Pseudothrombocytopenia & Pseudoleukopenia: Kesalahan Pemeriksaan Darah Akibat Antikoagulan EDTA

Table of Contents

Pseudothrombocytopenia & Pseudoleukopenia: Kesalahan Pemeriksaan Darah Akibat Antikoagulan EDTA


INFOLABMED.COM - Dalam dunia laboratorium, tidak semua hasil yang abnormal mencerminkan kondisi pasien yang sebenarnya. Salah satu fenomena yang penting untuk dikenali adalah psedothromocytopenia and pseudoleukopenia due to the anticoagulant EDT (seharusnya EDTA). 

Ini adalah kondisi di mana hasil pemeriksaan darah menunjukkan jumlah trombosit dan leukosit yang rendah secara palsu, semata-mata disebabkan oleh reaksi antara sampel darah dengan antikoagulan EDTA yang digunakan dalam tabung vacutainer ungu (lavender).

Baca juga : EDTA Contaminated: Dampak Kontaminasi EDTA pada Hasil Tes Kimia Klinis dan Cara Mencegahnya

Apa Itu Pseudothrombocytopenia dan Pseudoleukopenia?

Sumber ; Hematologica

  • Pseudothrombocytopenia: Adalah kondisi di mana hasil hitung trombosit sangat rendah, padahal jumlah trombosit pasien sebenarnya normal. Ini adalah fenomena in-vitro (terjadi di dalam tabung) yang paling umum terkait EDTA.
  • Pseudoleukopenia: Adalah kondisi di mana hasil hitung leukosit (sel darah putih) rendah secara palsu. Meski lebih jarang, fenomena ini juga dapat terjadi bersamaan dengan pseudothrombocytopenia.

Bagaimana EDTA Menyebabkan Hasil Palsu Ini?

Mekanisme di balik psedothromocytopenia and pseudoleukopenia due to the anticoagulant EDT A adalah reaksi imunologi yang dipicu oleh EDTA pada suhu ruang.

  1. Mekanisme Pseudothrombocytopenia:

    • Pada sebagian kecil individu, EDTA menyebabkan perubahan pada membran trombosit, yang kemudian mengekspos antigen tertentu.
    • Antibodi alami dalam darah pasien (biasanya IgG atau IgM) mengenali antigen ini dan menyerang trombositnya sendiri.
    • Serangan antibodi ini menyebabkan trombosit saling menempel satu sama lain (platelet clumping) atau menempel pada permukaan sel darah putih (terutama neutrofil), sebuah fenomena yang disebut platelet satellitism.
    • Alat hematologi analyzer tidak dapat mengenali gumpalan besar ini sebagai trombosit individual, sehingga menghitungnya sebagai "bukan trombosit" dan melaporkan jumlah trombosit yang sangat rendah.
  2. Mekanisme Pseudoleukopenia:

    • Fenomena platelet satellitism, di mana trombosit menutupi permukaan sel neutrofil, dapat menyebabkan alat analyzer salah mengenali sel neutrofil tersebut.
    • Sel neutrofil yang "tertutup" trombosit ini mungkin tidak terhitung sebagai sel leukosit, atau dikategorikan sebagai sel lain, sehingga menyebabkan laporan jumlah leukosit yang lebih rendah dari sebenarnya.

Mengapa Fenomena Ini Berbahaya?

Bahaya utama dari psedothromocytopenia and pseudoleukopenia due to the anticoagulant EDT A adalah:

  • Diagnosis Keliru: Pasien dapat didiagnosis mengalami trombositopenia (rendah trombosit) atau leukopenia (rendah sel darah putih) yang sebenarnya tidak ada.
  • Penanganan yang Tidak Perlu: Pasien mungkin menjalani pemeriksaan invasif seperti aspirasi sumsum tulang, atau bahkan menerima transfusi trombosit yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
  • Penundaan Diagnosis yang Sebenarnya: Fokus pada hasil lab yang palsu dapat mengalihkan perhatian dari kondisi medis lain yang sebenarnya diderita pasien.

Bagaimana Laboratorium Mengatasi dan Mengonfirmasi Hasil Palsu Ini?

Analis laboratorium yang terlatih akan curiga dan melakukan investigasi lebih lanjut jika menemukan:

  • Jumlah trombosit yang sangat rendah tanpa adanya gejala klinis perdarahan pada pasien.
  • Peringatan dari alat analyzer tentang adanya "flag" seperti platelet clumps.
  • Hasil trombosit yang tidak konsisten dengan gambaran klinis.

Baca juga : ALERGI EDTA: Gejala, Diagnosis, dan Alternatif Tabung Darah untuk Pasien yang Sensitif

Metode Konfirmasi:

  1. Membuat Apusan Darah Tepi: Ini adalah langkah pertama dan terpenting. Di bawah mikroskop, analis dapat langsung melihat adanya platelet clumping atau platelet satellitism.
  2. Pengambilan Ulang dengan Antikoagulan Berbeda: Darah pasien diambil ulang menggunakan tabung dengan antikoagulan alternatif, seperti Natrium Sitrat (tabung biru) atau Heparin (tabung hijau). Sampel ini kemudian diperiksa dan biasanya memberikan jumlah trombosit dan leukosit yang normal.
  3. Pemeriksaan Darah Kapiler: Darah dapat diambil langsung dari ujung jari dan diperiksa secara manual, menghindari penggunaan EDTA sama sekali.

Dapatkan informasi menarik dan kritis seputar dunia laboratorium medis lainnya hanya di Infolabmed.com. Ikuti update terbaru kami dengan follow TelegramFacebook, dan Twitter/X. Anda juga dapat mendukung pengembangan website ini dengan memberikan donasi via DANA.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment