Trofozoit Entamoeba histolytica: Ciri Morfologi, Patogenesis, dan Diagnosis Laboratorium
Table of Contents
INFOLABMED.COM - Trofozoit Entamoeba histolytica merupakan bentuk vegetatif parasit penyebab amebiasis, infeksi yang dapat menyerang usus dan organ lain seperti hati.
Identifikasi trofozoit dalam sampel klinis penting untuk diagnosis yang akurat. Artikel ini membahas ciri morfologi, patogenesis, dan teknik diagnosis laboratorium untuk mendeteksi trofozoit ini.
Baca juga : Mengenal Siklus Hidup Entamoeba Histolytica yang Menyebabkan Penyakit Berbahaya
Apa Itu Trofozoit Entamoeba histolytica?
Trofozoit adalah bentuk aktif Entamoeba histolytica yang dapat bergerak, makan, dan bereproduksi. Berbeda dengan kista (bentuk infektif), trofozoit hanya bertahan di lingkungan luar sebentar tetapi berperan dalam menimbulkan gejala klinis.
Ciri Morfologi Trofozoit
- Ukuran: 15–30 μm (lebih besar dari leukosit)
- Gerakan: Pseudopodia (tonjolan sitoplasma) yang aktif dan progresif
- Inti Sel: Khas dengan kariosom sentral dan kromatin perifer halus
- Sitoplasma: Granular, mungkin mengandung sel darah merah (tanda patogenisitas)
Patogenesis Infeksi
- Invasi Usus: Trofozoit menembus mukosa usus besar → ulkus "flask-shaped"
- Disseminasi: Dapat menyebar ke hati (abses amebik), paru, atau otak
- Gejala: Diare berdarah, nyeri perut, demam (pada amebiasis invasif)
Diagnosis Laboratorium
1. Pemeriksaan Mikroskopis
- Sampel: Tinja segar (<30 menit) atau aspirat abses
- Metode:
- Langsung: Pewarnaan Lugol atau eosin
- Konsentrasi: Metode sedimentasi/formalin-ether
2. Tes Serologi
- ELISA atau IHA untuk deteksi antibodi (berguna pada amebiasis ekstraintestinal)
3. PCR
- Mendeteksi DNA parasit dengan sensitivitas tinggi
Diagnosis Banding
- Entamoeba dispar (non-patogen, morfologi mirip)
- Entamoeba coli (trofozoit lebih besar, gerakan lamban)
Baca juga : Pemeriksaan Feses Makroskopis dan Mikroskopis: Teknik, Interpretasi, dan Nilai Diagnostiknya
Penanganan Infeksi
- Obat Pilihan: Metronidazol (untuk trofozoit) + Paromomisin (untuk kista)
- Pencegahan:
- Sanitasi lingkungan
- Cuci tangan pakai sabun
- Hindari konsumsi makanan/minuman terkontaminasi
Ikuti update terkini seputar parasitologi di Telegram, Facebook, dan Twitter/X. Dukung riset kami dengan Donasi via DANA.
Post a Comment