Hidup Dengan Penyakit Autoimun : Menjinakkan LUPUS

Table of Contents
Hidup Denagn Penyakit Autoimun : Menjinakkan LUPUS. Menurut dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, LUPUS yaitu penyakit yang menyerang seluruh tubuh atau sistem internal manusia. Dalam ilmu imunologi atau kekebalan tubuh, penyakit ini adalah kebalikan dari kanker atau HIV/AIDS. Pada lupus, tubuh menjadi overacting terhadap rangsangan dari sesuatu yang asing dan membuat terlalu banyak antibodi atau semacam protein yang malah ditujukkan untuk melawan jaringan tubuh sendiri. Dengan demikian, lupus disebut sebagai autoimmune disease atau penyakit dengan kekebalan tubuh berlebihan.

Hidup Dengan Penyakit Autoimun Menjinakkan LUPUS



Secara etimologi, lupus berarti serigala. Ini karena salah satu tanda lupus adalah adanya gambaran berbentuk kupu-kupu pada wajah dan pipi, yang juga dapat kita jumpai pada serigala. Jika hanya mengenai kulit, penyakit ini disebut sebagai lupus diskoid. Jika juga mengenai organ dalam tubuh, kondisi ini disebut dengan lupus eritematosis sistemik (LES)


Lupus merupakan penyakit yang gejalanya sering kali menupu, karena mirip dengan gejala penyakit lain seperti : rematik, kulit dan lain sebagainya. "Manifestasi klinisnya tergantung dari organ mana yang terkena, dengan demikian tampilan klinis LES sangat bervariasi baik ringan atau beratnya maupun gejala atau tandanya," jelas Prof. Zubairi. Hal tersebut yang menyulitkan dokter mendeteksi secara dini penyakit lupus. 


Umumnya penderita lupus mengalami gejala seperti kulit yang mudah gosong akibat sinar matahari serta timbulnya ulserasi mulut (luka seperti sariawan) dan gangguan pencernaan. Gejala umum lainnya, penderita sering merasa lemah, kelelahan berlebihan, demam dan pegal-pegal. Gejala ini lebih sesuai untuk kedua spesialis tersebut, yaitu demam lama, pegal pada sendi, sariawan, anemia, protein urine, dan lesi kulit muka. 


Komplikasi terparah dari penyakit ini adalah lupus nephritis. Gangguan ginjal akibat lupus ini menimpa sekitar 25-50% penderita. Kematian paling sering disebabkan oleh komplikasi gagal ginjal, kerusakan jaringan otak, dan infeksi sekunder. 


Gejala lupus yang seringkali sama dengan penyakit lain, membuat diagnosis pada penyakit itu sulit dilakukan. Umumnya, diagnosis ditemukan setelah dokter secara bertahap mempelajari riwayat kesehatan pasien dan menggabungkan berbegai keluhan tersebut. Prof. Zubairi menjelaskan, untuk mengetahui positif atau tidaknya lupus, selain melalui gejala umum juga harus dilakukan beberapa tes laboratorium pemeriksaan lupus dan juga biopsi pemeriksaan jaringan lupus


Lebih sering terjadi pada wanita


Dikatakan oleh Prof. Zubairi, karena merupakan penyakit autoimun, lupus jelas tidak menular. Penyebab lupus juga tidak diketahui. Meski demikian, faktor keturunan, infeksi virus, sinar ultraviolet, serta konsumsi berbagai obat diduga dapat mencetuskan terjadinya lupus. 


Beberapa wanita dengan LES mengalami perburukan gejala selama masa premenstruasi. Karena itu, lupus diduga berhubungan dengan hormon wanita. Apalagi, risiko terjadinya lupus pada wanita adalah delapan kali lipat dibandingkan pria. Penyakit ini juga lebih banyak ditemukan pada orang Asia dan keturunan Afrika Amerika. Lupus umumnya timbul pada usia produktif, antara 20-45 tahun. Meski demikian, tidak sedikit penderitanya berjuang melawan lupus sejak masa kanak-kanak. 


Sama seperti jalan hidup manusia, perjalanan penyakit lupus juga tidak ada yang persis sama. "Gejala lupus dapat timbul tiba-tiba atau perlahan, ringan atau berat, dan dapat bersifat sementara atau menetap," jelasnya. Sebagian besar penderita lupus akan mengalami gejala ringan atau tanpa gejala beberapa saat, diselingi dengan perburukan kondisi sewaktu-waktu. Gejala yang dialami juga dapat berbeda-beda, bergantung jaringan mana yang diserang oleh antibodi. Beberapa gejala yang paling umum dijumpai antara lain rasa lemah dan demam, nyeri dan kaku pada sendi, ruam pada wajah menutupi kedua pipi dan hidung, sesak napas, nyeri dada, mata kering, hingga sakit kepala, kebingungan dan gangguan ingatan. 


Menimbulkan Komplikasi Serius dan Bahaya

Dari luar, penderita lupus boleh jadi terlihat tenang-tenang dan biasa saja. Kenyataannya, lupus akan menggerogoti anggota tubuh dari dalam secara perlahan-lahan seumur hidup. Lupus juga dapat menimbulkan komplikasi fatal sewaktu-waktu. Banyak penderita LES yang mengalami depresi karena lelah harus berungkali dirawat di rumah sakit dan kehabisan biaya untuk berobat. 


Lupus dapat menimbulkan peradangan kronik dan kerusakan pada berbagai organ penting dalam tubuh. Lupus pada ginjal akan menyebabkan gagal ginjal, salah satu penyebab kematian utama pada lupus. Lupus dapt menyebabkan gangguan darah seperti anemia, meningkatkan resiko perdarahan, atau sebaliknya, mempermudah terbentuknya bekuan darah. Ditambah gangguan otot jantung, kedua hal ini dapat menimbulkan serangan jantung mendadak, penyebab kematian utama lainnya pada penderita lupus. Peradangan juga dapat terjadi pada pembuluh darah dan lapisan pembungkus jantung. 


Bagi banyak penderita lupus, rumah sakit seolah rumah kedua. Bolak balik dirawat di rumah sakit adalah hal biasa. Selain penyakit ginjal dan jantung, penderita lupus juga dapat mengalami sesak napas dan nyeri saat bernapas akibat peradangan pada lapisan pembungkus paru. Gangguan ini juga dapat menimbulkan sakit kepala, kejang, dan stroke yang berbahaya. "Gejala LES tidak hanya sebatas masalah fisik. Gangguan pada otak dan sistem saraf pusat dapat menyebabkan terjadinya perubahan prilaku, halusinasi, gangguan ingatan, dan ekspresi diri,"jelasnya. Hal ini tentu menguji kesabaran penderita dan keluarganya. 


Selain menimbulkan komplikasi, penderita LES juga lebih rentan mengalami infeksi, kanker, nekrosis atau kematian jaringan tulang, serta komplikasi dalam kehamilan. 


11 Kriteria Diagnosis LUPUS

Satu atau dua gejala saja tidak cukup untuk mengatakan bahwa seseorang menderita lupus. Menurut American Rheumatism Association, ada 11 kriteria agar seseorang dapat didiagnosis menderita LES. Berikut 11 kriteria dalam diagnosis lupus ;
  1. Ruam malar (kupu-kupu) pada pipi dan hidung. 
  2. Ruam diskoid atau kemerahan pada kulit yang berwarna gelap atau terang dan dapat meninggalkan bekas luka. 
  3. Fotosensitivitas, yaitu ruam yang timbul setelah terpapar sinar matahari. 
  4. Sariawan pada mukosa mulut, hidung, atau tenggorokan yang timbul dengan sendirinya. 
  5. Radang sendi pada dua atau lebih sendi serta nyeri pada sendi esktritas. 
  6. Pleuritis atau perikarditis, yaitu peradapangan pada selaput pembungkus paru atau jantung yang menyebabkan nyeri dada saat bernapas dan berubah posisi. 
  7. Gangguan ginjal, dapat didiagnosis dengan biopsi ginjal.
  8. Iritasi pada otak yang menyebabkan kejang dan/atau psikosis.
  9. Kelainan hasil hitung darah berupa hitung lekosit, eritrosit, atau trombosit rendah pada pemeriksaan darah rutin
  10. Kelainan imunologis yang diketahui melalui pemeriksaan laboratorium terhadap antibodi.
  11. Hasil pemeriksaan antibodi anti-nuklear (ANA) Positif

LUPUS Tidak Dapat Sembuh

Lupus tidak dapat disembuhkan dan dapat menimbulkan penderitaan bertahun-tahun. Meski demikian, perkembangan didunia kedokteran dapat sangat membantu penderitanya dalam menghadapi komplikasi lupus. Terapi yang diberikan bergantung pada gejala yang timbul dan derajat berat ringannya. Penderita dengan nyeri otot atau sendi, kelemahan, ruam, dan gejala-gejala ringan dapat diberikan terapi konservatif. Beberapa obat yang umum digunakan untuk mengendalikan lupus diantaranya obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), obat anti malaria, obat golongan kortikkosteroid dan imunosupresan, serta obat biologik. 


Untuk mencegah perburukan gejala atau flares, penderita LES wajib menerapkan gaya hidup sehat dan aktif. Karena sinar ultraviolet dapat mencetuskan dan memperburuk gejala, penderita LES arus menghindari paparan sinar matahari langsung, misalnya dengan menggunakan tbair surya dan pakaian tertutup selama berada diluar ruangan. "Penderita juga dianjurkan untuk beristirahat untuk mengurangi stress, menghindari rokok, dan selalu waspada jika ada gejala baru yang tumbul atau memburuk," jelasnya. 


Selain itu, odipus juga hendaknya memeriksakan diri pada dokter spesialis penyakit dalam untuk konsultasi hematologi, rheumatologi, ginjal, hipertensi dan alergi imunologi. Jika ingin lupus dapat dikendalikan, maka harus kontrol dan minum obat yang diberikan oleh dokter secara teratur. Penghentian obat secara mendadak dapat menyebabkan timbulnya flares. Jika itu dilakukan, maka odapus dapat hidup layaknya orang normal lainnya. 


Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment