Prosedur Pemeriksaan Tuberkulosis Menggunakan TCM (Pra Analisis, Analisis dan Pasca Analisis)

Table of Contents


PRA-ANALISIS Pemeriksaan Tuberkulosis Menggunakan TCM

1. Pengumpulan Spesimen (Spesimen Dahak dan Non Dahak)

Untuk diagnosis TB pada Anak, spesimen yang dapat digunakan adalah:

  1. Dahak baik melalui berdahak langsung maupun induksi sputum.
  2. Bilas Lambung.
  3. Feses (jika tidak dapat diperoleh spesimen dahak maupun bilas lambung, sementara kecurigaan TB paru masih ada).

      a. Prosedur Pengumpulan Spesimen Dahak

Cara penulisan identitas pasien pada pot dahak spesimen tuberkulosis dengan Tes cepat molekuler
Gambar 5.1  Cara penulisan identitas pasien pada pot dahak


  1. Sediakan pot dahak bertutup minimal 4 ulir, baru, bersih, dan bermulut lebar (± diameter 5cm).
  2. Tuliskan nama pasien dan nomor identitas spesimen dahak pada dinding pot dahak sesuai dengan aturan penamaan pedoman nasional. JANGAN lakukan penulisan identitas pasien pada tutup pot dahak (Gambar 5.1).
  3. Pengumpulan spesimen dahak dilakukan di tempat khusus berdahak (sputum booth) yang terdapat di ruang terbuka, mendapat sinar matahari langsung, terdapat wastafel, sabun cuci tangan, tempat sampah infeksius, tisu, dan tidak dilalui banyak orang. Contoh sputum booth dapat dilihat pada Gambar 5.2.
Sputum booth tampak depan; B. Wastafel sputum booth

Gambar 5.2   Sputum Booth. A. Sputum booth tampak depan; B. Wastafel sputum booth


4.   Bila memakai gigi palsu, lepaskan sebelum berkumur.
5.   Kumur dengan air minum sebelum mengeluarkan dahak.
6.   Tarik napas dalam sebanyak 2-3 kali dan setiap kali hembuskan napas dengan kuat.
7.   Letakkan pot dahak yang sudah dibuka dekat dengan mulut. 
8. Batukkan dengan keras dari dalam dada dan keluarkan dahak ke dalam pot. Tutup langsung pot dahak dengan rapat. Hindari terjadinya tumpahan atau mengotori bagian luar wadah dan kemudian kencangkan tutup pada wadah pengumpulan. Pemeriksaan TCM membutuhkan volume dahak minimal 1 ml.
9.   Bersihkan mulut dengan tisu dan buang tisu pada tempat sampah tertutup yang sudah disediakan.
10. Cuci tangan dengan sabun dan antiseptik.

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menilai kualitas dahak:

a. Periksa  kekentalan,  warna,  dan  volume  dahak.  Dahak  yang  baik  untuk pemeriksaan  adalah  berwarna  kuning  kehijau–hijuan  (mukopurulen),  dan kental.
b. Hindari menggunakan spesimen dahak yang mengandung sisa makanan atau partikel  padat  lainnya.  Apabila  tidak  memungkinkan  untuk  mendapatkan spesimen  baru,  lakukan  pengolahan  spesimen dan  ambil bagian  yang  tidak bercampur dengan sisa makanan atau partikel padat lainnya.


b. Prosedur Pengumpulan Spesimen Non-Dahak

Cara pengambilan spesimen non dahak mengacu kepada SPO masing-masing rumah sakit.


2.    Pengiriman Spesimen (Spesimen Dahak dan Non-Dahak)

a.  Alat TCM yang Berada di Dalam Fasilitas Kesehatan 
Apabila laboratorium TCM berada dalam fasilitas kesehatan yang sama, maka spesimen harus dikirim secepatnya.
b.  Alat TCM yang Berada di Luar Fasilitas Kesehatan
Apabila laboratorium TCM berada di luar fasilitas kesehatan, pihak pengirim harus berkoordinasi dengan laboratorium pelaksana TCM sebelum mengirimkan spesimen dahak. Pengemasan dan pengiriman spesimen dilakukan sebagai berikut:
  • Pot spesimen ditutup rapat dan disegel dengan parafilm.
  • Masukkan pot spesimen ke dalam kantong plastik klip berisi 1 lembar tisu. Pastikan klip tertutup sempurna, rapikan dan ikat dengan karet gelang. 
  • Masukkan kantong plastik yang telah berisi pot terduga TB ke dalam cool box/Styrofoam box/ kotak plastik. 
  • Masukkan ice pack gel/ cool pack beku/ ice cube untuk menjaga suhu tetap dingin. 
  • Isi ruang kosong pada cool box/styrofoam box/kotak plastik dengan potongan kertas bekas sampai seluruh box padat agar posisi pot dahak tidak berubah. 
  • Tutup cool box/ Styrofoam box/ kotak plastik dengan rapat, rekatkan lakban bening di sekeliling tutupnya. 
  • Tempelkan label tanda arah panah (  ) sesuai arah atas pot dan label BAHAN RUJUKAN LABORATORIUM pada dinding cool box/ Styrofoam box/ kotak plastik. 
  • Masukkan  lembar  rujukan  permintaan  pemeriksaan  laboratorium  ke  dalam amplop yang bertuliskan alamat laboratorium rujukan dan pengirim. 
  • Masukkan amplop dalam kantung plastik klip. 
  • Tempelkan amplop pada bagian atas cool box/ Styrofoam box/ kotak plastik, rekatkan dengan lakban bening. 
  • Contoh pelabelan pengemasan dan pengiriman pot: 
         1)   Gambar tanda panah dan barang mudah pecah 

       2)   Amplop bertuliskan alamat pengirim dan laboratorium rujukan


3.    Penerimaan Dan Penyimpanan Spesimen 
a. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menerima Spesimen 

  • Petugas  laboratorium  pelaksana  TCM  harus  memeriksa  kelengkapan  dan kesesuaian paket spesimen yang diterima dengan formulir TB-05.
  • Petugas laboratorium pelaksana TCM mencatat data permintaan pemeriksaan TCM ke dalam buku register (TB-04). Periksa kesesuaian identitas pada pot spesimen dengan lembar pengumpulan dan pemeriksaan spesimen.
  • Bila terdapat ketidaksesuaian identitas dan kualitas spesimen, segera hubungi pengirim untuk melakukan klarifikasi.

b. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menyimpan Spesimen 

a. Petugas  laboratorium pelaksana  TCM  harus  menggunakan  APD,  yaitu  jas laboratorium, masker, dan sarung tangan pada saat membuka kemasan dan melakukan proses pemeriksaan spesimen.
b. Periksa kerapatan tutup pot dan perhatikan ada tidaknya kebocoran pada pot spesimen.  Jika  terdapat  pot  spesimen yang  pecah,  maka  pot spesimen diperlakukan  sebagai  limbah  infeksius.  Selanjutnya,  harus  dilaporkan  ke laboratorium  pengirim  spesimen  melalui  telepon/email  secepatnya  dan dimintakan spesimen baru.
c.  Pemeriksaan   harus   dilakukan   sesegera   mungkin,   namun   apabila   tidak memungkinkan maka penyimpanan spesimen dilakukan pada: 
i.    Suhu 2-8o C. Spesimen harus diolah dalam 7 hari, ATAU 
ii.    Suhu ruang. Spesimen harus segera diolah dalam 3 hari.
d. Bila spesimen yang terkumpul tidak memenuhi kualifikasi sebagai spesimen yang berkualitas,  petugas  laboratorium berhak  meminta  pasien  terduga  TB memberikan spesimen kembali.
e. Petugas laboratorium pelaksana TCM harus mencuci tangan dengan sabun dan air  mengalir,  serta  membilas  kedua  tangan  dengan  alkohol  70%  setelah melakukan penyimpanan spesimen.

4.    Prosedur Preparasi Spesimen Dahak dan Non Dahak

Pastikan alat TCM telah menyala dan status modul adalah available sebelum melakukan pengolahan spesimen untuk pemeriksaan TCM. Petugas laboratorium wajib mengenakan APD selama bekerja di laboratorium. Prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) dalam pengolahan spesimen harus diterapkan.

a.    Spesimen Dahak

Spesimen dahak dapat berupa dahak yang dikeluarkan langsung atau dengan cara  invasif  (seperti  induksi  dan  suction).  Pengolahan  spesimen  dahak  dapat dilakukan di tempat yang sama untuk pengolahan dan pewarnaan mikroskopis. 

Apabila di laboratorium pelaksana TCM tersedia Biological Safety Cabinet (BSC), maka direkomendasikan untuk dapat mengolah spesimen di dalam BSC. 

Berikut adalah prosedur pengolahan spesimen dahak:
a.  Beri label identitas pada setiap katrid. Identitas spesimen dapat ditempel atau ditulis pada bagian sisi katrid. JANGAN memberikan label pada bagian barcode.
b. Bukalah penutup pot dahak, tambahkan Sample Reagent yang sudah tersedia sebanyak 2 kali volume spesimen.

Gambar 5.3   Sample Reagent dan Prosedur Umum Pengolahan Spesimen
1.   Campur Sample Reagent dengan sampel, kocok, dan inkubasi
2.   Masukkan spesimen ke dalam katrid
3.   Masukkan katrid yang sudah berisi spesimen ke dalam alat TCM

Catatan:
  • 1 Sample Reagent untuk pengolahan 1 spesimen dahak.
  • Apabila volume dahak >4 ml, maka disarankan untuk membagi spesimen menjadi 2 bagian dan harus dilakukan dalam BSC. Satu bagian digunakan untuk pemeriksaan TCM, satu bagian lainnya disimpan dalam pot dahak baru sebagai cadangan.
c. Tutup kembali pot dahak, kemudian kocok dengan kuat sampai campuran dahak dan Sample Reagent menjadi homogen. 
d. Diamkan selama 10 menit pada suhu ruang.  
e. Kocok kembali campuran, lalu diamkan selama 5 menit.
f.  Bila masih ada gumpalan, kocok kembali agar campuran dahak dan  Sample Reagent menjadi homogen sempurna dan biarkan selama 5 menit pada suhu kamar.
g. Buka penutup katrid, kemudian buka tempat penampung spesimen. Gunakan pipet yang disediakan untuk memindahkan spesimen dahak yang telah diolah sebanyak 2 ml (sampai garis batas pada pipet) ke dalam katrid secara perlahan- lahan untuk mencegah terjadinya gelembung yang bisa menyebabkan eror.
h. Tutup katrid secara perlahan dan masukan katrid ke dalam alat TCM. 

Catatan:
  • Spesimen yang  sudah  diolah  dan  masuk ke  dalam  katrid  harus  segera dimasukkan ke dalam alat TCM. Saat mengolah beberapa spesimen dalam satu waktu, pengisian spesimen ke dalam katrid dilakukan satu persatu. Tutup katrid terlebih dahulu sebelum mengisi katrid berikutnya. 
  • Jika  terdapat  sisa  spesimen  yang  telah  diolah,  spesimen  tersebut dapat disimpan selama 5 jam jika dibutuhkan pemeriksaan ulang.

b.    Spesimen Non-Dahak 

i).  Hal Penting Sebelum Melakukan Pengolahan Spesimen Non-Dahak

a. Pengelolaan  spesimen  non-dahak harus  dilakukan  di  dalam  BSC untuk menghindari terhirupnya aerosol saat proses pengolahan spesimen oleh petugas laboratorium.
b. Spesimen non-dahak, apabila volume spesimen minimal 5 ml atau minimal 2 gr, maka dibagi dua sebelum diperiksa dengan TCM untuk mengantisipasi hasil TCM yang harus dilanjutkan dengan biakan dan uji kepekaan.
c. Spesimen  non-dahak  yang  dapat  diperiksa  dengan  TCM  terdiri  atas  cairan serebrospinal (CSF), bilasan lambung (gastric lavage), jaringan biopsi-aspirasi, feses, dan cairan tubuh lainnya kecuali darah.
d. Seluruh  spesimen  non-dahak  harus  diproses  sesegera  mungkin  untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimal. Selama transportasi, spesimen harus disimpan pada suhu 2-8 oC dan sudah harus diproses maksimal dalam waktu 7 hari.

