Tidak Boleh Sembarangan! Panduan Menentukan Frekuensi IQC Laboratorium yang Ideal
INFOLABMED.COM - Kontrol Kualitas Internal (IQC) adalah ritual wajib di setiap laboratorium klinik.
Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: "Seberapa sering kita harus menjalankan kontrol ini?"
Baca Juga: Kesalahan Hasil Pemeriksaan Laboratorium: Dari Pra-Analitik Hingga Pasca-Analitik, Apa Penyebab dan Solusinya?
Menetapkan frekuensi IQC laboratorium bukanlah hal yang sembarangan atau sekadar mengikuti kebiasaan.
Frekuensi yang tidak memadai berisiko melewatkan kesalahan, sementara frekuensi yang berlebihan membuang sumber daya.
Artikel ini membahas pedoman dan pertimbangan strategis untuk menentukan jadwal IQC yang ideal, efektif, dan memenuhi persyaratan standar.
Mengapa Frekuensi IQC Perlu Ditetapkan dengan Benar?
Tujuan utama IQC adalah mendeteksi kesalahan acak dan sistematik yang dapat mempengaruhi hasil pasien sebelum hasil tersebut dilaporkan. Frekuensi IQC laboratorium yang tepat memastikan bahwa:
- Setiap shift atau periode kerja terjamin mutunya.
- Setiap kali terjadi perubahan signifikan (kalibrasi, pergantian reagen, perbaikan alat), kinerja alat segera terkonfirmasi.
- Risiko melaporkan hasil yang salah dapat diminimalisir.
- Laboratorium memenuhi persyaratan regulasi dan akreditasi.
Faktor Penentu dalam Menetapkan Frekuensi IQC
Tidak ada jawaban tunggal yang berlaku untuk semua laboratorium. Frekuensi IQC laboratorium harus ditetapkan berdasarkan risk assessment dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut:
1. Persyaratan Regulasi dan Akreditasi (Dasar Hukum) Ini adalah batas minimal yang wajib dipatuhi.
- ISO 15189: Mensyaratkan bahwa "laboratorium harus mendesain prosedur pemantauan untuk memverifikasi bahwa tujuan kinerja yang ditetapkan dapat tercapai." Frekuensi harus didasarkan pada stabilitas metode dan risiko kegagalan. Standar ini tidak memberikan angka pasti, namun meminta justifikasi ilmiah atas keputusan yang diambil.
- Panduan CLIA (AS) & CAP: Menetapkan aturan minimal: Setiap hari pelayanan, untuk setiap analit, harus dijalankan minimal dua level kontrol. Kontrol harus dijalankan setelah kalibrasi atau pemeliharaan besar.
- Permenkes & KAN (Indonesia: Mengadopsi prinsip-prinsip dalam ISO 15189. Laboratorium harus memiliki dokumen kebijakan yang menjelaskan frekuensi dan mampu mempertanggungjawabkannya saat audit.
2. Stabilitas Metode dan Alat Ini adalah pertimbangan teknis utama.
- Metode/alat yang sangat stabil (misalnya: penganalisis hematologi modern) mungkin dapat bertahan dengan batch QC per shift.
- Metode/alat yang kurang stabil (misalnya: beberapa parameter kimiawi tertentu, koagulasi) memerlukan frekuensi yang lebih sering, misalnya setiap 8 jam atau bahkan setiap kali run.
3. Volume Pemeriksaan (Workload)
- Volume tinggi: Pada lab dengan throughput sampel yang sangat padat, kegagalan yang tidak terdeteksi dapat berdampak pada banyak pasien. Frekuensi IQC per shift atau setiap interval tertentu (misal tiap 100 sampel) menjadi sangat kritis.
- Volume rendah: Untuk lab kecil dengan sedikit sampel, menjalankan kontrol setiap sampel mungkin tidak praktis. Prinsipnya, kontrol harus dijalankan setiap hari pelayanan untuk memastikan sistem siap digunakan.
4. Tingkat Risiko dari Hasil Pemeriksaan (Risk-Based Approach) Parameter dengan implikasi klinis tinggi memerlukan pengawasan yang lebih ketat.
- Risiko Tinggi: Parameter seperti Troponin, Glukosa (untuk hipoglikemi), Natrium/Kalium, pH darah, dan APTT (untuk heparin) memerlukan frekuensi IQC yang lebih sering karena kesalahan kecil dapat menyebabkan keputusan klinis yang fatal.
- Risiko Menengah/Rendah: Parameter rutin yang stabil mungkin mengikuti frekuensi dasar.
Panduan Praktis dan Rekomendasi Frekuensi
Berdasarkan faktor-faktor di atas, berikut adalah kerangka panduan untuk menetapkan frekuensi IQC laboratorium:
- Dasar (Minimum): Jalankan minimal dua level kontrol setiap 24 jam pada hari layanan, untuk setiap analit, metode, dan alat. Ini adalah patokan universal.
- Saat Perubahan Kritis: IQC WAJIB dijalankan setelah:
- Kalibrasi.
- Penggantian lot reagen atau kalibrator.
- Pemeliharaan preventif atau perbaikan alat yang signifikan.
- Validasi metode baru.
- Berdasarkan Volume & Stabilitas:
- Untuk alat stabil dengan volume tinggi: Lakukan di awal shift, dan pertimbangkan interval QC (misal: setiap 8 jam atau setiap 100-200 sampel) jika durasi operasi panjang.
- Untuk metode tidak stabil: Lakukan lebih sering, bisa setiap batch atau setiap kali pasien dijalankan (patient mean bisa sebagai alat bantu monitoring).
- Pendekatan Risk-Based: Buat klasifikasi parameter (Risiko Tinggi, Menengah, Rendah) dalam SOP dan tetapkan frekuensi yang berbeda. Contoh: Parameter risiko tinggi dijalankan setiap 8 jam, parameter lain cukup setiap 12 atau 24 jam.
Dokumentasi dan Evaluasi
Kebijakan frekuensi IQC laboratorium harus didokumentasikan secara resmi dalam Prosedur Operasional Baku (SOP) Kontrol Kualitas.
Baca Juga: Evaluasi Hasil IQC: Jangan Cuma Diplot, Baca "Cerita" di Balik Titik QC Anda!
Kebijakan ini harus ditinjau ulang secara berkala (misal: tahunan) atau ketika ada perubahan alat, metode, atau pola kerja, untuk memastikan bahwa frekuensi yang ditetapkan masih efektif dalam mendeteksi error.
Dengan menentukan frekuensi IQC laboratorium secara cermat dan terdokumentasi, laboratorium tidak hanya mematuhi regulasi, tetapi juga secara proaktif melindungi pasien dan membangun fondasi yang kokoh untuk sistem manajemen mutu yang andal.
Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram (https://t.me/infolabmedcom), Facebook (https://www.facebook.com/infolabmed/), Twitter/X (https://x.com/infolabmed). Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA (https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592).

Post a Comment