Menu
  • Info Lab Medik
  • Info Lab Medik

Info Lowongan Pekerjaan

Tokoh

Download

Selamat Datang

Selamat datang di Info Laboratorium Medik, situs berisi informasi seputar dunia TLM (Teknologi Laboratorium Medik) seperti Acara Seminar/Workshop, Materi Kuliah, Lowongan Pekerjaan, dan Berita terbaru seputar dunia Laboratorium Klinik.
Akreditasi Puskesmas dan Pemeriksaan Laboratorium PuskesmasAkreditasi adalah proses perbaikan mutu dan kinerja secara berkesinambungan. Akreditasi adalan kebutuhan untuk mensinergikan ide-ide menjadi lebih baik, membangun system yang kokoh dan berakar serta berkarakter, fokus pada pengguna pelayanan dalam upaya menjamin keselamatan pengguna jasa, melakukan inovasi dan kreatifitas, pembuktian bahwa kamilah yang terbaik dalam kinerja, mutu dan kepuasan, melakukan revolusi mental di bidang kesehatan dan wahana kebanggan untuk puskesmas.[1]
Akreditasi Puskesmas dan Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas

Pelaksanaan Akreditasi Puskesmas sudah direncanakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sejak tahun 2015 dan pada tahun 2019 semua puskesmas di Indonesia wajib terakreditasi. Dengan demikian kita sebagai insan kesehatan terutama yang berkerja di puskesmas, setuju tidak setuju, suka tidak suka dengan akreditasi puskesmas namun harus kita ikuti.

Standar Akreditasi Puskesmas:

Standar Akreditasi Puskesmas terdiri dari 3 (Tiga) Kelompok kerja (POKJA) dan masing-masing pokja terdiri dari 3 (Tiga) BAB: 
I. Pokja Administrasi dan Manajemen (Admen), terdiri dari: 
1. Bab I. Penyelenggaraan Pelayanan Puskesmas (PPP) 
2. Bab II. Kepemimpinan dan Manajemen Puskesmas(KMP) 
3. Bab III. Peningkatan Mutu Puskesmas (PMP) 

II. Pokja Upaya Kesehatan Masyarakat 
1. Bab IV. UKM yang Berorientasi Sasaran (UKMBS) 
2. Bab V. Kepemimpinan dan Manajemen UKM (KMUKM) 
3. Bab VI. Sasaran Kinerja UKM (SKUKM) 

III. Pokja Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) 
1. Bab VII. Layanan Klinis yang Berorientasi Pasien (LKBP) 
2. Bab VIII. Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK) 
3. Bab IX. Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien (PMKP)


Dasar Hukum Akreditasi Puskesmas
  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 54 ayat (1) menyatakan bahwa penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara bertanggungjawab, aman, bermutu serta merata dan non diskriminatif.
  2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, Pasal 49 bahwa setiap dokter/dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran atau kedokteran gigi wajib menyelenggarakan kendali mutu. 
  3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 193; Pelayanan kesehatan kepada Peserta Jaminan Kesehatan harus memperhatikan mutu pelayanan, berorientasi pada aspek keamanan pasien, efektivitas tindakan, kesesuaian dengan kebutuhan pasien, serta efisiensi biaya. 
  4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas; 
  5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2015 tentang Akreditasi, Klinik Pratama, Tempat Praktik Mandiri Dokter, dan Tempat Praktik Mandiri Dokter Gigi;


Apa Manfaat Akreditasi Puskesmas?

Inilah manfaat akreditasi puskesmas: 
  1.  Memberikan keunggulan kompetitif 
  2. Memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap fasyankes 
  3. Menjamin diselenggarakannya pelayanan kesehatan primer kepada pasien dan masyarakat. 
  4. Meningkatkan pendidikan pada staf Fasyankes primer untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat 
  5. Meningkatkan pengelolaan risiko baik pada pelayanan pasien baik di Puskesmas maupun fasyankes primer lainnya, dan penyelenggaraan upaya Puskesmas kepada masyarakat 
  6. Membangun dan meningkatkan kerja tim antar staf fasyankes primer 
  7. Meningkatkan reliabilitas dalam pelayanan, ketertiban pendokumentasian, dan konsistensi dalam bekerja
  8. Meningkatkan keamanan dalam bekerja.


Laboratorium Puskesmas

Laboratorium Puskesmas adalah sarana pelayanan kesehatan di Puskesmas yang melaksanakan pengukuran, penetapan, dan pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia untuk penentuan  jenis penyakit, penyebaran penyakit, kondisi kesehatan, atau faktor  yang dapat berpengaruh pada kesehatan perorangan dan masyarakat. 

Laboratorium Puskesmas diselenggarakan berdasarkan kondisi dan permasalahan kesehatan masyarakat setempat dengan tetap berprinsip pada pelayanan secara holistik, komprehensif, dan terpadu dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Setiap Laboratorium Puskesmas harus diselenggarakan secara baik dengan memenuhi kriteria ketenagaan, sarana, prasarana, perlengkapan dan peralatan, kegiatan pemeriksaan, kesehatan dan keselamatan kerja, dan mutu.

Untuk dapat melaksanakan fungsinya dan menyelenggarakan upaya wajib Puskesmas, dibutuhkan sumber daya manusia yang mencukupi baik  jumlah maupun mutunya. Pola ketenagaan minimal harus dimiliki oleh Puskesmas, Puskesmas Dengan Tempat Perawatan (PDTP), dan Puskesmas di Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan terluar (PDTPK).

Jenis, kualifikasi dan Jumlah Tenaga Laboratorium Puskesmas dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Jenis, kualifikasi dan jumlah tenaga laboratorium di Puskesmas

Ketentuan lainnya: 
  1. Penambahan tenaga pelaksana tergantung dari beban kerja laboratorium. 
  2. Penanggung jawab Laboratorium Puskesmas adalah dokter Puskesmas/kepala Puskesmas. 
  3. Tenaga teknis dianjurkan jangan merangkap tugas lain. 
  4. Setiap petugas laboratorium harus mempunyai uraian tugas yang tertulis dan diketahui oleh kepala Puskesmas.

Penanggung Jawab Laboratorium Puskesmas 

Penanggung jawab Laboratorium Puskesmas mempunyai tugas dan tanggung jawab:
  1. Menyusun rencana kerja dan kebijakan teknis laboratorium;
  2. Bertanggung jawab terhadap mutu laboratorium, validasi hasil pemeriksaan laboratorium, mengatasi masalah yang timbul dalam pelayanan laboratorium;
  3. Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan evaluasi kegiatan laboratorium;
  4. Merencanakan dan mengawasi kegiatan pemantapan mutu

Tenaga Teknis

Tenaga teknis Laboratorium Puskesmas mempunyai tugas dan tanggung jawab:

  1. Melaksanakan kegiatan teknis operasional laboratorium sesuai kompetensi dan kewenangan berdasarkan pedoman pelayanan dan standar prosedur operasional;  
  2. Melaksanakan kegiatan mutu laboratorium;  
  3. Melaksanakan kegiatan pencatatan dan pelaporan;  
  4. Melaksanakan kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja laboratorium;  
  5. Melakukan konsultasi dengan penanggung jawab laboratorium atau tenaga kesehatan lain; 
  6. Menyiapkan bahan rujukan spesimen.

Tenaga Non 

Teknis  Tenaga non teknis Laboratorium Puskesmas mempunyai tugas dan tanggung jawab: 
  1. Membantu tenaga teknis dalam menyiapkan alat dan bahan;  
  2. Membantu tenaga teknis dalam menyiapkan pasien;  
  3. Membantu administrasi.

Sumber :
  1. Syncore. (2019). 9 Bab Standar Akreditasi Puskesmas. [Online]. Tersedia ; http://www.syncore.co.id/id/9-bab-standar-akreditasi-puskesmas. (22 Juli 2019)
  2. Permenkes No. 37 Thn 2012. Tentang Penyelenggaraan Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat 
PENTING Terimakasih sudah berkunjung ke website Kami. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya. Kerjasama media pubhlikasi, kirim e mail ke : laboratorium.medik@gmail.com.
Baca juga :
Selengkapnya
7:05 AM
Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) Cara Wintrobe. Laju endap darah (LED) adalah mengukur kecepatan sendimentasi sel eritrosit di dalam plasma. Satuannya mm/jam. Hasil pemeriksaan LED dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode westergren dan metode wintrobe. Kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. 
Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) Cara Wintrobe

Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. Kenyataan inilah yang menyebabkan para klinisi lebih menyukai metode Westergren daribada metode Wintrobe. Selain itu, International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergren.

