Subkultur M.TBC: Tujuan, Metode, dan Peran Pentingnya dalam Diagnosis Tuberculosis
INFOLABMED.COM - Subkultur M.TBC merupakan prosedur mikrobiologi penting yang dilakukan setelah isolasi awal Mycobacterium tuberculosis dari specimen klinis.
Prosedur ini melibatkan pemindahan sebagian koloni bakteri dari biakan primer ke media pertumbuhan yang baru dan segar.
Baca Juga: Teknik Dasar Mikrobiologi: Fondasi Penting dalam Dunia Penelitian dan Diagnostik Medis
Subkultur bukan sekadar rutinitas, tetapi langkah krusial untuk memastikan kemurnian isolat, memperbanyak bakteri untuk pemeriksaan lanjutan, serta menyediakan stok biakan untuk uji sensitivitas obat (Uji Resistensi).
Tujuan utama dilakukannya subkultur M.TBC adalah:
- Memperoleh Biakan Murni: Memisahkan dan mengisolasi M. tuberculosis dari kemungkinan kontaminan bakteri lain yang mungkin tumbuh dalam kultur primer.
- Memperbanyak Bakteri: Menyediakan biakan yang cukup (biakan segar dan aktif) untuk melakukan berbagai uji konfirmasi biokimia dan molekuler, seperti uji niacin, uji nitrat reduksi, atau identifikasi dengan metode PCR.
- Menyiapkan Inokulum untuk Uji Sensitivitas Obat (UST): Biakan yang diperoleh dari subkultur digunakan sebagai bahan baku untuk uji resistensi terhadap obat anti-tuberculosis (OAT) seperti isoniazid, rifampisin, etambutol, dan streptomisin. Hasil UST sangat vital untuk menentukan regimen pengobatan yang tepat, terutama pada kasus TB resisten obat (TB-RO).
- Penyimpanan Stok Isolat: Subkultur dapat digunakan untuk membuat stok biakan dalam bentuk deep agar atau cryopreservation untuk keperluan dokumentasi, penelitian, atau pemeriksaan ulang di masa depan.
Prosedur dan Metode Subkultur M.TBC: Subkultur M.TBC harus dilakukan di dalam Biological Safety Cabinet (BSC) kelas II untuk melindungi petugas laboratorium dari infeksi aerogen.
Media yang umum digunakan adalah media padat seperti Loewenstein Jensen (LJ) atau Middlebrook 7H10/7H11.
- Persiapan: Siapkan media LJ baru yang telah dipastikan steril. Siapkan alat seperti wire loop (ose) yang telah disterilkan dengan pemanasan hingga pijar dan didinginkan.
- Pengambilan Inokulum: Dengan teknik aseptik, ambil sedikit koloni M. tuberculosis dari kultur primer (umur 3-6 minggu) menggunakan ose. Pilih koloni yang tampak khas (berwarna krem, kasar, dan tidak berpigmen).
- Inokulasi ke Media Baru: Oleskan atau goreskan inokulum tersebut secara hati-hati pada permukaan media LJ baru. Beberapa metode goresan dapat digunakan untuk mendapatkan koloni yang terisolasi.
- Inkubasi: Tutup tabung media dengan rapat dan inkubasi dalam posisi horizontal (agar media tidak mengering) pada suhu 35-37°C. Posisi horizontal dipertahankan selama 24-48 jam agar inokulum menyerap, kemudian tabung dapat ditegakkan.
- Observasi: Pertumbuhan pada subkultur biasanya lebih cepat (1-3 minggu) karena menggunakan biakan aktif. Amati mingguan untuk melihat pertumbuhan koloni yang khas.
Keberhasilan subkultur sangat menentukan tahap diagnosis selanjutnya.
Prosedur yang aseptik dan cermat akan menghasilkan biakan murni yang optimal untuk konfirmasi identifikasi dan uji resistensi, sehingga secara langsung mendukung tatalaksana pasien TB yang presisi dan efektif.
Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram Link, Facebook Link, Twitter/X Link. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA Link.
PROMPT GAMBAR: "Close-up foto tangan ber-sarung tangan di dalam Biological Safety Cabinet sedang melakukan subkultur bakteri. Tampilkan ose (wire loop) yang sedang mengambil koloni berwarna krem dari media kultur padat Mycobacterium tuberculosis (Loewenstein Jensen) lama, dan memindahkannya ke media LJ baru yang masih segar dalam tabung reaksi. Gaya foto laboratorium yang realistis dengan fokus pada teknik aseptik."

Post a Comment