Menguasai Targeted Next-generation Sequencing (tNGS): Panduan Lengkap Pra-analitik Hingga Interpretasi Hasil

Table of Contents
pra analitik, analitik, post analitik, interpretasi hasil, Targeted Next-Generation Sequencing, tNGS, resistensi obat TBC, diagnosis TBC, bioinformatika, genomik, laboratorium, WHO


INFOLABMED.COM - Targeted Next-Generation Sequencing (tNGS) merevolusi cara kita memahami profil resistensi obat pada tuberkulosis (TBC). Teknologi diagnostik mutakhir ini, yang direkomendasikan oleh WHO dan kini tengah diujicobakan implementasinya di Indonesia, menawarkan kemampuan luar biasa untuk membaca urutan basa nitrogen dari ratusan wilayah gen penentu resistensi bakteri TBC secara bersamaan.

Berbeda dengan metode konvensional seperti PCR yang hanya mendeteksi mutasi tunggal, tNGS mampu memberikan gambaran komprehensif genomik resistensi obat langsung dari sampel klinis. Meski belum menjadi layanan rutin, tNGS adalah teknologi masa depan yang membutuhkan fasilitas bioinformatika khusus untuk pemetaan genetik yang mendalam.

Memahami alur kerja tNGS, mulai dari persiapan sampel hingga interpretasi hasil, sangat krusial untuk memaksimalkan potensinya. Manajemen laboratorium yang komprehensif sangat dibutuhkan, mencakup tahap pra-analitik, analitik, pasca-analitik, hingga interpretasi hasil yang akurat.

Artikel ini akan mengupas tuntas setiap tahapan tersebut, memberikan wawasan mendalam bagi para profesional laboratorium, peneliti, dan klinisi yang tertarik dengan teknologi revolusioner ini.

1. Tahap Pra-Analitik: Fondasi Keberhasilan tNGS

Keberhasilan analisis Targeted Next-Generation Sequencing (tNGS) sangat bergantung pada kualitas materi genetik yang digunakan. Tahap pra-analitik adalah fondasi krusial yang memastikan DNA bakteri diekstraksi dengan konsentrasi dan kemurnian yang optimal.

Tanpa persiapan yang matang di fase ini, seluruh proses selanjutnya berisiko menghasilkan data yang tidak akurat atau bahkan gagal.

Persyaratan spesimen untuk tNGS utamanya adalah sampel dahak langsung dari pasien yang terkonfirmasi positif TBC melalui metode seperti tes cepat molekuler (TCM) GeneXpert. Namun, jika jumlah bakteri dalam sampel dahak awal terlalu rendah, isolat kuman hidup dari kultur positif dapat menjadi alternatif.

Penting untuk diingat bahwa pemilihan spesimen yang tepat dan penanganannya yang sesuai sangat memengaruhi kualitas DNA yang akan diekstraksi.

Proses ekstraksi DNA, baik yang dilakukan secara manual maupun otomatis menggunakan sistem robotik, harus memenuhi standar ketat. Tujuannya adalah untuk mendapatkan DNA mikrobial yang bebas dari kontaminan bahan kimia seperti sisa pelarut atau komponen lain dari matriks dahak.

Selain itu, minimalisasi DNA inang manusia (host DNA) juga menjadi prioritas utama. DNA manusia yang berlebihan dapat mengganggu analisis DNA bakteri target, sehingga seringkali diperlukan metode khusus untuk menghilangkan atau mengurangi keberadaannya.

Setelah ekstraksi, pengukuran kuantitas DNA menjadi langkah krusial berikutnya. Pengukuran ini dilakukan menggunakan alat fluorometer yang sensitif, seperti Qubit.

Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa jumlah materi genetik bakteri yang diperoleh mencukupi ambang batas minimal yang dibutuhkan untuk tahap persiapan pustaka sekuensing (library preparation). Konsentrasi DNA yang terlalu rendah dapat menyebabkan kegagalan dalam pembuatan pustaka, yang berujung pada data sekuensing yang tidak memadai.

2. Tahap Analitik: Jantung Proses Sekuensing

Tahap analitik adalah inti dari teknologi Targeted Next-Generation Sequencing (tNGS), di mana amplifikasi target dan proses sekuensing itu sendiri dilakukan. Fase ini memerlukan laboratorium genomik khusus yang dilengkapi dengan instrumentasi berteknologi tinggi dan keahlian teknis yang mendalam.

Fase pertama dalam tahap analitik adalah Multiplex PCR (Target Enrichment). Pada tahap ini, daerah-daerah spesifik pada genom bakteri TBC yang berperan dalam menentukan resistensi terhadap obat-obatan anti-TBC akan diamplifikasi secara selektif.

Penggunaan panel primer khusus sangat penting di sini. Contohnya, primer untuk gen *rpoB* digunakan untuk mendeteksi resistensi terhadap Rifampisin, gen *katG* dan *inhA* untuk Isoniazid, gen *gyrA* dan *gyrB* untuk Fluorokuinolon, gen *rrs* untuk obat injeksi, serta gen *Rv0678* untuk deteksi resistensi terhadap Bedaquiline.

Amplifikasi yang tepat dan spesifik pada gen-gen ini memastikan bahwa hanya fragmen DNA yang relevan dengan resistensi obat yang akan diproses lebih lanjut.

Selanjutnya adalah fase Pembuatan Pustaka (Library Preparation). Fragmen-fragmen DNA hasil amplifikasi PCR kemudian diproses lebih lanjut.

DNA tersebut dipotong menjadi ukuran yang sesuai, lalu ditempeli molekul adaptor khusus. Selain adaptor, setiap fragmen DNA juga akan ditambahkan kode indeks unik yang dikenal sebagai barcode atau mid (multiplex identifier).

Kode indeks ini memiliki fungsi krusial dalam proses *multiplexing*. Dengan adanya barcode unik, puluhan hingga ratusan sampel dari pasien yang berbeda dapat dicampur menjadi satu dan dijalankan secara bersamaan dalam satu proses di mesin sekuensing.

Ini sangat efisien dalam penggunaan sumber daya dan waktu.

Fase terakhir dari tahap analitik adalah Running Sekuensing. Pustaka DNA yang telah siap kemudian dimasukkan ke dalam perangkat khusus pada mesin sekuensing, seperti kartrid atau flow cell.

Mesin sekuensing, baik dari platform Illumina maupun Oxford Nanopore Technologies (ONT), akan membaca urutan miliaran basa nitrogen dari sampel secara paralel. Proses ini mengubah sinyal kimia menjadi data digital yang merepresentasikan urutan DNA mentah, biasanya dalam format file .FASTQ.

Kemampuan mesin untuk membaca jutaan hingga miliaran fragmen DNA secara bersamaan inilah yang menjadi dasar dari teknologi Next-Generation Sequencing.

3. Tahap Pasca-Analitik: Analisis Data Bioinformatika yang Kompleks

Setelah data mentah dari mesin sekuensing diperoleh, proses berlanjut ke tahap pasca-analitik. Fase ini sepenuhnya dijalankan oleh perangkat lunak bioinformatika otomatis, seringkali berbasis cloud, karena data sekuensing yang sangat besar dan kompleks tidak mungkin dianalisis secara manual oleh manusia.

Langkah pertama dalam tahap pasca-analitik adalah Kontrol Kualitas Data (Quality Control/QC of Reads). Perangkat lunak bioinformatika canggih akan menyaring data mentah yang dihasilkan oleh mesin sekuensing.

Proses penyaringan ini bertujuan untuk membuang urutan DNA yang berkualitas rendah, yang mungkin disebabkan oleh berbagai faktor selama proses sekuensing. Selain itu, urutan DNA inang manusia yang secara tidak sengaja terbaca juga akan diidentifikasi dan disaring.

Selanjutnya adalah proses Penyelarasan Genom (Alignment/Mapping). Potongan-potongan data urutan DNA dari sampel pasien yang lolos QC kemudian dipetakan dan disejajarkan (aligned) kembali dengan urutan genom referensi standar dari bakteri TBC, seperti strain H37Rv.

Proses *mapping* ini memungkinkan penentuan lokasi yang tepat dari setiap fragmen DNA pasien pada genom bakteri. Ibarat menyusun potongan puzzle raksasa, *mapping* menempatkan setiap fragmen pada posisi yang seharusnya di dalam gambaran genom lengkap.

Tahap kritis berikutnya adalah Pemanggilan Varian (Variant Calling). Setelah data urutan DNA pasien dipetakan ke genom referensi, komputer akan secara otomatis mendeteksi dan mencatat setiap titik mutasi atau perbedaan (varian) yang ada.

Ini mencakup perubahan pada posisi basa nitrogen tunggal (SNP) atau penyisipan/penghapusan basa. Varian yang terdeteksi ini kemudian dicocokkan dengan Katalog Mutasi Resmi Kompleks MTB dari WHO.

Katalog ini berisi informasi mengenai mutasi-mutasi yang diketahui menyebabkan resistensi terhadap obat-obatan anti-TBC, serta tingkat keandalannya.

4. Interpretasi Hasil dan Panduan Klinis: Mengubah Data Menjadi Aksi

Tahap akhir dari alur kerja Targeted Next-Generation Sequencing (tNGS) adalah interpretasi hasil dan penerjemahannya menjadi panduan klinis yang dapat diaplikasikan. Output dari analisis bioinformatika yang kompleks ini adalah laporan komprehensif yang merinci profil resistensi bakteri TBC terhadap berbagai lini obat anti-TBC secara simultan.

Laporan hasil bioinformatika ini akan memberikan informasi penting dalam beberapa kategori:

Wild Type (WT) Terdeteksi Penuh: Ini berarti tidak ada mutasi genetik yang terdeteksi pada panel gen yang diperiksa. Secara umum, ini mengindikasikan bahwa kuman TBC bersifat sensitif terhadap semua obat lini pertama dan kedua yang umum digunakan.

Dalam kasus ini, pasien dapat diobati dengan regimen TBC standar yang telah ditetapkan (misalnya, Kategori 1).

Mutasi High-Confidence Terdeteksi: Kategori ini menunjukkan adanya mutasi genetik yang terkonfirmasi dengan tingkat kepercayaan tinggi, yang telah diketahui menyebabkan resistensi bakteri terhadap obat tertentu. Contoh klasik adalah mutasi *rpoB* S450L yang menyebabkan resistensi Rifampisin, atau mutasi *gyrA* D94G yang menyebabkan resistensi terhadap Fluorokuinolon.

Jika mutasi seperti ini terdeteksi, dokter harus segera menyesuaikan regimen pengobatan. Misalnya, jika ditemukan mutasi *gyrA* (resisten Fluorokuinolon), pasien dapat didiagnosis sebagai Pre-XDR TBC (Extensively Drug-Resistant Tuberculosis), dan obat tersebut harus segera diganti dengan kelompok obat lain.

Mutasi Unknown/Unclassified Significance (VUS): Dalam beberapa kasus, mungkin ditemukan mutasi baru pada gen kuman yang belum memiliki bukti literatur yang cukup untuk menentukan apakah mutasi tersebut membuat kuman menjadi kebal atau tetap sensitif. Hasil ini dilaporkan sebagai "Ambivalen/Belum Jelas".

Dalam situasi ini, dokter disarankan untuk tetap melanjutkan pengobatan standar, namun sangat dianjurkan untuk melakukan konfirmasi berkala menggunakan metode uji kepekaan fenotipik konvensional (seperti pDST - phenotypic Drug Susceptibility Testing) untuk memastikan efektivitas terapi.

Low Sequencing Depth / Invalid: Jika jumlah salinan materi genetik bakteri TBC yang berhasil dibaca selama proses sekuensing terlalu sedikit, data yang dihasilkan akan dianggap tidak valid. Ini sering terjadi jika pasien memiliki beban kuman yang sangat rendah dalam sampelnya (kondisi yang disebut *scanty*).

Dalam kasus seperti ini, hasil sekuensing dianggap gagal, dan biasanya sampel perlu dikultur terlebih dahulu untuk memperbanyak kuman sebelum proses sekuensing diulang.

Dengan pemahaman mendalam tentang pra-analitik, analitik, post-analitik, dan interpretasi hasil tNGS, para profesional medis dapat memanfaatkan kekuatan teknologi ini untuk diagnosis TBC yang lebih cepat, akurat, dan personal, yang pada akhirnya akan meningkatkan efektivitas pengobatan dan pengendalian wabah TBC.

FAQ (Tanya Jawab)

Apa perbedaan utama antara tNGS dan PCR konvensional dalam diagnosis TBC? 

 PCR konvensional hanya mendeteksi mutasi tunggal pada gen tertentu yang terkait dengan resistensi obat. Sementara itu, tNGS mampu membaca urutan basa nitrogen dari ratusan wilayah gen yang relevan secara bersamaan, memberikan profil resistensi obat yang jauh lebih komprehensif.

Mengapa kualitas DNA pada tahap pra-analitik sangat penting untuk tNGS? 

 Kualitas DNA yang tinggi, bebas dari kontaminan dan memiliki konsentrasi yang memadai, adalah fondasi utama untuk keberhasilan analisis tNGS. DNA yang buruk kualitasnya dapat menyebabkan kesalahan dalam amplifikasi, pembuatan pustaka, bahkan kegagalan pembacaan data oleh mesin sekuensing, sehingga menghasilkan hasil yang tidak akurat atau tidak valid.

Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil tNGS dapat bervariasi, namun umumnya lebih cepat dibandingkan metode kultur konvensional. Prosesnya mencakup ekstraksi DNA, amplifikasi, sekuensing, analisis bioinformatika, hingga interpretasi.

Jika semua infrastruktur tersedia, hasil bisa didapatkan dalam hitungan hari, bukan minggu.

tNGS yang ditargetkan (Targeted NGS) dirancang untuk mendeteksi mutasi pada gen-gen yang paling umum terkait resistensi obat anti-TBC. Namun, ada kemungkinan munculnya mutasi pada gen lain yang belum dimasukkan dalam panel target, atau resistensi yang tidak disebabkan oleh mutasi genetik.

Oleh karena itu, hasil tNGS seringkali perlu dikonfirmasi dengan metode lain, terutama untuk mutasi yang belum terklasifikasi.

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment