Menu
  • Info Lab Medik
  • Info Lab Medik

Info Lowongan Pekerjaan

Tokoh

Download

Selamat Datang

Selamat datang di Info Laboratorium Medik, situs berisi informasi seputar dunia TLM (Teknologi Laboratorium Medik) seperti Acara Seminar/Workshop, Materi Kuliah, Lowongan Pekerjaan, dan Berita terbaru seputar dunia Laboratorium Klinik.
Tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyakit batu empedu ini masih sangat rendah. Tidak sedikit masyarakat beranggapan kelainan yang muncul akibat batu empedu sebagai sakit maag biasa karena gejalanya memang mirip. Baru setelah general check up masalah ini terungkap. 

Dikira Maag Ternyata Batu Empedu. Beberapa tahun terakhir, jumlah penderita batu empedu meningkat, karena adanya perubahan pola hidup, tingginya konsumsi lemak. Disamping itu terdapat perkembangan teknologi kedokteran untuk diagnosis batu empedu. Sehingga batu yang dahulu belum terdeteksi saat ini mulai terungkap. 

Dikira Maag Ternyata Batu Empedu

Menurut penelitian di Amerika 20 juta penduduk menderita batu kantong empedu dan 750 ribu kasus yang ditemukan harus melalui proses operasi yaitu dengan kolesistektomi (pengangkatan kantong empedu). 

Ada jargon populer terkait batu empedu yang menjadi faktor risiko penyakit tersebut, yakni 5F. Apa itu? female, fourty, fat, fertile, dan fancy alias perempuan, usia 40 tahun, gemuk dan memiliki banyak anak, dan suka makan yang enak-enak. Meski demikian, bukan berarti laki-laki tidak bakal terkena batu empedu. 

Disamping itu, masih ada faktor lain. Faktor risiko yang dimaksud antara lain dislipidemia, usia lanjut, dan faktor genetik. Dislipidemia sangat erat kaitannya dengan kadar kolesterol yang tinggi dalam darah. Oleh karenanya, terjadinya batu empedu terutama golongan batu kolesterol lebih mugkin terjadi pada mereka yang gemuk dan/atau menderita dislipidemia. Berdasarkan penelitian juga disebutkan bahwa wanita lebih beresiko 4 kali lipat terhadap terjadinya batu empedu dibandingkan laki-laki. 

Faktor risiko lain yaitu pemakaian obat-obatan hiperlipidemik (golongan fibrat), pemakaian kontrasepsi yang mengandung esterogen dalam jangka panjang, anemia hemolitik, serta pasien dengan kondisi khusus yang memberikan pemberian nutrisinya secara parenteral dalam waktu lama. Mengapa obat-obatan hiperlipidemik dapat meningkatkan risiko terjadinya batu empedu? Dikatakan oleh Dr. Andri, obat demikian akan mengeluarkan kolesterol yang tersimpan di hati ke kandung empedu. Lama kelamaan kandungan kolesterol dikandung empedu akan meningkat sehingga kemungkinan terjadinya batu empedu juga lebih besar. 

Sementara pada anemia hemolitik terjadi pemecahan hemoglobin yang berlebihan. Kondisi ini akan menyebabkan bilirubin sebagai hasil dari pemecahan hemoglobin menjadi sangat banyak di hati. Bilirubin tersebut selanjutnya akan masuk ke dalam kandung empedu, terjadi pemekatan dan akhirnya terbentuklah batu empedu jenis pigmen. 

Pada pasien dengan pemberian nutrisi pareteral yang lama juga dapat terjadi batu empedu. Hal ini disebabkan terjadinya hipomitilitas (melemahnya kontraksi) pada kandung empedu karena tidak ada makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan. Kondisi hipolotilitas ini akan menyebabkan pemekatan cairan empedu yang selanjutnya akan menyebabkan terjadinya batu empedu. 

Jenis Batu Empedu

Menurut Dr. Andri Saityoso Sulaiman, Sp.PD-KGEH dari Divisi Hepatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSUPN/CM-FKUI, terjadinya batu empedu dikaitkan dengan komposisi utama batu empedunya. Ada 3 jenis golongan batu empedu, yaitu batu kolesterol yang terbentuk dari kolesterol, batu pigmen/bilirubin yang dibentuk dari kalsium bilirubinat, serta campuran antara kolesterol dan pigmen. Batu kolesterol biasanya berasal dari metabolisme kolesterol di dalam hati. Karena sebagian kolesterol tersebut dialirkan ke kandung empedu, maka pada metabolisme kolesterol yang berlebihan akan memungkinkan terjadinya hipersaturasi dan akhirnya mudah terbentuk batu empedu. Apalagi jika memang terdapat penurunan motilitas (kontraksi) pada kandung empedu. 

Mirip Maag

Dr. Andri mengatakan, adanya batu empedu tidak dirasakan pada sebagian besar penderitanya. Maka dari itu, keadaan ini disebut juga dengan silent stone yang seringkali ditemukan pada pemeriksaan USG secara tidak sengaja. Ada juga yang mengeluhkan rasa kembung, mual, nyeri ulu hati, dimana gejalanya sangat mirip dengan dyspepsia atau maag. Namun sebagian orang yang mengeluhkannya ternyata memang menderita dyspepsia. 

Tidak adanya gejala ini disebabkan oleh batu yang masih berada di kandung empedu, yang belum menimbulkan peradangan maupun infeksi. Namun jika batu berpindah ke saluran empedunya, sangat mungkin akan menimbulkan gejala. Pada fase awal, nyeri dirasakan di ulu hati yang dapat bertahan hingga 60 menit. Kemudian perlahan-lahan nyeri menghilang dan tidak dirasakan sama sekali. Hal ini dapat berulang hingga beberapa kali sehingga pada sebagian orang akan menimbulkan gangguan dalam beraktivitas sehari-hari. 

Selanjutnya, jika sudah terjadi peradangan, penderitanya akan merasakan nyeri di perut kanan atas. Atau bisa juga penderitanya merasakan nyeri yang menjalar perut kanan atas. 

Jika batu empedu menyumbat muara yang semput disaluran empedu, maka penderitanya akan tampak kuning. Hal ini disebabkan  batu yang menyumbat akan menghambat cairan empedu yang seharusnya dialirkan ke usus halus. 

Pada pemeriksaan fisik didapatkan murphy's sign, yaitu rasa nyeri akan semakin bertambah ketika penderita menarik nafas dalam sambil dilakaukan penekanan pada perut kanan atas. Jika didapatkan murphy's sign positif, maka kemungkinan besar seseorang menderita batu empedu. Pada pemeriksaan darah juga didapatkan peningkatan sel darah putih (lekositosis). 

Cara paling mudah untuk mengetahui adanya batu dikandung empedu adalah dengan pemeriksaan USG. Dikatakan oleh Dr. Andri, pemeriksaan ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi yakni 75%. Jika ditemukan peradangan pada kandung empedu, maka tampak penebalan dan edema pada dindingnya. Pada kasus yang kronik, tampak dinding kandung empedu mengalami penabalan, tanpa edema. Sedangkan pada kasus silent stone, tidak ditemukan kelainan yang berarti pada struktur kandungan empedunya. 

Sementara untuk mengetahui kandungan dari batu empedunya, pemeriksaan foto polos bisa dijadikan pilihan pemeriksaan. Pada batu empedu jenis kolesterol, biasanya pada pemeriksaan foto polos tidak tmapak, atau dalam istrilah radiologi disebut dengan radiolusen. Sedangkan pada batu empedu jenis pigmen, akan tampak bayangan putih yang disebut dengan radioopak. 

Sumber : 
  1. Dokter Kita. 2012. Suplemen : Ada Aturannya. Hal. 15-16. Jakarta : Graha Media Medika
PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.
Selengkapnya
2:06 AM
Terbentuknya batu didalam saluran kencing ataupun empedu bisa jadi tanpa gejala. Padahal efeknya bisa mengakibatkan masalah serius untuk kesehatan. Gaya hidup berperan dalam menghindari penyakit ini. 

Penyakit batu. Masyarakat kerap menyebutnya begitu. Kehadiran batu didalam tubuh seperti didalam saluran kemih dan ginjal maupun di empedu kerap menyusahkan si pemilik tubuh tempat batu itu bersarang. Karena tidak sedikit yang muncul tanpa gejala, maka batu ini sering dikenal dengan the silent stone (batu yang terjadi tanpa menimbulkan gejala).

Sengsara Karena Batu

Tidak hanya saluran kemih, pada saluran empedu batu juga bisa terbentuk batu. Batu di kandung empedu dalam bahasa medis disebut sebagai kolelitiasis, yang maksudnya adalah kumpulan beberapa unsur yang mebentuk material menyerupai batu di dalam kandung empedu. Sedangkan adanya batu di dalam saluran empedu disebut sebagai koledokolitiasis yang biasanya  berasal dari batu kandung empedu yang berpindah ke saluran empedu. Ada juga yang menyebut batu empedu sebagai gallstones dan biliary calculus. 

Menurut Dr. Andri Sanityoso Sulaiman, Sp.PD-KGEH dari Divisi Hepatilogi Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSUPN/CM-FKUI, terjadinya batu empedu tidak lepas dari pola hidup yang tidak sehat, misalnya makanan tinggi lemak dan berbadan gemuk merupakan risiko utama menderita batu empedu. 

"Orang yang mengalami dislipedemia, usia lanjut, kenis kelamin wanita, dan gaktor genetik juga berpotensi terkena batu empedu," katanya. Obesitas dan dislipidemia sangat erat kaitannya dengan kadar kolesterol yang tinggi dalam darah. Oleh karenanya, terjadinya batu empedu terutama golongan batu kolesterol lebih mungki terjadi pada mereka yang gemuk dan/atay menderita dislipedmia. 

Hal senada juga diungkapkan Dr. Nur Rasyid, SpU, Staf Departemen Urologi FKUI-RSCM mengenai batu saluran kemih. Munculnya batu ginjal disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya faktor keturunan, suhu, makanan dan tidak kalah pentin adalah gaya idrup. Batu ginjal dapat terjadi ketika urine yang tebentuk sangat kental, sehingga mineral dan berbagai senyawa yag terdapat di dalam air seni (urine) membentuk semacam endapan kristal pada bagian dalam ginjal. 

Mineral tersebut diantaranya kalsium, oksalat, dan garam. Jika kita banyak minum dan urin yang terbentuk cukup banyak, sebagaian besar endapat tersebut keluar bersama urin, Namun bila minum kurnag, dan urin menjadi kental maka maka endapan yang terbentuk akan semakin banyak, menumpuk dan makin besar.

Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab terjadinya batu ginjal menurut Dr. Nur Rasyid. Selain kurang minum, faktor keturunan, serta cuaca yang panas sehingga mengakibatkan tubuh banyak mengeluarkan keringat bisa menjadi penyebabnya. Bagi Anda yang memiliki gaya hidup jarang bergerak atau berolahraga, rentan mengalami batu ginjal. Karena jika lebih banyak diam, tulang akan lebih manyak mengeluarkan kalsium ke dalam darah dan beredar hingga ke ginjal. Padahal kalsiummerupakan satu mineral yang bisa mengakibatkan batu ginjal. 

"Batu yang terbentuk di ginjal awalnya adem ayem saja. Suatu saat, ketika mulai membesar, batu itu akan turun menuju saluran kemih. Barulah kemudian timbul gejala seperti melilit atau nyeri yang hebat di pinggang," jelas Dr. Nur Rasyid. 

Dr. Andri menambahkan, pada penderita batu empedu, adanya batu empedu tidak dirasakan pada sebagian besar penderita. Maka dari itu, keadaan ini disebut juga dengan silent stone yang seringkali ditemukan pada pemeriksaan USG secara tidak sengaja. Ada juga yang mengeluhkan rasa kembung, mual, nyeri ulu hati, dimana gejalanya sangat mirip dengan dyspepsia atau maag. Namun sebgaian orang yang mengeluhkannya ternyata memang menderita dyspepsia. 

Tidak adanya gejala ini disebabkan oleh batu yang masih berada di kandung empedu, yang belum menimbulkan peradangan maupun infeksi. namun jika batu berpindah ke saluran empedunya, sangat mungkin akan menimbulkan gejala. Pada fase awal, nyeri dirasakan di ulu hati yang dapat bertahan hingga 60 menit. Kemudian perlahan-lahan nyeri menghilang dan tidak dirasakan sama sekali. Hal ini dapat berulang hingga beberapa kali sehingga pada sebagian orang akan menimbulkan gangguan dalam beraktivitas sehari-hari. 

Selanjutnya, jika sudah terjadi peradangan, penderitanya akan menrasakan nyeri di perut kanan atas. Atau bisa juga penderitanya merasakan nyeri yang menjalar ke perut kanan atas. 

Jika batu empedu menyumbat muara yang sempit di saluran empedu, maka penderitanya akan tampak kuning. Hal ini disebabkan batu yang menyumbat akan menghambat cairan empedu yang seharusnya dialirkan ke usus halus. 

Jika tidak ditangani, batu akan menyumat saluran empedu sehingga pasien menjadi kuning (jaundice). Sementara batu ginjal yang dibiarkan terus menerus tanpa penanganan bisa berujung pada gagal ginjal. Padahal, fungsi ginjal amatlah vital, karena ia menyaring semua racun untuk dikeluarkan dari tubuh. Beban biaya akibat gagal ginjal yang juga tidak sedikit, yang pastinya akan menggoyahkan perekonomian keluarga. 

Penderita Semakin Meningkat


Belum ada data pasti berapa jumlah penderita batu empedu maupun batu saluran kemih di Indonesia. Sebagai catatan, di negara barat batu empedu ini sering terjadi. Sebagai gambaran di Amerika Serikat setidaknya terdapat 20 juta orang penderita batu empedu. Sedangkan untuk Indonesia, belum ada data yang tepat jumlah penderitanya. Di Amerika, kebanyakan kasus batu empedu adalah batu kolesterol sebab gaya hidup dan faktor resiko masyarakat Amerika yang dekat sekali dengan konsumsi lemak dan obesitas. 

Begitu juga dengan data penderita saluran kemih. Kendati angka pastinya masih gelap, namun jumlahnya diperkirakan kian bertambah. Menurut Dr. Nur Rasyid, kasus batu pada saluran kemih sangat dipengaruhi pada kesadaran masyarakat. Pada masyarakat yang memiliki edukasi baik seperti di eropa, kasus batu yang ditemukan pada mereka terbilang sudah jarang yang berbentuk batu yang besar. Kebanykaan adalah kasus batu dibawah 2 cm. Fakta tersebut berbanding dengan kasus-kasus batu saluran kemihdi Indonesia. Dengan latar belakang masyarakat yang belum memiliki kesadaran tentang penyakit ini, Dr. Nur Rasyid masih kerap menemui kasus batu saluran kemih berbentuk besar atau biasa disebut dengan batu cetak dengan ukuran 5 cm ke atas. 

Kemajuan teknologi kedokteran merupakan berkah bagi penanganan batu empedu dan batu batu saluran kemih. Batu empedu yang tersembunyi dan dahulunya sulit didiagnosis perlahan mulai menemukan titik terang. Begitu juga dengan saluran kemih, yang bahkan lebih maju lagi karena sudah bisa ditangani tanpa operasi. 

Tinggal sekarang, bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kedua penyakit tersebut yang notabene masih rendah. Apalagi, orang kerap beranggap bahwa keluhan yang muncul karena batu empedu adalah penyakit maag atau penyakit perut lainnya. Padahal tidaklah demikian. Sama dengan batu saluran kemih yang dianggap sebagai pegal-pegal biasa akibat kelelehan usai bekerja. 

Sumber : 
  1. Dokter Kita. 2012. Suplemen : Ada Aturannya. Hal. 28. Jakarta : Graha Media Medika
PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.
Selengkapnya
11:51 PM
Suplemen : Ada Aturannya. Suplemen memang diperlukan tubuh karena manfaatnya yang penting. Tetapi perlu diingat, bahwa segala sesuatu yang baik bisa berbahaya kalau berlebihan atau dikonsumsi tak sesuai aturan. Dan inilah  cara yang tepat untuk mengonsumsi suplemen.


Orang sehat dan tanpa keluahan kesehatan belum perlu suplemen. Suplemen makanan sangat dianjurkan pada kondisi khusus, misalnya pada saat sakit atau pada masa penyembuhan  untuk membantu metabolisme tubuh. 

Suplemen bukanlah obat yang dapat menyembuhkan penyakit. Jadi, pada dasarnya suplemen makanan tidak dibutuhkan oleh mereka yang mempunyai pola makan diet seimbang dan gizi yang cukup.

Meski suplemen makanan aman dikonsumsi bagi orang yang masih normal, tetapi kita harus tetap bijak mengonsumsinya. Teliti jenis suplemen makanan yang akan dikonsumsi. 

Sebelum memilih suplemen makanan, periksa nomor registrasi pada label atau etiket untuk memastikan produk tersebut telah terdaftar di Badan POM RI. Ciri produk suplemen makanan impor yang telah terdaftar di Badan POM RI adalah dengan nomor registrasi diawali POM SI. Sedangkan untuk suplemen lokal nomor registrasi diawali POM SD. Selain itu, ciri produk luar negeri yang terdaftar di Badan POM RI adalah pada label, brosur atau keterangan priduk yang menggunakan bahasa Indonesia disamping bahasa asing. 

Cermati keterangan pada label atau etiket seperti kegunaan, egek samping, peringatan perhatian, interaksi, dan kontraindikasi dari produk suplemen makanan. Konsumsilah produk yang hanya diperlukan oleh tubuh dan tidak memiliki kontraindikasi. 

Perhatikan tanggal kadaluarsa produk suplemen makanan. Tinggalkan jika tanggal yang sudah tertera pada suplemen sudah kadaluarsa. 

Jangan mengonsumsi melebihi dosis yang telah ditetapkan. Minumlah produk suplemen makanan dengan air putih. Perlu diingat, beberapa produk suplemen makanan dapat berinteraksi dengna ibat, untuk itu minumlah 1-1,5 jam setelah mengonsumsi obat. 

Berhati-hatilah jika menderita penyakit tertentu, punya riwayat alergi, sedang diet khusus, sedang hamil atau merencanakan untuk hamil dan atau sedang menyusui sertaada keraguan terhadap suplemen tertentu. Konsultasikan terlebih dahulu dengan apoteker atau dokter. 

Jika berobat ke dokter, perlu diinformasikan suplemen makanan yang sedang di konsumsi saat itu dan apabila terjadi efek samping dalam menggunakan produk suplemen makanan maka penggunaan nya harus segera dihentikan. 

Simpanlah produk suplemen makanan dengan baik. Agar terjaga kualitasnya, letakkan suplemen pada suhu kamar di tempat yang terlindung dari cahaya dan lembab. Hindari mencampur produk suplemen makanan, obat tradisional maupun obat dalam satu wadah. Simpanlah produk dalam kemasan aslinya. 

Sumber : 

  1. Dokter Kita. 2012. Suplemen : Ada Aturannya. Hal. 28. Jakarta : Graha Media Medika

PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.
Selengkapnya
8:56 AM
Kenali Penyebab dan Gejala Tumor Pada Kelenjar Tiroid Kanker tiroid adalah salah satu dari beberapa kanker yang telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir. The American Cancer Society, sebagaimana disampaikan Scientific American melaporkan, kasus kanker tiroid terus meningkat enam persen setiap tahun sejak 1997. 

Kelenjar Tiroid. (Foto : https://palembang.tribunnews.com/)

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Lily Sriwahyuni Sulistyowati menyatakan, pada 2015, Indonesia menempati posisi sebagai negara dengan gangguan tiroid tertinggi di Asia Tenggara. Ia memaparkan hasil riset IMS Health yang menyatakan sebanyak 17 juta masyarakat Indonesia mengalami gangguan tiroid. 

“Jumlah ini bisa jadi lebih tinggi karena masih banyak kasus gangguan tiroid yang belum terdiagnosis,” katanya di Kemenkes. 

Apa itu Kanker Tiroid? 

Kanker tiroid adalah pertumbuhan sel yang tidak normal pada kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid sendiri adalah kelenjar berbentuk kupu-kupu yang terletak pada bagian depan leher. Kelenjar tiroid sangat diperlukan dalam metabolisme tubuh. Ia membantu tubuh menggunakan energi agar tetap hangat, serta membuat otak, jantung, otot dan organ lain bekerja sebagaimana mestinya. 

Bila gangguan tiroid tidak ditangani dengan cepat dan tepat, ia dapat memengaruhi kualitas kehidupan sehari-hari dan berdampak berat pada psikologis. Berdasarkan penelitian Wirsma Arif Harahap dengan judul Keganasan Pada Kelenjar Tiroid, kanker tiroid biasanya timbul dari nodul tiroid asimstomatik yang sudah ada sebelumnya. 

Kanker jenis ini merupakan keganasan endokrin yang paling sering terjadi. Kanker tiroid seringkali membatasi kemampuan untuk menyerap yodium dan membatasi kemampuan menghasilkan hormon tiroid, tetapi kadang menghasilkan cukup banyak hormon tiroid sehingga terjadi hipertiroidisme. 

Gejala kanker Tiroid 

Menurut American Thyroid Association (ATA), banyak orang dengan masalah tiroid tidak menyadarinya, karena gejalanya kadang disalahartikan sebagai akibat kurang tidur semata. Gejala gangguan tiroid sangat mirip dengan pelbagai keluhan akibat gaya hidup modern sehingga sangat sering diabaikan. Gangguan fungsi tiroid seringkali sulit diidentifikasi karena gejalanya tidak spesifik. Akibatnya pasien seringkali tidak menyadari ada masalah dan tidak memeriksakan diri ke dokter. 

Di Kementerian Kesehatan, Biopharma PT Merck Tbk memaparkan hasil survei global Merck mengenai tingkat kesadaran gangguan tiroid sekaligus gejalanya. Survei ini dilakukan pada 6.000-an perempuan di tujuh negara, salah satunya Indonesia. 

Hasilnya: masih banyak responden yang menganggap tanda-tanda dan gejala gangguan tiroid sebagai gangguan akibat pilihan gaya hidup. Mereka lantas abai memeriksa kesehatan, terlambat diobati, sehingga ujungnya menurunkan kualitas hidup penderita. Pada tahapan awal, penderita kanker tiroid tidak mempunyai keluhan khusus. 

Namun pada skala lanjutan, kanker tiroid seringkali ditandai dengan munculnya benjolan atau pembengkakan pada bagian depan leher, tepatnya di bawah jakun dan biasanya tidak sakit. Penyebab Kanker Tiroid Belum ada penyebab jelas mengapa kebanyakan orang terkena kanker tiroid. Namun ada beberapa hal yang dapat meningkatkan peluang menderita jenis kanker ini. Web MD menulis, warisan sindrom genetik adalah salah satunya. 

Beberapa kondisi, termasuk kanker, berasal dari DNA yang Anda dapatkan dari orang tua Anda. Dalam 2 dari 10 kasus kanker tiroid meduler, misalnya, kanker adalah hasil dari gen abnormal yang Anda warisi. Selain itu, penyebabnya lainnya adalah kekurangan yodium dan paparan radiasi. 

Pengobatan Kanker Tiroid 

Kanker tiroid biasanya bisa diobati hingga sembuh total, bahkan jika penderita sudah berada di stadium yang lebih tinggi. Perawatan yang dapat dilakukan tergantung pada jenis dan stadium kanker. Masih dari Web MD, operasi adalah metode yang paling banyak digunakan untuk menyingkirkan kanker tiroid. 

Ada dua macam pembedahan, yaitu tireoidektomi, yaitu jika seluruh kelenjar tiroid dihilangkan atau lobektomi jika hanya sebagian kelenjar tiroid Anda yang diangkat. Metode lain adalah Radioactive iodine ablation (RAI) atau Ablasi Iodium Radioaktif. Kelenjar tiroid dan kebanyakan kanker tiroid menyerap yodium. 

Metode RAI berfungsi untuk menghancurkan jaringan tiroid yang tersisa setelah tiroidektomi. Yodium masuk ke jaringan tiroid dan radiasi menghancurkannya. Ini juga dapat digunakan agar kanker tidak menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya atau juga menyebar ke bagian lain dari tubuh lain. 

Jika semua kelenjar tiroid sudah diangkat, penderita dapat melanjutkan treatment dengan pil hormon tiroid. Pil ini juga membantu menghentikan sel-sel kanker dari tumbuh dan kembali. Obat akan menurunkan tingkat thyroid-stimulating hormon (TSH), hormon yang mendorong pertumbuhan sel kanker. Radiasi atau terapi sinar X juga dapat digunakan untuk menghancurkan sel-sel kanker. (Sumber : https://tirto.id/eDrb)

PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.
Selengkapnya
4:56 AM
Pengambilan Spesimen  Coronavirus Disease (COVID-19). Coronavirus (CoV) adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus Disease (COVID-19) adalah virus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. 

Pengambilan Spesimen  Coronavirus Disease (COVID-19)

Pengambilan Spesimen  Coronavirus Disease (COVID-19)

Sebelum kegiatan pengambilan spesimen dilaksanakan, harus memperhatikan universal precaution atau kewaspadaan universal untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari pasien ke paramedis maupun lingkungan sekitar. Hal tersebut meliputi:
  1. Selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun/desinfektan SEBELUM dan SESUDAH tindakan.
  2. Menggunakan APD. Melihat situasi saat ini, mekanisme penularan masih dalam investigasi maka APD yang digunakan untuk pengambilan spesimen adalah APD lengkap dengan menggunakan masker minimal N95.

Bahan Pengambilan spesimen

1. Form Pengambilan Spesimen (lampiran 6)
Dapat ditambah daftar nama pasien (supaya saat pengambilan tidak terjadi kesalahan) jika pasien lebih dari satu.

2. Spesimen Saluran Pernapasan Bawah (Lower Respiratory Tract)
  • Virus Transport Media (VTM)
  • Dapat digunakan dengan beberapa merk komersil yang sudah siap pakai atau dengan mencampur beberapa bahan (Hanks BBS; Antifungal dan Antibiotik dengan komposisi tertentu) untuk disatukan dalam 1 wadah steril.
  • Swab Dacron atau Flocked Swab
  • Tongue Spatel
  • Kontainer Steril untuk Sputum
  • Parafilm
  • Plastik Klip
  • Marker atau Label
3. Spesimen Darah/Serum :
  • Spuit disposable 3ml atau 5 ml atau Sistem Vacutainer
  • Wing needle (jika diperlukan)
  • Kapas alkohol 70%
  • Kapas Kering
  • Vial 1,8 ml atau tabung tutup ulir (wadah Spesimen Serum)
  • Marker atau Label

4. Bahan Pengepakan/Pengiriman Spesimen :
  • Ice pack dan Cold Box (diutamakan sudah menggunakan Sistem tiga lapis)
  • Label Alamat
  • Lakban/Perekat

Tata Cara Pengambilan Spesimen Nasofaring

  1. Persiapkan cryotube yang berisi 1,5 ml media transport virus (Hanks BSS + Antibiotika), dapat juga digunakan VTM komersil yang siap pakai (pabrikan).
  2. Berikan label yang berisi Nama Pasien dan Kode Nomer Spesimen. Jika label bernomer tidak tersedia maka Penamaan menggunakan Marker/Pulpen pada bagian berwarna putih di dinding cryotube. (Jangan gunakan Medium Hanks Bila telah berubah warna menjadi Kuning).
  3. Gunakan swab yang terbuat dari dacron/rayon steril dengan tangkai plastik atau jenis Flocked Swab (tangkai lebih lentur). Jangan menggunakan swab kapas atau swab yang mengandung Calcium Alginat atau Swab kapas dengan tangkai kayu, karena mungkin mengandung substansi yang dapat menghambat menginaktifasi virus dan dapat menghambat proses pemeriksaan secara molekuler.
  4. Pastikan tidak ada Obstruksi (hambatan pada lubang hidung).
  5. Masukkan secara perlahan swab ke dalam hidung, pastikan posisi swab pada septum bawah hidung.
  6. Masukkan swab secara perlahan-lahan ke bagian nasofaring.
  7. Swab kemudian dilakukan gerak memutar secara perlahan.
  8. Kemudian masukkan sesegera mungkin ke dalam cryotube yang berisi VTM
  9. Putuskan tangkai plastik di daerah mulut cryotube agar cryotube dapat ditutup dengan rapat.
  10. Pastikan label kode spesimen sesuai dengan kode yang ada di formulir/Kuesioner.
  11. Cryotube kemudian dililit parafilm dan masukkan ke dalam Plastik Klip. Jika ada lebih dari 1 pasien, maka Plastik Klip dibedakan/terpisah. Untuk menghindari kontaminasi silang.
  12. Simpan dalam suhu 4-80C sebelum dikirim. Jangan dibekukan dalam Freezer.
lokasi pengambilan nasofaring

Tata Cara Pengambilan Spesimen Sputum

Pasien berkumur terlebih dahulu dengan air, kemudian pasien diminta mengeluarkan dahaknya dengan cara batuk yang dalam. Sputum ditampung pada wadah steril yang anti bocor. Pengambilan sampel sputum dengan cara induksi dapat menimbulkan risiko infeksi tambahan bagi petugas kesehatan.

Tata Cara Pengambilan Spesimen Serum

Sampel serum berpasangan diperlukan untuk konfirmasi, dengan serum awal dikumpulkan di minggu pertama penyakit dan serum yang kedua idealnya dikumpulkan 2-3 minggu kemudian. Jika hanya serum tunggal yang dapat dikumpulkan, ini harus diambil setidaknya 14 hari setelah onset gejala untuk penentuan kemungkinan kasus.

Anak-anak dan dewasa: dibutuhkan darah whole blood (3-5 mL) dan disentrifus untuk mendapatkan serum sebanyak 1,5-3 mL. Sedangkan untuk bayi: Minimal 1 ml whole blood diperlukan untuk pemeriksaan pasien bayi. Jika memungkinkan, mengumpulkan 1 ml serum.

Pengepakan Spesimen

Spesimen pasien dalam pengawasan, probabel atau dikonfirmasi harus dilakukan tatalaksana sebagai UN3373, "Substansi Biologis, Kategori B", ketika akan diangkut/ditransportasikan dengan tujuan diagnostik atau investigasi. Semua spesimen harus dikemas untuk mencegah kerusakan dan tumpahan. Adapun sistem yang digunakan adalah dengan menggunakan tiga lapis (Three Layer Pacakging) sesuai dengan pedoman dari WHO dan International Air Transport Association (IATA).

who-guidance on regulation for the transport of infectious substances 2019-2020 - contoh pengepakan tiga lapis


Spesimen dari pasien yang diduga novel coronavirus, harus disimpan dan dikirim pada suhu yang sesuai (lihat Tabel 5.1). Spesimen harus tiba di laboratorium segera setelah pengambilan. Penanganan spesimen dengan tepat saat pengiriman adalah hal yang sangat penting. Sangat disarankan agar pada saat pengiriman spesimen tersebut ditempatkan di dalam cool box dengan kondisi suhu 2-80C atau bila diperkirakan lama pengiriman lebih dari tiga hari spesimen dikirim dengan menggunakan es kering (dry ice).

Pengiriman Spesimen

Pengiriman spesimen dilakukan oleh petugas Dinas Kesehatan dengan menyertakan Formulir penyelidikan epidemiologi (lampiran 5), formulir permintaan pemeriksaan spesimen (lampiran 6) dan surat pengantar (lampiran 7) dari Dinkes Prov/Kab/kota (harus dimasukkan kedalam cool box). Pengiriman ke laboratorium penerima harus memberikan informasi pengiriman spesimen melalui PHEOC. Untuk wilayah di luar jakarta pengiriman spesimen dapat dilakukan menggunakan jasa kurir door to door. Pada kondisi yang memerlukan pengiriman port to port, dapat melibatkan petugas KKP setempat. Untuk selanjutnya spesimen dikirimkan ke Balitbangkes oleh petugas Ditjen P2P berkoordinasi dengan PHEOC Ditjen P2P.

Pengiriman spesimen sebaiknya dilakukan paling lama 1x24 jam. Pengiriman ditujukan ke Laboratorium Pusat Penyakit Infeksi Prof. Dr. Oemijati – Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbangkes. Jl. Percetakan Negara No.23A. Jakarta Pusat 10560.

Konfirmasi Laboratorium

Spesimen yang tiba di laboratorium, akan segera diproses untuk dilakukan pemeriksaan. Pemeriksaan laboratorium terhadap pasien dalam pengawasan COVID-19 dilakukan dengan menggunakan metode RT-PCR dan sekuensing sesuai dengan jurnal yang sudah diterbitkan. Adapun algoritma pemeriksaannya adalah sebagai berikut :

alur pemeriksaan spesimen covid-19


Apabila hasil pemeriksaan terdapat positif etiologi virus yang lain tetapi negatif COVID-19 dan memiliki hubungan epidemiologi yang kuat dengan kontak erat atau riwayat perjalanan dari wilayah terjangkit maka harus dilakukan pemeriksaan ulang. Karena kemungkinan terjadinya infeksi sekunder belum diketahui.

Hasil pemeriksaan laboratorium dikirimkan oleh laboratorium pemeriksa ke Dirjen P2P cq. PHEOC untuk kemudian diteruskan ke Emergency Operation Center (EOC) Pusat Krisis Kesehatan. PHEOC mengirimkan hasil pemeriksaan ke Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit yang merawat kasus. Pelaporan satu pintu ini diharapkan dapat lebih memudahkan berbagai pihak terkait agar dapat berkoordinasi lebih lanjut. Jika hasil pemeriksaan laboratorium positif, IHR Nasional Fokal Poin memberikan notifikasi ke WHO dalam 1x24 jam. 

GRATIS DOWNLOAD : Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Coronavirus Disease (Covid-19)
PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.
Selengkapnya
5:46 AM

Contact Form

Name

Email *

Message *