Menu

Tersiksa Dan Pailit Akibat Batu Saluran Kemih

Saturday, April 4, 2020

Tersiksa Dan Pailit Akibat Batu Saluran Kemih. Banyak orang ketakutan mengalami batu saluran kemih dan ginjal. Selain karena nyeri yang ditimbulkannya akan sangat mengganggu. Bukan itu saja bahayanya. Bila dibiarkan terus menerus, hadirnya batuakan menyebabkan ginjal mengalamigagal ginjal. Bila sudah begini, butuh biaya besar untuk menanganinya. 

Tersiksa Dan Pailit Akibat Batu Saluran Kemih PATELKI ATLM ANalis Kesehatan


Sebenarnya tidak perlu biaya mahal untuk mencegah batu saluran kemih. “minum yang cukup dan yang penting jangan sampai urin menjadi pekat atau berwarna,” kata Dr. Nur Rasyid, SpU. Dan lagi-lagi pola hidup sehat menjadi syarat utama. Jadi cukup olahraga, jangan sering makan jeroan serta makan yang enak-enak. Mengapa demikian? Batu saluran kemih (slauran kemih terdiri atas ginjal, ureter, kandung kemih,dan ureter) terbentuk ketika urin sangat kental. Akibatnya mineral dan berbagai senyawa yang terdapat di dalam urin membentuk endapan Kristal dibagian dalam ginjal. Mineral tersebut diantaranya kalsium, oksalat, fosfat, asam urat dan garam. Dengan sering minum, mineral yang membentuk endapan terebut akan keluar melalui air seni. Jika tidak, endapat Kristal semakin menumpuk dan menjadi besar. 

Sebenarnya dikatakan dr. Rochani, SpU, pembentukan Kristal adalah normal terjadi dan tidak berbahaya, selama mampu dieksresikan melalui urin. “Namun, pada orang tertentu yang memiliki bakat adanya batu, kandungan zat anti agregasi dalam tubuh kurang sehingga Kristal menggumpal dan menjadi batu,” ujarnya. 

Gumpalan Kristal yang menjadi batu akan memiliki ukuran yang bermacam-macam, tergantung letak atau posisi batu. “Umumnya, batu ginjal berukuran 20-5- mm dan di ureter lebih kecil, yaitu 5-20 mm. Sementara pada kandung kencing besarnya bisa mencapai 10 mm – 100 mm,” katanya. 

Namun, dimanapun posisinya ditegaskan Dr. Rochani batu dengan ukuran kurang dari 5 mm bisa hilang sendiri melalui urine atau dengan bantuan obat. Tapi, jika batu sudah berukuran lebih dari 10 mm dan menyumbat maka diperlukan tindakan medis dengan cara mengambil batu secara aktif teknik ESWL, UPS, PCNL atau operasi. 

Jenis Batu (Batu ginjal dan saluran kemih)


Batu ginjal dan saluran kemih memiliki jenis yang beragam, tergantung posisi atau letak batu. Sementara, gejalanya pun diuraikan Dr. Rochani sangat bervariasi, mulai dari tidak menimbulkan gejala hingga kolik hebat tergantung komplikasi yang timbul (tergantung dari letak atau posisi batu). 
“Jika terjadinya infeksi, gejalanya adalah sakit pinggang, panas dan menggigil. Namun, jika ini berlangsung lama, bisa menyebabkan gagal ginjal,” ujarnya. Berikut beberapa jenis batu berdasarkan posisi dan gejalanya:

- Batu Ginjal
Batu ginjal jenis tanduk rusa (batu berukuran >5 cm) tidak menimbulkan gejala, karena tidak menyumbat. Kalaupun ada gejala, seringnya hanya berupa pegal dibagian pinggang, perlu diperhatikan, sayangnya gejala ini dianggap hal biasa. Pegal yang dirasakan dianggap sebagai efek kelelahan usai bekerja. Itulah mengapa batu ginjjal biasanya ditemukan dalam ukuran sudah besar. 

- Batu Ureter (Saluran kencing)
Batu yang masuk ke ureter biasanya menimbulkan kolik hebat saat berkemih, yaitu sakit pinggang hebat yang menjalar ke perut bagian depan hingga kemaluan disertai dengan gejala keringat dingin, mual dan muntah. Selain itu, batu ureter ini juga menyebabkan kencing tersendat-sendat dan terputus-putus. Pasien batu jenis ini cepat terdeteksi dengan cepat karena gejala yang dirasa sangat mengganggu. Bahkan bagi pasien perempuan, keluhan ini dirasakan mirip seperti sakit saat melahirkan. 

- Batu Urethra (Saluran bagian bawah)
Batu yang masuk ke urethra biasanya menyumbat, sehingga pasien tiba-tiba tidak bisa buang air kecil atau hanya menetes. Dalam hal ini, dibutuhkan pertolongan segera dari dokter.

Dipaparkan Dr. Rochani, prevelensi jumlah penderita batu saluran kemih dan ginjal bervariasi, tergantung letaknya, yaitu 80 persen pada ginjal dan ureter serta 20 persen di uretra dan kandung kencing. “Kasus batu kandung kencing sudah turun dibanding tahun 1970. Saat ini yang banyak justru batu ginjal dan ureter.” Katanya. Batu ginjal dan saluran kemih, lebih banyak terjadi pada laki-laki ini lantaran anatomi penis pada pra yang lebih panjang sehingga kemungkinan terjadi obstruksi lebih besar. 

Bahayakan Ginjal (Batu ginjal dan saluran kemih)


Batu ginjal dan saluran kemih bisa menyebabkan terjadinya infeksi dan sumbatan aliran urin. Jika diabaikan, dalam jangka waktu tertentu, keadaan ini bisa merusak dan menurunkan fungsi ginjal yang membahayakan fungsi tubuh secara keseluruhan. 

“Batu dengan ukuran lebih dari 5 mm akan menyumbat saluran kemih, sehingga jika dibiarkan akan membuat ginjal membengkak dan menipis sehingga menyebabkan terjadinya gagal ginjal,” urainya. 
Oleh sebab itu, pasien yang diduga mengalami batu ginjal dan saluran kemih, disarankan berkonsultasi dengan dokter ahli. Untuk prosedur pemeriksaan, lebih dahulu dilakukan dengan wawancara untuk mencari gejala adanya penyakit batu gijal dan kemih. Berikutnya, akan dilakukan pemeriksaan ada atau tidaknya batu di ginjal, kandung kencing dan saluran urethra. 
“Setelah kedua pemeriskaan itu, akan dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium, seperti : pemeriksaan urin dan kreatinin serta pemeriksaan pencitraan dengan menggunakan USG, BNO-IVP dan CT scan adalah langkah berikutnya,” jelasnya. 

Tata laksana


Bila Anda atau orang terdekat Anda akhirnya terdiagnosa memiliki batu saluran kemih, tak perlu kuatir, karena kini telah ada beragam pilihan penanganan batu saluran kemih. Pemilihan cara penanganan batu saluran kemih tergantung dari beberapa factor, yaitu lokasi batu, ukuran, komposisi, dan adanya komplikasi. Dr. Nur Rasyid menjelaskan bahwa terapi batu saluran kemih secara umum dibagi menjadi dua, konservtif dan intervensi aktif. 

Pada pasien yang diharapkan batu dapat keluar secara spontan, yakni pada batu berukuran < 5 mm, terapi konservatif dapat dicoba sebelum melakukan intervensi aktif. Prinsip terapi konservatif adalah mengusahakan batu dapat keluar secara spontan dan mengontrol gejala. Caranya dengan memperbaiki pola minum dan obat-obatan. 

Batas maksimal dilakukannya terapi konservatif adalah selama 6 minggu. Jika selama 6 minggu batu tidak keluar secara spontan, maka harus dilakukan intervensi aktif. Selain itu, intervensi aktif juga harus dilakukan pada kondisi pasien dengan batu saluran kemih berdiameter > 5 mm, nyeri tidak teratasi dengan obat-obatan analgetik, tanda-tanda infeksi saluran kemih ataupun infeksi urosepsis yang telah menyebar ke seluruh tubuh. Modalitas terapi pada intervensi aktif ada beberapa macam, yakni ESWL, Ureteroskopi, Ureterorensokopi (RS), OCNL, dan bedah terbuka. ESWL sering digunakan dalam penanganan batu saluran kemih. Prinsipnya adalah memecah batu dengan menggunakan gelombang kejut yang dihasilkan mesin dari luar tubuh, tanpa pembiusan dan dapat dengan rawat jalan. ESWL menjadi moda terapi untuk batu di bawah 2 cm dengan syarat lain fungsi ginjal masih baik. Untuk batu Urether, ESWL bisa dipilih untuk batu berukuran 1 cm, sementara di kalik gijal, dibawah 1 cm. “Kalau tidak memenuhi syarat itu, PCNL menjadi pilihan,” imbuhnya. 

Untuk kasus-kasus tertentu dimana ukuran batu cukup besar sehingga tidak bisa diatasi dengan ESWL, kata Dr. Nur Rasyid, terapinya menggunakan Percutaneous Nephrolithotripsy (PCNL). Alat ini dimasukan ke dalam ginjal sehingga kelihatan batunya. Selanjutnya, batu dipecah dengan gelombang ultrasonic. Kemudian pecahan batu keluarkan dengan jalur yang dibuat sebelum memasukan alat PCNL. 

Keuntungan PCNL adalah luka operasi lebih kecil. Kemudian tidak membutuhkan perawatan yang lama, hanya 3-4 hari saja. Depat memcahkan batu-batu yang keras dan berukuran lebih dari 30 mm. serta dengan kombinasi ESWL dapat mengobati batu staghorn (batu tanduk rusa).

Sementara teknik ureteroscopy digunakan bagi penderita batu pada ureter. Pemecahan batu dilakukan dengna gelombang pneumatic yang dimasukan bersama alat endoskopi yang berukuran tiga millimeter ke dalam saluran ureter. Pecahan batu akan keluar melalui air seni. 

Hal teramat penting untuk dicatat adalah kekambuhan. Dr. Nur Rasyid mengungkapkan, ketika seseorang diketahui menderita batu slauran kemih dan telah bersih, maka ia harus mengontrol, teknis setiap 3 bulan, 6 bulan dan satu tahun sekali. Mengapa? Karena ada kecenderungan untuk kambuh sekitar 30%. Terlebih bila tidak dibarengi dengan penerapan pola hidup yang sehat. 

Sumber : 
  1. Majalah Kesehatan Keluarga Dokter Kita 
PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.
DONASI INFOLABMED Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain www.infolabmed.com. Terima kasih.

Contact Form

Name

Email *

Message *