Total Pageviews

Check Page Rank
Seminar Kesehatan dalam Rangka Hari Kesehatan Nasional(HKN) 2018

Posted by On 4:25 PM

Seminar HKN Banjarbaru 2018

Seminar Kesehatan dalam Rangka Hari Kesehatan Nasional(HKN) 2018 

Peran dan Tanggung Jawab Tenaga Kesehatan dalam Memberikan Penatalaksanaan Penyakit HIV/AIDS



Pemateri
"Pengolahan dan Penyajian Data Rekam Medis untuk Menunkang Kerahasiaan dan Keselamatan Pasien HIV/AIDS"
Apit Widiarti, Amd.PK
(Ka. Instalasi Rekam Medik RSD Idaman Banjarbaru)

"Kehamilan dan Persalinan Aman Pada Penderita HIV"
Hj. Supri Nuryani, S.ST., M.Kes
(Bidan Senior RSUD Ulin Banjarmasin)

"Peran Bidan dalam Kesehatan Reproduksi dan Penanggulangan Masalah HIV/AIDS"
Sadira Hanim, S.Si.T., M.Kes
(Dosen Kebidanan AKBID YEPKESBI Banjarbaru)

"Peran ATLM di Laboratorium dalam Penanganan Spesimen Pasien HIV/AIDS dan Kewaspadaan Universal"
Puspawati, M.Sc
(Kepala Instalasi Laboratorium RSUD Ratu Zalecha)

"TerapiDiet Pasien HIV/AIDS Berdasarkan Issue Terkini"
Bandawati, S.Gz., M.Gizi
(Kepala Instalasi Gizi RSUD Ulin Banjarmasin)

"Penatalaksanaan Diet pada Pasien HIV/AIDS Berdasarkan Status Gizi"
Nany Suryani, S.Gz., M. Biomed
(Dosen STIKES HUSADA BORNEO Program Gizi)

"Nutrisi untuk Meningkatkan Kekebalan Tubuh"
Rosehan Anwar, S.Gz., MPH
(Dosen POLTEKKES KEMENKES Banjarmasin)


Waktu dan Tempat :
Minggu, 18 November 2018
Pkl. 08.00 s.d Selesai
Grand Permata in Hotel
Jl. A. Yani Km. 21 No. 88 Banjarbaru - Kalimantan Selatan

Pendaftaran :
Pendaftaran dimulai dari tanggal 23 Juli - 11 November 2018
  • Mahasiswa          Rp. 100.000
  • Profesi/Umum   Rp.120.000


Fasilitas :
  • Seminar Kit
  • Snack Pagi
  • Makan siang
  • Sertifikat : 2 SKP Persagi, 2 SKP Pormiki, 1 SKP IBI, 2 SKP PATELKI
  • Doorprize (Batam, Malaysia dan Singapura GRATIS.....)
Contact Person :
Renny Sislia (PATELKI) : 0821-9572-6827

Seminar Nasional Trichomoniasis, Better Prevent Than Cure | DPW IMATELKI D.I Yogyakarta 2018

Posted by On 5:40 AM

Seminar Nasional IMATELKI DI Yogyakarta 2018


Trichomoniasis adalah Penyakit Menular S*ksual (PMS) yang disebabkan oleh protozoa Trichomonas vaginalis. Nah kita sebagai ATLM wajib mengetahui dan mengenal lebih dalam serta mewujudkan peran ATLM dalam deteksi dini dan tanggap oleh penyebaran trichomoniasis tersebut. Untuk itu, jadilah bagian dari kami :



🔬DPW IMATELKI D.I.Yogyakarta🔬
proudly presents 
SEMINAR KESEHATAN NASIONAL 
"Trichomoniasis, Better Prevent Than Cure"

Pembicara :
"Epidemiologi dan Siklus Hidup Trichomoniasis"
Siti Zainatun Wasilah, S.Si., M.Sc

"Deteksi Dini dan Pemeriksaan Laboratorium Trichomoniasis"
Yoki Setyaji, S.ST

"Patofisiologi dan pengobatan Trichomoniasis"
dr. R. Detty Siti Nurhadiati. Z, MPH., PhD., SpOG(K)

"Kewenangan dan tanggung Jawab Pemeriksaan Trichomoniasis dalam Praktik ATLM"
Yanuar Amin, S.ST., SH., M.HKes

Waktu dan Tempat :
Minggu, 30 September 2018
Pkl. 07.00 - Selesai
Convention Hall
Asri Medical Center (AMC)
Jl. Hos Cokroaminoto No. 17 - Yogyakarta

Registrasi
Presale 1 (4 Agustus-13 Agustus 2018) : 
👤Mahasiswa :130K 
👥Nakes/Umum :145K



Presale 2 (14 Agustus-20 September 2018) : 
👤Mahasiswa : 140K
👥Nakes/Umum: 155K

OTS : 180K

Cara Pendaftaran : 
Langsung -> Kampus Jurusan Analis Kesehatan, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Transfer -> BRI 300801031246539
a.n. Ni Nyoman Sri Laxsmi Ramana

Fasilitas :
📚Ilmu dan Materi
💼Seminar Kit
🍛Lunch dan Snack
📒Sertifikat 3 SKP Patelki
🎁Doorprize
🎉Hiburan

☎ *Contact Person* :
Rama : 082187573957
Villa : 082248391388
*Ida : 085848744670 (konfirmasi via transfer)

*More info*
Ig : @imatelki_jogja

Pendahuluan : Pemeriksaan Laboratorium Pada Sifilis dan Gonorrhoe

Posted by On 4:31 PM

Pemeriksaan laboratorium S1filis dan G0norhoe

Infolabmed. Pada artikel ini kami akan terus berupaya memberikan edukasi-edukasi tentang berbagai pemeriksaan laboratorium baik yang sudah pernah diajarkan di kampus atau pun yang belum. Materi pendahuluan ini dituliskan di web untuk memberikan prolog pada e book yang akan dibuat sama dengan judul yaitu Pemeriksaan Laboratorium Pada Sifilis dan G0norrhoe



Penyakit Menular S**sual (PMS) adalah sekelompok penyakit menular yang biasanya ditularkan melalui hubungan s**sual. PMS dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, protozoa atau ektoparasit. Di sebagaian negara, insiden PMS masih tinggi dan setiap tahun beberapa juta kasus baru ditemukan beserta komplikasi medisnya antara lain kemandulan, kecacatan, gangguan kehamilan, gangguan pertumbuhan, kanker bahkan kematian.

Penyakit yang termasuk PMS adalah gonore, sifilis, uretris non gonore (UNG), limfogranuloma inguinale (LGV), ulkus mole, vagionosis, herpes genitalis, trikomoniasis, giardiasis, dan lain-lain. 

Karena banyaknya penyakit yang termasuk dalam PMS, maka pada protap ini hanya akan dibahas mengenai penyakit s1filis dan gonore.

S1filis adalah penyakit kelamin yang bersifat kronis dan sistemik. Meskipun s1filis pada saat ini sudah dapat dikendalikan dibandingkan dengna gonore, tetapi s1filis masih merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyerang seluruh organ tubuh termasuk sistem kartdiovaskuler, saraf dan juga dapat menyebabkan kelainan bawaan.

Stadium s1filis terdiri dari :
  • S1filis primer : ditandai adanya makula berwarna merah muda, terutama pada alat genital. Makula kemudian akan menjadi bentuk papular dan terjadi ulserasi (primary chance). Chancre  yang tidak diobati akan sembuh dalam 3-8 minggu, tetapi masih dapat tetap ada pada stadium sekunder. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan kuman T.palldium dan berdasarkan tes serologi. Jika hasil tes serologi negatif, maka tes diulang setelah 3 minggu.
  • S1filis sekunder : interval antara munculnya ulkus primer dengan manifestasi klinik sifilis sekunder bervariasi antara 6-8 minggu. Diagnosis tidak hanya ditegakkan berdasarkan gejala klinik, tetapi harus didukung dengan identifikasi T.pallidum pada serum yang diambil dari lesi dan ulkus mukosa. Tes serologi positif pada stadium in, tapi tidak bisa dijadikan dasar untuk menegakkan diagnosis. 
  • S1filis laten : jika s1filis sekunder tidak diobati, manifestasi kliniknya akan sembuh perlahan-lahan dan akan masuk ke stadium laten. Banyaknya kasus s1filis terdiagnosis dengna tes skrining serologi pada stadium laten ini dan disebut s1filis dini (kurang dari 2 tahun setelah terpapar) atau s1filis lanjut (lebih dari 2 tahun setelah terpapar). Jika hasil serologi positif, maka tes harus diulangi setelah 2 minggu untuk konfirmasi.
  • S1filis tersier : gejala klinik s1filis ini dapat terjadi 3 tahun atau lebih setelah s1filis primer. Gejala khas berupa lesi yang disebut gumma. Diagnosis berdasarkan anamnesis, gejala klinik dan tes serologi. 

Pada infeksi s1filis dapat terbentuk 2 golongan antibodi dalam darah penderita yaitu antibodi treponemal dan antibodi non treponemal atau reagin. VDRL (Veneral Disease Research Laboratory) adalah salah satu tes non treponemal yang menggunakan teknik flokulasi, dikenal sebagai tes standar untuk s1filis dan penggunaannya telah direkomendasikan oleh WHO. Tes ini cukup mudah dikerjakan dan murah, walaupun baru memberiksan hasil positif sekitar 4 minggu setelah infeksi. Tes VDRL berguna untuk tes skrining dan untuk menilai hasil pengobatan. Tes non treponemal selain VDRL yang dapat digunakan adalah RPR (Rapid Plasma Reagin)



Tes treponemal terutama digunakan untuk konfirmasi tes non treponemal, atau untuk pemeriksaan pasien dengan gejala-gejala s1filis lanjut tanpa melihat bagaimana hasil non treponemalnya. Tes treponemal yang sering digunakan adalah TPHA (Treponemapallidum Hemagglutination Assay), merupakan tes treponemal yang menerapkan teknik hemaglutinasi tidak langsung untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap T. pallidum. 

Hasil tes TPHA positif 3-4 minggu setelah infeksi. Pada s1filis dini dengan pengobatan yang efektif, reaktivitas TPHA kadang-kadang baru menghilang beberapa tahun sesudahnya. Pada penyakit yang tidak diobati, TPHA tetap positif dalam semua stadium karena kuman yang peresisten tetap memberikan rangsangan antibodi. Pada stadium lanjut, tes TPHA lebih sensitif daripada tes Treponema pallidum Immobilization (TPI) maupun Fluorescent Treponema Antibody Absorption (FTA-ABS).

G0nore adalah salah satu penyakit infeksi tertua yang teruma melibatkan saluran genitourinaria, walaupun faring, rektum, mata, sendi dan organ lain dapat juga terkena. Diagnosis g0nore dapat dipastikan dengan menemukan Neisseria gonorrhoe atau gonokokus sebagai penyebab penyakit, baik secara mikroskopis ataupun hasil kultur. 

Neisseria gonorrhoe adalah  diplokokus berbentuk biji kopi, tahan asam, gram negatif yang hanya berhospes alamiah pada manusia. Neisseria gonorrhoe pada mulanya menginfeksi permukaan mukosa saluran genitourinarius, terutama uretra laki-laki dan endotelium serviks perempuan.

Tes Gram dari sekret uretra pria memiliki sensitifitas tinggi (90-95%) dan spesifisitas 95-99%, sedangkan dari endoserviks, sensitivitasnya hanya 45-65% dengan sensitifisitas 90-99%. Tes ini direkomendasikan untuk dilakukan di klinik luar rumah sakit/praktek pribadi, klinik dengan fasilitas laboratorium terbatas, maupun rumah sakit dengan fasilitas laboratorium lengkap.

Tes laboratorium sangat penting karena banyak PMS yang secara klinik tidak menunjukkan kelainan yang jelas. Persiapan penderita dan pengambilan sampel sangat menentukan hasil tes laboratorium. 

Sumber :
Hardjoeno, H. Dkk. 2003. Interpretasi Hasil Tes Laboratorium Diagnostik. Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (LEPHAS) : Makassar.

PENTING Terimakasih sudah berkunjung ke website Kami. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya.
Baca juga :

Seminar Kesehatan BEM Politeknik Medica Farma Husada Mataram 2018 | Peran Kolaborasi Multidisiplin dalam Pelayanan Pasien Tuberculosis

Posted by On 6:06 AM

Seminar BEM Peliteknik Medica Farma Husada

Seminar Kesehatan BEM Politeknik Medica Farma Husada Mataram 

"Peran Kolaborasi Multidisiplin dalam Pelayanan Pasien Tuberculosis"
Dalam rangka Dies Natalis 9th Politeknik Medica Farma Husada Mataram



Narasumber :
Dr. Arta Budi Susita Darsa, M.Kes
"Epidemiologi Tuberculosis"

Dr. Salim, Sp.P
"Terapi Penyakit TBC Pada Kehamilan atau Pasien Pada Umumnya"

Perwakilan dari PPNI
"Perawatan Pasien TBC di RUmah Sakit atau Rumah"

Perwakilan dari PATELKI
"Pemeriksaan Laboratorium TBC"

Waktu dan Tempat 
Minggu, 16 September 2018
Pkl. 08.00 Wita s.d Selesai
Gedung Wisma Tambora
BPSDM Provinsi NTB
Jl. Pemuda 59 Gomong, Mataram

Biaya Registrasi 
Gelombang I (26 Juni - 15 Agustus 2018) :
- Umum      Rp. 150.000
- Mahasiswa Rp. 100.000

Gelombang II (15 Agustus - 15 September 2018) :
- Umum       Rp. 200.000
- Mahasiswa  Rp. 150.000

Onsite (16 September 2018) : 
- Umum       Rp. 225.000
- Mahasiswa  Rp. 175.000



Fasilitas :
  • Seminar KIT
  • Snack
  • Rice Box
  • Sertifikat (3 SKP PATELKI, 2 SKP IBI, 4 SKP PAFI, 1 SKP PPNI)
Pembayaran Via Transfer :
  • BNI 0606954766
  • BRI 471301024713533
  • Mandiri 1610004513813
Informasi atas nama nomer rekening di atas, untuk menghubungi CP dibawah ini.

Contact Person 
  • Husnu 0853 3320 9185
  • Sumiatun 0853 3725 1970
  • Ragil 0853 3370 8363

Menganalisis Tumor Prostat Untuk Mendapatkan Petunjuk Tingkat Agresivitas Kanker

Posted by On 1:54 PM

Analisa Tumor Prostat.

Infolabmed. Dengan menggunakan sekuensing genetika, para ilmuwan telah mengungkapkan susunan DNA lengkap lebih dari 100 tumor prostat agresif, menunjukkan dengan tepat kesalahan genetik penting yang dimiliki oleh tumor mematikan ini. Studi ini meletakkan dasar untuk menemukan cara-cara baru untuk mengobati kanker prostat, terutama pada bentuk-bentuk paling agresif dari penyakit ini.



Studi multicenter, yang memeriksa genom tumor yang tumbuh dan menyebar dengan cepat, dipimpin oleh Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis dan Universitas California, San Francisco. Penelitian ini muncul 19 Juli di jurnal Cell.

Foksus studi baru ini meneliti lebih dari 160.000 kasus kanker prostat yang didiagnosis setiap tahun di AS. Sementara sekitar 80 persen pasien kanker prostat memiliki tumor yang tumbuh lambat dan memiliki pilihan pengobatan yang efektif, dan sekitar 20 persen dari pasien tersebut kanker prostat berkembang dalam bentuk paling agresif. 

Sebagian besar studi genetik tentang kanker prostat telah difokuskan pada bagian-bagian genom yang mengendalikan protein apa yang diproduksi oleh tumor. Protein bertindak seperti mesin sel. Ketika mereka berfungsi dengan baik, protein melakukan tugas-tugas seluler yang diperlukan untuk kesehatan yang baik. Namun ketika protein tidak berfungsi dengan baik, penyakit, termasuk kanker, dapat terjadi.

Namun, gen yang membuat protein hanya mewakili 1 hingga 2 persen dari seluruh genom. Analisis baru adalah studi berskala besar pertama dari seluruh genom - semua DNA, termasuk semua gen tumor - tumor prostat metastatik, dan mengungkapkan bahwa banyak dari tumor ini memiliki masalah pada bagian genom yang memberi tahu protein-coding gen apa yang harus dilakukan.

Para peneliti terkejut menemukan bahwa sekitar 80 persen dari tumor agresif yang diteliti memiliki perubahan genetik yang sama di wilayah genom yang mengontrol reseptor androgen. Kesalahan genetik ini memunculkan tingkat reseptor androgen pada sel kanker prostat. Reseptor-reseptor seperti itu mengikat hormon-hormon laki-laki seperti testosteron dan mendorong pertumbuhan tumor.

Perawatan umum untuk kanker prostat, di luar pilihan operasi tradisional, kemoterapi dan radiasi, melibatkan terapi deprivasi androgen, di mana obat digunakan untuk memblokir testosteron dari pengikatan ke reseptor androgen. Karena tumor prostat sering menjadi kanker yang digerakkan hormon testosteron, dengan memblokir testosteron dari pengikatan reseptor ini dapat memperlambat pertumbuhan tumor.



Semua pria dalam penelitian ini memiliki tumor yang dapat berkembang menjadi resistensi pada terapi deprivasi androgen, yang berarti reseptor androgen selalu diaktifkan, memicu tumor, apakah testosteron ada atau tidak. Pasien dalam situasi ini tidak memiliki pilihan pengobatan yang efektif. Para peneliti menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen dari pasien ini memiliki mutasi yang membantu menjelaskan keagresifan kanker mereka; kesalahan genetik ini mengaktifkan reseptor androgen.

PENTING Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya.
Baca juga :
  1. Mars PATELKI (Lirik Official)  
  2. Spesies Ragi Yang Digunakan Dalam Industri Makanan Menyebabkan Penyakit Pada Manusia 
  3. Pelanggaran di China Atas Skandal Keamanan Vaksin Terbaru  
  4. Biomarker Pertama untuk Penyakit Parkinson
  5. Pengobatan Glasmodium Vivax, Krintafel, Menerima Persetujuan FDA

Pengobatan Glasmodium Vivax, Krintafel, Menerima Persetujuan FDA

Posted by On 1:19 PM

GlaxoSmithKline Logo

Infolabmed. GlaxoSmithKline (GSK) dan Medicines for Malaria Venture (MMV) mengumumkan bahwa FDA AS telah menyetujui, di bawah Priority Review, Krintafel dosis tunggal (tafenoquine) untuk penyembuhan radikal (pencegahan kambuhnya) dari malaria Plasmodium vivax (P. vivax) pada pasien yang berusia 16 tahun dan lebih tua yang menerima terapi antimalaria yang tepat untuk infeksi akut P. vivax.



Krintafel adalah turunan 8-aminoquinoline dengan aktivitas melawan semua stadium P. vivaxlifecycle, termasuk hypnozoites.

Dr. Hal Barron, Kepala Petugas Ilmiah dan Presiden Penelitian dan Pengembangan, GSK, mengatakan: “Persetujuan hari ini terhadap Krintafel, pengobatan baru pertama untuk malaria Plasmodium vivax lebih dari 60 tahun, adalah tonggak penting bagi orang yang hidup dengan jenis malaria yang kambuh berulang. Bersama dengan mitra kami, Obat untuk Malaria Venture, kami percaya Krintafel akan menjadi obat penting bagi pasien dengan malaria dan berkontribusi pada upaya berkelanjutan untuk memberantas penyakit ini. ”

Persetujuan itu didasarkan pada efikasi dan keamanan data dari pengembangan klinis global yang komprehensif P. vivax program penyembuhan radikal yang dirancang sesuai dengan FDA. Tiga belas studi pada sukarelawan sehat dan pasien secara langsung mendukung program tersebut.


P. vivax malaria memiliki dampak kesehatan dan ekonomi masyarakat yang signifikan, terutama di Asia Selatan, Asia Tenggara, Amerika Latin dan tanduk Afrika. Penyakit ini diperkirakan menyebabkan sekitar 8,5 juta infeksi klinis setiap tahun. Gambaran klinis malaria P. vivax termasuk demam, menggigil, muntah, malaise, sakit kepala dan nyeri otot, dan dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan malaria berat dan berakibat fatal.

PENTING Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya.
Baca juga :
  1. Unimus Mendapat Izin Pembukaan Program Magister Ilmu Laboratorium Klinis (Sains Laboratorium Medis) 
  2. Mars PATELKI (Lirik Official)  
  3. Spesies Ragi Yang Digunakan Dalam Industri Makanan Menyebabkan Penyakit Pada Manusia 
  4. Pelanggaran di China Atas Skandal Keamanan Vaksin Terbaru  
  5. Biomarker Pertama untuk Penyakit Parkinson

Patch yang bisa dipakai mengukur kortisol dalam keringat

Posted by On 12:56 PM

Ilustrasi

Infolabmed. Para peneliti dari Stanford University telah merancang perangkat yang dapat dikenakan yang mengukur seberapa banyak kortisol yang diproduksi seseorang melalui keringat, menurut siaran pers dari universitas.



“Tujuan kami adalah untuk mengembangkan perangkat yang dapat memberi kami informasi lebih lanjut tentang status kesehatan kami daripada biomarker tunggal, dan perangkat yang berpotensi dapat memberi tahu kami bagaimana sistem metabolisme dan kekebalan tubuh dipengaruhi oleh kondisi [fisiologis kita],” Onur Parlak, PhD, dari jurusan ilmu material dan teknik dan sarjana pasca-doktoral di Salleo Research Group di Stanford University, mengatakan kepada Endocrine Today. “Keingintahuan ini membawa kita untuk [mulai] bekerja pada sensor kortisol, karena itu didokumentasikan dengan baik bahwa kortisol adalah hormon yang mempengaruhi tekanan darah, metabolisme, respon imun, memori dan [yang] dapat, seiring waktu, berkontribusi pada perkembangan penyakit kronis. "

Karena metode saat ini untuk menguji kadar kortisol memerlukan waktu beberapa hari untuk menerima hasil lab, kadar kortisol seseorang mungkin sudah berbeda ketika darah pada saat diambil dan ketika saat hasil lab sudah keluar, menurut siaran pers. Untuk menanggulangi penundaan ini - dan membantu penyedia perawatan kesehatan memberikan waktu perawatan yang paling efisien untuk kondisi medis tertentu - para peneliti menciptakan patch yang melar yang diterapkan langsung ke kulit dan dapat, dengan merasakan keringat, menilai tingkat kortisol seseorang.



Jenis tes kerja cepat ini dapat bermanfaat dalam mengungkapkan keadaan emosional anak-anak muda, kadang-kadang non-verbal, yang belum dapat mengomunikasikan perasaan dari stres.

Teknologi sensor yang dapat dipakai sudah berkembang ke titik di mana kita dapat memantau status kesehatan kita secara real-time dan mengekstrak informasi berharga untuk berpotensi memprediksi penyakit di masa depan, menurut Parlak. Namun, ia memperingatkan agar tidak terlalu mempromosikan perangkat pemantauan berkelanjutan untuk penyakit tertentu ketika penelitian belum sepenuhnya dikembangkan.

PENTING Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya.
Baca juga :
  1. Unimus Mendapat Izin Pembukaan Program Magister Ilmu Laboratorium Klinis (Sains Laboratorium Medis) 
  2. Mars PATELKI (Lirik Official)  
  3. Spesies Ragi Yang Digunakan Dalam Industri Makanan Menyebabkan Penyakit Pada Manusia 
  4. Pelanggaran di China Atas Skandal Keamanan Vaksin Terbaru 
  5. Biomarker Pertama untuk Penyakit Parkinson