Pembiakan Virus Pada Telur Berembrio

Table of Contents
Pembiakan Virus Pada Telur Berembrio. Pembiakan virus terdiri atas pembiakan virus dengan hewan percobaan (in vivo), pembiakan virus dengan kultur jaringan (in vitro) dan pembiakan virus dalam telur berembrio ( in ovo). Pembiakan pada telur berembrio atau in ovo, dimana telur dijadikan tempat perbenihan virus yang sudah steril dan embrio telur yang tumbuh di dalamnya tidak membentuk zat anti yang dapat mengganggu pertumbuhan virus. Karena telur merupakan sumber sel hidup yang relatif murah untuk isolasi virus, maka cara in ovo ini sering digunakan dalam laboratorium. 
Pembiakan Virus Pada Telur Berembrio

Tujuan Dikembangbiakan Virus 

  1. Mengetahui ciri-ciri fisik dan struktur kimia pada tubuh virus
  2. Mempelajari prilaku dan cara virus menginfeksi tubuh inang
  3. Mengetahui masa inkubasi dan siklus reproduksinya
  4. Mengetahui kemungkinan penyebarannya
  5. Untuk pembuatan vaksin


Telur berembrio yang biasa digunakan adalah telur ayam negeri, telur ayam kampung dan telur bebek. Umur dari telur, cara penyuntikan, suhu pengeraman dan lamanya pengeraman tergantung dari jenis virus yang akan disuntikan. 

Embrio berada dalam kantung amnion yang berisi cairan amnion yang berwarna putih jernih. Jika akan digunakan telur untuk percobaan, maka telur tersebut tidak boleh dicuci, sebab pada bagian luar telur ada semacam zat seperti lilin yang berfungsi melindungi telur agar kuman tidak dapat masuk ke dalam telur. 

Sebelum digunakan telur tersebut dimasukkan ke dalam alat pengeram atau inkubator, letaknya tiap hari harus diubah supaya tidak terjadi perlengketan selaput-selaput bagian dalam telur dengan embrionya (supaya embrio tersebut tetap ditengah-tengah).

Gambar : Embrio ayam dan bagian-bagiannya (Sumber : http://cubo2saenyo.blogspot.com)


Beberapa contoh penggunaan telur berembrio untuk membiakan virus

1. Virus Ebola

Digunakan telur berembrio berumur 10-13 hari, disuntik dengan meneteskan bahan pemeriksaan pada CAM (Chorio Allantois Membrane). Telur kemudian  di eramkan pada suhu 35-36C selama 3x24 jam, kemudian di lihat ada tidaknya pocks pada CAM. 

2. Virus Influenza

Digunakan telur berembrio berumur 10-14 hari, disuntik secara intra amnion. Eramkan pada suhu 37C selama 2 atau 3 hari tergantung jenis virus influenza, kemudian telur dibongkar dan cairan amnion yang penuh dengan virus diambil. 

3. Virus Herpes Simplex

Digunakan telur berembrio berumur 12 hari, disuntik dengan meneteskan bahan pemeriksaan pada CAM. Setelah dieramkan terlihat pocks pada CAM. Untuk virus Herpes simplex ini, bisa digunakan pula telur berembrio berumur 7 hari yang disuntik intra yolk sac, maka embrio ayam akan mati.

4. Virus penyeybab Q Fever

Digunakan telur berembrio berumur 5-7 hari, disuntik secara intra Yolk Sac, kemudian dieramkan pada suhu 36-37C selama 5-7 hari. Yolk sac akan penuh dengan virus penyebab Q Fever. 

Beberapa kemungkinan bila virus ditanam atau disuntikan pada telur berembrio :
a. Embrio ayam akan mati
   Misalnya : Virus Japanese B Ecephalitis yang disuntikan secara intra yolk sac.

b. Akan tumbuh pocks atau plaques
   Pocks adalah bintik-bintik putih berbentuk bundar dan menonjol pada permukaan CAM
   Plaques adalah bintik-bintik putih berbentuk bundar tapi tidak menonjol dari permukaan CAM.

Virus-virus yang dapat membentuk pocks adalah :
  1. Virus Variola
  2. Virus Vaccinia
  3. Virus Cowpox
  4. Virus Foo Pox
  5. Virus B Enchepalitis

Sedangkan virus yang membentuk plaques adalah virus Herpes Simplex.

c. Pembentukan Antigen
    Antigen yang terbentuk ada 2 macam, yaitu antigen haemaglutinin dan antigen ikatan komplemen.
   Misalnya : Virus yang membentuk antigen tersebut adalah Virus Influenza dan virus Mumps.

d. Daya infeksi virus terhadap hewan atau manusia berubah menjadi virulen atau kurang virulen.
   Misalnya virus influenza yang disuntikan secara intra amnion masih dapat menyebabkan sakit pada manusia, tapi tidak pada tikus. Lalu bisa dilakukan passage lanjutan pada intra allantois, maka virus menjadi kurang virulen pada manusia dan menjadi lebih virulen pada tikus (tikus bisa sakit, bahkan sampai mati).

Sumber : 
  • Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. 1989. Virologi Umum ; Buku Pegangan Untuk Sekolah Menengah Analis Kesehatan. Depkes RI : Jakarta. 
Dapatkan buku "Pedoman Teknik Pemeriksaan Laboratorium Klinik Untuk Mahasiswa Ahli Teknologi Laboratorium Medik". Disusun oleh Gilang Nugraha, S.Si., M.Si, dkk. Pembelian Buku / Order via WA https://wa.me/6285862486502. Info selengkapnya tentang buku bisa dilihat disini : JUAL BUKU "Pedoman Teknik Pemeriksaan Laboratorium Klinik Untuk Mahasiswa Ahli Teknologi Laboratorium Medik" torium Medik"
PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed.com. Jika Anda mengutip dan atau mengambil keseluruhan artikel dalam websit ini, mohon untuk selalu mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang telah Anda buat. Kerjasama/media partner : laboratorium.medik@gmail.com.

Baca juga : 
  1. Uji Kelompok Enterovirus (Serum) - Seri Pemeriksaan Laboratorium Klinik
  2. Composite Bacterial Infection Index - Seri Edukasi Teknologi Laboratorium Medik
  3. Pembiakan Virus Pada Hewan Percobaan
Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.