Penyebaran Difteri: Bagaimana Bakteri Menular dari Orang ke Orang

Table of Contents

INFOLABMED.COM - Corynebacterium diphtheriae adalah bakteri penyebab difteri. Penyakit ini dikenal sangat mudah menular, terutama melalui percikan droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. 

Droplet yang mengandung bakteri dapat terhirup oleh orang di dekatnya dan menyebabkan infeksi. 

Baca juga: Atypical Lymphocyte: Temuan Hematologi yang Menandakan Respons Imun Tubuh

Selain penularan lewat droplet, difteri juga bisa menular melalui kontak langsung dengan sekresi dari tubuh penderita misalnya lendir, air liur, atau luka kulit yang terinfeksi. Kontak dengan permukaan atau benda yang telah terkontaminasi (fomites) juga memungkinkan penularan, meskipun jauh lebih jarang. 

Orang yang sering melakukan kontak dekat dengan penderita seperti anggota keluarga, teman serumah, atau petugas kesehatan memiliki risiko lebih tinggi tertular. Bahkan kadang-kadang orang bisa menjadi “carrier” tanpa gejala tetapi tetap bisa menyebarkan bakteri ke orang lain. 

Masa Inkubasi Difteri

Masa inkubasi difteri yaitu waktu dari paparan bakteri sampai gejala muncul umumnya sekitar 2 sampai 5 hari (dapat berkisar 1 sampai 10 hari). Bakteri bisa menular sejak masa inkubasi dan sebelum gejala muncul, sehingga penyebaran bisa terjadi tanpa disadari. 

Selain saluran pernapasan, jika kulit terkena luka atau borok akibat difteri (difteri kulit), kontak langsung dengan luka tersebut atau dengan sekret luka bisa menjadi jalur penularan. Meski kasusnya lebih jarang, tetap perlu diwaspadai terutama di lingkungan dengan sanitasi buruk. 

Faktor yang meningkatkan risiko penyebaran difteri meliputi populasi dengan cakupan imunisasi rendah, padatnya jumlah orang dalam satu ruang (overcrowding), sanitasi dan kebersihan yang buruk, serta kurangnya kesadaran untuk menjaga jarak dan memakai masker saat batuk atau bersin. 

Mengapa Penyebaran Difteri Bisa Cepat dan Meluas?

  • Bakteri hanya membutuhkan saluran pernapasan untuk berpindah dari orang ke orang, sehingga di komunitas dengan interaksi dekat seperti keluarga, sekolah, atau tempat tidur bersama risiko besar.
  • Orang tanpa gejala bisa menjadi pembawa (carrier), membuat penularan sulit dideteksi. 
  • Kemungkinan penularan lewat kontak dengan sekret atau luka memperluas jalur infeksi bukan hanya lewat batuk/bersin.
  • Bila cakupan imunisasi rendah, kekebalan komunitas berkurang, memudahkan penyebaran.

Pencegahan dan Upaya Menghentikan Penyebaran Difteri

  • Imunisasi lengkap sejak bayi, serta pemberian booster sesuai jadwal — ini cara paling efektif untuk mencegah difteri. 
  • Menghindari kontak dekat dengan penderita difteri yang belum diobati, terutama tidak berbagi peralatan makan, minum, atau peralatan personal lainnya. 
  • Menjaga kebersihan dan sanitasi mencuci tangan, desinfeksi permukaan yang disentuh bersama, serta ventilasi ruangan.
  • Menggunakan masker jika batuk atau bersin, terutama di tempat ramai.
  • Isolasi penderita sampai pemeriksaan dan pengobatan selesai, supaya tidak menularkan ke orang lain.

Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram Link, Facebook Link, Twitter/X Link, dan Instagram Link. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA Link.***

Nadya
Nadya Halo, saya Nadya Septriana seorang Ahli Tenaga Laboratorium Medik (ATLM) yang gemar menulis konten seputar laboratorium dan kesehatan. Lewat tulisan, saya ingin membantu pembaca lebih memahami topik medis dengan cara yang mudah dipahami. Hope u like it and find it helpful!

Post a Comment