terhadap aterosklerosis dengan bertambahnya usia.

Jenis Kelamin Pria

Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian utama pada laki-laki usia 35-44 tahun, dan 40% kematian laki-laki pada usia 55-65 tahun diakibatkan oleh penyakit jantung koroner. Predominasi laki-laki pada penyakit jantung koroner sangat jelas angka kejadian penyakit jantung koroner pada wanita sebelum menopouse biasanya 10-20 tahun lebih lambat daripada laki-laki.

Tetapi tidak demikian dengan wanita yang sudah menopouse, yang mana kepekaannya hampir sama dengan laki-laki. Laki-laki yang berusia kurang dari 60 tahun dengan riwayat serangan jantung dalam keluarga, risiko terkena penyakit jantung koroner meningkat 5 kali. 

Riwayat Penyakit Jantung dalam Keluarga

Insiden Infark miokard  pada kakak beradik berhubungan secara bermakna walaupun faktor lain, seperti hipertensi, dislipidemia, dan merokok telah disingkirkan (berdasarkan studi Framingham). 

Sumber :
  1. Sitorus, R.H. (2006). Tiga Jenis Penyakit Pembuluh Utama Manusia. Yrama Widya : Bandung. 

PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.




Contact Form

Name

Email *

Message *

Info Lainnya