Menu

Departemen di Laboratorium Klinik | Dasar Teknik Laboratorium Klinik Edisi Ke-6 Barbara Dan Anna

Sunday, February 16, 2020

Departemen di Laboratorium Klinik | Dasar Teknik Laboratorium Klinik Edisi Ke-6 Barbara Dan Anna. Jumlah departemen di laboratorium klinis tentunya sangat bervariasi. Kimia klinis, hematologi, mikrobiologi, bank darah, dan layanan pendukung (flebotomi dan spesimen) biasanya beroperasi sebagai departemen atau bagian, departemen tersebut masing-masing dibawah kepala departemen atau supervisior umum  sendiri (Gambar 1-4). Subdivisinyapun dalam masing-masing departemen akan berbeda dari satu laboratorium dengna laboratorium yang lainnya. Untuk laboratorium besar seringnya memiliki departemen yang terpisah seperti urinalisis, koagulasi, imunologi, dan parasitologi. 

Departemen di Laboratorium Klinik Dasar Teknik Laboratorium Klinik Edisi Ke-6 Barbara Dan Anna 121

Departemen Hematologi

Sebagian besar tes hematologi ini mempelajari komponen seluler darah. Prosedur hematologi dapat bersifat kualitatif atau kuantitatif. Prosedur kuantitatif meliputi penghitungan berbagai komponen darah, seperti jumlah leukosit (sel darah putih), eritrosit (sel darah merah), atau trombosit; tes hemoglobin dan hematokrit biasanya dilakukan dan dapat membantu dalam mendiagnosa anemia. Berbagai tes ini dapat dilakukan secara manual tetapi biasanya dilakukan pada cell counter atau hematologi autoanalyzer. Banyak analyzer yang mampu melakukan beberapa prosedur hematologi secara bersamaan. 

Dalam prosedur kualitatif, komponen darah diamati untuk melihat kualitas komponennya seperti ukuran sel, bentuk, dan kematangan. Saat menggunakan mikroskop, seorang teknologi laboratorium medik dapat melihat apusan darah untuk menentukan jenis leukosit yang ada; memperkirakan ukuran, bentuk, dan kadar hemoglobin eritrosit; atau perkirakan jumlah trombosit. Sel abnormal, termasuk leukosit imatur atau eritrosit, dicatat selama pemeriksaan mikroskopis dari apusan darah. 

Di laboratorium yang besar, pemeriksaan yang rumit seperti pewarnaan khusus untuk mengklasifikasikan sel leukemia dapat dilakukan di bagian hematologi yang disebut special hematology. Beberapa tes dalam special hematology dilakukan secara manual.

Koagulasi. Tes koagulasi digunakan untuk mendiagnosis dan memantau pasien yang memiliki kelainan dalam mekanisme pembekuan darah atau mereka yang sedang dirawat dengan antikoagulan, obat yang mencegah pembekuan darah. Tes koagulasi dapat dilakukan di departemen hematologi atau, di laboratorium besar, di departemen terpisah. Sistem pengujian koagulasi otomatis, yang dulunya digunakan terutama di laboratorium yang lebih besar, sekarang tersedia dalam model kecil, mudah digunakan yang memungkinkan bahkan tempat dokter praktek kecil sekalipun memiliki kemampuan melakukan beberapa prosedur koagulasi. Plasma, bagian cair dari darah yang mengandung antikoagulan, adalah spesimen yang digunakan untuk sebagian besar studi koagulasi.

Urinalisis. Seperti halnya dengan koagulasi, urinalisis dapat berupa departemen terpisah di laboratorium besar atau subdivisi departemen lain, biasanya termasuk kedalam departemen hematologi atau kimia. Di departemen urinalisis, pemeriksaan fisik, kimia, dan mikroskopis spesimen urin dilakukan. Tes ini dapat dilakukan secara manual atau menggunakan metode otomatis. 

Kimia Klinis

Di departemen kimia klinis, prosedur tes dapat dilakukan pada plasma, serum, urin, dan cairan tubuh lainnya seperti cairan tulang belakang dan cairan sendi. Serum adalah cairan yang merupakan bagian dari darah yang tersisa setelah terjadinya gumpalan yang terbentuk. Serum diperoleh dengan mengumpulkan darah tanpa antikoagulan, membiarkannya dalam waktu tertentu sampai membeku, dan menyentrifugasinya untuk memisahkan sel darah dari serum. Banyak pemeriksaan kimia analyzer yang dapat melakukan pengujian menggunakan plasma; hal ini dapat mengefisiensikan waktu tunda yang diperlukan agar darah membeku jika menggunakan serum. 

Kimia klinis adalah departemen terbesar di sebagian besar laboratorium. Prosedur yang dilakukan di departemen kimia klinis meliputi glukosa darah, kolesterol, pengujian enzim jantung dan hati, dan elektrolit (klorida, bikarbonat, kalium, dan natrium). Subdepartemen umum dalam kimia klinis adalah special chemistry dan toksikologi. Beberapa prosedur seperti elektroforesis dan pengukuran kadar hormon dilakukan dalam subdepartemen special chemistry. Dalam subdepartemen toksikologi, darah atau urin dapat dianalisis untuk menentukan obat yang terlibat dalam overdosis atau kadar obat yang ditetapkan dalam darah.  

Jenis-jenis kimia analyzer telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir (lihat bab 6-3 dan 6-4). Banyak dari jenis analyzer ini menyediakan berbagai prosedur pengujian namun relatif mudah dioperasikan. Dengan demikian, sangat mungkin sekali untuk laboratorium terkecil sekalipun dapat melakukan beberapa tes kimia rutin. 

Imunologi

Imunologi dapat berupa departemen terpisah atau, di laboratorium kecil, menjadi bagian dari departemen lain seperti departemen bank darah atau mikrobiologi. Di masa lalu, departemen ini disebut serologi karena serum adalah spesimen yang paling sering digunakan dalam tes. Di departemen imunologi, banyak tes didasarkan pada metode antigen-antibodi. Di antara tes yang  sering dilakukan di bagian ini adalah untuk pemeriksaan pada kehamilan, radang sendi, dan penyakit autoimun. Tes untuk infeksi mononukleosis, infeksi HIV, influenza, hepatitis, penyakit menular seksual, dan penyakit menular lainnya juga dilakukan dengan menggunakan metode imunologis. 

Layanan Bank Darah / Transfusi

Departemen bank darah juga disebut layanan imunohematologi atau transfusi. Prosedur yang dilakukan di departemen ini sangat penting untuk kesehatan pasien. Jika pasien memerlukan transfusi, pemeriksaan grup ABO dan tipe Rh diperiksa oleh teknologi bank darah. Sebelum darah ditransfusikan, komponen darah yang disimpan  dari donor diuji kompatibilitasnya dengan darah pasien.  Departemen bank darah mungkin juga memiliki kemampuan untuk mengumpulkan khusus donasi darah atau dapat memproses darah yang disumbangkan tersebut menjadi komponen-komponen khusus. Bank darah adalah satu-satunya area di laboratorium klinis yang tidak ada tes yang sederhana. 

Mikrobiologi

Departemen mikrobiologi bertanggung jawab untuk melakukan kultur dan mengidentifikasi suatu mikroorganisme. 

Bakteriologi. Prosedur pemeriksaan bakteriologi merupakan mayoritas yang sering di lakukan dalam mikrobiologi. Bakteri dapat diisolasi dari spesimen seperti sputum, luka, darah, urin, atau cairan tubuh lainnya dengan menginokulasi spesimen ke media kultur. Organisme yang tumbuh dalam kultur diidentifikasi, dan tes kerentanan dilakukan untuk menentukan pengobatan antibiotik yang paling efektif. Pengujian ini dilakukan dengan memaparkan kultur bakteri pada antibiotik yang berbeda dan mengamati pengaruhnya terhadap pertumbuhan organisme. Sistem otomatis yang dapat mendeteksi pertumbuhan suatu organisme, mengidentifikasi suatu organisme, dan menentukan kerentanan antibiotiknya banyak digunakan juga dalam bakteriologi. 

Virologi dan Mikologi. Prosedur yang melibatkan virologi, studi virus, dan mikologi, studi jamur, biasanya dilakukan di departemen mikrobiologi. Seringkali spesimen untuk virologi dan mikologi dikirim ke laboratorium rujukan untuk kultur dan identifikasi. Karena kultur jamur patogen serta mikobakteri harus ditangani dengan perawatan khusus, spesimen yang diduga mengandung organisme ini biasanya diinokulasi ke media dan kemudian dikirim ke laboratorium rujukan untuk identifikasi. 

Parasitologi. Dalam parasitologi, biasanya merupakan bagian dari departemen mikrobiologi, spesimen pasien diperiksa untuk melihat adanya parasit. Sampel tinja diperiksa secara mikroskopis untuk mencari petunjuk adanya parasit usus seperti ameba usus, cacing pita, atau cacing tambang. Tes imunologis dilakukan untuk mendeteksi antigen parasit dalam sampel tinja. Tes untuk parasit dalam darah, seperti parasit malaria, biasanya dilakukan di departemen hematologi.


Support Service Laboratorium

Tes laboratorium dimulai dengan formulir permintaan laboratorium, yang harus diisi sebelum tes dilakukan. Permintaan pemeriksaan laboratorium bisa berupa permintaan tertulis (Gambar 1-6) atau permintaan yang dilihat melalui sistem komputer jaringan. Setelah permintaan diterima, laboratorium akan memulai proses pengujian — mengumpulkan spesimen; melakukan tes; dan menginterpretasi, menyalin hasil tes, melaporkan, dan membuat grafik hasil. 

GAMBAR 1-6 Contoh formulir permintaan laboratorium
GAMBAR 1-6 Contoh formulir permintaan laboratorium
Sebagian besar laboratorium rumah sakit memiliki departemen terpisah yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan memproses spesimen. Departemen ini dipanggil dengan berbagai nama seperti support service, flebotomi, atau pengumpulan dan pemrosesan spesimen. Flebotomis adalah petugas laboratorium terlatih khusus yang mengumpulkan spesimen darah; kadang-kadang tanggung jawab ini dibagi juga kepada personel keperawatan. 

Di laboratorium kecil, spesimen biasanya diambil langsung oleh departemen laboratorium. Banyak rumah sakit memiliki sistem pengiriman pneumatik yang menyediakan pengiriman spesimen cepat ke laboratorium dari ruang pasien, ruang perawatan, klinik rawat jalan, operasi, ruang gawat darurat, atau unit perawatan intensif.

GAMBAR 1-7 Penggunaan barkod dan nomor identifikasi pasien memungkinkan aksesi komputer dan mengurangi kesalahan pra-analitis

Di laboratorium yang lebih besar, spesimen akan dikirim ke area central accessioning di mana spesimen tersebut akan diproses, masuk ke komputer yang kemudian menggunakan barcode pada label spesimennya (Gambar 1-7), kemudian dilabeli kode identifikasi spesimen sebelum didistribusikan ke departemen untuk pengujian. Laboratorium yang memiliki pengujian dengan volume tinggi akan menggunakan sistem pemrosesan spesimen robot, sistem otomasi yang melakukan banyak manipulasi pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh personel laboratorium. Tindakan yang dapat diotomatisasi termasuk mengaksesi; pengurutan sesuai dengan tes yang dipesan dan persiapan yang dibutuhkan; sentrifugasi; decapping, labeling, dan aliquoting specimen; dan transportasi ke instrumen pengujian atau penyimpanan. Sistem robot meningkatkan efisiensi, meningkatkan integritas spesimen, mengurangi kesalahan, dan berkontribusi terhadap keselamatan personel dengan mengurangi paparan spesimen.


Laboratory Information Systems

Laboratorium besar memiliki Laboratory Information Systems (LIS) yang terintegrasi  untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi kesalahan. Di rumah sakit, LIS dapat dihubungkan ke sistem komputer di seluruh institusi. Komputerisasi di laboratorium dan rumah sakit telah mengurangi kesalahan dalam identifikasi dan pelacakan spesimen. Spesimen diberi label dengan label kode batang pracetak yang cocok dengan permintaan tes barcode dan gelang identifikasi pasien. Data dapat dimasukkan secara langsung ke sistem komputer menggunakan pemindai kode batang. Bahkan laboratorium kecil biasanya memiliki sistem untuk pracetak label spesimen kode batang dengan data pasien. 

Keuntungan dari sistem informasi laboratorium meliputi:
● Penghapusan kesalahan chart
● Peningkatan efisiensi
● Identifikasi otomatis hasil tes yang abnormal atau tidak biasa
● Pencocokan spesimen pasien dengan hasil pengujian
● Pencegahan pengujian dan pelaporan yang tidak sah

Point-of-Care Testing

Kemajuan pesat dalam bidang teknologi kedokteran medik memungkinkan perubahan cepat dalam semua aspek perawatan kesehatan. Salah satu perubahan utama dalam laboratorium klinis adalah penerapan dan peningkatan penggunaan Point-of-Care Testing (POCT). POCT dilakukan dengan prinsip membawa tes laboratorium ke pasien daripada mengumpulkan spesimen dari pasien dan membawanya ke laboratorium untuk pengujian. Ini membuat hasil tes laboratorium tersedia lebih cepat, memberikan perawatan pasien yang lebih baik. 

POCT umumnya digunakan untuk pemeriksaan klinik, health maintenance organizations (HMOs), panti jompo, perawatan kesehatan di rumah, dokter praktik, instalasi gawat darurat (IGD), ICU, dan ruang operasi. POCT juga disebut sebagai bedside testing, near-patient testing, off-site testing, dan atau alternative-site testing.

Sebuah evolusi cepat terhadap alat analisis yang berukuran kecil dan mudah digunakan yang dapat memberikan hasil cepat telah menyebabkan implementasi POCT meluas. Alat analisis portabel genggam ini dapat mengukur zat seperti hemoglobin, glukosa, kolesterol, dan elektrolit, dan hasilnya dapat langsung diunggah ke LIS pusat. Sebagian besar POC analyzer hanya membutuhkan setetes darah, biasanya diambil dengan cara melakukan tusukan pada jari. Sebagian besar tes POCT non-rumah sakit  merupakan kategori CLIA-tes sederhana.

Dengan muncul dan adanya pertumbuhan yang signifikan alat POCT telah menciptakan peluang untuk lebih banyak kolaborasi antara laboratorium dan anggota tim kesehatan lainnya. Meskipun personel non-laboratorium dari layanan keperawatan, operasi, atau tim gawat darurat dapat melakukan tes, laboratorium biasanya bertanggung jawab untuk memilih instrumentasi, personel pelatihan, mengembangkan manual prosedur, dan memantau prosedur penilaian kualitas dan pemeliharaan instrumen. 

PENTING Terimakasih sudah berkunjung ke website Kami. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya. Kerjasama media pubhlikasi, kirim e mail ke : laboratorium.medik@gmail.com
Baca juga :
DONASI INFOLABMED Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain www.infolabmed.com. Terima kasih.

Contact Form

Name

Email *

Message *