-->
Menu
  • Info Lab Medik
  • Info Lab Medik

Info Lowongan Pekerjaan

Tokoh

Download

Selamat Datang

Selamat datang di Info Laboratorium Medik, situs berisi informasi seputar dunia TLM (Teknologi Laboratorium Medik) seperti Acara Seminar/Workshop, Materi Kuliah, Lowongan Pekerjaan, dan Berita terbaru seputar dunia Laboratorium Klinik.
Vaksin SINOVAC, Juru Bicara Bio Farma Mengklarifikasi Hoax Terkait Artikel Vero Cell yang Beredar Di Masyarakat. Juru Bicara Vaksin COVID-19 PT Bio Farma Bambang Herianto hari ini memberikan klarifikasi terkait informasi hoax yang beredar di masyarakat yang menyebutkan bahwa vaksin COVID-19 yang akan digunakan adalah vaksin untuk uji klinik (only for clinical trial).

Vaksin SINOVAC Juru Bicara Bio Farma Mengklarifikasi Hoax Terkait Artikel Vero Cell yang Beredar Di Masyarakat
Kedatangan Vaksin Sinovac tahap ke-2. (Foto : https://www.cnnindonesia.com/)



“Kami konfirmasikan bahwa vaksin COVID-19 yang saat ini sudah berada di Bio Farma, dan akan digunakan untuk program vaksinasi nantinya, akan menggunakan vaksin yang telah memperoleh izin penggunaan dari BPOM, sehingga kemasannya pun akan berbeda dengan vaksin yang digunakan untuk keperluan uji klinik,” kata Bambang pada Konferensi Pers, Minggu (3/1).


Kemasan Corovac untuk uji klinik menggunakan kemasan pre-filled syringe, atau biasa disingkat PFS, dimana kemasan dan jarum suntik berada dalam satu kemasan. Sedangkan vaksin yang akan digunakan untuk program vaksinasi pemerintah dikemas dalam bentuk vial single dose dan tidak akan ada penandaan “only for clinical trial” karena telah memperoleh izin penggunaan.


Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga mengklarifikasi hoax terkait artikel vero cell yang beredar di masyarakat.


Bambang menjelaskan bahwa vaksin COVID-19 buatan Sinovac tidak mengandung vero cell atau sel vero, karena sel vero hanya digunakan sebagai media kultur untuk media kembang dan tumbuh virus tersebut untuk proses perbanyakan virus sebagai bahan baku vaksin. Jika tidak mempergunakan media kultur, maka virus akan mati sehingga tidak dapat digunakan untuk pembuatan vaksin.


Setelah mendapatkan jumlah virus yang cukup, maka akan dipisahkan dari media pertumbuhan dan sel vero ini tidak akan ikut/terbawa dalam proses akhir pembuatan vaksin. “Dengan demikian, pada produk akhir vaksin, sudah dapat dipastikan tidak akan lagi mengandung sel vero tersebut,” jelas Bambang.


Vaksin COVID-19 buatan Sinovac yang akan digunakan mengandung bahan antara lain virus yang sudah dimatikan (atau inactivated virus) dan tidak mengandung sama sekali virus hidup atau yang dilemahkan. Ini merupakan metode paling umum dalam pembuatan vaksin.


Bahan selanjutnya adalah Alumunium Hidroksida yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan vaksin. Ada pula Larutan fosfat sebagai penstabil (Stabilizer), dan larutan garam Natrium Klorida untuk memberikan kenyamanan dalam penyuntikan.


Vaksin COVID-19 buatan Sinovac juga tidak mengandung bahan seperti boraks, formalin, merkuri, serta tidak mengandung pengawet. Vaksin yang akan digunakan di masyarakat telah melalui tahapan pengembangan dan serangkaian uji yang ketat, sehingga terjamin kualitas, keamanan dan efektifitasnya di bawah pengawasan BPOM serta memenuhi standar internasional.


Vaksin COVID-19 tahap 2 dari Sinovac sebanyak 1,8 juta dosis dalam bentuk produk jadi kemasan vial dosis tunggal telah tiba di Indonesia pada Kamis tanggal 31 Desember 2020, dan telah diterima di Bio Farma pada hari yang sama. Dengan demikian, jumlah vaksin COVID-19 dari Sinovac yang sudah diterima oleh Indonesia sebanyak 3 juta dosis.


Saat ini seluruh vaksin tersebut, disimpan di tempat penyimpanan khusus di fasilitas penyimpanan Bio Farma, dengan suhu yang tetap terjaga antara 2- 8 derajat Celcius. Selain itu, serangkaian pengujian mutu, baik yang dilakukan oleh Bio Farma sendiri, maupun oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) juga telah dilakukan.


Pengujian ini dilakukan dalam rangka menjaga kualitas dan keamanan produk vaksin agar terjamin dari mulai diproduksi sampai didistribusikan.


Vaksin hanya akan digunakan untuk program vaksinasi setelah ada persetujuan penggunaan darurat yang dikeluarkan Badan POM dan bukan sebagai vaksin untuk uji klinik. (Sumber : Sehat Negeriku)
Selengkapnya
6:25 AM

 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/12757/2020

Download 

Sumber : DPW PATELKI Jawa Barat

Apakah teman-teman ATLM (Ahli Teknologi Laboratorium Medik) menerima SMS dari Tim SATGAS COVID-19 pada tanggal 31 Desember 2020 kemarin? Jika benar menerima berarti teman-teman telah terdaftar di sistem yang telah disediakan oleh pemerintah.


Kementerian Kesehatan telah mengirimkan Short Message Service (SMS) blast secara serentak kepada seluruh penerima vaksin COVID-19 yang telah terdaftar pada tahap pertama, terhitung tanggal 31 Desember.


Pengiriman SMS Blast tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/12757/2020 tentang Penetapan Sasaran Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), yang ditetapkan oleh Menteri Gunadi Sadikin pada tanggal 28 Desember 2020.


Dalam KMK tersebut, turut diatur bahwa pengiriman pemberitahuan SMS Blast dilakukan serentak mulai 31 Desember 2020. Ini merupakan bagian dari pelaksanaan vaksinasi COVID-19.


Adapun sasaran penerima SMS, adalah mereka yang namanya telah terdaftar dalam Sistem Informasi Satu Data Vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). (Sumber : Sehat Negeriku)


Bagi teman-teman ATLM yang belum menerima SMS, mungkin bisa di cek secara manual melalui link berikut ini : https://pedulilindungi.id/cek-nik


Selengkapnya
5:59 AM

Pada tanggal 18 Desember, pemerintah mengumumkan bahwa untuk syarat keberangkatan menggunakan berbagai moda transportasi baik darat, udara dan laut minimal membawa pertsyaran hasil swab Antigen.



Peraturan ini dikeluarkan oleh pemerintah dalam pengaturan perjalanan di Jawa dan Bali selama periode NATARU (Natal dan Tahun Baru) mulai tanggal 18 Desember 2020 sampai dengan 8 Januari 2021. Dalam beberapa poin ini, di wajibkan membawa hasil swab antigen sebagai syarat perjalanan. Batas atas harga rapid antigen yang di rekomendasikan oleh pemerintah untuk dibayarkan sebesear Rp. 250.000 per test. Bagi Anda, mungkin masih bingung apa bedanya Rapid Test Antibodi, Rapid Rest Antigen dan Swab PCR. 


Perbedaan Rapid Test Antibodi, Rapid Rest Antigen dan Swab PCR


Berdasarkan sumber dari instagram @labparahita kami menjabarkan penjelasan perbedaan pemeriksaan yang sedang hype dikarenakan terbitnya  Surat Edaran (SE) Tentang Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Perjalanan Orang dengan Transportasi Selama Masa Libur Natal dan Tahun Baru Dalam Masa Pandemi Covid-19. 


Surat Edaran yang diterbitkan oleh Satgas Penanganan Covid-19 No. 3 Tahun 2020 Tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Orang Selama Libur Nataru dalam Masa Pandemi Covid-19 (SE Satgas Covid 19) yang ditetapkan pada 19 Desember 2020 dan diterbitkan/diumumkan pada 20 Desember 2020.


Adapun masa berlaku SE Kementerian Perhubungan tersebut untuk transportasi Laut, Udara dan Perkeretaapian berlaku mulai 22 Desember 2020 – 8 Januari 2021 dan untuk transportasi Darat berlaku mulai 19 Desember – 8 Januari 2021. 


Pemeriksaan Tes Antibodi pada COVID-19 (SARS-CoV-2)


Nama lain dari pemeriksaan tes antibodi ini adalah tes serologi. Sampel yang digunakan pada pemeriksaan test antibodi adalah berasal dari darah. Sampel darah yang digunakan dapat berupa darah lengkap atau juga dapat berupa serum atau plasma. Pemeriksaan antibodi pada COVID-19 memeriksa adanya protein virus pada spesimen dan atau menentukan adanya antibodi setelah terinfeksi oleh virus Corona ini. Sedangkan untuk lamanya pemeriksaan adalah berkisar antara 2-4 jam setelah diambil spesimen. 


Pemeriksaan Tes Antigen pada COVID-19 (SARS-CoV-2)


Nama lain dari pemeriksaan tes antibodi ini adalah rapid/swab antigen. Sampel yang digunakan pada pemeriksaan test antigen ini adalah berasal dari usap nasofaring(hidung) atau orofaring (tenggorok) tergantung merk yang digunakan.Pemeriksaan antigen pada COVID-19 bertujuan untuk menentukan adanya IgG dan IgM pada spesimen dan atau untuk menentukan adanya infeksi awal virus corona dan potensi adanya penularan. Sedangkan untuk lamanya pemeriksaan adalah berkisar antara 2-4 jam setelah diambil spesimen. 


Pemeiksaan Tes PCR pada COVID-19 (SARS-CoV-2)


Nama lain dari pemeriksaan tes PCR ini adalah swab PCR. Sampel yang digunakan pada pemeriksaan test PCR ini adalah berasal dari usap nasofaring(hidung) dan orofaaring (tenggorok). Pemeriksaan PCR pada COVID-19 bertujuan untuk menentukan adanya materi genetik (RNA virus) pada spesimen dan atau untuk menentukan adanya infeksi aktif virus corona dan potensi adanya penularan. Sedangkan untuk lamanya pemeriksaan adalah berkisar antara H+1 - H+2 setelah diambil spesimen. 


Hal-hal penting yang dalam SE Kementerian Perhubungan antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Setiap individu yang melaksanakan perjalanan orang wajib menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan 3 M yaitu memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, dan mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan handsanitizer. Mulai dari keberangkatan, selama perjalanan, sampai dengan kedatangan.
  2. Untuk perjalanan ke Pulau Bali, pelaku perjalanan yang menggunakan transportasi udara wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif menggunakan tes RT-PCR paling lama 7x24 jam sebelum keberangkatan. Sedangkan yang menggunakan transportasi darat atau laut, pribadi maupun umum, wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif menggunakan rapid test antigen paling lama 3x 24 jam sebelum keberangkatan
  3. Untuk perjalanan dari dan ke pulau Jawa serta di dalam pulau Jawa (antar Provinsi/Kab/Kota) diatur hal-hal sebagai berikut :

  • pelaku perjalanan yang menggunakan moda transportasi udara dan kereta api antar kota wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif menggunakan rapid test antigen paling lama 3x24 jam sebelum keberangkatan sebagai syarat perjalanan.
  • Untuk pelaku perjalanan yang menggunakan moda transportasi darat baik pribadi maupun umum, dihimbau menggunakan rapid test antigen paling lama 3x24 jam sebelum keberangkatan sebagai persyaratan perjalanan. Pengisian e-Hac Indonesia bersifat wajib bagi pelaku perjalanan dengan seluruh moda transportasi umum maupun pribadi, terkecuali bagi moda transportasi kereta api.
  • dalam keadaan tertentu terkait ketentuan Satuan Tugas Daerah dapat melakukan tes acak (random test) rapid test antigen maupun RT-PCR jika diperlukan

  1. Anak-anak di bawah usia 12 tahun tidak diwajibkan untuk tes RT-PCR maupun rapid test antigen sebagai syarat perjalanan.
  2. Perjalanan rutin di Pulau Jawa dengan moda transportasi laut yang bertujuan melayani pelayaran lokasi terbatas antarpulau atau antarpelabuhan domestik dalam satu wilayah aglomerasi atau dengan transportasi darat baik pribadi maupun umum dalam satu wilayah aglomerasi perkotaan (Jabodetabek) tidak diwajibkan untuk menunjukkan surat hasil rapid test antigen sebagai syarat perjalanan.
  3. Selain perjalanan ke Pulau Bali, dari dan ke Pulau Jawa serta di dalam Pulau Jawa, rapid test antibodi masih boleh digunakan dan berlaku selama 14 hari.
  4. Kementerian Perhubungan bersama Pemerintah Daerah dan unsur TNI Polri melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan ketentuan di lapangan.
Demikian artikel terkait Perbedaan rapid test antibodi, rapid tes atigen dan juga swab PCR terkait pelaksanaan yang dianjurkan oleh dirjen transportasi Indonesia selama pandemi COVID-19. 

Selengkapnya
10:37 AM
Retikulosit adalah sel darah merah muda atau remaja yang dilepaskan dari sumsum tulang ke dalam aliran darah dan mengandung sisa-sisa asam ribonukleat (RNA) dan ribosom tetapi tidak memiliki nukleus. Setelah pewarnaan dengan pewarna supravital seperti biru metilen baru, RNA muncul sebagai butiran atau filamen pengendapan biru di dalam sel darah merah. Setelah pewarnaan supravital, setiap sel darah merah yang tidak berinti yang mengandung 2 atau lebih butiran bahan berwarna biru dianggap sebagai retikulosit (The College of American Pathology). Pewarnaan supravital mengacu pada pewarnaan sel dalam keadaan hidup sebelum mereka mati oleh fiksasi atau pengeringan atau dengan berlalunya waktu. Penghitungan retikulosit dilakukan dengan metode manual. Baru-baru ini telah diperkenalkan metode berdasarkan sitometri aliran yang lebih cepat dan lebih tepat. 

Hitung Retikulosit


Hitung retikulosit dilakukan untuk menilai aktivitas eritropoietik dari sumsum tulang.

 PENGGUNAAN PEMERIKSAAN RETIKULOSIT

  1. Sebagai salah satu studi baseline pada anemia tanpa penyebab yang jelas
  2. Untuk mendiagnosis anemia karena eritropoiesis yang tidak efektif (kerusakan dini prekursor sel darah merah di sumsum tulang terlihat pada anemia megaloblastik dan talasemia) atau karena penurunan produksi sel darah merah: Pada anemia hipoplastik atau eritropoiesis yang tidak efektif, jumlah retikulosit rendah dibandingkan dengan tingkat anemia. Peningkatan eritropoiesis (misalnya pada anemia hemolitik, kehilangan darah, atau pengobatan khusus anemia gizi) dikaitkan dengan peningkatan jumlah retikulosit. Jadi jumlah retikulosit digunakan untuk membedakan anemia hipoproliferatif dari anemia hiperproliferatif.
  3. Untuk menilai respons terhadap terapi khusus pada defisiensi besi dan anemia megaloblastik.
  4. Menilai respon terapi eritropoietin pada anemia gagal ginjal kronis.
  5. Mengikuti jalannya transplantasi sumsum tulang untuk engraftment
  6. Untuk menilai pemulihan dari terapi myelosuppressive
  7. Menilai anemia pada neonatus

PRINSIP PEMERIKSAAN RETIKULOSIT

Beberapa tetes darah (dikumpulkan dalam EDTA) diinkubasi dengan larutan biru metilen baru yang menodai butiran RNA dalam sel darah merah. Apusan tipis dibuat pada kaca objek dari campuran dan retikulosit dihitung di bawah mikroskop. Jumlah retikulosit dinyatakan sebagai persentase sel darah merah.

REAGEN
Menyiapkan larutan New methylene blue, caranya sebagai berikut:
  • New methylene blue 1.0 gram
  • Natrium sitrat 0,6 gram
  • Natrium klorida 0,7 gram
  • Air suling 100 ml
Reagen harus disimpan di lemari es pada suhu 2-6 ° C dan disaring sebelum digunakan.
Alternatif yang sesuai untuk New methylene blue adalah brilliant cresyl blue dan azure B.

SPESIMEN PEMERIKSAAN RETIKULOSIT

Darah kapiler atau darah vena antikoagulan EDTA dapat digunakan.

METODE PEMERIKSAAN RETIKULOSIT

  1. Ambil 2-3 tetes larutan metilen biru baru yang telah disaring dalam tabung reaksi 12 × 75 mm.
  2. Tambahkan jumlah darah yang sama dan aduk rata.
  3. Simpan campuran pada suhu kamar atau 37 ° C selama 15 menit.
  4. Setelah pencampuran lembut, teteskan sedikit dari campuran pada slide kaca, siapkan olesan tipis, dan biarkan mengering di udara.
  5. Periksa di bawah mikroskop menggunakan obyektif pencelupan minyak. Sel darah merah yang matang berwarna hijau-biru pucat. Retikulosit menunjukkan endapan biru tua dari butiran halus dan filamen dalam bentuk jaringan (retikulum) (Gbr. 21.1). Sebagian besar retikulosit yang belum matang menunjukkan sejumlah besar bahan yang diendapkan dalam bentuk suatu massa, sedangkan retikulosit yang paling matang hanya menunjukkan beberapa butiran atau untaian. Setiap sel darah merah tidak berinti dianggap sebagai retikulosit jika mengandung 2 atau lebih partikel RNA ribosom bernoda biru.
  6. Hitung 1000 sel darah merah dan catat jumlah sel darah merah yang merupakan retikulosit. Kesalahan penghitungan diminimalkan jika ukuran bidang mikroskopis dikurangi. Ini dicapai dengan menggunakan cakram okuler Miller yang dimasukkan ke dalam lensa mata (Gbr. 21.2); itu membagi lapangan menjadi dua kotak (satu berukuran sembilan kali lebih besar dari yang lain). Retikulosit dihitung dalam kotak dan sel darah merah dihitung dalam kotak yang lebih kecil.
Retikulosit diwarnai dengan pewarnaan supravital
Gambar 21.1: Retikulosit diwarnai dengan pewarnaan supravital




Gambar 21.2: Cakram okuler Miller untuk memfasilitasi penghitungan retikulosit. Cakram okuler Miller berisi dua kotak: A dan B. Kotak A 9 kali lebih besar dari kotak B.Kotak B digunakan untuk menghitung sel darah merah, sedangkan retikulosit dihitung dalam kotak A.Hanya retikulosit yang dihitung dalam 20 besar (yaitu A ) kotak, sedangkan sel darah merah dihitung dalam 20 kotak kecil (yaitu B).

Jumlah retikulosit diperoleh dari rumus ; 
                   Total retikulosit dihitung dalam kotak A.
        ——————————————————————   × 100
            Total sel darah merah dihitung dalam persegi B × 9

CARA MELAPORKAN HASIL PEMERIKSAAN RETIKULOSIT

1. Persentase retikulosit: Metode pelaporan yang paling umum adalah persentase retikulosit yang dihitung dari rumus berikut:

Retikulosit                 Jumlah retikulosit dihitung
persentase = ———————————————— × 100
                             Jumlah sel darah merah dihitung


Nilai referensi Retikulosit :  

- pada orang dewasa dan anak-anak ; 0,5% -2,5% 
Jumlah retikulosit lebih tinggi pada bayi baru lahir.

2. Jumlah retikulosit absolut
= Persentase retikulosit × Jumlah sel darah merah
    Normal: 50.000 hingga 85.000 / cmm

3. Jumlah retikulosit terkoreksi (indeks Retikulosit)
                                            PCV pasien
= Persentase retikulosit × ————————
                                             PCV normal
Jumlah retikulosit terkoreksi> 2% menunjukkan pelepasan retikulosit yang sesuai dengan derajat anemia. Jika <2%, pelepasan retikulosit tidak tepat.

(4) Indeks produksi pematangan retikulosit
         Jumlah retikulosit terkoreksi 
= ———————————————
    Perkiraan waktu pematangan dalam beberapa hari

Catatan:
1. Tahapan pematangan retikulosit (Heilmeyer dan Westhaeuser, 1932) (Gbr. 21.3):
Gambar 21.3: Tahapan pematangan retikulosit


  • Stadium 0: Normoblas lambat atau ortokromatik (sel darah merah berinti); pewarnaan kuat untuk retikulum (Jenis sel ini tidak boleh dimasukkan dalam retikulosit karena ini bukan tahap pematangan retikulosit)
  • Stadium I: Retikulum kohesif padat dalam sel darah merah non-nukleasi (0,1% jumlah retikulosit pada individu normal)
  • Stadium II: Jaringan luas retikulum lepas (0,7% jumlah retikulosit pada individu normal)
  • Stadium III: Retikulum kecil bersama dengan butiran yang tersebar (32% jumlah retikulosit pada individu normal)
  • Stadium IV: Butiran tersebar (61% jumlah retikulosit pada individu normal).
2. Waktu yang dibutuhkan untuk pematangan retikulosit (yaitu dari ekstrusi nukleus hingga tidak ada butiran yang terlihat di sitoplasma) adalah 4 sampai 4,5 hari. Hingga ekstrusi inti, 97% hemoglobin disintesis; retikulosit mensintesis sisa 3%. Retikulosit diproduksi di sumsum tulang di mana mereka menghabiskan waktu sekitar 3 hingga 3,5 hari untuk pematangan. Dalam sirkulasi, mereka menghabiskan 1 hari lagi sebelum menjadi sel darah merah. Pada anemia hemolitik dan setelah kehilangan darah akut, retikulosit dilepaskan secara prematur dalam sirkulasi dimana mereka membutuhkan lebih banyak waktu (sekitar 2-3 hari) untuk pematangan. Retikulosit yang dilepaskan sebelum waktunya lebih besar dari retikulosit yang dilepaskan dalam kondisi basal. Waktu pematangan tergantung pada hematokrit pasien. Oleh karena itu, untuk menghindari perkiraan produksi sel darah merah yang berlebihan, indeks retikulosit dihitung. Pada pasien anemia, jika indeks retikulosit gagal naik 2-3 kali lipat di atas nilai normal, maka harus dicurigai adanya penurunan produksi sel darah merah di sumsum. Waktu pematangan menurut hematokrit adalah sebagai berikut: hematokrit 45%: waktu pematangan 1 hari, 35%: 1,5 hari, 25%: 2 hari, dan 15%: 2,5 hari. Terdapat bukti bahwa pematangan retikulosit juga terjadi secara in vitro setelah pengambilan darah dan oleh karena itu spesimen harus diproses untuk penghitungan retikulosit sesegera mungkin (dalam 4 jam setelah pengambilan).

3. Contoh yang menggambarkan pentingnya jumlah retikulosit absolut dan jumlah retikulosit yang dikoreksi: Seorang pasien pria berusia 30 tahun dengan anemia memiliki PCV 15%, jumlah sel darah merah 1,2 juta hitungan / cmm, dan jumlah retikulosit 3%. Jumlah retikulosit tampaknya meningkat (normal: 0,5-2,5%) menunjukkan respon yang adekuat terhadap anemia. Akan tetapi, nilai hitung retikulosit absolut (0,03 x 1200000) adalah 36,000 dan hitung retikulosit yang dikoreksi adalah 3 x (15/ 45) atau 1%; keduanya lebih rendah dibandingkan dengan derajat anemia. Dengan demikian, produksi sel darah merah di sumsum pasien berkurang (anemia hipoproliferatif).

4. Penyebab peningkatan jumlah retikulosit (retikulositosis):
  1. Anemia hemolitik
  2. Kehilangan darah
  3. Mengikuti terapi spesifik anemia gizi (seperti zat besi pada anemia defisiensi besi, folat pada anemia defisiensi folat, Vit B12 pada anemia defisiensi B12)
  4. Hemoglobinopati, misalnya anemia sel sabit.
5. Penyebab penurunan jumlah retikulosit (retikulositopenia):
  • Anemia aplastik dan aplasia sel darah merah murni
  • Infiltrasi sumsum tulang (leukemia, limfoma, mielofibrosis, keganasan metastasis)
  • Penyakit ginjal
  • Anemia penyakit kronis
  • Alkoholisme
  • Miksedema
  • Eritropoiesis yang tidak efektif: anemia megaloblastik, anemia sideroblas, talasemia, mielodisplasia
  • Setelah transfusi darah.
6. Klasifikasi anemia menurut jumlah retikulosit: Anemia normokromik normositik diklasifikasikan menjadi dua jenis berdasarkan jumlah retikulosit:
• Anemia normokromik normositik dengan peningkatan jumlah retikulosit:
   - Kehilangan darah baru-baru ini
   -Hemolisis
• Anemia normokromik normositik dengan jumlah retikulosit rendah:
   - Anemia aplastik
   - gagal ginjal kronis
    - Anemia penyakit kronis
    - Anemia akibat eritropoiesis yang tidak efektif

7. Retikulosit harus dibedakan dari (Gambar 21.4):
Gambar 21.4: Diferensiasi retikulosit dari badan Howell-Jolly, badan Heinz, dan inklusi HbH


  • Badan Heinz: Ini adalah rantai globin yang diendapkan yang melekat pada membran sel darah merah. Berwarna biru muda dan terlihat pada defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase setelah terpapar
  • stres oksidan.
  • Badan Pappenheimer: Ini adalah butiran yang mengandung besi yang muncul sebagai satu atau lebih titik kecil di sel darah merah. Mereka memberikan reaksi biru Prusia yang positif. Mereka bingung dengan retikulosit dalam sediaan Romanowsky-counterstained.
  • Inklusi HbH: Bentuknya bulat, seperti bola golf seperti badan inklusi yang terlihat pada α-thalassemia. Mereka terlihat di sebagian besar sel darah merah sementara retikulosit terlihat hanya di beberapa sel.
  • Butiran biru metilen baru ditumpangkan pada sel darah merah, jika noda tidak disaring sebelum digunakan.
  • Badan Howell-Jolly: Ini adalah sisa-sisa nuklir dalam sel darah merah yang terlihat pada anemia tertentu dan setelah splenektomi. Karena pewarna supravital menodai DNA dan RNA, struktur ini juga ternoda.
8. Sel darah merah polikromatik pada apusan darah bernoda Romanowsky mewakili retikulosit. Namun, hanya stadium 1, 2, dan 3 yang menyebabkan polikromasia, sedangkan retikulosit stadium 4 yang memiliki jumlah RNA sedikit tidak menyebabkan polikromasia. Oleh karena itu, menghitung polikromatik
sel tidak dapat digunakan sebagai pengganti jumlah retikulosit.

NILAI REFERENSI PEMERIKSAAN RETIKULOSIT

  • Persentase retikulosit: 0,5-2,5%
  • Jumlah retikulosit absolut: 50.000-85.000 / cmm
BIBLIOGRAFI
  1. Pierre RV. Reticulocytes: Their usefulness and measurement in peripheral blood. Clin Lab Med
  2. 2002;22:63-79.
  3. The Expert Panel on Cytometry of the International Council for Standardization in Hematology: ICSH guidelines for reticulocyte counting by microscopy on supravitally stained preparations. World Health Organization. WHO/LBS/92.3 1992.
Selengkapnya
8:32 AM

Jumlah leukosit total / Total leukocyte count (TLC) mengacu pada jumlah sel darah putih dalam 1 μl darah (atau dalam 1 liter darah jika hasilnya dinyatakan dalam satuan SI). 


Jumlah Leukosit Total, wbc count, hitung sel leukosit lengkap, differential counting, hitung jenis leukosit


Ada dua metode untuk estimasi TLC:

  • Metode manual atau mikroskopis
  • Metode otomatis 

Hitung leukosit diferensial harus selalu dilakukan bersama dengan TLC untuk mendapatkan jumlah sel absolut.

Tujuan dari TLC adalah untuk mendeteksi peningkatan atau penurunan jumlah sel darah putih dalam darah, yaitu leukositosis atau leukopenia. TLC dilakukan untuk pemeriksaan infeksi, demam, gangguan hematologi, keganasan, dan untuk tindak lanjut kemoterapi atau radioterapi.

METODE PEMERIKSAAN LEUKOSIT MANUAL

Prinsip
Sampel darah utuh dicampur dengan pengencer, yang melisiskan sel darah merah dan mewarnai inti sel darah putih. Sel darah putih dihitung dalam ruang hitung hemositometer di bawah mikroskop dan hasilnya dinyatakan sebagai jumlah total leukosit per μl darah atau per liter darah.

Alat dan Bahan Pemeriksaan Leukosit (Sel Darah Putih)

Neubauer counting chamber
Gambar 20.1:  Ruang hitung neubauer: (A) Tampilan permukaan, (B) Tampak samping


1. Hemositometer atau ruang hitung dengan coverglass: Hemositometer yang disarankan adalah yang memiliki aturan Neubauer yang lebih baik dan permukaan metalisasi. Ada dua area yang diatur pada permukaan ruangan (Gbr. 20.1). Masing-masing bidang aturan berukuran 3 mm × 3 mm dan terdiri dari 9 bujur sangkar besar dengan masing-masing bujur sangkar berukuran 1 mm × 1 mm. 

Neubauer counting chamber showing areas for counting WBCs (W) and red blood cells and platelets (R)
Gambar 20.2: Ruang hitung neubauer menunjukkan area untuk menghitung leukosit (W) dan sel darah merah dan trombosit (R)

A Counting area for WBCs and B counting area for RBCs and platelets in Neubauer counting chamber
Gambar 20.3: (A) Area penghitungan untuk sel darah putih dan (B) area penghitungan untuk sel darah merah dan trombosit di ruang penghitungan Neubauer


Ketika kaca penutup tebal khusus ditempatkan di atas area yang ditentukan, volume yang ditempati oleh darah yang diencerkan di setiap kotak besar adalah 0,1 ml. Di ruang Neubauer yang ditingkatkan, alun-alun besar pusat dibagi menjadi 25 kotak, yang masing-masing dibagi lagi menjadi 16 kotak kecil. Sekelompok 16 kotak kecil dipisahkan oleh garis rangkap tiga yang memiliki garis tegas (Gambar 20.2 dan 20.3). 

Permukaan logam membuat aturan latar belakang dan sel mudah terlihat. Empat kotak sudut besar digunakan untuk menghitung leukosit, sedangkan kotak besar pusat digunakan untuk menghitung trombosit dan sel darah merah.  Hanya kaca pelindung khusus, yang dimaksudkan untuk digunakan dengan hemositometer, yang harus digunakan. Ini harus tebal dan rata secara optik. Ketika kaca penutup khusus ditempatkan di permukaan ruangan, ruang volumetrik dengan kedalaman dan volume konstan di seluruh areanya akan terbentuk. Slip penutup biasa tidak boleh digunakan karena tidak memberikan kedalaman konstan ke ruang di bawahnya karena membungkuk. 

Ketika kaca penutup khusus ditempatkan di atas area yang ditentukan dari bilik dan ditekan, cincin Newton (pembiasan berwarna atau cincin berwarna pelangi) muncul di antara dua permukaan kaca; formasi mereka menunjukkan penempatan yang benar dari kaca penutup. 

2. Pipet yang dikalibrasi untuk menghasilkan 20 μl (0,02 ml, 20 cmm): Pipet bulb WBC (Gbr. 20.4), yang memiliki bulb untuk pengenceran dan pencampuran (pipet Thoma) tidak lagi direkomendasikan. Ini karena darah dan cairan pengencer tidak dapat tercampur dengan baik di dalam bulb pipet. Pipet bulb juga sulit dikalibrasi, mahal, dan pengisian ruang hitungnya sulit. Ujung pipet sering kali pecah dengan mudah dan volume darah yang kecil perlu digunakan.

(A) WBC pipette and (B) Sahli’s pipette calibrated to deliver 20 μl
Gambar 20.4: (A) pipet WBC dan (B) pipet Sahli dikalibrasi untuk menghasilkan 20 μl

3. Pipet ukur, 1 ml.
4. pipet pasteur
5. Tabung reaksi (75 × 12 mm).

Reagen

Cairan pengencer WBC (cairan Turk) terdiri dari larutan asam lemah (yang hemolisis sel darah merah) dan gentian violet (yang menodai inti leukosit ungu tua). Cairan pengencer juga menghentikan dan menyebarkan sel dan memfasilitasi penghitungan. Komposisinya adalah sebagai berikut:
  • Asam asetat, glasial 2 ml
  • Gentian violet, 1% encer 1 ml
  • Air suling untuk membuat 100 ml

Spesimen

Darah vena dengan antikoagulan EDTA atau darah yang diperoleh dengan tusukan kulit digunakan. (Heparin tidak boleh digunakan karena menyebabkan penggumpalan leukosit). Saat mengambil darah kapiler dari jari, tekanan berlebihan harus dihindari agar tidak mengencerkan darah dengan cairan jaringan.

Cara Kerja Pemeriksaan Jumlah Leukosit

  1. Pengenceran darah: Ambil 0,38 ml cairan pengencer dalam tabung reaksi. Untuk ini, tambahkan tepat 20 μl darah dan aduk. Ini menghasilkan pengenceran 1:20. Sebagai alternatif, 0,1 ml darah dapat ditambahkan ke 1,9 ml cairan pengencer untuk mendapatkan pengenceran yang sama.
  2. Mengisi ruang hitung: Letakkan kaca penutup di atas hemositometer. Gambarkan sebagian darah yang telah diencerkan ke dalam pipet Pasteur. Pegang pipet Pasteur pada sudut 45 ° dan letakkan ujungnya di antara kaca penutup dan bilik, isi salah satu area yang ditentukan pada hemositometer dengan sampel. Sampel harus menutupi seluruh area yang ditentukan, tidak boleh mengandung gelembung udara, dan tidak boleh mengalir ke saluran samping. Biarkan 2 menit untuk pengendapan sel.
  3. Menghitung sel: Tempatkan hemositometer yang telah diisi pada panggung mikroskop. Dengan iluminasi yang dikurangi untuk memberikan kontras yang memadai, bawalah aturan dan sel darah putih di bawah fokus tujuan daya rendah (× 10). Sel putih muncul sebagai titik hitam kecil. Hitung jumlah sel darah putih dalam empat kotak sudut besar. (Untuk mengurangi kesalahan distribusi, lebih baik menghitung sel di kesembilan kotak). Untuk mengoreksi distribusi acak sel yang terletak di margin persegi, sel yang menyentuh garis kiri atau garis atas persegi dimasukkan dalam hitungan, sedangkan sel yang menyentuh margin bawah dan kanan dikecualikan.
  4. Perhitungan TLC: 
(1) TLC/μl =                    (Number of WBCs counted ×
                            Correction for dilution × Correction for volume)
                       ———————————————————————
                                    (Number of large squares counted)

                                      Number of WBCs counted × 20 × 10
                 = —————————————————
                                                           4
                 = Number of WBCs counted × 50 


(2) TLC/L = Number of WBCs counted × 50 × 10^6 (10^6 is the correction factor to convert count in 1 μl  to count in 1 liter).

Contoh: Dari 200 WBC dihitung dalam 4 kotak besar, TLC / μl akan menjadi 10.000 / μl dan TLC / liter akan menjadi 10.0 × 10^9 / liter.

TLC Untuk Menyatakan : Secara konvensional, TLC dinyatakan sebagai sel / μl atau sel / cmm atau sel / mm3. Dalam satuan SI, TLC dinyatakan sebagai sel × 109 / liter. Faktor konversi untuk satuan konvensional ke SI adalah 0,001 dan SI ke satuan konvensional adalah 1000.

Koreksi TLC untuk sel darah merah berinti: Cairan pengencer tidak melisiskan sel darah merah atau eritroblas berinti. Oleh karena itu, mereka dihitung sebagai leukosit di hemositometer. Jika eritroblas meningkat tajam dalam sampel darah, perkiraan KLT yang berlebihan dapat terjadi. Untuk menghindari hal ini jika eritroblas lebih besar dari 10 per 100 leukosit seperti yang terlihat pada film darah, KLT harus dikoreksi untuk sel darah merah berinti dengan rumus berikut:

                                           TLC/μl × 100
Corrected TLC/μl = ————————————
                                    Nucleated red cells per
                                        100 WBCs + 100

Sumber kesalahan dalam hitung jumlah sel darah manual: Ada dua kesalahan utama: teknis dan inheren.

Kesalahan Teknis Pada Pemeriksaan Jumlah Leukosit Total

Kesalahan dalam pengambilan darah:

  • Penggunaan tourniquet yang lama dan ketat menyebabkan stasis vena dan peningkatan jumlah sel yang salah.
  • Tekanan tusuk jari yang berlebihan menyebabkan pengenceran darah dengan cairan jaringan.
  • Pencampuran darah yang tidak memadai dengan antikoagulan menyebabkan pembentukan gumpalan dalam sampel darah dan jumlah yang salah.
  • Darah vena antikoagulan yang tidak tercampur segera sebelum pengujian akan menyebabkan jumlah yang salah.

Kesalahan dalam pemipetan

  • Penggunaan pipet basah, terkelupas, atau kotor
  • Penggunaan pipet yang tidak dikalibrasi dengan benar
  • Tidak menyeka darah yang menempel di bagian luar pipet
  • Menggunakan pipet bohlam yang sulit dikalibrasi dan mudah putus.

Kesalahan pengisian ruang

• Pengisian ruang yang salah, tumpahan ke parit
• Tidak memberikan waktu 2 menit bagi sel untuk mengendap.
• Pengeringan tepi preparasi
• Tidak menggunakan kaca penutup yang ditentukan
• Ruang berisi kotoran atau gelembung udara.

Kesalahan Inheren (Kesalahan Statistik)
Terlepas dari teknik terbaik, kesalahan masih terjadi karena distribusi sel secara acak di dalam ruangan. Ini menghasilkan variasi jumlah sel di berbagai area dengan ukuran yang sama. Distribusi ini mengikuti hukum Poisson. Lebih banyak sel harus dihitung untuk mengurangi kesalahan ini. Varians ini dihitung dari rumus -/ n:n x 100%, di mana n adalah jumlah total sel yang dihitung. Jika 100 sel dihitung, varians akan menjadi 10%. Dalam 95% kasus, kisarannya adalah n ± 2σ yaitu 100 –2 (10) hingga 100 + 2 (10), yaitu 80 hingga 120. Jika 200 sel dihitung, kesalahan dikurangi menjadi sekitar 7%.

NILAI REFERENSI JUMLAH LEUKOSIT TOTAL

  • Dewasa: 4000-11.000 / μl
  • Baru lahir: 10.000-26000 / μl
  • 1 tahun: 6.000-16.000 / μl
  • 6-12 tahun: 5.000-13.000 / μl
  • Kehamilan: sampai 15.000 / μl

NILAI KRITIS JUMLAH LEUKOSIT TOTAL

  • Jumlah leukosit total <2000 / μl atau> 50000 / μl. 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Cheesbrough M. District laboratory practice in tropical countries. Part 1 and Part 2. Cambridge. Cambridge University Press, 1998.
  2. Lewis SM, Bain BJ, Bates I. Dacie and Lewis Practical Haematology (9th Ed). London. Churchill Livingstone, 2001.
  3. The Expert Panel on Cytometry of the International Council for Standardization in Haematology: Recommended methods for the visual determination of white blood cell count and platelet count. World Health Organization. WHO/DIL/00.3. 2000.
  4. World Health Organization. Manual of Basic Techniques for a Health Laboratory (2nd Ed). Geneva: World Health Organization, 2003.
Baca juga :


Selengkapnya
7:10 AM

Contact Form

Name

Email *

Message *