QC 3 Parameter: Memahami Peran Low, Normal, dan High dalam Jaminan Kualitas Laboratorium
INFOLABMED.COM - Dalam dunia laboratorium klinik, jaminan kualitas (Quality Control/QC) adalah sebuah keharusan. Salah satu metode yang efektif dan banyak digunakan adalah penerapan bahan kendali mutu dengan 3 parameter level, yaitu Low, Normal, dan High.
Penggunaan QC 3 parameter low high normal ini memungkinkan laboratorium untuk memvalidasi kinerja alat dan reagen secara lebih komprehensif pada berbagai rentang konsentrasi analit.
Baca juga : Quality Control in Biochemistry: Pentingnya Pengendalian Mutu di Laboratorium Klinis
Apa Itu Bahan Kendali Mutu (QC) 3 Level?
Bahan kendali mutu (kontrol) adalah sampel dengan nilai yang sudah diketahui dan stabil, yang diperlakukan sama seperti sampel pasien. QC 3 level terdiri dari:
- Level Low (Rendah): Memiliki konsentrasi analit di bawah nilai rujukan normal.
- Level Normal: Memiliki konsentrasi analit di dalam interval rujukan normal.
- Level High (Tinggi): Memiliki konsentrasi analit di atas nilai rujukan normal.
Dengan memiliki tiga titik pemeriksaan ini, laboratorium dapat memastikan bahwa sebuah alat atau metode pemeriksaan memberikan hasil yang akurat tidak hanya pada kondisi normal, tetapi juga pada kondisi hipo (rendah) dan hiper (tinggi) yang seringkali menjadi fokus diagnosis penyakit.
Tujuan dan Manfaat Penggunaan QC 3 Parameter
Penerapan tiga level kontrol ini memberikan beberapa manfaat krusial:
- Mendeteksi Error secara Lebih Luas: Perubahan akurasi dan presisi alat lebih mudah terdeteksi pada rentang konsentrasi yang ekstrem (low dan high). Sebuah metode mungkin masih akurat di level normal, tetapi mulai menunjukkan penyimpangan di level high.
- Validasi Linearitas: QC 3 parameter membantu memverifikasi bahwa alat memberikan respons yang linear across berbagai tingkat konsentrasi. Jika hasil QC low, normal, dan high semua berada dalam batas yang diterima, ini mengindikasikan kinerja sistem yang baik.
- Esensial untuk Metode Kurva Kalibrasi: Untuk pemeriksaan yang memerlukan kurva kalibrasi, penggunaan ketiga level ini sangat penting untuk memastikan kurva tersebut masih valid dan dapat diterapkan untuk perhitungan sampel pasien.
- Meningkatkan Kepercayaan Hasil: Dengan mengontrol tiga titik kritis, laboratorium dapat lebih percaya diri melaporkan hasil pasien, baik yang nilainya normal, sangat rendah, maupun sangat tinggi.
Baca juga : Pemantapan Mutu laboratorium
Bagaimana Prosedur Penggunaan QC 3 Parameter dalam Praktek Sehari-hari?
Penggunaan ketiga level QC ini mengikuti alur yang sistematis:
- Pemilihan Bahan QC: Pilih bahan kontrol yang commutable (perilakunya mirip dengan sampel pasien) dan sesuai dengan metode pemeriksaan di laboratorium.
- Rekonstitusi dan Penyimpanan: Lakukan rekonstitusi (jika berbentuk lyophilized) dan simpan sesuai instruksi produsen untuk menjaga stabilitasnya.
- Pemeriksaan Rutin: Jalankan ketiga level QC (Low, Normal, High) setiap hari, setiap shift, atau sesuai dengan kebijakan laboratorium (misalnya, setiap kali kalibrasi atau setelah perawatan alat).
- Pencatatan dan Ploting: Catat hasil yang diperoleh dan plot ke dalam bagan kendali (Levey-Jennings chart). Setiap level harus memiliki bagan kendalinya sendiri.
- Evaluasi Berdasarkan Aturan Westgard: Analisis hasil ketiga level tersebut menggunakan aturan Westgard (seperti 1-2s, 1-3s, 2-2s, R-4s). Sebuah run pemeriksaan dinyatakan "in-control" hanya jika semua level QC memenuhi aturan yang ditetapkan.
- Tindakan Korektif: Jika satu atau lebih level QC "out-of-control", maka seluruh proses pemeriksaan harus dihentikan. Pemeriksaan sampel pasien tidak boleh dilaporkan hingga sumber masalah diidentifikasi dan diperbaiki, serta QC kembali "in-control".
Dapatkan informasi terkini seputar manajemen dan teknis laboratorium dengan mengikuti media sosial Infolabmed.com. Ikuti perkembangan kami di Telegram, Facebook, dan Twitter/X. Bantu kami terus berkontribusi dengan memberikan donasi terbaikmu melalui Donasi via DANA.
.png)
Post a Comment