Memahami AFB Test: Prosedur, Hasil, dan Perannya dalam Diagnosis TBC

Table of Contents
Memahami AFB Test: Prosedur, Hasil, dan Perannya dalam Diagnosis TBC


INFOLABMED.COM - AFB test merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium yang kritikal dalam dunia medis, terutama untuk mendiagnosis penyakit tuberkulosis (TBC). 

AFB sendiri adalah singkatan dari Acid-Fast Bacilli atau Basil Tahan Asam, yang merujuk pada karakteristik unik dari bakteri Mycobacterium tuberculosis, penyebab TBC. Artikel ini akan mengupas tuntas tentang AFB test, mulai dari pengertian, prosedur, hingga interpretasi hasilnya.

Baca juga : Interferon Gamma Release Assay (IGRA) Tes Imunoserologi Untuk Tuberculosis

Apa Itu AFB Test?

AFB test adalah sebuah pemeriksaan mikroskopis yang digunakan untuk mendeteksi adanya bakteri Basil Tahan Asam dalam sampel, yang paling umum adalah dahak. Tes ini juga sering disebut sebagai pemeriksaan BTA (Basil Tahan Asam). 

Keunikan dinding sel bakteri TBC membuatnya "tahan" terhadap pewarnaan biasa, sehingga diperlukan teknik pewarnaan khusus seperti Ziehl-Neelsen atau Kinyoun-Gabbett untuk dapat melihatnya di bawah mikroskop.

Kapan AFB Test Diperlukan?

Pemeriksaan ini biasanya direkomendasikan oleh dokter ketika seseorang menunjukkan gejala yang mengarah pada tuberkulosis paru, seperti:

  • Batuk berdahak yang berlangsung lebih dari 2 minggu.
  • Batuk berdarah (hemoptisis).
  • Demam ringan yang berkepanjangan, terutama pada sore hari (febris vesper).
  • Keringat malam.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Nyeri dada dan sesak napas.

Prosedur Pengambilan Sampel untuk AFB Test

Keakuratan AFB test sangat bergantung pada kualitas sampel yang diberikan. Untuk diagnosis TBC paru, sampel yang digunakan adalah dahak, bukan ludah. Prosedur pengambilannya biasanya dilakukan dengan metode Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS):

  1. Sewaktu 1: Dahak diambil saat pertama kali pasien datang ke fasilitas kesehatan, di bawah pengawasan petugas.
  2. Pagi: Pasien diminta untuk mengumpulkan dahak pertama di pagi hari setelah bangun tidur ke dalam pot dahak steril yang telah diberikan.
  3. Sewaktu 2: Dahak diambil lagi saat pasien menyerahkan sampel dahak pagi ke fasilitas kesehatan.

Cara Membaca dan Menginterpretasikan Hasil AFB Test

Hasil AFB test dilaporkan secara kuantitatif berdasarkan skala yang direkomendasikan oleh WHO. Hasilnya dinyatakan sebagai jumlah BTA yang terlihat per lapang pandang (LPB) di bawah mikroskop:

  • Negatif: Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang.
  • Positif 1+: 1-9 BTA per 100 lapang pandang.
  • Positif 2+: 10-99 BTA per 100 lapang pandang.
  • Positif 3+: 1-10 BTA per lapang pandang.
  • Positif 4+: >10 BTA per lapang pandang.

Semakin tinggi angka positifnya, semakin banyak bakteri yang terdeteksi, yang umumnya menunjukkan tingkat penularan yang lebih tinggi.

Kelebihan dan Keterbatasan AFB Test

Kelebihan:

  • Cepat: Hasil dapat diketahui dalam waktu beberapa jam.
  • Murah: Biaya pemeriksaan relatif terjangkau.
  • Spesifik: Sangat baik untuk mendeteksi Mycobacterium tuberculosis.

Keterbatasan:

  • Sensitivitas rendah: Memerlukan jumlah bakteri yang cukup banyak (sekitar 5000-10.000 bakteri/mL dahak) untuk memberikan hasil positif. Hasil negatif tidak serta-merta menyingkirkan diagnosis TBC.
  • Tidak bisa membedakan jenis Mycobacterium: Tidak dapat membedakan antara M. tuberculosis (patogen) dengan Mycobacterium lainnya yang non-patogen.

Oleh karena itu, AFB test sering dikombinasikan dengan pemeriksaan lain yang lebih sensitif seperti Tes Cepat Molekuler (TCM) atau kultur untuk konfirmasi diagnosis.

Baca juga : Tuberculosis (TB): Gejala, Penyebab, dan Pengobatan yang Perlu Diketahui

Kesimpulan

AFB test tetap menjadi tulang punggung diagnosis awal TBC di banyak daerah, terutama karena kesederhanaan dan biayanya yang efektif. Meski memiliki keterbatasan dalam hal sensitivitas, tes ini sangat berharga sebagai skrining awal dan alat pemantauan pengobatan. Penting untuk diingat bahwa interpretasi hasil AFB test harus selalu dilakukan oleh dokter dengan mempertimbangkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang lainnya.

Dapatkan informasi terbaru seputar dunia laboratorium kesehatan dengan mengikuti media sosial Infolabmed.com di TelegramFacebook, dan Twitter/X. Bantu kami terus berkarya dengan memberikan dukungan melalui donasi via DANA. Terima kasih.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment