Metode Pemeriksaan TPHA: Tes Treponemal Spesifik untuk Diagnosis Sifilis

Table of Contents

Metode Pemeriksaan TPHA: Tes Treponemal Spesifik untuk Diagnosis Sifilis

 

INFOLABMED.COM - Dalam diagnosis laboratorium untuk penyakit sifilis, salah satu pemeriksaan yang paling penting dan banyak digunakan adalah TPHA. 

Lalu, apa sebenarnya metode pemeriksaan TPHA ini? 

Baca Juga: Uji Serologi Sifilis (VDRL, TPHA): Panduan Lengkap untuk Diagnosis dan Interpretasi Hasil

Metode pemeriksaan TPHA (Treponema Pallidum Hemagglutination Assay) adalah sebuah tes serologis yang tergolong dalam treponemal test, yang dirancang untuk mendeteksi antibodi spesifik yang diproduksi oleh tubuh sebagai respons terhadap infeksi bakteri Treponema pallidum, penyebab penyakit sifilis.

Apa Itu Metode Pemeriksaan TPHA?

Metode pemeriksaan TPHA adalah uji hemaglutinasi pasif yang sangat spesifik. 

Kata kuncinya terletak pada "Hemagglutination" atau hemaglutinasi. 

Prinsip dasarnya adalah menggunakan sel darah merah (eritrosit) burung dara atau domba yang telah dilapisi (coated) dengan antigen Treponema pallidum yang telah dimatikan.

Ketika serum pasien yang mengandung antibodi anti-Treponema pallidum dicampur dengan sel darah merah berlapis antigen ini, antibodi akan menjembatani antar sel darah merah, menyebabkan aglutinasi (penggumpalan). 

Penggumpalan inilah yang menjadi tanda hasil positif.

Tujuan dan Indikasi Pemeriksaan TPHA

Pemeriksaan ini tidak dilakukan sebagai skrining rutin untuk populasi umum, melainkan memiliki indikasi khusus. Tujuan utama metode pemeriksaan TPHA adalah untuk:

  • Konfirmasi Diagnosis Sifilis: Mengonfirmasi hasil positif dari tes non-treponemal seperti RPR atau VDRL.
  • Mendiagnosis Sifilis Laten dan Tersier: Pada stadium ini, tes non-treponemal seringkali menunjukkan hasil negatif atau titer rendah, sedangkan TPHA biasanya tetap positif seumur hidup.
  • Skrining Donor Darah: Memastikan darah yang didonorkan bebas dari sifilis.
  • Pemeriksaan Antenatal (Ibu Hamil): Mendeteksi infeksi sifilis yang dapat ditularkan ke janin.

Prosedur Metode Pemeriksaan TPHA

Metode pemeriksaan TPHA dilakukan secara manual di atas pelat mikrotiter yang memiliki sumuran. 

Prosedurnya melibatkan beberapa tahap pengenceran untuk menentukan titer antibodi.

  1. Persiapan Sampel: Serum dipisahkan dari sampel darah pasien.
  2. Pengenceran: Serum diencerkan secara serial di dalam pelat mikrotiter.
  3. Penambahan Reagen: Ke dalam setiap sumuran ditambahkan sensitized cells (sel darah merah berlapis antigen) dan unsensitized cells (sel kontrol tanpa antigen).
  4. Inkubasi: Pelat diinkubasi pada suhu kamar selama一定时间 (biasanya 45-60 menit) untuk memungkinkan reaksi aglutinasi terjadi.
  5. Pembacaan Hasil: Hasil dibaca secara visual dengan melihat pola sedimen sel di dasar sumuran.

Interpretasi Hasil TPHA

Pembacaan metode pemeriksaan TPHA didasarkan pada ada tidaknya aglutinasi:

  • POSITIF: Terbentuknya lapisan sel yang menyebar secara merata di dasar sumuran (seperti karpet) menandakan terjadi aglutinasi. Ini berarti terdapat antibodi anti-Treponema pallidum dalam serum pasien. Hasil dilaporkan sebagai titer tertinggi yang masih menunjukkan aglutinasi positif (misalnya, reaktif 1:320).
  • NEGATIF: Sel darah merah mengendap membentuk sebuah "button" atau cincin yang jelas dan padat di tengah sumuran. Ini menandakan tidak terjadi aglutinasi dan tidak terdeteksi antibodi spesifik.
  • Non-Specific Reaction: Jika aglutinasi terjadi baik pada sumuran dengan sensitized maupun unsensitized cells, menandakan adanya reaksi non-spesifik.

Kelebihan dan Keterbatasan TPHA

Kelebihan Metode Pemeriksaan TPHA:

  • Sangat Spesifik: Langsung mendeteksi antibodi terhadap bakteri penyebabnya, sehingga jarang terjadi reaksi positif palsu.
  • Sensitif pada Semua Stadium: Tetap positif seumur hidup setelah infeksi, berguna untuk mendiagnosis sifilis laten.
  • Tidak Dipengaruhi oleh Faktor Biologis: Hasilnya tidak terpengaruh oleh penyakit lain, kehamilan, atau kondisi autoimun seperti pada VDRL/RPR.

Keterbatasan Metode Pemeriksaan TPHA:

  • Tidak Dapat Membedakan Infeksi Aktif dan Lama: Karena sekali positif biasanya tetap positif, tes ini tidak bisa digunakan untuk memantau keberhasilan pengobatan.
  • Prosedur Manual: Memerlukan tenaga teknis yang terampil dan waktu yang lebih lama dibandingkan tes automasi.
  • Bukan Tes Skrining Awal: Biasanya digunakan sebagai tes konfirmasi setelah tes non-treponemal.

Metode pemeriksaan TPHA adalah pilar utama dalam diagnosis konfirmatori sifilis. 

Baca Juga: Pemeriksaan RPR: Skrining Cepat Deteksi Dini Sifilis

Spesifisitasnya yang tinggi dalam mendeteksi antibodi treponemal menjadikannya alat yang sangat andal. 

Dalam praktiknya, metode pemeriksaan TPHA hampir selalu digunakan bersamaan dengan tes non-treponemal (algoritma reverse sequence atau traditional), sehingga memberikan gambaran diagnostik yang komprehensif, membedakan antara infeksi aktif, lama, atau yang sudah diobati.


Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram di sini, Facebook di sini, dan Twitter/X di sini. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA.



Fitri Aisyah
Fitri Aisyah Selamat datang di my blog! Blog ini membahas dunia laboratorium medik dengan cara yang mudah dipahami. Dari teknik pemeriksaan, interpretasi hasil laboratorium, hingga tips seputar kesehatan, semuanya dikemas simpel, jelas, dan berbasis bukti ilmiah. Yuk, eksplorasi ilmu laboratorium bersama! 🔬🚀

Post a Comment