Sickle Cell: Mengenal Anemia Sel Sabit dari Genetika hingga Penatalaksanaan Mutakhir

Table of Contents

 

Sickle Cell: Mengenal Anemia Sel Sabit dari Genetika hingga Penatalaksanaan Mutakhir

INFOLABMED.COM – Anemia sel sabit (Sickle Cell Disease/SCD) merupakan gangguan hemoglobin bawaan yang ditandai dengan produksi hemoglobin abnormal (HbS) menyebabkan eritrosit berbentuk sabit. 

Kondisi ini menyebabkan anemia hemolitik kronis, oklusi vaskular, dan kerusakan organ multipel.

Baca juga : Aplastic: Mengenal Anemia Aplastik dari Diagnosis hingga Tatalaksana yang Menyelamatkan Nyawa

Apa Itu Anemia Sel Sabit?

Anemia sel sabit adalah:

  • Penyakit genetik autosom resesif
  • Disebabkan mutasi titik pada gen beta-globin (GAG→GTG)
  • Prevalensi tinggi di malaria-endemik (Afrika, Mediterania)
  • Insidensi: 300.000 bayi lahir dengan SCD tiap tahun global

Patofisiologi Kunci

1. Sickle Hemoglobin (HbS)

  • Substitusi asam amino: glutamat → valin posisi 6
  • Polimerisasi saat deoksigenasi
  • Deformasi eritrosit menjadi bentuk sabit

2. Krisis Vaskular-Oklusif

  • Hipersplenisme dan autoinfarksi
  • Ischemia jaringan dan nyeri
  • Hemolisis kronis dan anemia

Manifestasi Klinis

Krisis Sel Sabit

  1. Vaso-occlusive crisis (nyeri tulang/ekstremitas)
  2. Splenic sequestration (splenomegali akut)
  3. Aplastic crisis (biasanya post parvovirus B19)
  4. Hemolytic crisis (hemolisis akut)

Komplikasi Organ

  • Stroke (infark serebral)
  • Acute chest syndrome
  • Nekrosis avaskular (femur/humerus)
  • Retinopati proliferatif
  • Ulkus kaki kronis

Diagnosis Laboratorium

1. Skrining Bayi Baru Lahir

  • High-performance liquid chromatography (HPLC)
  • Isoelectric focusing (IEF)
  • DNA analysis (PCR)

2. Pemeriksaan Darah

  • Hb: 6-9 g/dL
  • Retikulosit: 10-20%
  • Sel sabit pada apusan darah
  • Bodies: Howell-Jolly (post-splenectomy)

3. Tes Konfirmasi

  • Solubility test (dithionite test)
  • Hemoglobin electrophoresis
  • Genetic testing (mutasi β-globin)

Tatalaksana

1. Terapi Kuratif

  • Transplantasi sel punca (gold standard)
  • Terapi gen (emerging therapy)

2. Terapi Suportif

  • Hydroxyurea (meningkatkan HbF)
  • Transfusi rutin (simple/exchange)
  • Manajemen nyeri (opioid + NSAID)

3. Pencegahan Komplikasi

  • Penicillin prophylaxis (hingga usia 5 tahun)

  • Vaksinasi (pneumococcal, meningococcal)
  • Supplementasi (asam folat, zinc)

Konseling Genetik

Pola Pewarisan

  • Carrier (trait): HbAS (normal + gejala ringan)
  • Homozygote: HbSS (penyakit berat)
  • Compound heterozygote: HbSC, HbS/β-thal

Risiko Reproduksi

  • Dua carrier: 25% risiko anak affected
  • Prenatal diagnosis tersedia

Prognosis

  • Harapan hidup: 40-60 tahun (dengan perawatan optimal)
  • Penyebab kematian: infeksi, acute chest syndrome, stroke
  • Faktor prognostik buruk: stroke, hipertensi pulmonal, renal failure

Baca juga : Pernicious: Mengungkap Anemia Pernisiosa dari Autoimun hingga Defisiensi Vitamin B12 Kronis

Pemeriksaan Penunjang

  • Ekokardiografi (hipertensi pulmonal)
  • MRI otak (silent cerebral infarction)
  • USG abdomen (cholelithiasis)
  • Ophthalmology exam (retinopati)

Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui TelegramFacebookTwitter/X. Dukung pengembangan konten kesehatan via Donasi DANA.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment