Menu

Patogenitas dan Gejala Klinis Pediculus Humanus Capitis

Tuesday, August 20, 2019

Patogenitas dan Gejala Klinis Pediculus Humanus Capitis. Pediculosis capitis adalah infeksi kulit atau rambut kepala yang disebabkan oleh infestasi  Pediculus humanus var. capitis (Djuanda, 2007). Prevalensi penyakit ini cukup tinggi terutama pada anak sekolah. Penyakit ini telah menjadi masalah baik di negara berkembang maupun negara maju Amerika Serikat. Pediculosis capitis menginfestasi pada 6 hingga 12 juta orang setiap tahunnya (Nutansonet al., 2008). Berdasarkan jenis kelamin, perempuan mempunyai risiko dua kali lebih besar dibandingkan dengan laki-laki (Burgress, 2009).
Patogenitas dan Gejala Klinis Pediculus Humanus Capitis

Pediculus humanus var. capitis merupakan ektoparasit yang merupakan obligat pemakan darah. Dalam setiap fase daur hidupnya selalu terkait dengan manusia, tidak terjadi pada hewan, tidak memiliki sayap dan tidak dapat lompat (Nutansonet al., 2008). Penyebaran penyakit ini dapat melalui transmisi langsung kontak kepala-kepala orang yang terinfeksi. Selain itu dapat melalui transmisi tidak langsung seperti memakai sisir, topi, handuk, bantal, kasur dan kerudung (Natadisastra & Ridad, 2009).

Patogenitas Pediculus humanus capitis (Kutu Rambut Kepala)

Kelainan pada kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan rasa gatal. Gatal tersebut timbul karena pengaruh liur dan ekskreta dari kutu yang masuk ke dalam kulit waktu menghisap darah. Kutu ini dapat bertahan selama 1 hingga 2 hari jika tidak berada di kulit kepala bahkan telah ditemukan penelitian bahwa dapat bertahan sampai 4 hari dengan kondisi tertentu. Transmisi terjadi melalui kontak langsung atau melalui sisir, sikat, blow-dryer, aksesoris rambut, tempat tidur, helm dan tutup kepala lainnya (Djuanda, 2007). 

Gejala utama dari manifestasi kutu kepala ialah rasa gatal, namun sebagian orang asimtomatik dan dapat sebagai karier. Masa inkubasi sebelum terjadi gejala sekitar 4-6 minggu. Tungau dan telur (nits) paling banyak terdapat didaerah oksipital kulit dan retroaurikuler (Djuanda, 2007)

Kutu dewasa dapat ditemukan dikulit kepala berwarna kuning kecoklatan sampai putih keabu-abuan, tetapi dapat berwarna hitam gelap bila tertutup oleh darah. Kutu akan berwarna lebih gelap pada orang yang berambut gelap. Telur (nits) berada di rambut dan berwarna kuning kecoklatan atau putih, tetapi dapat berubah menjadi hitam gelap bila embrio di dalamnya mati (Stoneet al., 2012).

Gigitan dari kutu rambut dapat menghasilkan kelainan kulit berupa eritema, makula dan papula, tetapi pemeriksa seringnya hanya menemukan eritema dan ekskoriasi saja. Ada beberapa individu yang mengeluh dan menunjukkan tanda demam serta pembesaran kelenjar limfa setempat (Burn, 2004).

Garukan pada kulit kepala dapat menyebabkan terjadinya erosi, ekskoriasi dan infeksi sekunder berupa pus dan krusta. Bila terjadi infeksi sekunder berat, rambut akan bergumpal akibat banyaknya pus dan krusta. Keadaan ini disebut plicapolonica yang dapat ditumbuhi jamur. Tungau kepala adalah penyebab utama penyakit pioderma sekunder dikulit kepala di seluruh dunia (Nutanson et al., 2008).

Diagnosis Pediculus Humanus Capitis

Diagnosis pasti pada penyakit  Pediculosis capitis adalah menemukan Pediculus humanus var. capitis
dewasa, nimfa, dan telur di kulit dan rambut kepala. Telur (nits) sangat mudah dilihat dan merupakan marker yang paling efisien dalam mendiagnosis penyakit tersebut (Djuanda, 2007).

Penemuan tungau dewasa merupakan tanda bahwa sedang mengalami infeksi aktif, tetapi kutu dewasa sangat sulit ditemukan karena dapat bergerak sekitar 6-30 cm permenit dan bersifat menghindari cahaya. Sisir tungau dapat membantu menemukan tungau dewasa maupun nimfa dan merupakan metode yang lebih efektif dari pada inspeksi visual (Stone et al., 2012).

Kutu rambut dewasa meletakkan telur dirambut kurang dari 5 mm dari kulit kepala, maka seiring bertumbuhnya rambut kepala, telur yang semakin matang akan terletak lebih jauh dari pangkal rambut. Telur yang kecil akan sulit dilihat, oleh karena itu pemeriksa memerlukan kaca pembesar. Telur-telur terletak terutama didaerah oksipital kulit kepala dan retroaurikular. Ditemukannya telur bukanlah tanda adanya infeksi aktif, tetapi apabila ditemukan 0,7 cm dari kulit kepala dapat merupakan tanda diagnostik  infeksi tungau (Ko & Elston, 2004). 

Warna dari telur yang baru dikeluarkan adalah kuning kecoklatan. Telur yang sudah lama berwarna putih dan jernih. Untuk membantu diagnosis, dapat menggunakan pemeriksaan lampu wood. Telur dan tungau akan memberikan fluoresensi warna kuning-hijau. Sangat penting untuk dapat membedakan apakah telur tersebut kosong atau tidak. Adanya telur yang kosong  pada seluruh pemeriksaan memberikan gambaran positif palsu adanya infeksi aktif tungau (Nutanson et al., 2008).

Sumber : 
  1. Djuanda, Adhi, Hamzah M, Aisyah S. 2007.  Ilmu Penyakit Kulit dan  Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hlm. 128-36.
  2. Stone SP. Jonathan NG. Rocky E. 2012.Bacelieri Scabies, Other Mites and Pediculosis. In: Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolff K eds.  Fitzpatrick`s Dermatology In General Medicine  Eight Edition. New York : McGraw Hill. Pp. 2573 –  8.

PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Bagi Anda yang ingin mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya. Kami juga dapat bekerjasama untuk media pubhlikasi, kirim e mail ke : laboratorium.medik@gmail.com
Baca juga :
  1. Protozoologi (Morfologi Umum Protozoa) - Seri Edukasi Teknologi Laboratorium Medik
  2. Protozoologi (Penularan, Patologi dan Diagnosis Protozoa) - Seri Edukasi Teknologi Laboratorium Medik
  3. Entamoeba Histolytica (Nama Penyakit, Hospes, Morfologi, Dan Siklus Hidup)
  4. Giardia Lamblia [Struktur, Reproduksi, Siklus Hidup & Cara Diagnosa]
  5. Ketiga Jenis Cacing Ini Dapat Menginfeksi Manusia
DONASI INFOLABMED Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain www.infolabmed.com. Terima kasih.

Contact Form

Name

Email *

Message *