Waspada Campak Mengintai: Kemenkes Ungkap Bahaya, Gejala, Dan Strategi Ampuh Melindungi Keluarga!

Table of Contents
Waspada Campak Mengintai: Kemenkes Ungkap Bahaya, Gejala, Dan Strategi Ampuh Melindungi Keluarga!

INFOLABMED.COM - Penyakit campak, yang disebabkan oleh Morbillivirus, masih menjadi sorotan serius baik secara global maupun di tingkat nasional.

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa penyakit menular ini memiliki kemampuan penyebaran yang sangat cepat, menjadikannya ancaman yang perlu diwaspadai.

Dr. Andi Saguni, MA, Sekretaris Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, menguraikan detail penting mengenai mekanisme penularan virus ini.

Penularan Campak: Memahami Cara Penyebarannya

Campak menyebar melalui droplet dan airborne transmission, artinya percikan air liur saat penderita batuk atau bersin adalah jalur utama penularan.

Benda-benda yang telah terkontaminasi percikan tersebut juga dapat menjadi perantara penyebaran virus.

Dr. Andi Saguni menekankan bahwa Morbillivirus, sebagai virus RNA, adalah etiologi utama di balik penyakit campak.

Beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa droplet yang menempel di permukaan seperti meja, dapat berpindah ke tangan orang sehat.

Kemudian, virus dapat masuk ke tubuh melalui hidung atau saat seseorang mengonsumsi makanan.

Oleh karena itu, kebiasaan mencuci tangan secara teratur dan menjaga kebersihan lingkungan menjadi esensial untuk memutus rantai penularan.

Gejala Campak dan Kelompok Berisiko Tinggi

Gejala awal campak umumnya ditandai dengan demam tinggi.

Tak lama kemudian, akan muncul ruam makulopapular, yaitu bercak merah yang sedikit menonjol di permukaan kulit.

Selain itu, penderita seringkali mengalami batuk, pilek, serta konjungtivitis atau mata merah yang disertai rasa gatal.

Dalam beberapa kasus, campak juga dapat disertai dengan diare.

Masa inkubasi penyakit ini bervariasi antara 7 hingga 18 hari, dengan rata-rata sekitar 10 hari.

Ada beberapa kelompok yang memiliki risiko penularan campak yang lebih tinggi.

Anak-anak yang belum atau tidak lengkap imunisasi campak rubella adalah salah satu kelompok paling rentan.

Kontak erat dengan penderita, kondisi gizi kurang, serta kurangnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga meningkatkan risiko.

Diagnosis dan Penanganan Medis Campak

Diagnosis pasti campak dilakukan melalui pemeriksaan serologi ELISA IgM pada sampel serum darah.

Jika hasil uji IgM menunjukkan positif, maka kasus tersebut secara resmi dikategorikan sebagai campak konfirmasi laboratorium.

Penanganan campak berfokus pada pemberian suplemen vitamin A untuk melindungi kornea mata dan mukosa usus.

Pengobatan simtomatik juga diberikan sesuai gejala yang muncul, seperti obat penurun panas untuk demam.

Apabila pasien mengalami batuk, pemberian obat batuk mungkin diperlukan.

Untuk kasus komplikasi seperti diare berat, terapi rehidrasi intensif sangat dibutuhkan.

Jika terjadi pneumonia atau peradangan paru-paru, pasien harus segera mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Situasi Campak Global dan Nasional: Data Terkini Kemenkes

Secara global, campak masih menjadi masalah kesehatan yang ditemukan di berbagai belahan dunia.

Kasus-kasus tercatat di Asia Selatan, Afrika, Timur Tengah, Amerika, hingga benua Eropa.

Di kawasan Western Pacific, termasuk Indonesia, negara seperti China, Mongolia, dan Filipina juga melaporkan adanya kasus campak.

Di dalam negeri, data menunjukkan adanya peningkatan kewaspadaan.

Pada tahun 2025, tercatat 116 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang dikonfirmasi laboratorium.

KLB ini tersebar di 89 kabupaten/kota di 16 provinsi berbeda.

Total kasus suspek mencapai 63.769, dengan 11.094 di antaranya terkonfirmasi laboratorium.

Sayangnya, 69 kematian juga dilaporkan, menghasilkan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,1%.

Lima provinsi dengan jumlah KLB terbanyak pada tahun 2025 adalah Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Menariknya, angka CFR 0,1% ini setara dengan standar negara maju dan jauh lebih rendah dibandingkan negara berkembang yang CFR-nya berkisar 4–6%.

Memasuki tahun 2026 hingga minggu ke-7, situasi menunjukkan perbaikan.

Tercatat 21 KLB suspek di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Sedangkan KLB konfirmasi laboratorium berjumlah 13 di 6 provinsi.

Jumlah suspek mencapai 8.224 kasus, dengan 572 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 4 kematian.

CFR pada periode ini turun menjadi 0,05%, yang mana "lebih rendah daripada angka negara maju," tutur Dr. Andi Saguni.

Kemenkes juga menerima dua notifikasi kasus dari Australia pada Februari 2026 melalui mekanisme International Health Regulation (IHR).

Kedua kasus tersebut melibatkan warga negara Australia yang sebelumnya berkunjung ke Indonesia.

Kasus pertama adalah seorang perempuan 18 tahun dengan riwayat vaksinasi MMR lengkap dua dosis yang telah sembuh.

Kasus kedua menimpa seorang anak perempuan 6 tahun tanpa riwayat vaksinasi, yang terkonfirmasi campak setelah kembali dari Indonesia.

Strategi Pencegahan dan Pengendalian Campak oleh Pemerintah

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa upaya pengendalian campak tidak hanya terfokus pada penanganan kasus yang sudah terjadi.

Fokus utama juga mencakup pencegahan dini melalui penguatan sistem surveilans dan imunisasi.

Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah meluasnya kejadian luar biasa (KLB) di berbagai daerah.

"Pencegahan tetap menjadi kunci utama," tegas Dr. Andi Saguni.

Beliau menambahkan bahwa imunisasi lengkap dan respons cepat di lapangan sangat menentukan keberhasilan pengendalian kasus.

Program Pemerintah untuk Mengendalikan Campak:

  • Menguatkan surveilans nasional, khususnya di wilayah yang mengalami KLB pada tahun 2025–2026.

  • Melakukan penyelidikan epidemiologi secepatnya, maksimal 24 jam setelah kasus campak ditemukan.

  • Memastikan pelaporan kasus secara real-time melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

  • Memperkuat kapasitas 11 laboratorium rujukan untuk pemeriksaan ELISA dan PCR.

Selain itu, penguatan program imunisasi menjadi prioritas untuk meningkatkan kekebalan kelompok atau herd immunity.

Pemerintah terus mendorong percepatan cakupan imunisasi agar setiap anak mendapatkan perlindungan dasar yang memadai.

Program Imunisasi untuk Memperluas Cakupan Perlindungan:

  • Melaksanakan imunisasi rutin dan imunisasi kejar di wilayah dengan cakupan imunisasi yang masih rendah.

  • Menyelenggarakan imunisasi MR tambahan sebagai crash program di daerah KLB, khusus untuk anak-anak PAUD dan TK.

Peran Penting Masyarakat dalam Memutus Rantai Penularan Campak

Dr. Andi Saguni juga sangat menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pencegahan.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) disebut sebagai bagian krusial dalam mengendalikan penyakit menular ini.

Langkah Pencegahan Campak yang Dianjurkan untuk Masyarakat:

  • Melakukan isolasi pasien campak hingga sembuh total dan tidak beraktivitas di tempat umum.

  • Menggunakan masker saat sedang sakit atau ketika berada di tempat keramaian.

  • Menerapkan etika batuk yang benar dan mencuci tangan pakai sabun secara rutin.

  • Segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam yang disertai ruam.

Sebagai penutup, Dr. Andi mengimbau agar para orang tua berperan aktif melindungi anak-anak mereka dari risiko campak melalui imunisasi lengkap.

Partisipasi dalam kampanye imunisasi di wilayah masing-masing adalah langkah krusial untuk memperkuat perlindungan dan mencegah lonjakan kasus di masa mendatang.

"Kami menghimbau agar orang tua memastikan anak mendapatkan imunisasi MR lengkap dan aktif mengikuti kampanye imunisasi di wilayahnya," pungkas Andi.

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment