Total Pageviews

Check Page Rank

Enzim dan Pengendaliannya - Seri Edukasi Teknologi Laboratorium Medik

Posted by On 9:37 AM



Kegiatan kimiawi yang dilakukan oleh sel amatlah rumit. Hal ini mudah dimengerti bila mengingat demikian beragamnya bahan yang digunakan sebagai nutrien oleh sel di satu pihak  dan berbagai ragam substansi yang disintesis menjadi komponen - komponen sel di pihak lain. Bagaimanakah caranya sel melakukan kegiatan ini? Jawabannya terletak pada kerja enzim, substansi yang ada didalam sel dalam jumlah amat kecil dan mampu menyebabkan terjadinya perubahan - perubahan yang berkaitan dengan proses - proses seluler (dan kehidupan). Tak mungkin ada kehidupan tanpa enzim. 



Didalam sebuah sel rata - rata terdapat ribuan jenis enzim yang berbeda - beda. Didalam sel hidup, kesemua enzim ini beserta kegiatannya harus terkoordinasi sedemikian rupa sehingga produk - produk yang sesuai dapat terbentuk dan tersedia pada tempat yang tepat, dalam jumlah yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dengan penggunaan energi seminimum mungkin. Koordinasi ini dimungkinkan oleh adanya pengendalian enzim. Pada artikel ini menguraikan beberapa ciri utama enzim dan cara  - cara pengendaliannya.

Beberapa Ciri Enzim

Enzim  adalah katalis hayati. Katalis, walaupun dalam jumlah yang amat sedikit, mempunyai kemampuan unik untuk mempercepat berlangsungnya reaksi kimiawi tanpa enzim itu sendiri terkonsumsi atau berubah setelah reaksi selesai. Misalanya, pada keadaan atmosfer yang normal tidak akan terjadi penggabungan nyata antara hidrogen dan oksigen. Tetapi, bila kedua jenis gas tersebut dibiarkan menyentuh platinum koloidal, maka serta merta akan terjadi reaksi antara keduanya dan terbentuklah air. Dalam contoh ini, platinum ialah katalis yang dengan nyata meningkatkan kecepatan reaksi pembentukan air tanpa ia sendiri terhabiskan didalam reaksi tersebut ataupun berubah setelah reaksi tersebut selesai.

Tetapi, lain halnya dengan contoh diatas mengenai platinum anorganik, enzim adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh sel - sel hidup. Inilah mengapa enzim disebut katalis hayati atau organik atau sarana katalitik. Katalis juga menampakan spesifisitas atau kekhusussan. Artinya, suatu katalis tertentu akan berfungsi pada hanya suatu jenis reaksi tertentu saja. 

Sekalipun semua enzim pada mulanya dihasilkan didalam sel, beberapa diekskresikan melalui dinding sel dan dapat berfungsi di luar sel. Jadi, dikenal dua tipe : enzim ekstraseluler, atau eksoenzim (berfungsi diluar sel) dan enzim intraseluler, atau endo enzim (berfungsi didalam sel). Fungsi utama eksoenzim adalah melangsungkan perubahan - perubahan seperlunya pada nutrien di sekitarnya sehingga memungkinkan nutrien tersebut memasuki sel. Misalnya, amilase menguraikan pati menjadi unit - unit gula yang lebih kecil. Enzim intraseluler mensintesis bahan seluler dan juga menguraikan nutrien untuk menyediakan energi yang dibutuhkan oleh sel. Misalnya, heksokinase mengkatalis fosforilasi glukose dan heksose (senyawa - senyawa gula sederhana) didalam sel.

Enzim, apapun sumbernya, baik yang dihasilkan oleh sel mikroorganisme maupun oleh manusia atau bentuk - bentuk kehidupan lainnya, mempunyai ciri - ciri umum yang sama. Sebenarnya, sel organisme yang berbeda bisa saja mengandung beberapa enzim yang identik atau paling tidak mempunyai fungsi yang serupa. Misalnya, banyak reaksi enzim yang terjadi didalam sel khamir ternyata serupa dengan yang terjadi dalam sel otot.

Khasnya, satu molekul enzim dapat mengkatalis perubahan 10 sampai 1000 molekul substrat (senyawa yang dikenai proses perubahan oleh enzim) per detik. Reaksi - reaksi yang  dikatalisis oleh enzim seringkali berlangsung beberapa ribu sampai lebih dari satu juta kali lebih cepat daripada reaksi - reaksi yang sama tetapi tidak dikatalis oleh enzim. Menurut perhitungan, peruraian protein dalam proses pencernaan manusia akan memakan waktu lebih dari 50 tahun dan bukannya beberapa jam saja tanpa bantuan enzim. 

Baca juga :
 
PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website Kami. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya.

Sumber :
  1. Pelczar, M J. (1986). Dasar - Dasar Mikrobiologi. Hal :317 - 319. Jakarta : Penerbit Univeritas Indonesia (UI-press).


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »