Total Pageviews

Check Page Rank

Hubungan Usus Buntu (Appendix) Dengan Protein Alpha-synuclein Penyebab Parkinson

Posted by On 4:52 AM


Penyakit Parkinson adalah gangguan otak yang menyebabkan gemetar, kekakuan, dan kesulitan untuk berjalan, keseimbangan, dan koordinasi. Gejala biasanya mulai secara bertahap dan memburuk dari waktu ke waktu. Penyakit Parkinson dihasilkan dari hilangnya sel-sel otak penghasil dopamin yang mengontrol gerakan.

usus buntu,penyebab usus buntu,ciri usus buntu,gejala usus buntu ringan,usus buntu sebelah mana,usus buntu pecah,usus buntu gejalanya,usus buntu adalah,usus buntu gejala,usus buntu disebabkan oleh,usus buntu kronis,usus buntu pada anak,usus buntu tanpa operasi,usus buntu di sebelah mana,usus buntu akut,usus buntu penyebab,biaya operasi usus buntu 2017,biaya operasi usus buntu 2018,usus buntu operasi,usus buntu karena apa,usus buntu sembuh tanpa operasi,usus buntu saat hamil muda,usus buntu nyeri perut sebelah mana,usus buntu setelah operasi,usus buntu harus operasi,usus buntu letaknya dimana,usus buntu ciri cirinya,usus buntu gejala awal
Hubungan Usus Buntu dan Otak.

Banyak sel otak orang-orang dengan Parkinson mengandung Lewy bodies, yang merupakan kumpulan protein alpha-synuclein yang tidak biasa. Gumpalan protein ini dianggap beracun bagi sel dan menyebabkan sel-sel tersebut mati. Protein ini juga telah terbukti menumpuk pada usus pasien dengan diagnosa Parkinson. Ada bukti bahwa protein tersebut mungkin dapat melakukan perjalanan dari usus ke otak yang terhubung melalui saraf vagal. Gejala gastrointestinal sering dikaitkan dengan penyakit Parkinson dan dapat mulai hingga 20 tahun sebelum gejala degradasi sel otak.

Sebuah tim yang dipimpin oleh Dr. Viviane Labrie di Van Andel Research Institute berusaha untuk menyelidiki apakah usus bisa terlibat dalam memicu penyakit Parkinson. Mereka fokus pada apendiks (usus buntu). Meskipun sering dinyatakan sebagai organ yang tidak memiliki peran atau fungsi, usus buntu merupakan jaringan yang berfungsi sebagai imun dan terlibat dalam pertahanan tubuh terhadap mikroba dan membantu mengatur bakteri yang ada dalam usus.

Tim tersebut telah menganalisis berbagai rekam medis hampir 1,7 juta orang yang informasi kesehatannya dilacak hingga 52 tahun. Mereka membandingkan kemungkinan serta mengembangkan apakah ada keterkaitan penyakit Parkinson di antara mereka yang usus buntunya telah di lepas atau diangkat, dengan mereka yang masih memiliki usus buntu. Pekerjaan ini didukung sebagian oleh Institut Nasional NIH dalam Deafness and other Communication Disorders (NIDCD) dan National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). Hasil penelitian tersebut telah dipubhlikasikan pada 31 Oktober 2018, pada Science Translational Medicine.

Orang-orang yang usus buntunya dilepas atau diangkat (melalui pembedahan atau operasi usus buntu karena suatu penyakit) memiliki 19,3 persen kemungkinan lebih rendah terkena penyakit Parkinson. Sedangkan, mereka yang tinggal di daerah pedesaan dan memiliki usus buntu memiliki peluang yang lebih rendah lagi yaitu sekitar 25,4 persen. Orang-orang yang telah menjalani operasi usus buntu dan mengarah menuju penyakit Parkinson menunjukkan serangan penyakit yang relatif tertunda terhadap mereka yang masih memiliki usus buntu — penundaan terjadinya parkinson rata-rata 3,6 tahun bagi mereka yang pernah menjalani operasi usus buntu setidaknya 30 tahun sebelumnya.

Tim juga menemukan penumpukan bentuk alpha-synuclein beracun di usus buntu sukarelawan yang sehat. Hal ini menunjukkan bahwa usus buntu mungkin menjadi reservoir untuk protein pembentuk penyakit dan mungkin terlibat dalam pengembangan penyakit Parkinson. 

PENTING Terimakasih sudah berkunjung ke website Kami. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya. Kerjasama media pubhlikasi, kirim e mail ke : laboratorium.medik@gmail.com
Baca juga :


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »