Sampel Ikterik vs Sampel Biasa: Perbedaan dan Dampaknya pada Hasil Kimia, Hema, & Imun

Table of Contents
Sampel Ikterik vs Sampel Biasa: Perbedaan dan Dampaknya pada Hasil Kimia, Hema, & Imun


INFOLABMED.COM - Dalam proses pemeriksaan laboratorium, kualitas sampel adalah hal mutlak. Salah satu kondisi sampel yang sering mempengaruhi hasil adalah ikterik. 

Lalu, apa bedanya sampel ikterik dengan sampel biasa, dan apa saja yang dipengaruhi di pemeriksaan kimia, hema dan imun? Sampel ikterik, yang ditandai dengan warna kuning kecoklatan pada serum atau plasma akibat tingginya kadar bilirubin, dapat menyebabkan interferensi (gangguan) pada berbagai metode analisis. Pemahaman ini crucial untuk mencegah pelaporan hasil yang keliru.

Baca juga : Darah Kuning (Ikterus): Kenali Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Penanganannya

Perbedaan Mendasar: Sampel Ikterik vs Sampel Biasa

Perbedaan utama terletak pada komposisi dan penampakan visual:

  • Sampel Biasa (Normal): Serum atau plasma berwarna jernih hingga kuning muda pucat. Kadar bilirubin berada dalam rentang normal.
  • Sampel Ikterik: Serum atau plasma berwarna kuning tua hingga kecoklatan mencolok. Warna ini disebabkan oleh akumulasi bilirubin (pigmen empedu) dalam darah, yang sering kali terkait dengan kondisi seperti penyakit hati, obstruksi saluran empedu, atau hemolisis.

Warna inilah yang menjadi sumber masalah, karena dapat mengganggu pembacaan instrumen yang berdasarkan pada prinsip fotometri (pengukuran cahaya).

Dampak pada Pemeriksaan Kimia Klinik

Interferensi ikterik paling signifikan terjadi pada pemeriksaan kimia klinik yang menggunakan metode fotometri. Bilirubin menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu, menyebabkan hasil yang tidak akurat.

Parameter yang Sering Terpengaruh:

  • Kreatinin: Hasil dapat secara palsu rendah karena bilirubin mengganggu reaksi Jaffe.
  • Albumin: Dapat menunjukkan hasil palsu rendah pada metode BCG (Bromocresol Green).
  • Asam Urat: Dapat memberikan hasil palsu rendah karena bilirubin bereaksi dengan peroksidase dalam reaksi enzimatik.
  • Trigliserida & Kolesterol: Dapat terpengaruh tergantung metode, meski banyak analyzer modern sudah memiliki koreksi untuk ikterik.
  • Enzim Hati (AST, ALT): Meski kadarnya sendiri tinggi pada penyakit hati, bilirubin dapat mengganggu akurasi pengukurannya.

Dampak pada Pemeriksaan Hematologi (Hema)

Pada analisa hema, interferensi ikterik umumnya lebih sedikit, tetapi tetap perlu diwaspadai.

Parameter yang Dapat Terpengaruh:

  • Hemoglobin (Hb): Dapat memberikan hasil yang secara palsu tinggi pada beberapa analyzer karena warna kuning sampel disalahartikan sebagai konsentrasi hemoglobin.
  • Hitungan Sel Darah Merah (RBC) dan Indeksnya (MCV, MCH): Gangguan mungkin terjadi, meski analyzer modern biasanya memiliki algoritma untuk mendeteksi dan mengkompensasi interferensi warna.

Dampak pada Pemeriksaan Imunologi (Imun)

Pemeriksaan imunologi yang mengandalkan pembacaan absorbansi atau fluoresensi juga rentan terhadap interferensi ikterik.

Parameter yang Dapat Terpengaruh:

  • Tes Hormon (seperti TSH, T3, T4): Dapat menghasilkan nilai yang tidak akurat, baik palsu tinggi maupun rendah, tergantung metode dan reagen yang digunakan.
  • Marker Tumor (seperti PSA, CEA, CA 19-9): Warna kuning yang kuat dapat mengganggu pembacaan pada platform ELISA atau kimiluminesens, berpotensi menyebabkan hasil false negative atau false positive.
  • Tes Faktor Rheumatoid dan ANA: Dapat terpengaruh, meski derajatnya bervariasi.

Baca juga : Tes Kreatinin Darah Dalam Mendiagnosis Gagal Ginjal Kronik (GGK)

Solusi dan Penanganan di Laboratorium

Untuk memastikan akurasi, laboratorium harus melakukan:

  1. Pencatatan (Flagging): Semua sampel ikterik harus dicatat dan diberi tanda pada sistem LIS (Laboratory Information System).
  2. Koreksi Otomatis: Banyak analyzer kimia dan hema modern dilengkapi dengan sistem "serum indices" (ikterik, hemolisis, lipemia) yang secara otomatis mendeteksi dan mengoreksi interferensi.
  3. Metode Alternatif atau Pengenceran: Untuk pemeriksaan yang sangat terpengaruh, mungkin diperlukan metode analisis lain (misalnya kromatografi) atau prosedur pengenceran sampel.
  4. Komunikasi dengan Klinisi: Melaporkan hasil dengan disclaimer seperti "Hasil mungkin terpengaruh oleh ikterus" sangat penting untuk interpretasi klinis yang tepat.

Dapatkan informasi mendalam seputar dunia laboratorium kesehatan dengan mengikuti Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram di sini, Facebook di sini, dan Twitter/X di sini. Bantu kami berkontribusi lebih banyak dengan memberikan Donasi via DANA**.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment