TPHA Vs Tp Rapid: Mana Tes Sifilis Paling Akurat Dan Cepat Di Papua?
INFOLABMED.COM - Sifilis, penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Treponema pallidum, terus menjadi perhatian kesehatan global. Penyakit ini dapat berkembang menjadi stadium lanjut jika tidak diobati, menimbulkan komplikasi serius seperti sifilis tersier, kardiovaskular, atau neurosifilis.
Angka kejadian sifilis dilaporkan cukup tinggi, terutama di negara berkembang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jutaan kasus baru terjadi di berbagai wilayah, termasuk Asia Tenggara.
Di Indonesia, data menunjukkan adanya peningkatan kasus dari tahun ke tahun.
Dalam mendiagnosis sifilis, terdapat berbagai jenis tes serologi. Tes ini dibagi menjadi tes non-treponema dan tes spesifik treponema.
Tes non-treponema meliputi Rapid Plasma Reagin (RPR) dan Venereal Disease Research Laboratory (VDRL). Sementara itu, tes spesifik treponema mencakup Treponema Pallidum Haemagglutination Assay (TPHA), TP Rapid (Treponema Pallidum Rapid), TP-PA (Treponema Pallidum Particle Agglutination Assay), dan FTA-ABS (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption).
Memahami Metode Pemeriksaan TPHA
TPHA merupakan salah satu pemeriksaan serologi kunci untuk mendeteksi sifilis. Prinsip dasarnya adalah aglutinasi, di mana eritrosit domba yang dilapisi antigen Treponema pallidum direaksikan dengan antibodi spesifik dalam serum pasien.
Tujuan utama pemeriksaan TPHA adalah untuk mendeteksi keberadaan antibodi spesifik terhadap Treponema pallidum dalam sampel serum manusia. Tes ini memiliki keunggulan dalam hal spesifisitas terhadap bakteri Treponema dan potensi otomatisasi.
Reproduksibilitas TPHA dinilai baik dan sensitivitasnya terhadap antibodi anti-Treponema IgM (19S) spesifik. Tes ini menjadi reaktif setelah sifilis primer mapan dan cenderung tetap reaktif dalam jangka waktu lama, bahkan setelah pengobatan.
Meskipun demikian, TPHA memiliki keterbatasan. Tes ini dinilai kurang sensitif jika digunakan sebagai tes skrining tahap awal.
Kemungkinan tes TPHA menjadi negatif setelah pengobatan sifilis dini sangat jarang terjadi.
Keunggulan dan Keterbatasan TP Rapid
TP Rapid menawarkan kemudahan penggunaan dan kecepatan hasil yang signifikan. Pemeriksaan ini dapat memberikan hasil dalam waktu singkat, yaitu sekitar 10 hingga 15 menit.
Dibandingkan dengan TPHA atau TPPA, TP Rapid memiliki sensitivitas yang berkisar antara 85% hingga 98%.
Spesifisitas TP Rapid juga cukup baik, berada pada kisaran 93% hingga 98%. Keunggulan lain dari TP Rapid adalah fleksibilitas dalam penggunaan spesimen, meliputi serum, plasma, atau whole blood.
Selain itu, TP Rapid tidak memerlukan alat khusus, tenaga terampil, atau laboratorium khusus. Tes ini dapat disimpan pada suhu ruangan dan tidak memerlukan sarana transportasi khusus untuk pengiriman spesimen.
Namun, TP Rapid memiliki kekurangan. Tes ini tidak dapat membedakan antara infeksi aktif dan nonaktif.
Penggunaannya juga tidak dapat diandalkan untuk menilai efektivitas hasil pengobatan sifilis.
Hasil Penelitian TPHA dan TP Rapid di Papua
Sebuah penelitian deskriptif dengan pendekatan uji laboratorium dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Papua. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pemeriksaan sifilis menggunakan metode TPHA dan TP Rapid.
Penelitian dilaksanakan dari 12 April hingga 12 Mei 2017, melibatkan 30 sampel serum yang sebelumnya reaktif RPR. Lokasi pengambilan sampel meliputi puskesmas di Kota Jayapura, Pusat Kesehatan Reproduksi, dan Laboratorium Klinik Inti Farma.
Hasil pemeriksaan menggunakan TPHA menunjukkan 93% sampel reaktif dan 7% non-reaktif. Hasil yang serupa diperoleh dari pemeriksaan menggunakan TP Rapid, dengan 93% sampel reaktif dan 7% non-reaktif.
Angka reaktif pada kedua metode menunjukkan bahwa sebanyak 28 dari 30 sampel positif terinfeksi atau pernah terinfeksi Treponema pallidum. Hasil non-reaktif pada 2 sampel mengindikasikan tidak adanya infeksi Treponema pallidum pada individu tersebut.
Perbandingan persentase hasil reaktif dengan penelitian lain menunjukkan adanya variasi. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh jumlah sampel yang berbeda serta jenis kit yang digunakan.
Faktor-faktor yang dapat memengaruhi hasil pemeriksaan, seperti waktu pembacaan yang kurang tepat atau serum yang lisis, perlu diperhatikan. Untuk TPHA, waktu pembacaan kurang dari satu jam dapat menimbulkan positif palsu.
Sementara itu, pembacaan TP Rapid lebih dari 20 menit juga berpotensi memberikan hasil positif palsu.
Penelitian ini menyimpulkan tidak ada perbedaan signifikan antara hasil pemeriksaan sifilis menggunakan metode TPHA dan TP Rapid. Kesamaan hasil ini memberikan dasar untuk rekomendasi penggunaan kedua tes.
Rekomendasi Penggunaan Tes Sifilis
Berdasarkan temuan penelitian, direkomendasikan bagi petugas kesehatan untuk mempertimbangkan penggunaan TP Rapid jika tuntutan di lapangan adalah hasil pemeriksaan yang cepat. Keunggulannya dalam hal kecepatan, kemudahan, dan fleksibilitas spesimen menjadikannya pilihan ideal untuk skrining.
TP Rapid sangat cocok untuk skrining diagnostik sifilis di lapangan, terutama bagi kelompok berisiko tinggi. Ketersediaan alat yang tidak rumit dan biaya yang relatif rendah juga mendukung penggunaannya.
Namun, penting untuk diingat bahwa TP Rapid tidak dapat digunakan untuk memantau respons pengobatan. Untuk konfirmasi diagnostik atau evaluasi pasca-pengobatan, metode lain seperti TPHA mungkin masih diperlukan.
Penelitian ini menegaskan pentingnya memilih metode tes yang tepat sesuai dengan kebutuhan diagnostik. Kolaborasi antara TPHA dan TP Rapid dapat meningkatkan efektivitas penanganan sifilis di masyarakat.
Penularan sifilis umumnya terjadi melalui kontak seksual, namun dapat juga melalui kontak non-genital, penggunaan jarum suntik bersama, atau dari ibu ke janin. Treponema pallidum dapat masuk melalui membran mukosa dan kulit yang lecet.
Kesimpulan Akhir: TPHA dan TP Rapid untuk Skrining Sifilis di Papua
Penelitian yang dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Papua menunjukkan bahwa metode TPHA dan TP Rapid memberikan hasil yang konsisten dalam mendeteksi sifilis. Sebanyak 93% sampel dinyatakan reaktif oleh kedua metode, sementara 7% dinyatakan non-reaktif.
Kesamaan hasil ini menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara TPHA dan TP Rapid. Rekomendasi utama adalah penggunaan TP Rapid untuk skrining cepat di lapangan, mengingat kemudahan, kecepatan, dan biaya yang rendah.
Namun, keterbatasan TP Rapid dalam membedakan infeksi aktif dan menilai hasil pengobatan harus tetap diperhatikan. Keduanya memiliki peran masing-masing dalam alur diagnosis sifilis yang komprehensif.
Post a Comment