Teknik Pengambilan Spesimen Tinja dan Jenis Pengawet Yang Digunakan Pada Pemeriksaan Tinja/Feses

Table of Contents

Pemeriksaan feses adalah pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan pada pasien dengan keluhan gastrointestinal. Sebagai contoh, identifikasi telur parasit bisa didapat dari feses untuk mendiagnosis askariasis, pemeriksaan mikroskopis atau kultur feses bisa bermanfaat untuk mencari etiologi gastroenteritis, dan tes darah samar bisa mendeteksi kanker kolorektal. Untuk mendapatkan spesimen feses perlu diperhatikan berbagai kondisi yang menyertainya, berikut cara pengambilan spesimen feses yang akan dijelaskan dibawah ini. 

Teknik Pengambilan Spesimen Tinja dan Jenis Pengawet Yang Digunakan Pada Pemeriksaan Tinja Feses


Cara Pengambilan Spesimen Feses/Tinja

Untuk mendapatkan spesimen feses/tinja yang benar, penting untuk memberikan penjelasan pada pasien tentang cara pengambilan tinja, yaitu:

  1. Feses tidak boleh tercampur dengan air kloset (karena dapat mengandung organisme bentuk bebas yang menyerupai parasit manusia) atau urin (karena urin dapat menghancurkan organisme organisme yang bergerak).
  2. Bila memungkinkan, dianjurkan pada pasien agar pada saat buang air besar, feses langsung ditampung dalam wadah. Bila tidak, feses ditampung di alas plastik, lalu diambil sebanyak 5 gram atau satu sendok teh dari tinja yang berlendir atau berdarah dan masukkan ke dalam wadah.  Untuk menjaga agar contoh feses tidak cepat mengering.
  3. Penampung /sediaan wadah harus bersih, kering, seyogyanya bermulut lebar dan tertutup (agar tidak mudah tumpah). Untuk setiap pemeriksaan. bisa diberikan pada pasien salah satu dari penampung berikut: 1. Kardus yang berlapis lilin; 2. Kaleng yang bertutup;  3. Penampung dari bahan plastik yang ringan dan 4. Botol gelas yang khusus dibuat untuk penampugan. Spesimen feses yang dilengkapi sendok yang melekat pada tutupnya.
  4. Beri label pada wadah, feses dikirim bersama formulir permintaan pemeriksaan.
  5. Spesimen feses setelah dikumpulkan harus diperiksa sesegera mungkin (dalam waktu 15 menit. maksimum 1 jam setelah pengumpulan). Bila menerima beberapa contoh feses pada waktu bersamaan. dahulukan pemeriksaan feses cair atau feses yang mengandung darah atau berlendir (bisa jadi mengandung amuba yang motil yang cepat mengalami kematian. Spesimen yang paling baik adalah feses segar. dan spesumen feses hendaknya disimpan dalam lingkungan yang hangat karena dalam lingkungan dingin gerak amuboidnya berkurang.

Setelah didapatkan spesimen feses/tinja untuk pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis, perlu juga dipersiapkan bagaimana cara menyimpan spesimen tinja jika terjadi kecurigaan-kecurigaan terhadap sampel jika ada parasit lain yang ada di dalamnya. Berikut ini jenis pengawet yang diperlukan pada proses pengawetan pada spesimen tinja. 


Jenis Pengawet Pada Spesimen Tinja

Bila tinja tidak dapat segera diperiksa, spesimen sebaiknya diberi pengawet. dengan tujuan mengawetkan morfologi protozoa dan mencegah berkembangnya telur atau larva. Beberapa larutan pengawet yang umum digunakan adalah :

Formalin 5% atau 10%.

Biasanya 5% untuk mengawetkan protozoa; 10% untuk telur dan larva cacing. Pemeriksaan spesimen hanya dapat dilakukan melalui sediaan basah saja

Kelebihan : tahan lama untuk pengawetan cist dan oocis pada protozoa, konsentrasi sediment dapat digunakan unruk metode immunodiagnostic, dan tidak mengandung merkuri

Kekurangan : tidak tidak tahan lama untuk trofozoid pada preparasi permanen dengan pewarnaan smear, tidak dapat digunkan untuk dianognosa molekular dan immunoassays.


Merthiolate-lodine-Formalin (MIF).

Baik untuk berbagai jenis stadium dan semua jenis sampel. Terutama digunakan dilapangan,  pemeriksaan  spesimen biasanya dilakukan melalui sediaan basah.

Kelebihan : dapat memfiksasi dan mewarnai, protozoa dapat diidentifikasi pada wet mounts; thimerosal merupakan campuran merkuri.

Kekurangan : tidak bagus untuk preparasi permanen untuk pewarnaan smear, harys menggunakan Pulychrome IV untuk pengamatan morologi padaa preparat permanen dengan pewarnaan smear, tidak sebaik Schaudinn fluid or PVA.


Sodium AcetateAcetic Acid-Fomalin (SAF).

Mirip formalin 10%, digunakan untuk teknik konsentrasi dan sediaan pulas permanen (HE). Bisa digunakan sebagai pengawet tunggal di laboratorium karena telur. |arva. cacing, kista dan trofozoit bisa diawetkan dengan metode ini.

Kelebihan : dapat digunakan untuk concentration techniques, bagus untuk preparasi permanen dengan pewarnaan smear, sangat bagus untuk metode immunodiagnostic dan tidak mengandung merkuri. 

KekuranganPoor adhesive properties, morfologi protozoa pada pewarnaan sediaan permanen lebih bagus ketika menggunakan pewarna iron hemoxylin dibandingkan dengan pewarna trichrome.


Schaudinn

Digunakan untuk spesimen tinja segar atau sampel dari permukaan mukosa usus  dibuat sediaan hapusan permanen.

Kelebihan : sangat bagus untuk pengamatan trofozoid dan cist pada protozoa. 

Kekurangan : tidak direkomendasikan untuk concentration procedures, poor adhesive qualities pada spesimen cair dan mukoid, pewarna pada sediaan permanen yang lain pada digunakan seperti trichrome dan iron hematoxylin, mengandung merkuri.


Polyvinyl Alkohol (PVA).

Biasanya digunakan bersama dengan Schaudinn. Keuntungan: dapat dibuat sediaan hapus dengan pulasan permanen. Sangat dianjurkan untuk pemeriksaan Kista dan Trofozoit yang akan diperiksa dikemudian hari (jika perlu waktu pengiriman yang lama).

Keuntungan : bagus untuk preservasi trofozoid dan cist protozoa, dapat digunkan untuk  concentration techniques dan preparasi dengan pewarnaan smear, dapat digunakan untuk prosedur diagnosa molekular.

Kekurangan : tidak terlalu bagus untuk membersihkan cist Giardia dibandingkan difiksasi dengan formalin, , pewarna pada sediaan permanen yang lain pada digunakan seperti trichrome dan iron hematoxylin tidak dapat digunakan pada prosedur immunodiagnostic, mengandung merkuri, Modifikasi PVA tersedia tanpa campuran merkuri.


Cara pengawetan tinja 

Pembuatan Larutan PVA Tambahkan 10 gram bubuk PVA ke dalam campuran 62.5 ml etil alkohol 95% dengan 125 ml larutan merkuri klorida, dan 10 ml asam cuka glasial. dan 3 ml gliserin Tanpa diaduk. panaskan secara perlahan sampai suhu mencapai 75°C, baru diaduk sampai homogen.

  1. Tuangkan 30 ml PVA ke dalam botol ( ± volume botol).
  2. Tambahkan spesimen tinja segar, sehingga botol penuh ( ±1/4 volume botol).
  3. Hancurkan dan ratakan tinja dengan cara diaduk dengan pengaduk gelas.
  4. Diamkan botol yang berisi tinja dan Iarutan PVA minimal selama 30 menit.
  5. Pangawetan ini bisa untuk semua parasit, dan bisa dipertahankan dalam jangka waktu yang lama.


---------------------------------------------------------------------------------------------
Kerjasama media partner, kirim proposal ke e mail : laboratorium.medik@gmail.com
Dukung infolabmed untuk selalu memberikan informasi terupdate dengan menyisihkan jajan Anda melalui DANA = 085862486502

Sumber :

  1. Alponsin. Pemeriksaan Parasit Cacing Pada Feses. Link ; https://alponsin.wordpress.com/2019/06/13/pemeriksaan-parasit-cacing-pada-feses/. Diakses tanggal 14 Agustus 2022. 
  2. Alomedia. Pendahuluan Pemeriksaan Feses. Link : https://www.alomedika.com/tindakan-medis/gastroentero-hepatologi/pemeriksaan-feses. Diakses tanggal 14 Agustus 2022. 


Baca juga :


Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment