Sebuah Terapi Gen dapat Memicu Detak Jantung yang Sehat

Table of Contents
 
Michael Kotlikoff.
Infolabmed. Komplikasi yang paling umum dan berpotensi mematikan setelah serangan jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk melakukan salah satu pekerjaannya yang paling dasar: mempertahankan detak jantung secara normal.



Setelah infark miokard, sel otot jantung digantikan oleh fibroblast dan pembuluh darah baru, yang tidak menghantarkan listrik dan membuat jantung rentan terhadap ventricular tachycardia - denyut jantung yang berlebihan yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Sel-sel non-jantung ini mengganggu pola normal konduksi listrik yang sangat penting untuk memompa yang efektif. Jika ada cara untuk membuat sel-sel ini aktif secara elektrik, seseorang dapat menjembatani blok konduksi hingga derajat tertentu, dan sangat mengurangi komplikasi pasca-infark berbahaya.

Michael Kotlikoff, seorang wakil rektor di Universitas Cornell dan seorang profesor fisiologi molekuler, menyatakan bahwa bagian dari kerja sama internasional yang bertujuan untuk menjembatani adanya gap atau kesenjangan yang terjadi pada hati yang rusak dengan pendekatan terapi gen yang sederhana.

Penelitian mereka berjudul, “Overexpression of Cx43 in Cells of the Myocardial Scar: Correction of Post-infarct Arrhythmias Through Heterotypic Cell-Cell Coupling,” yang telah diterbitkan dalam Nature Scientific Reports. Tim ini dipimpin oleh Bernd Fleischmann, MD, profesor dan ketua Institute of Physiology di Universitas Bonn, merupakan partner  Kotlikoff dalam penelitian ini selama hampir 30 tahun.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh mereka, penelitian tersebut menunjukkan pengurangan secara siginifikan post-infarction arrhythmias pada tikus setelah dilakukan transfer gen tunggal, Connexin43, yang secara elektrik menggabungkan sel yang tidak dapat dirangsang ke sel-sel jantung yang tidak rusak.



"Kami telah membuat jembatan untuk sinyal elektrik," ujar Fleischmann. “Kami menduga itu akan berhasil. Kami menduga bahwa sel yang kami tempatkan benar-benar bekerja dengan cara ini, tetapi itu benar-benar menarik. ”

Kebahgiaan para peneliti ini dilunakkan oleh kenyataan bahwa ini adalah hati tikus, dengan induksi, secara teratur infark bentuk tertentu yang merupakan pecahan dan ukuran lain pada hati manusia. Perbedaan spasial, kata Kotlikoff, bukan hal yang mudah.

"Apakah ini akan berhasil pada manusia, atau bahkan pada hewan yang lebih besar, itu masih menjadi pertanyaan dan rekan-rekan saya di Jerman sedang mengejar ini," kata Kotlikoff. Namun, katanya, yang paling menarik tentang ini adalah kemudahan prosedur ini dapat dilakukan, jika tes pada hewan yang lebih besar terbukti berhasil.

"Ini bisa menjadi prosedur medis yang sangat sederhana," kata Kotlikoff. "Seseorang dapat membayangkan prosedur yang relatif non-invasif di mana gen tersebut dimasukkan melalui kateter, (dan dapat) menghasilkan perlindungan jangka panjang." (Sumber : mlo-online)


PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website infolabmed. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya.
Baca juga :
  1. Oxyntomodulin (OXM) Memperbanyak Glukosa Homeostasis  
  2. Pemeriksaan Branched Chain Amino Acids (BCAAs) Dapat Memprediksi Kardiovaskular 
  3. Berita Pekan TLM 2018 DPW Patelki Lampung   
  4. Semarak Pekan TLM 2018 DPC PATELKI Makassar  
  5. Para Peneliti Menemukan 44 Variasi Gen Penyebab Depresi 



Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.