Pre Exam Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) Cara Wintrobe

Persiapan Penderita: tidak memerlukan persiapan khusus
Persiapan sampel: Darah EDTA
Prinsip: mengukur kecepatan sendimentasi sel eritrosit di dalam plasma. Satuannya mm/jam.
Alat dan bahan: 
     a. Tabung Wintrobe  
     b. Pipet Kapiler

Exam Laju Endap Darah (LED) Cara Wintrobe

  1. Campur isi spesimen baik-baik supaya homogen
  2. Isilah tabung Wintrobe dengan pipet kapiler sampai tanda 0
  3. Letakkan tabung pada rak dengan posisi tepat tegak lurus
  4. Biarkan selama 1 jam. Setelah tepat 1 jam, catatlah penurunan eritrosit dalam mm/jam
Tabung Westergren Cara Wintrobe
Tabung Westergren Cara Wintrobe

Post Exam Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) Cara Wintrobe

Nilai rujukan :
- Laki-laki : 0– 20 mm/jam
- Perempuan: 0– 15 mm/jam

Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium

  • Faktor yang meningkatkan LED - Kehamilan (trimester kedua dan ketiga); menstruasi; obat (Lihat Pengaruh Obat); keberadaan kolesterol, fibrinogen, dan globulin.
  • Faktor yang mengunangi LED: bayi baru lahir (penurunan kadar fibrinogen); obat (lihat Pengaruh Obat); gula darah tinggi, albumin serum; dan fospolipid serum.
Sumber : 
Dapatkan buku "Pedoman Teknik Pemeriksaan Laboratorium Klinik Untuk Mahasiswa Ahli Teknologi Laboratorium Medik". Disusun oleh Gilang Nugraha, S.Si., M.Si, dkk. Pembelian Buku / Order via WA https://wa.me/6285862486502. Info selengkapnya tentang buku bisa dilihat disini : JUAL BUKU "Pedoman Teknik Pemeriksaan Laboratorium Klinik Untuk Mahasiswa Ahli Teknologi Laboratorium Medik" torium Medik"
PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.
Selengkapnya
7:44 AM
Pneumocystis Pneumonia (PCP) di Penderita HIV dan AIDS dengan Kelainan ParuPneumocystis pneumonia (PCP) atau pneumocystosis adalah satu jenis pneumonia yang disebabkan oleh  neumocystis jerovecii, jenis tersebut merupakan penyakit yang hanya terjadi di manusia. Pneumocystis umumnya ditemukan di paru orang sehat, tetapi dapat menjadi sumber infeksi oportunistik sebagai penyebab infeksi paru di individu yang mengalami penurunan kekebalan (immunocompromissed), terutama di penderita HIV dan AIDS.[1–4] Pada awal wabah penyakit AIDS, PCP merupakan penyakit ikutan yang terjadi di 67% penderita HIV dan AIDS di Amerika, bahkan sebelum dikembangkan pengobatan yang tepat guna, PCP menjadi penyebab utama kematian penderita HIV dan AIDS.[5] Meskipun terjadi penurunan kejadian PCP sesudah pemberian pengobatan anti virus HAART, tetapi PCP masih tetap menjadi penyebab paling parah di penderita HIV dan AIDS.1 Lebih dari 90% kasus PCP terjadi di penderita HIV dan AIDS dengan jumlah CD4 kurang dari 200 sel/μL.[5]
Pneumocystis Pneumonia (PCP) di Penderita HIV dan AIDS dengan Kelainan Paru

Saat ini kasus HIV dan AIDS di Indonesia merupakan masalah utama di bidang kesehatan. Angka kejadian penderita AIDS terus meningkat seiring dengan peningkatan angka kematiannya. Kematian penderita AIDS pada umumnya disebabkan oleh komplikasi infeksi yang terjadi oportunistik.[6] Sejak pertama terjadi wabah penyakit HIV di dunia, infeksi oportunistik sudah dikenal sebagai komplikasi klinik yang menyebabkan peningkatan angka kematian penderita yang terinfeksi HIV.[7,8] PCP dan tuberculosis sering terjadi di penderita HIV dan AIDS.[9,10] tetapi sampai saat ini kelainan paru yang terjadi di penderita HIV dan AIDS umumnya diduga karena tuberculosis, sehingga pemeriksaan mikroskopis hanya ditujukan pada pemeriksaan tuberculosis. Sementara itu pemeriksaan mikroskopis untuk menetapkan diagnosis PCP belum pernah dilakukan. Sampai saat ini diagnosis PCP yang dilakukan baru bersifat dugaan berdasarkan gejala dan keluhan.

Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan tropis dengan kelembapan tinggi merupakan tempat yang subur bagi pertumbuhan jamur termasuk Pneumocystis, sehingga kewaspadaan terhadap kemungkinan PCP di penderita HIV dan AIDS dengan kelainan paru perlu dikedepankan. 

Salah satu faktor penyebab tingkat kematian penderita HIV dan AIDS yang tinggi adalah penatalaksanaan penderita yang masih kurang tepat, karena tidak tepat dalam mendiagnosis infeksi oportunistik tersebut.6 Diagnosis kejadian infeksi oportunistik di penderita HIV dan AIDS akan menjadi pedoman pemberian obat yang tepat dan teliti. Diagnosis PCP sulit dilakukan karena gejala dan tanda yang tidak khas, karena penggunaan obat pencegah seperti yang terjadi di penderita HIV dan AIDS, atau karena terjadi infeksi berbagai organisme secara bersamaan di individu yang mengalami penurunan kekebalan tubuh.[11] Cara menyelesaikan agar tidak terjadi kesalahan penatalaksanaan penderita HIV dan AIDS yang berkelainan paru, perlu diperiksa secara mikroskopis Pneumocystis menggunakan sampel cairan sekresi saluran napas atau jaringan paru, mengingat Pneumocystis tidak dapat dibiakkan (cultur).[11] Pemeriksaan dapat dilakukan dengan berbagai tehnik pengecatan, baik dengan pengecatan perak GMS (Gomori Methenamine Silver) yang merupakan bakuan, maupun dengan pengecatan: immunofluorescence, Toluidin Blue, Periodic Acid Schiff (PAS), atau Giemsa.[11,12] 

Hasil telitian ini diharapkan dapat menjadi bukti keberadaan Pneumocystis dan bersamaan dengan itu dapat diketahui seberapa besar jumlah kasus PCP di penderita HIV dan AIDS, serta dapat menjadi penentu langkah dalam penatalaksanaan PCP di penderita sejenis berikutnya, berikut upaya pencegahan penyebaran PCP dari dan ke penderita tersebut lainnya.

METODE

Sampel dahak

Sampel dahak yang digunakan merupakan sisa periksaan penderita HIV dan AIDS dengan keluhan paru yang sedang menjalani rawat inap di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Awalnya sisa sampel dahak ini akan dimanfaatkan sebagai bahan praktikum mahasiswa Program Studi D3 Analis Medis Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Sisa sampel dahak yang akan diperiksa masih berada dalam tempat semula, tetapi tanda pengenalnya dilepas sehingga tidak lagi diketahui jati diri penderita dan tanda tersebut diganti dengan memberi nomor sampel, serta diberi larutan pengawet formalin 10%.

Pengecatan Giemsa

Sampel dahak dibuat sediaan di gelas benda, dan dibiarkan kering pada suhu kamar. Setelah kering, dilekatkan dengan methanol, kemudian dicat dengan pengecatan Giemsa. Pemeriksaan dilakukan secara mikroskopis dengan pembesaran 640×. Hasil periksaan dinyatakan Pneumocystis positif bila secara mikroskopis ditemukan bentukan bulat sampai lonjong, baik dalam tahap trofis yang mempunyai berbagai bentuk (pleomorphic) berukuran antara 1–5 mm dengan inti seperti titik (dot) dan sitoplasma berwarna biru pucat, maupun tahap spora berbentuk bulat, berukuran antara 5–8 mm, sitoplasma berwarna pucat, di dalamnya tampak paling banyak delapan (8) butir bentukan yang awalnya disebut spororozoit. Dapat juga ditemukan bentuk praspora, berbentuk lonjong, berdiameter antara 4–7 mm tanpa bentukan di dalamnya tetapi mungkin terdapat inti berjumlah satu atau lebih.[12,13] Pembacaan hasil dimintakan saran dari sejawat yang mengampu mata kuliah Mikologi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari bulan Agustus sampai bulan Oktober 2012 berhasil dikumpulkan 18 sampel dahak sisa periksaan penderita HIV dan AIDS yang sedang menjalani rawat inap di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Dengan cara mengecat  Giemsa, enam sampel dahak diketahui positif Pneumocystis (33,33%). 
Gambaran Mikroskopis dahak penderita hiv aids

Pneumocystis jerovecii sebagai penyebab PCP, awalnya dinamai Pneumocystis carinii dan digolongkan ke dalam jenis protozoa, ternyata setelah dianalisis, DNA lebih cenderung dimasukkan ke arah kelompok jamur.[5,11]  Pneumocystis jerovecii memiliki bentuk trofis  (awalnya disebut trofosoit) berdinding tipis, berukuran 1–5 μm, dengan satu inti yang menyerupai titik, dan bentuk spora (awalnya disebut kista) berdinding tebal, berukuran 5–8 μm, dan di dalam sitoplasmanya terdapat paling banyak delapan (8) butir bentukan (awalnya disebut sporozoit). Cara menyebar Pneumocystis belum jelas, tetapi diperkirakan secara dihirup (per inhalasi) dan menyerang epitel mukosa saluran pernapasan, tetapi hanya menempel di permukaannya dan tidak menembus epitel inang. Demikian pula perbanyakan diri terjadi di permukaan epitel mukosa saluran pernapasan.[12]
Gambaran Mikroskopis dahak encer penderita hiv aids.png

Diagnosis PCP dapat ditetapkan berdasarkan diagnosis pradugaan seperti yang dikemukakan oleh CDC. Diduga PCP bila terdapat gejala dan tanda yang meliputi sesak napas saat aktifitas atau batuk non produktif dalam kurun waktu tiga (3) bulan terakhir, foto dada menunjukkan gambaran infiltrat difus bilateral, hasil periksaan analisis gas darah pO2 <70 mmHg atau kemampuan pertukaran gas rendah, dan tidak ada bukti pneumonia bakterialis.13 Namun, seringkali gejala dan tanda PCP tidak jelas sehingga perlu penetapan diagnosis (diagnosis definitif) melalui pemeriksaan mikroskopis Pneumocystis  dengan menggunakan sampel cairan sekresi saluran napas yang terinfeksi baik berupa dahak, bahan hisapan terkait bronchial (aspirat bronchial), Bronchial Alveolar Lavage (BAL) atau sampel jaringan paru.

Dibandingkan dengan sampel yang lain, sampel dahak didapat tanpa tindakan yang menyakitkan,[11] dan dipilihnya pengecatan Giemsa di penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa bahan tersebut mudah didapat serta karena keseharian banyak digunakan untuk berbagai pemeriksaan. Di samping itu harganya relatif paling murah, dan tahapan kerja paling ringkas dan sederhana.

Pneumocystis jerovecii merupakan organisme satu sel yang di awalnya digolongkan ke dalam protozoa, tetapi setelah hasil telitian analisis DNA lebih cenderung bersifat sebagai jamur. Pneumocystis berbentuk bulat sampai lonjong, mempunyai dua tahapan, yaitu trofis dan spora. Tahapan trofis yang mempunyai berbagai bentuk, berukuran antara 1−5 mm, berdinding tipis, dan di dalam sitoplasmanya terdapat satu inti yang menyerupai titik.[13] Dengan pengecatan Giemsa di sampel dahak yang menjadi encer akibat penambahan bahan pengawet formalin dinding sel masih tampak jelas dan sitoplasma tercat biru muda (Gambar 2). Sedangkan yang di sampel dahak yang kental dinding tidak tercat, demikian pula sitoplasmanya dan tampak pucat, yang terlihat hanya inti (Gambar 1). Tahap spora berbentuk bulat, berukuran antara 5−8 μm, berdinding tebal dan di dalam sitoplasmanya terdapat paling banyak delapan (8) butir bentukan yang awalnya disebut sporozoit.[13] Dengan pengecatan Giemsa di sampel dahak yang encer dinding spora tampak sebagai garis tipis, sedang yang berasal dari dahak yang kental dinding spora tidak tercat, sitoplasma pucat dan di dalamnya tampak tercat dengan bentukan yang awalnya disebut sporozoit (Gambar 3). Didasari gambaran mikroskopis dalam temuan ini menunjukkan bahwa kekentalan sampel dahak menjadi penghambat bagi penyebaran bahan cat menuju sel Pneumocystis.

Didasari hasil temuan ini terbukti bahwa di penderita HIV dan AIDS di Indonesia dapat terjadi infeksi yang oportunistik PCP disebabkan oleh jamur  Pneumocystis, dan jumlah pengidap PCP di penderita HIV dan AIDS yang sedang rawat inap di RSUD Dr. Soetomo Surabaya ditemukan sebesar 33,33%. Diduga bahwa hasil yang didapatkan akan lebih besar bila digunakan sampel BAL. Di Amerika Serikat angka kejadian PCP diperkirakan 9% di antara penderita HIV dan AIDS, dan 1% di antara penerima tindakan pemindahan organ (transplant) tertentu. Di antara penderita penurunan kekebalan yang mendapat pengobatan, PCP menyebabkan kematian penderita sekitar antara 5–40%, dan di penderita tanpa pengobatan angka kematian akibat PCP dapat mencapai 100%.3 Bukti keberadaan Pneumocystis memberikan peringatan bahwa pemeriksaan mikroskopis  Pneumocystis sangat mendesak agar segera diterapkan di penderita HIV dan AIDS dengan kelainan paru sebagai pemeriksaan yang rutin dan harus dilakukan di samping pemeriksaan mikroskopis  Mycobacterium tuberculose, sehingga dapat dilakukan pengobatan yang tepat dan teliti yang dapat menurunkan angka kematian penderita HIV dan AIDS akibat PCP. 

Jumlah pengidap PCP yang tinggi mendorong untuk segera dilakukan upaya pencegahan penyebaran infeksi Pneumocystis, karena sampai saat ini PCP belum dapat dicegah dengan jalan vaksinasi.3 Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian obat trimoxazole-sulfamethoxazole (TMX-SMX) atau pengunaan pentamidine hirup bagi kelompok individu yang berkebahayaan tinggi untuk berkembangnya PCP.[3,12] Upaya pencegahan ini disarankan untuk semua penderita terinfeksi HIV dengan jumlah CD4 kurang dari 350 sel/mL, termasuk: bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengidap penyakit tersebut, anak yang beriwayat pengidap PCP, dan individu yang mendapat tindakan pencangkokan sel punca (stem cell).

SIMPULAN DAN SARAN

Pemeriksaan mikroskopis dengan pengecatan Giemsa di sampel dahak penderita HIV dan AIDS dengan kelainan paru yang sedang menjalani rawat inap di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, terbukti ditemukan Pneumocystis jerovecii dan jumlah pengidap PCP di penderita tersebut adalah sebesar 33,33%.Pemeriksaan mikroskopis Pneumocystis harus segera diterapkan menjadi kegiatan rutin bagi penderita HIV dan AIDS dengan kelainan paru.Bahwa upaya pencegahan penyebaran PCP dari dan ke penderita HIV dan AIDS harus direncanakan untuk segera dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA  
  1. Morris A, Lungdgren JD, Masur H, Walzer PD et al. Current Epidemiology of Pneumocystis Pneumoia. Emerging Infection Diseases, 2004; 10(10 Oktober): 1713–20. 
  2. Stringer JR, Beand CB, Miller RF, Wakefield AE. A new name (Pneumocystis jirovecii) for Pneumocystis from humans, Emerging Infectious Dis, 2002; 8 (9): 891–96.  
  3. CDC and Prevention. Pneumocystis Pneumonia. http://www.cdc.gov/fungal/pneumocystis-pneumonia/html, Diakses tanggal 19 Agustus 2013.  
  4. AIDS Education and Training Centers. Guide for HIV/AIDS Clinical care, 2012 http://www.aidsetc.org/aidsetc?. Diakses tanggal 19 Agustus 2012  
  5. Manoloff ES, Francioli P, Taffe P, Melle van G, et al. Risk for Pneumocystic carinii Transmission among Patients with Pneumonia: a Molecular Epidemiology Study, Centers for Disease Control and Prevention, 2003; 9(1, January): 1–6.   
  6. Nasronudin. HIV&AIDS, Pendekatan Biologi Molekuler, Klinis, dan Sosial, Surabaya, Airlangga University Press, 2007; 115–117. 
  7. Satheesh KS, Laksmi AS. Intestinal Parasitic Infection in HIV Infected Patients with Diarrhoea in Chennai, Indian Journal of Medical Microbiology, 2005; 20(2): 88–91.
  8. Lew EA, Poles MA, Dieterich DT. Diarrheal Diseases Associated with HIV Infection, Gastroenterology Clinica of North America, 1997; 26(2): 259–90. 
  9. WHO. Distinguishing Other HIV-related Pulmonary Diseases from Pulmonary TB. In: TB/HIV, WHO, Geneva, 2004; 56–60.
  10. Oosterhout JJG, Laufer MK, Perez MA, Graham SM, et al. Pneumocystis Pneumonia in HIV-positive Adults, Malawi, Emerging Infectious Diseases, 2007; 13(2, February): 325–28.
  11. Thomas CF Jr, Limper AH. Medical Progress Pneumocystis pneumonia, The New England Journal of Medicine, 2004; 350 (24, June): 2487–94. 
  12. Hughes WT, Pneumocystis carinii. http://www.pathobio.sdu.edu.cn/sdjsc/engparabook/ch085.html, Diakses tanggal 19 Agustus 2012 13.  CDC. Pneumocystic jerovecii infections-Microscopy Findings. http://dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/Frames/M-R/Pneumocystis/body_Pn. Diakses tanggal 19 Agustus 2012

Sumber : Majalah Patologi Klinik Indonesia dan Laboratorium Medik. vol. 20, No. 1 November 2013 

PENTING Terimakasih sudah berkunjung ke website Kami. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya. Kerjasama media pubhlikasi, kirim e mail ke : laboratorium.medik@gmail.com.
Baca juga :
Selengkapnya
7:47 AM
Evaluasi Sediaan Apus Darah Tepi Pada Pemeriksaan Leukemia. Pemeriksaan Apusan Darah Tepi merupakan bagian yang penting dalam rangkaian pemeriksaan hematologi. Tujuan pemeriksaan sediaan apus darah tepi adalah mencari kemungkinan penyakit (suspected disease) baik yang primer akibat kelainan hematologi maupun yang sekunder akibat penyakit sistemik lainnya. 

Evaluasi Sediaan Apus Darah Tepi Pada Pemeriksaan Leukemia
Evaluasi Sediaan Apus Darah Tepi Pada Pemeriksaan Leukemia

Sejumlah informasi dapat diperoleh dari pengamatan sediaan ini, yang juga menjadikan indikasi dari tes sediaan apus adalah untuk ;
  • Melihat morfologi dan distribusi sel-sel darah.
  • Melihat adanya prasit seperti malaria.
  • Menunjang pemastian bentuk anemia berdasarkan morfologi.
  • Mengecek hasil pemeriksaan darah rutin. 
  • Memeriksa hitung jenis leukosit yang pada prakteknya dilakukan bersamaan dengan evaluasi sediaan apus darah tepi. 

Persiapan pasien : Tidak memerlukan persiapan khusus. 
Persiapan sampel :
  • Darah kapiler segar akan memberikan morfologi dan hasil pewarnaan yang optimal pada sediaan apus. 
  • Darah EDTA. EDTA dapat dipakai karena tidak berpengaruh terhadap morfologi eritrosit dan leukosit serta mencegah trombosit bergumpal. Pengujian sebaiknya dilakukan dalam waktu kurang dari 2 jam. Tiap 1 mg EDTA digunakan untuk 1 ml darah vena. 

Prinsip Pemeriksaan Sediaan Apus Darah Tepi

Dibuat apusan darah pada kaca objek. Prinsip pewarnaan didasarkan pada sifat kimiawi dalam sel. Zat warna yang bersifat asam akan bereaksi dengan komponen sel yang sifatnya alkalis, demikian pula sebaliknya. Pewarnaan sediaan apus menggunakan prinsip Romanowsky yaitu menggunakan dua zat warna yang berbeda yang terdiri dari Azure B (trimethylthionin) yang bersifat basa dan Eosin Y (tetrabromofluorescein) yang bersifat asam seperti yang dianjurkan oleh The International Council for Standardization in Haematology, dan pewarnaan yang dianjurkan adalah Wright-Giemsa dan May Grunwald-Giemsa (MGG).

Baca disini ; Cara Kerja  dan Nilai Rujukan Pemeriksaan Sediaan Apus Darah Tepi

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Sediaan Apus Darah Tepi Pada Leukemia

LMA : Anemia normositik normokrom, kadang dijumpai normoblast dan diseritropoiesis. Dijumpai mieloblast dan promielosit dalam jumlah yang bervariasi serta penurunan jumlah netrofil. Adanya auer rod yang hanya terdapat dalam sitoplasma sel seri granulosit dapat membedakan LMA dengan LLA.

LLA : Anemia normositik normokrom, kadang dijumpai normoblast. Dijumpai limfoblast dengan jumlah dan morfologi yang bervariasi, netrofenia dan eosinofilia. 

LMK : Anemia normositik normokrom, kadang dijumpai normoblast. Dijumpai seluruh stadium maturasi dari seri granulosit dengan sel predominan granulosit matur dan metamielosit. Promielosit dan mieloblast tidak melebihi 10% pada fase kronik. Adanya eosinofilia dan basofilia merupakan karakteristik dari LMK.

LLK : Anemia normositik normokrom, mungkin dijumpai polikromasia. Sel leukemik berupa limfosit ukuran kecil-medium, dapat juga dijumpai limfosit besar. Umumnya dijumpai ruptur limfosit yang disebut sel basket atau smudge cells. 

Sumber : 
  • Hardjoeno. H, dkk. 2003. Interpretasi Hasil Tes Laboratorium Diagnostik bagian Dari Standar Pelayanan Medik. Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (LEPHAS) ; Makassar
Dapatkan buku "Pedoman Teknik Pemeriksaan Laboratorium Klinik Untuk Mahasiswa Ahli Teknologi Laboratorium Medik". Disusun oleh Gilang Nugraha, S.Si., M.Si, dkk. Pembelian Buku / Order via WA https://wa.me/6285862486502. Info selengkapnya tentang buku bisa dilihat disini : JUAL BUKU "Pedoman Teknik Pemeriksaan Laboratorium Klinik Untuk Mahasiswa Ahli Teknologi Laboratorium Medik" torium Medik"
PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.
Selengkapnya
6:36 AM
Menentukan Nilai Kritis Hasil Laboratorium Klinik. Nilai kritis adalah batasan nilai hasil pemeriksaan laboratorium, yang menunjukkan keadaan patologis di luar normal dan berpotensi membahayakan keselamatan jiwa bila tidak ditindaklanjuti dengan cepat.
Menentukan Nilai Kritis Hasil Laboratorium Klinik
Menentukan Nilai Kritis Hasil Laboratorium Klinik

Dengan adanya nilai kritiss dapat menjadi perhatian tersendiri karena terkait langsung dengan kepentingan pasien. Saat ini, hampir semua instansi baik RS  dan juga Laboratorium Klinik harus memiliki panduan Nilai Kritis. Setelah spesimen melewati tahap validasi hasil, dan petugas menemukan hasil pasien yang melewati batas Nilai Kritis maka petugas laboratorium akan menghubungi dokter pengirim sehingga dokter dapat melakukan tindakan secepatnya untuk keselamatan pasien tersebut. 

Bagaimana Menentukan Nilai Kritis

Dalam menentukan nilai kritis dapat dilakukan berdasarkan adopsi beberapa sumber literatur yang diakui dalam lingkup internasional, rekomendasi klinisi atau kesepakatan dari organisasi kesehatan baik nasional maupun internasional, juga studi internal dengan melakukan perbandingan antarlaboratorium.

Tentunya sebagai salah satu syarat akreditasi RS, baik itu SNARS atau JCI, bukti pelaksanaannya perlu disiapkan, yaitu daftar hadir rapat bersama klinisi dan notulensinya. Tidak lupa setiap pelaporan nilai kritis harus sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, yang tertuang dalam suatu SOP.

Prosedur Pelaporan Nilai Kritis

  1. Dipastikan tidak ada kesalahan pranalitik dan analitik
  2. Lapor ke dokter penanggung jawab laboratorium (SpPK)
  3. Pelaporan paling tepat langsung ke DPJP, bisa melalui telp atau WA
  4. Nilai kritis dilaporkan sesegera mungkin, batas maksimal antara 15-30 menit
  5. Didokumentasikan dalam suatu buku berisi tanggal, identitas pasien, RM, hasil nilai kritis, waktu keluar hasil, waktu pelaporan, nama pelapor, nama penerima laporan, paraf.
  6. Didokumentasikan di rekam medik, bisa berupa stempel nilai kritis yang berisi hasil nilai kritis, paraf penerima laporan, dan paraf pemberi laporan.

Manfaat Nilai Kritis 

Dengan menerapkan pelaporan nilai kritis maka instansi laboratorium (RS/Laboratorium klinik) dapat memberikan nilai tambah kepada klinisi sehingga klinisi dapat menetapkan diagnosis dan tindakan yang perlu segera dilakukan sesuai dengan hasil laboratorium. 

Jika dilihat manfaat dari sisi pasien, Nilai Kritis berkaitan langsung dengan penanganan lanjut pasien. Dengan mengetahui kondisi pasien jika berada dalam Nilai Kritis, maka dokter yang menangani pasien dapat langsung memberikan penanganan lanjutan dengan tepat, sehingga dapat mencegah kemungkinan terburuk yang dapat dialami pasien.erkaitan langsung dengan penanganan lanjut pasien. Dengan mengetahui kondisi pasien jika berada dalam Nilai Kritis, maka dokter yang menangani pasien dapat langsung memberikan penanganan lanjutan dengan tepat, sehingga dapat mencegah kemungkinan terburuk yang dapat dialami pasien.

Buka Disini : Contoh tabel nilai kritis dari (Genzen and Tormey, 2011)

Sumber :
Dapatkan buku "Pedoman Teknik Pemeriksaan Laboratorium Klinik Untuk Mahasiswa Ahli Teknologi Laboratorium Medik". Disusun oleh Gilang Nugraha, S.Si., M.Si, dkk. Pembelian Buku / Order via WA https://wa.me/6285862486502. Info selengkapnya tentang buku bisa dilihat disini : JUAL BUKU "Pedoman Teknik Pemeriksaan Laboratorium Klinik Untuk Mahasiswa Ahli Teknologi Laboratorium Medik" torium Medik"
PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.
Selengkapnya
7:38 AM

Contact Form

Name

Email *

Message *

Info Lainnya