SHK (Sindrom Horner Kongenital): Diagnosis, Penyebab, dan Penatalaksanaan pada Bayi dan Anak

Table of Contents

SHK (Sindrom Horner Kongenital): Diagnosis, Penyebab, dan Penatalaksanaan pada Bayi dan Anak

INFOLABMED.COM – SHK (Sindrom Horner Kongenital) merupakan kelainan neurologis langka yang terjadi akibat gangguan pada jalur saraf simpatis. 

Kondisi ini ditandai dengan trias klasik: ptosis, miosis, dan anhidrosis pada wajah. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menentukan penyebab yang mendasarinya.

Baca juga : Sepsis pada Bayi Baru Lahir (Sepsis Neonatal): Gejala, Penyebab & Pengobatan

Apa Itu SHK?

SHK adalah:

  • Gangguan saraf simpatis yang sudah ada sejak lahir
  • Prevalensi: 1:6.250 kelahiran hidup
  • Dapat terjadi unilateral (90% kasus) atau bilateral (10%)
  • Bukan penyakit tetapi kumpulan gejala

Trias Klasik SHK

1. Ptosis

  • Kelopak mata turun ringan hingga sedang
  • Inversi ptosis (kelopak bawah naik)
  • Disebabkan oleh paralisis otot Müller

2. Miosis

  • Pupil menyempit secara persisten
  • Dilatasi tertunda dalam gelap
  • Anisokoria lebih jelas dalam cahaya redup

3. Anhidrosis

  • Berkurangnya keringat pada sisi yang terkena
  • Sulit dideteksi pada bayi baru lahir

Penyebab SHK Kongenital

1. Trauma Lahir

  • Traction injury pada pleksus brachialis
  • Forceps delivery
  • Shoulder dystocia

2. Malformasi Vaskular

  • Aneurisma arteri karotis
  • Neuroblastoma (15% kasus)
  • Hemangioma besar di leher/dada

3. Iatrogenik

  • Kateterisasi vena jugularis
  • Operasi thorax (esophageal atresia repair)

Pendekatan Diagnostik

1. Uji Farmakologis

  • Cocaine test 10%: Tidak ada dilatasi pupil (konfirmasi)
  • Hydroxyamphetamine test: Lesi pre/post ganglionik

2. Pencitraan

  • MRI Cervicothoracic dengan kontras
  • MRA Angiography (untuk vascular causes)
  • CT Scan jika dicurigai tumor

3. Pemeriksaan Lain

  • Urine VMA/HVA (untuk neuroblastoma)
  • Pemeriksaan mata lengkap

Diagnosis Banding

  • Ptosis kongenital isolasi
  • Miosis persisten
  • Sindrom Wallenberg
  • Trauma servikal

Komplikasi yang Mungkin Terjadi

  • Ambliopia (mata malas) pada 30% kasus
  • Heterochromia iridis (perbedaan warna mata)
  • Gangguan penglihatan binokular

Penatalaksanaan

1. Terapi Konservatif

  • Penutup mata alternatif untuk mencegah ambliopia
  • Terapi vision untuk latihan mata

2. Intervensi Bedah

  • Ptosis repair untuk kasus berat
  • Reseksi tumor jika ada neuroblastoma

3. Monitoring Ketat

  • Pertumbuhan tumor (jika penyebab neoplasma)
  • Perkembangan visual setiap 6 bulan

Baca juga : Skrining Bayi Baru Lahir : Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK)

Prognosis

  • Tergantung penyebab dasar
  • Fungsional baik jika tidak ada tumor
  • Risk ambliopia jika tidak ditangani

Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui TelegramFacebookTwitter/X. Dukung pengembangan konten kesehatan via Donasi DANA.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment