Menu

Urinalisis untuk Mendeteksi Kelainan Ginjal Dini

Friday, March 15, 2019

Urinalisis untuk Mendeteksi Kelainan Ginjal Dini. Penyakit ginjal sering berjalan asimtomatik sampai kerusakan ginjal telah mencapai seluas 50% - 70%. Semua sistem organ tubuh mayor dipengaruhi oleh kondisi ginjal, oleh karena itu deteksi dini kelainan ginjal memiliki implikasi klinik penting untuk diagnosis penyakit dan terapi penderita. 

Kelainan Ginjal,kelainan ginjal pada janin,kelainan ginjal bawaan,kelainan ginjal pada bayi,kelainan ginjal saat reabsorpsi,kelainan ginjal pada anak,kelainan ginjal albuminuria,kelainan ginjal pada bayi baru lahir,kelainan ginjal pada manusia,kelainan ginjal dan penyebabnya,kelainan ginjal adalah,kelainan ginjal pdf,kelainan ginjal pada saat reabsorpsi,kelainan ginjal pada sistem ekskresi,kelainan ginjal kongenital,kelainan ginjal brainly,kelainan ginjal dan cara mengatasinya,kelainan ginjal berdasarkan uji lab,kelainan ginjal bawaan lahir,kelainan ginjal pada ibu hamil,kelainan ginjal dan penjelasannya,kelainan anatomi ginjal,kelainan anak ginjal,kelainan pada ginjal adalah,ciri kelainan ginjal albuminuria,yang termasuk kelainan ginjal albuminuria,kelainan kekurangan hormon anak ginjal,gejala kelainan ginjal pada anak,manakah yang termasuk kelainan ginjal albuminuria,artikel kelainan ginjal,kelainan kelenjar anak ginjal,kelainan dan penyakit pada ginjal adalah,kelainan batu ginjal,kelainan bentuk ginjal,kelainan pada ginjal brainly,kelainan ginjal yang berhubungan dengan pernapasan,kelainan pada ginjal beserta gambarnya,kelainan anatomi ginjal bawaan,kelainan pada ginjal biologi,kelainan pada batu ginjal,sebutkan 3 kelainan ginjal serta sebabnya,kelainan pada bagian ginjal,pasien menderita kelainan ginjal berupa,sebutkan tiga kelainan ginjal serta sebabnya,penyebab kelainan batu ginjal,penyebab kelainan ginjal pada bayi,kelainan ginjal yang mengharuskan cuci darah,kelainan ginjal dan harus cuci darah,ciri kelainan ginjal,ciri2 kelainan ginjal,kelainan pada ginjal dan cara pencegahannya,contoh kelainan ginjal,kelainan dari ginjal,kelainan pada ginjal dan gambarnya,kelainan pada ginjal dan penyebabnya,kelainan pada ginjal dan hati,kelainan pada ginjal dan cara mengatasinya,kelainan pada ginjal dan penjelasannya,kelainan pada ginjal dan gejalanya,kelainan pada ginjal dan kulit,kelainan pada ginjal dan teknologi penanggulangannya,kelainan pada ginjal dalam sistem ekskresi,kelainan kongenital ginjal dan saluran kemih,kelainan pada ginjal dan tempat terjadinya,kelainan pada ginjal dan pencegahannya,kelainan pada ginjal dan penjelasan,kelainan sistem ekskresi ginjal,kelainan pada ekskresi ginjal,kelainan pada organ ekskresi ginjal,kelainan pada alat ekskresi ginjal,kelainan pada sistem ekskresi ginjal,kelainan fungsi ginjal,kelainan fungsi ginjal yang mengandung glukosa,kelainan fungsi ginjal pada proses,kelainan fungsi ginjal pada proses filtrasi,kelainan fungsi ginjal pada,indikasi kelainan fungsi ginjal,tanda kelainan fungsi ginjal,gejala kelainan fungsi ginjal,penyebab kelainan fungsi ginjal,data kelainan fungsi ginjal,hasil lab kelainan fungsi ginjal,hasil laboratorium kelainan fungsi ginjal,sebutkan kelainan fungsi ginjal,makalah kelainan fungsi ginjal,gejala kelainan ginjal,kelainan gagal ginjal,gangguan kelainan ginjal,kelainan pada ginjal jika glomerulus rusak,gambar kelainan ginjal,gejala kelainan ginjal pada bayi,kelainan pada ginjal hati dan kulit
Pemeriksaan Urin Otoamtik

Clinical and Laboratory Standard Institute, mengemukakan bahwa salah satu manfaat urinalisis ialah untuk menyaring penyakit yang berjalan asimtomatik dalam suatu populasi. Banyak guidelines mengemukakan bahwa kelainan ginjal dini terdeteksi dengan menemukan secara persisten (2–3 x positif dalam waktu 3 bulan): albuminuria rendah abnormal (30-300 mg/24 jam), hematuria dan abnormalitas partikel sedimen urin lain.

Metode strip tests yang umum dipakai di banyak laboratorium tidak dapat memberi hasil positif untuk kadar albumin rendah tersebut. Metode mikroalbuminuria dengan memperhitungkan rasio albumin/ kreatinin urin menggunakan spesimen morning spot urine telah dibuktikan memberi hasil berkorelasi baik dengan kadar albumin atau protein urin 24 jam. Cara penetapan ini direkomendasikan oleh banyak guidelines untuk mendeteksi kelainan ginjal dini. Hasil pemeriksaan darah samar metode strip test juga kurang tepat untuk menggambarkan hematuria mikroskopik. 

Sejauh ini, hasil pemeriksaan mikroskopik sedimen urin rutin menggunakan mikroskop cahaya biasa dipandang sebagai baku emas untuk mendeteksi kelainan ginjal. Sedimen urin diperoleh dengan memusingkan urin sebanyak 10-12 ml dengan kecepatan 400 RCF (relative centrifugation force) atau
1500 rpm. Kecepatan pengendapan urin dipengaruhi oleh RCF maupun radius partikel. 

Partikel berukuran kecil dengan berat jenis (BJ) lebih rendah dari/mendekati BJ urin, akan mengendap lebih lambat. Hasil penelitian melaporkan bahwa pemusingan memungkinkan kehilangan partikel yang bernilai spesifik, karena cukup banyak yang tertinggal di bagian supernatan (remnant ratio) dengan urutan sebagai berikut : bakteri > eritrosit > leukosit > silinder > sel epitel. Eritrosit, terutama dalam bentuk dismorfik yang menunjukkan asal dari glomerulus, berada di bagian supernatan sebanyak >30%,  dan hanya sekitar 73% leukosit ditemukan dalam sedimen urin. BJ urin merupakan prasyarat yang penting untuk kehandalan/interpretasi hasil pemeriksaan mikroskopik sedimen urin. 

Metode strip tests menetapkan BJ dengan mengukur konsentrasi ion, BJ akan menjadi rendah bila zat terlarut tidak terionisasi (a.l. glukosa, cairan kontras). Cara terbaik untuk menilai BJ urin ialah menggunakan refraktometer. Di samping itu keterampilan pembaca yang berbeda dan subjektivitas akan memberi perbedaan hasil antar pembaca yang tinggi.

Dewasa ini, telah diperkenalkan alat fully automated integrated urine analyzer (UX-2000) yang mencakup metode pemeriksaan strip tests untuk biokimiawi urin dan fluorescence flowcytometry (FCM) untuk partikel sedimen urin (eritrosit, leukosit, sel epitel skuamus, small round cells, silinder
hialin dan patologis, kristal, yeast-like cells, sperma, bakteri) secara kuantitatif, terstandarisasi tanpa perlu memusing urin.

Alat UX2000 mengukur BJ urin berdasarkan indeks refraksi cahaya (refraktometri). Kadar albumin/ protein dideteksi dalam dua kondisi yaitu abnormal tinggi (>300 mg/24 jam) secara biokimiawi, dan kadar lebih rendah menggunakan perhitungan rasio albumin/ kreatinin urin. Hasil biokimia darah samar sekaligus dapat dinilai berkombinasi dengan jumlah eritrosit (FCM). Di dalam laporan hasil, ditambahkan pula catatan kecurigaan akan eritrosit dismorfik, dan infeksi saluran kemih berdasarkan jumlah leukosit yang dikaitkan dengan jumlah bakteri. 

Urinalisis menggunakan UX-2000 memenuhi syarat untuk mendeteksi kelainan ginjal dini. eritrosit dismorfik, dan infeksi saluran kemih berdasarkan jumlah leukosit yang dikaitkan dengan jumlah bakteri. Urinalisis menggunakan UX-2000 memenuhi syarat untuk
mendeteksi kelainan ginjal dini.  

Penulis : Prof. MA. Lisyani B. Suromo, dr., SpPK(K)

Referensi:
  1. Rabinovitch A, Arzoumainan L, Curcio KM, Dougherty B, Halim AB. Urinalysis; Approved Guideliness-3rd ed. CLSI Document GP16-A3. Wayne, PA: CLSI 2009;29(4): vii-4
  2. NKF KDOQI Guidelines. Evaluation of laboratory measurements for clinical assessement of kidney disease. In: KDOQI Clinical Practice Guidelines for Chronic Kidney Disease: Evaluation, Classification, and Stratification, NKF Inc. 2002:p14-6
  3. Patel HP. The abnormal urinalysis. Pedr Clin N Am 2006;53:325-7 
  4. NKF KDOQI Guidelines. KDOQI Clinical Practice Guidelines and Clinical Practice Recommendations for Diabetes and Chronic Kidney Disease: guideline 1 2007. Available from: https://www.kidney.org/professionals/kdoqi/guideline_diabetes/guide1.htm. Cited: February 10, 2014
  5. Ishii T, Hara T, Nakayama A, Matsumoto H. Examination of remaining cells by UF-100, fully automated urine cell analyzer in the supernatant after centrifugation. Sysmex J Int 2003;13(1):53-9
  6. Lisyani BS. Makalah Lengkap disajikan pada Seminar Pemeriksaan Laboratorium Sebagai Penentu Diagnosis. Semarang, RS. Panti Wilasa ”Dr. Cipto”-PDS PatKlin Cabang Semarang, 16 Juli 2010
  7. Haus O. Bringing urinalysis into the 21st century: From uroscopy to automated flow cytometry. Sysmex J Int 2008;18:38-43
  8. Stuempfle KJ, Drury DG. Comparison of 3 methods to assess urine specific gravity in collegiate wrestlers. J Athl Train 2003;38(4):315-9
  9. Wald R, Bell CM, Nisenbaum R, Perrone S, Liangos O, Laupacis A, Jaber BL. Interobserver reliability of urine sediment interpretation. Clin J Am Soc Nephrol 2009;4(3):567-71
  10. Miura M, Kondo T, Mizuno M, Morikawa T. The basic analytical performance of the fully automated integrated urine analyzer UX-2000 CHM Unit. 2003 Sysmex J Int 2013; 231: 1-8


PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.
Baca juga :

Contact Form

Name

Email *

Message *

Info Lainnya