-->
Menu

Klaim "Obat" Corona, Siapa Yang Bertanggungjawab?

Friday, August 7, 2020

Klaim "Obat" Corona, Siapa Yang Bertanggungjawab?.  Dalam sebuah wawancara di stasiun televisi, Hadi Pranoto yang disebut sebagai "Ahli Mikrobiologi" menjelaskan temuan Obat Corona. 

Klaim Obat Corona, Siapa Yang Bertanggungjawab

"Herbal ini begini, pola kerja herbal yang kita buat itukan memberikan satu dampak positif pada tubuh jadi didalam tubuh manusia itukan ada bakteri ya, bakteri itu ada yang lemah ada yang kuat. Nah, orang yang bisa melawan keganasan COVID-19 adalah orang yang mempunyai immune kuat dan antibodi kuat. Jadi, orang yang mengkonsumsi herbal antibodi COVID-19 ini, herbal setelah diminum dalam tubuh imunenya akan dikuatkan. Kemudian, bakteri yang sudah lemah dengan kondisi yang ada serangan COVID-19 itu dibangkitkan kembali, dikembangkan kembali diberikan satu suplemen oleh herbal ini sehingga membentuk secara alamiah di dalam tubuh itu menjadi antibodi dalam tubuh manusia itu sendiri" ucap Hadi Pranoto. 

Itu berpengaruh juga terhadap karakter virus corona ini, pa Hadi?

"Oh pasti, jadi begini. Sebelum kita buat herbal anti COVID-19 ini kita sudah melihat dan melakukan riset seberapa dan seperti apa genetik virus COVID-19 ini. Makanya kita carikan senyawa yang baik dan tepat untuk melemahkan virus COVID-19 ini apabila masuk kedalam tubuh manusia. 

Riset ini (penelitian ini) dilakukan dimana?

"Owh kita lakukan di Jawa, di Indonesia karena semua bahan baku senyawa herbal yang ada dalam herbal COVID-19 ini semuanya ada di Indonesia. Makanya dalam proses pelaksanaan, penelitian dan uji senyawa herbal ini dimana kita ketahui juga bahwa herbal itukan tidak ada dampak negatif pada tubuh manusia. Kitakan mempelajari metodoloi tubuh manusia, kehidupan inikan ada dari dua unsur, pertama itu dari air kedua dari tanah. Orang yang hidup kembali mati itu menjadi air dan tanah, nah itulah yang kita pelajari dan kita kembangkan menjadi herbal antibodi COVID-19". 

Intinya ini dilakukan di laboratorium atau di kampus atau apa?

"Oh ngga, kita buat di laboratorium. Begini ya, untuk melakukan kegiatan ini (riset ini) independen. Ini adalah kegiatan tim, temen-temen kita untuk melakukan satu improvisasi bagaimana kita bisa memberikan sesuatu kita yang terbaik untuk bangsa ini."

Kalau saya mendengar statement Anda di chanel youtube tersebut Anda menyatakan bahwa riset telah dilakukan kurang lebih 20 tahun yang lalu Pak? Sedangkan virus COVID-19 baru tahun 2019.

"Iya, riset yang kita lakukan itu bukan untuk COVID-19 tadinya. Kita melakukan riset itu bagaimana kita mengeksplore kekayaan alam yang ada di Indonesia, tumbuh-tumbuhan herbal yang ada di Indonesia itu kita harapkan bisa menjadi herbal untuk kekuatan tubuh manusia. Pada 2019 meletus COVID itu kita coba cari genetik COVID itu seperti apa? kemudian mana herbal senyawa yang melumpuhkan dan membunuh virus COVID-19 ini. Nah, ternyata dengan beberapa sampling yang kita ambil dari genetik virus COVID-19 ini alhamdulillah ternyata herbal senyawa yang kita ramu itu bisa melemahkan dan membunuh COVID-19".

Dari mana sih senyawa itu, untuk menguji itu harus mendapatkan senyawa dulu, mendapatkan sampel dulu begitu?

"Senyawa yang kita olah itu sudah proses itu ada beberapa senyawa sirsak, dari manggis, dari kelapa, dari tumbuh-tumbuhan yang lainnya kemudian kita tambah lagi satu yang namanya bakteri biologi tanah. Kita yakin bahwa semua virus yang ada didunia ini akan mati dengan bakteri biologi tanah. Sebab, orang yang sudah mati setelah dikubur itu semua bakterinya akan mati dalam tanah itu, makanya itu kita mengembangbiakan bakteri biologi tanah yang mana bakteri biologi tanah itu bakteri baik dan itu cocok dengan bakteri yang ada dalam tubuh manusia. Dan itu yang kita kembangkan dan tambahkan media-media seperti senyawa tumbuh-tumbuhan, buah-buahan itu menjadi satu kesatuan sehingga buatlah menjadi herbal antibodi COVID-19 ini"

Bagaimana Anda menyebut produk Anda ini? Obatkah, atau Ramuan Herbal? atau Obat Herbalkah? Karena begini, kalau pagi ini Anda bisa meluruskan tapi yang beredar kemarin di youtube itu kalau tidak salah itu sebutannya obat herbal. Nah gitu loh kurang lebih.

"Jadi harus dipahami ya, antar abat kimia zat adiktif dengan obat herbal. Bagi masyarakat Indonesia, herbal itu adalah obat apabila dia bisa menyembuhkan suatu penyakit. Dan ini adalah menjadi suatu karakter bangsa kita dimana mempunyai warisan dari nenek moyang kita bahwasanya herbal itu bisa menjadi obat kesehatan untuk tubuh kita. Jadi kita ya kembangkan. Jadi kita tidak ada sedikitpun menyentuh tentang zat adiktif disini karena,"

Tapi bisa sama-sama menyembuhkan berarti pa Hadi dong?

"Ya pasti. Yang disini yang kita bersyukur dan wajib bersyukur kepada Allah Swt alhamdulillah, senyawa-senyawa herbal yang ada di Indonesia yang telah kita jadikan satu itu memberikan dampak positif pada pasien yang sudah terinfeksi COVID-19"

Anda menyatakan dapat menyembuhkan 2-3 hari. Sedangkan WHO sendiri menyatakan virus ini recovery nya sekitar 2 minggu, 3 minggu keatas. Ini bagaimana Anda menanggapinya Pa Hadi?

"Virus COVID-19 itu memang sangat kuat dan membahayakan. Dan itu sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, akan tetapi dengan herbal, dengan senyawa tumbuh-tumbuhan yang ada di Indonesia itu mempunyai kekuatan yang cukup baik ditambah lagi dengan bakteri biologi tanah yang ada di dalam bumi kita. Nah satu kesatuan itu kita jadikan satu menjadi satu kekuatan herbal yang luar biasa yang bisa dimanfaatkan  oleh seluruh manusia pada khususnya bangsa Indonesia untuk menguatkan antibodinya untuk melawan keganasan COVID-19. Kenapa saya bilang 2-3 hari, dalam tubuh manusia itukan ada bakteri baik yang sudah lemah ataupun yang masih kuat dan ditambah dengan herbal yang kita produksi ini bakteri baik itu akan menjadi kuat kembali akan menjadi super power dalam (sel) tubuh kita, sehingga virus yang akan masuk ke tubuh manusia itu akan dimakan oleh bakteri baik itu. Dan apabila orang sudah terinfeksi dengan COVID-19 dengan kita mengonsumsi herbal ini, herbal ini membangkitkan sel yang tadi sudah lemah, bakterinya sudah lemah itu akan melawan secara cepat untuk melawan dan membunuh virus COVID yang ada dalam tubuh". 

Dalam sesi wawancara tersebut dihadirkan juga Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kemenristek, Ali Ghufron Mukti. Menanggapi obat herbal temuan Hadi Pranoto, Ali Ghufron menjelaskan bahwa harus ada pemetaan obat oleh POM apakah sudah terstandar apakah termasuk Obat, Jamu, atau Fitofarmaka. 

Penjelasan dari Ketua Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota PB IDI, Dr. H.N. Nazar, Sp.B,MH, mengatakan permasalahannya bagi IDI saat ini adalah ada pernyataan dari Pak Hadi yang menyatakan herbal nya disebut Obat. 

"Dalam hal ini kami sebagai pengguna, belum masuk kepada keselamatan dan keamanan pasien, kami harus tahu benar khasiat kemudian daya guna, kemudian side effect, kemudian keamanan pemakaian karena itu pula kami sangat butuh keabsahan bagaimana keberadaan obat ini kalau dikatakan sebagai obat. Sedangkan yang terdaftar itu, saya tahu ada nomor registernya ini, terdaftar sebagai Sediaan Tradisional. Yang diatas itu fitofarmaka yang harus melewati uji klinis. Nah ini tradisional, jadi dalam hal ini apa bedanya ini dengan temulawak. Ini mohon maaf saya tidak, sama sekali tidak ingin mendegradasi apa yang di inovasi oleh kawan-kawan bersama mas Hadi itu tadi. Jadi, pernyataan beliau ini sebagai obat kemudian ada lagi sebagai antbodi itu yang membuat kami risau", ucap Dr. Nazar. 

Selain itu, kementrian Riset dan Teknologi menyebut bahwa pernyataan temuan obat herbal Covid-19 yang disebutkan Hadi Pranoto merupakan klaim sepihak. Sebelumnya. Hadi Pranoto mengaku telah mengantongi izin dari BPOM terkait ramuan herbalnya tersebut. Nomor izin edar obat herbal itu terdaftar dengan nomor POM TR203636031.

Surat yang disahkan pada 14 April 2020 ini didaftarkan oleh produsen PT Saraka Mandiri Semesta, Bogor. Setelah dicocokkan melalui situs Cek BPOM, keduanya menunjukkan produk yang sama. Yakni Bio Nuswa dengan jenis satuan barang, cairan obat dalam. (Sumber : CNN Indonesia, Talks Show Tv One)

PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.
Baca juga :
DONASI INFOLABMED Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain www.infolabmed.com. Terima kasih.

Contact Form

Name

Email *

Message *