ii).   Cairan Serebrospinal (CSF), Bilasan Lambung (gastric lavage), dan Cairan Tubuh lainnya

Catatan: Volume minimal cairan yang diambil sebanyak 1 ml dan harus dipastikan tidak bercampur dengan darah.
a.  Alat dan Bahan
  • Tabung konikal/screw-capped tube steril 
  • Alat Sentrifus (bisa refrigerated, bisa tidak) 
  • Pipet steril
  • Mikro tips steril berfilter 
  • Spidol marker permanen 
  • Disinfektan
  • Sarung tangan
b. Prosedur Pengolahan Spesimen
1)   Jika volume cairan yang didapat 0,1--1 ml, maka:
a)   Tambahkan Sample Reagent ke dalam spesimen hingga volume akhir mencapai 2 ml. 
b)  Kocok seluruh campuran hingga homogen. 
c)   Diamkan selama 5 menit untuk menghindari aerosol.
d) Buka  penutup  katrid,  kemudian  buka  tempat  penampung  spesimen. Gunakan  pipet  yang  disediakan  untuk  memindahkan  spesimen  yang telah diolah sebanyak 2 ml (sampai garis batas pada pipet) ke dalam katrid  secara  perlahan-lahan  untuk  mencegah  terjadinya  gelembung 
yang bisa menyebabkan eror.
e)   Tutup katrid secara perlahan dan masukan katrid ke dalam alat TCM.

2)   Jika volume cairan yang didapat >1--5 ml, maka:
a)   Tambahkan Sample Reagent sesuai volume spesimen (rasio 1:1). 
b)  Kocok seluruh campuran hingga homogen.
c)   Diamkan selama 5 menit untuk menghindari aerosol.
d) Buka  penutup  katrid,  kemudian  buka  tempat  penampung  spesimen. Gunakan  pipet  yang  disediakan  untuk  memindahkan  spesimen  yang telah diolah sebanyak 2 ml (sampai garis batas pada pipet) ke dalam katrid  secara  perlahan-lahan  untuk  mencegah  terjadinya  gelembung yang bisa menyebabkan eror.
e)   Tutup katrid secara perlahan dan masukan katrid ke dalam alat TCM.

3)   Jika volume cairan yang didapat > 5 ml, maka:
a)   Seluruh spesimen dipindahkan ke dalam tabung konikal steril, kemudian disentrifugasi pada kecepatan 3000 g selama 15 menit. 
b)  Supernatan kemudian dibuang ke dalam wadah yang berisi disinfektan (contoh: fenol 5%). 
c)   Pelet   diresuspensi   dengan   Sample   Reagent   hingga   volume   akhir mencapai 2 ml. 
d)  Kocok seluruh campuran hingga homogen.
e)   Diamkan selama 5 menit untuk menghindari aerosol.
f) Buka  penutup  katrid, kemudian  buka  tempat  penampung  spesimen. Gunakan  pipet  yang  disediakan  untuk  memindahkan  spesimen  yang telah diolah sebanyak 2 ml (sampai garis batas pada pipet) ke dalam katrid  secara  perlahan-lahan  untuk  mencegah  terjadinya  gelembung yang bisa menyebabkan eror.
g)   Tutup katrid secara perlahan dan masukan katrid ke dalam alat TCM.


iii).  Kelenjar Getah Bening (Lymph Node) dan Jaringan (Tissues)

a.  Jenis Spesimen
1)   Kelenjar Getah Bening (Lymph Node)
  • Sampel yang dapat diterima berupa biopsi jaringan langsung dan biopsi menggunakan jarum (FNAB/Fine Needle Aspirate Biopsy).
2)   Jaringan (Tissues)
  • Jaringan yang dapat diperiksa menggunakan TCM adalah semua jaringan baik steril maupun tidak steril.
Catatan:  spesimen  tidak  boleh  dimasukkan  ke  dalam  cairan  formalin  dan alkohol, sebaiknya direndam dalam saline steril atau akuades steril.

b. Alat dan Bahan
  • PBS (Phosphate-buffered saline) 1X steril atau akuades
  • Tabung konikal steril 15 ml
  • Mortar steril
  • Pipet steril
  • Mikro tips steril berfilter 
  • Gunting steril
  • Pinset steril
  • Spidol marker permanen
  • Disinfektan
  • Sarung tangan
c.   Prosedur Pengolahan Spesimen
1)   Spesimen jaringan dipotong hingga kecil dalam mortar steril.
2)   Tambahkan 2 ml PBS 1× pada spesimen.
3)   Gerus jaringan sampai homogen.
4)   Pindahkan campuran sebanyak ± 0,7 ml menggunakan mikropipet ke dalam tabung konikal steril.
CATATAN: Jangan memindahkan campuran yang masih menggumpal atau tidak  dapat  dihancurkan.  Tambahkan  Sample  Reagent  2x  dari  volume campuran (1,4 ml).
5)   Kocok campuran sebanyak 10-20 kali hingga homogen.
6)   Diamkan campuran selama 10 menit pada suhu ruang, kemudian kocok kembali 10-20 kali atau vorteks selama 10 detik.
7)   Diamkan campuran selama 5 menit pada suhu ruang.
8) Buka  penutup  katrid,  kemudian  buka  tempat  penampung  spesimen. Gunakan pipet yang disediakan untuk memindahkan spesimen yang telah diolah sebanyak 2 ml (sampai garis batas pada pipet) ke dalam katrid secara perlahan-lahan  untuk  mencegah  terjadinya  gelembung  yang  bisa 
menyebabkan eror.
9)   Tutup katrid secara perlahan dan masukan katrid ke dalam alat TCM.

iv).  Feses

a.   Alat dan Bahan
  • PBS 1X steril atau akuades 
  • Tabung konikal steril 15 ml 
  • Pipet steril
  • Spidol marker permanen 
  • Disinfektan
  • Sarung tangan
b.   Prosedur Pengolahan Spesimen
1)   Campurkan spesimen feses (min 1gr) dengan PBS sebanyak 10mL kemudian dikocok sampai homogen selama 30 detik.
2)   Inkubasi pada suhu ruang selama kurang lebih 15 menit.
3)   Pindahkan 2 mL supernatant sampel tersebut ke tabung konikal baru.
4) Bukalah  penutup  tabung  konikal,  tambahkan  Sample  Reagent dengan perbandingan  1  bagian  volume  sampel  dan  1 bagian  volume  Sample Reagent.
5)   Kocok sebanyak 10-20 kali.
6)   Inkubasi selama 10 menit pada suhu kamar.  
7)   Kocok kembali sebanyak 10-20 kali.
8)   Inkubasi lagi selama 5 menit pada suhu kamar.
9) Buka  penutup  katrid,  kemudian  buka  tempat  penampung  spesimen. Gunakan pipet yang disediakan untuk memindahkan spesimen yang telah diolah sebanyak 2 ml (sampai garis batas pada pipet) ke dalam katrid secara perlahan-lahan  untuk  mencegah  terjadinya  gelembung  yang  bisa 
menyebabkan eror.
10) Tutup katrid secara perlahan dan masukan katrid ke dalam alat TCM.

c.    Substansi Yang Kemungkinan Dapat Menghambat Pemeriksaan TCM

Substansi yang bersifat endogenus yang mungkin dapat menghambat reaksi PCR pada kadar tertentu yang dapat menyebabkan hasil invalid meliputi darah, nanah (sel darah putih), sel saluran pernafasan, DNA manusia, dan asam lambung.  Berbagai substansi penghambat lainnya dapat dilihat pada Lampiran 11.


ANALISIS Pemeriksaan Tuberkulosis Menggunakan TCM

1.   Prosedur pemeriksaan 

a.    Prosedur Umum Persiapan Katrid 
Jika spesimen telah diolah dan dimasukan ke dalam katrid, maka pemeriksaan harus dilakukan dalam kurun waktu 4 jam. Saat mengolah beberapa spesimen dalam satu waktu, pengisian spesimen ke dalam katrid dilakukan satu persatu. Tutup katrid terlebih dahulu sebelum mengisi katrid berikutnya.
  
b.    Prosedur Umum Membuat Pemeriksaan TCM
1. Pastikan komputer dan alat TCM telah menyala serta telah menjalankan program GeneXpert Dx sesuai panduan dari BAB IV.
2. Pada halaman utama GeneXpert® Dx System, klik “Create Test”, maka akan muncul kotak dialog “Please scan katrid barcode” (Gambar 5.4).
Gambar 5. 4   Tampilan kotak dialog saat menjalankan Create Test
(Sumber: GeneXpert Dx System Operator Manual, Cepheid)


3. Pindai barcode katrid menggunakan barcode scanner dengan cara menekan tombol warna kuning pada barcode scanner (Gambar 5.5A) atau pilih ‘Manual Entry’ untuk memasukkan 16 digit nomor seri katrid (Gambar 5.5B). 
Gambar 5. 5  Memasukkan barcode katrid
A. Memasukkan barcode katrid dengan cara memindai barcode;
B. Posisi 16 digit nomor seri katrid yang dapat dimasukkan secara manual
(Sumber: GeneXpert Dx System Operator Manual, Cepheid)

4. Setelah nomor seri katrid masuk, masukkan: NIK pada kolom Patient ID dan bila tidak ada maka menggunakan no.identitas sediaan.   Pada kolom sample ID masukkan No urut register TB 04_Nama_umur. Bagian “Select Module” akan terisi secara otomatis, petugas lab tidak perlu mengubahnya. Kemudian klik “Start Test” (Gambar 5.6)

Gambar 5.6   Tampilan jendela Create Test dan contoh cara pengisian
(Sumber: GeneXpert Dx System Operator Manual, Cepheid)

5.  Lampu warna hijau di alat TCM akan berkedip-kedip pada modul yang terpilih otomatis. Buka pintu modul dan letakkan katrid TCM (Gambar 5.7).
Gambar 5.7   Alat TCM dengan lampu hijau yang berkedip-kedip
(Sumber: GeneXpert Dx System Operator Manual, Cepheid)


6. Tutup pintu modul dengan sempurna hingga terdengar bunyi klik.  Pemeriksaan akan dimulai dan lampu hijau akan tetap menyala tanpa berkedip. Pemeriksaan akan berlangsung kurang lebih 2 jam. Saat pemeriksaan selesai, lampu akan mati secara otomatis dan pintu modul akan terbuka secara otomatis.
7. Buka pintu modul dan keluarkan katrid. Katrid yang telah dipakai harus dibuang ke tempat sampah infeksius sesuai dengan SOP yang diterapkan oleh masing- masing institusi.


c.    Pemantauan Selama Pemeriksaan

Petugas  dapat  memantau  jalannya  pemeriksaan  dan  indikator  lain  saat pemeriksaan sedang berlangsung dengan cara klik menu “Check Status” (Gambar 5.8).

Gambar 5.8   Tampilan jendela Check Status untuk melihat proses pemeriksaan yang sedang berlangsung. (Sumber: GeneXpert Dx System Operator Manual, Cepheid)

Modules—menampilkan assay yang sedang dijalankan, ID sampel, kemajuan pemeriksaan (contoh: 3/45 berarti PCR telah berlangsung 3 siklus dari total 45 siklus),  status  fase,  dan  waktu  yang  tersisa  untuk  menyelesaikan  satu pemeriksaan.
                           Messages—Menampilkan  tanggal  dan  waktu  saat  petugas  memulai 
                           program, nomor versi program, dan pesan eror lain yang terjadi saat 
                           pemeriksaan berlangsung. Saat pemeriksaan masih berjalan, maka hasil 
                          pada kolom “Result” adalah “NO RESULT”.


d.    Cara Menghentikan Pemeriksaan Yang Sedang Berlangsung

Pemeriksaan  dihentikan  apabila  sumber  listrik  terputus  dan  daya  UPS  tidak  mencukupi sampai pemeriksaan selesai. Untuk mengetahui sisa daya UPS, dapat  dilihat pada indikator daya pada UPS.

Catatan:  Apabila  petugas  menjalankan  perintah  STOP  TEST  maka  sistem  GeneXpert  Dx  akan  menghentikan  seluruh  kegiatan  pengolahan  sampel  dan menghentikan  pengumpulan  data.  Katrid  yang  sudah  dipakai  TIDAK  dapat digunakan kembali.

Pemeriksaan dapat dihentikan meskipun sedang berlangsung, yaitu dengan cara klik “Stop Test” pada menu. Setelah klik Stop Test maka akan muncul kotak dialog (Gambar 5.9), sehingga petugas dapat memilih salah satu perintah sebagai berikut: 
  • Stop  individual  test—Pilih  salah  satu  pemeriksaan  yang  akan  dihentikan, kemudian klik “Stop”. Saat kotak dialog untuk konfirmasi muncul, klik “Yes” untuk mengkonfirmasi, atau “No” untuk membatalkan.
  • Stop  all  tests  in  progress—Klik  “Select  running”  untuk  memilih  semua pemeriksaan yang sedang berlangsung, kemudian klik “Stop”, maka kotak dialog untuk konfirmasi akan muncul. Klik “Yes” untuk mengkonfirmasi, atau klik “No” untuk membatalkan.
  • Deselect All—untuk membatalkan semua pemeriksaan yang sudah dipilih. 
  • Cancel—untuk keluar dari kotak dialog Stop Test.
Gambar 5.9   Tampilan kotak dialog Stop Test.
(Sumber: GeneXpert Dx System Operator Manual, Cepheid)

PASCA-ANALISIS Pemeriksaan Tuberkulosis Menggunakan TCM

1.    Cara Menampilkan Hasil Pemeriksaan 

Petugas dapat melihat hasil pemeriksaan dengan cara klik “View Result” pada menu GeneXpert Dx, maka secara umum akan muncul jendela seperti pada Gambar 5.10. Untuk memilih hasil pemeriksaan, maka klik “View Test”.
Gambar 5.10 Tampilan jendela View Result pada pengguna dengan Account Detail dan Administrator


Setelah  klik  “View  Test”,  maka  akan  muncul  kotak  dialog  “Select  Test  To  Be Viewed” (Gambar 5.11). Pilih pemeriksaan yang diinginkan, kemudian klik “OK”, maka hasil pemeriksaan akan muncul. Adapun tampilan jendela View Result yang muncul dapat berbeda tergantung dari tipe account pengguna (Lihat BAB IV.F).

Gambar 5. 11  Tampilan kotak dialog Test To Be Viewed.
 (Sumber: GeneXpert Dx System Operator Manual, Cepheid)


a.    Tampilan Pada Pengguna Dengan Basic Account

Pengguna dengan Basic Account hanya dapat melihat tiga tab pada kotak View Results: Results, Error, dan Support.

1) Tab Results

Pada tab Results (Gambar 5.12), petugas dapat melihat:
  • ID pasien (dapat diedit oleh petugas)
  • ID sampel (dapat diedit oleh petugas)
  • Assay—nama assay
  • Version—nomor versi assay yang digunakan
  • Result
  • User—nama petugas
  • Sample type—menu dropdown yang dapat diedit
  • Other sample type
  • Notes—dapat diedit. Digunakan apabila memiliki catatan khusus terhadap sampel yang diperiksa
  • Start time—menampilkan waktu saat pemeriksaan dimulai 
  • End time—menampilkan waktu saat pemeriksaan selesai 
  • Status—status pemeriksaan
  • Disclaimer—menampilkan pernyataan mengenai keterbatasan pemeriksaan 
Gambar 5.12   Tampilan jendela View Result, tab Result, pada pengguna dengan basic account

2) Tab Error

Tab Error (Gambar 5.13) memungkinkan petugas untuk melihat eror yang terjadi saat pemeriksaan dilengkapi dengan keterangan mengenai eror tersebut.
  • #—Nomor yang mengindikasikan tahapan dimana eror terjadi 
  • Description—kategori pesan eror
  • Detail—keterangan rinci mengenai eror 
  • Time—waktu saat eror terjadi
Gambar 5.13  Tampilan jendela View Result, tab Error, pada pengguna dengan basic account




Interpretasi Hasil Pemeriksaan Tuberkulosis Menggunakan TCM

Sistem GeneXpert memberikan hasil pemeriksaan melalui pengukuran sinyal fluoresensi  dan  algoritme  perhitungan  otomatis.  Hasil  pemeriksaan  TCM akan menunjukkan ada tidaknya DNA Mycobacterium tuberculosis kompleks dan ada tidaknya mutasi penyandi resistansi rifampisin, serta perhitungan semikuantitatif jumlah basil pada spesimen berdasarkan nilai Ct (high, <16; medium, 16–22; low, 22–28; very low, >28). Adapun interpretasi hasil dapat dilihat pada Tabel 6.1.


Gambar 5.22   Contoh Hasil MTB DETECTED; Rif Resistance DETECTED. Semua  kurva  menunjukkan  kenaikan  mengindikasikan  ada  gen  MTB  yang teramplifikasi, kecuali satu kurva. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat mutasi pada gen rpoB di daerah probe B, sehingga probe B tersebut tidak dapat mengamplifikasi  gen.  Hal  yang  sama  dapat  terjadi  pada  probe A-E
(Sumber: GeneXpert Training Package, Global Laboratory Initiative)

Gambar 5.23   Contoh Hasil MTB DETECTED; Rif Resistance NOT DETECTED.


Gambar 5.24   Contoh hasil MTB DETECTED; Rif Resistance INDETERMINATE. Terdapat  mutasi  gen  rpoB  yang,  akan  tetapi  resistansi  rifampisin  tidak  dapat ditentukan karena sinyal penanda resistansi tidak cukup terdeteksi (Sumber: GeneXpert Training Package, Global Laboratory Initiative)

Gambar 5.25   Contoh hasil MTB NOT DETECTED. Hanya ada satu kurva yang mengalami kenaikan, yaitu SPC sebagai kontrol bahwa reaksi PCR berjalan dengan baik. Namun demikian, tidak terjadi kenaikan kurva pada probe A-E dikarenakan tidak terdapat DNA MTB di dalam sampel (GeneXpert Training Package, Global Laboratory Initiative).


Gambar 5.26   Contoh hasil INVALID. Tidak ada kurva yang mengalami kenaikan, bahkan SPC sebagai kontrol. Hal tersebut menandakan  proses  PCR  terganggu  (Sumber:  GeneXpert  Training  Package,  Global Laboratory Initiative).

Gambar 5.27   Contoh hasil ERROR.
(Sumber: GeneXpert Training Package, Global Laboratory Initiative)


Gambar 5. 28   Contoh hasil NO RESULT.
(Sumber: GeneXpert Training Package, Global Laboratory Initiative)







Sumber : Kementrian Kesehatan. 2017. Petunjuk Teknis Pemeriksaan TB Menggunakan Tes Cepat Molekuler. Dirjen P2P Subdirektorat Tuberkulosis ; Jakarta

---------------------------------------------------------------------------------------------
Kerjasama media partner, kirim proposal ke e mail : laboratorium.medik@gmail.com
Dukung infolabmed untuk selalu memberikan informasi terupdate dengan menyisihkan jajan Anda melalui DANA = 085862486502

Baca Juga :



















Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment