Hot News

Total Pageviews

Check Page Rank

Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Yang di Sebabkan Mikrobe - Seri Edukasi Teknologi Laboratorium Medik

Posted by On 5:26 PM


Semenjak dipastikannya bahwa jasad renik merupakan penyebab penyakit tertentu, banyak perhatian ditujukkan kepada pengembangan cara - cara untuk pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit tersebut. Penyebab etiologis (agen kuasatif) untuk sebagian besar penyakit bakterial yang dikenal masa kini - penyakit - penyakit yang telah menggangu dunia ini selama berabad - abad - ditemukan secara berturut - turut dalam waktu singkat antara tahun 1876 dan 1898.



Besarnya kesengsaraan dan kehancuran manusia yang disebabkan penyakit mikrobial sebelum masa akhir abad kedua puluh tidaklah mudah untuk diterima. Penyakit seperti pes, difteri, cacar, dan kolera benar - benar telah menghancurkan daerah amat luas di muka bumi ini. Angkatan perang telah luluh karena epidemi yang disebabkan oleh mikrobe ini. Tulisan yang berkaitan dengan sejarah mengemukakkan bahwa akibat kebanyakan peperangan lebih banyak ditentukan oleh wabah penyakit daripada oleh jenderal - jenderal yang cemerlang.

Metode pencegahan dan pengobatan yang telah dikemukakan untuk memberantas penyakit karena mikrobe mencakup imunisasi  (misalanya vaksinasi), antisepsis (cara - cara untuk mendiadakan atau mengurangi kemungkinan infeksi), kemoterapi (perawatan pasien dengan bahan kimia), dan cara - cara kesehatan masayarakat (misalnya, pemurnian air, pembuangan limbah, dan pengawetan makanan). 

IMUNISASI

Pasteur melanjutkan penemuannya mengenai penyebab dan pencegahan penyakit - penyakit menular. Sekitar 1880 ia mengisolasi bakteri yang menjadi penyebab kolera ayan dan menumbuhkannya pada biakan murni. Untuk menunjukkan bahwa benar - benar dia telah mengisolasi bakteri penyebab penyakit tersebut maka ia menggunakan teknik - teknik dasar yang dikemukakan Koch.


Sumber : http://ilmubiologi48.blogspot.co.id/


Pada sebuah diagram menjelaskan serangkaian percobaan yang dilakukannya didepan  masyarakat untuk demonstrasi : ayam - ayam sehat disuntiknya dengan biakan murni, ditunggu sampai terserang kolera ayam, dan kemduian mati. Betapa kecewanya dia, karena ayam - ayam itu tidak menjadi sakit dan mati. Ditelusurinya setiap langkah dalam percobaannya itu, maka tahulah dia bahwa secara tidak sengaja telah digunakannya biakan yang sudah beberapa minggu disimpan dan bukannya biakan segar yang khusus ditambahkan untuk demontrasi tersebut.

Beberapa minggu kemudia diulanginya lagi percobaan seperti itu dengan mengambil dua kelompok ayam. kelompok pertama telah diinokulasi pada demonstrasi terdahulu dengan biakan tua yang ternyata tidak efektif; yang kedua sebelumnya belum pernah dikenai biakan tersebut. Kedua kelompok itu diinokulasi dengan bakteri dari biakan segar dan baru. Kali ini ayam - ayam kelompok kedua menjadi sakit dan mati, tetapi yang ada pada kelompok pertama tetap sehat. Hal ini menyebabkan pasteur terheran - heran, namun segera diketahui penjelassannya.Ia menemukan bahwa entah bagaimana bakteri dapat kehilangan virulensinya (kurang virulen) ini dapat merangsang inangnya (dalam hal ini ayam) untuk membentuk antibodi, substansi yang melindungi inang terhadap infeksi berikutnya oleh organisme virulen yang sama.

Kemudian Pasteur menerapkan prinsip inokulasi dengan biakan yang diatenuasi (dilemahkan sehingga menjadi kurang virulen) terhadap pencegahan antraks, dan ternyata berhasil lagi. Biakan bakteri yang diatenuasi ini dinamakan vaksin (istilah yang diturunkan dari bahasa Latin Vacca yang berarti "sapi) dan imunisasi dengan biakan bakteri yang diatenuasi disebutnya vaksinasi. Dengan demikian Pasteur telah menghormati Edward Jenner (1749 - 1823), yang secara berhasil telahy memvaksinasi seorang anak laki - laki terhadap cacar pada tahun 1796. 

Sumber : http://75023599.weebly.com/breakthrough.html

Jenner menjadi tahu bahwa perempuan pemerah susu yang pernah dihinggapi penyakit cacar sapi dari sapi yang diperahnya itu tidak pernah lagi terserang penyakit cacar yang lebih virulen. Dari keterangan ini, Jenner membuat hipotesis bahwa serangan penyakit cacar sapi agaknya menjadikan seseorang imun (kebal) terhadap cacar. Sejalan dengan itu, hipotesis ini diujinya dengan menginokulasi James Phipps mula - mula dengan penyebab cacar sapi dan kemudian dengan bahan penyebab cacar. Anak itu ternyata tidak terserang cacar.

Kemashuran Pasteur tersebar diseluruh Perancis, dan banyak orang mengira bahwa dia dapat berbuat keajaiban dengan bakteri dan pengendalian infeksi. Maka tidaklah mengherankan bahwa dia diminta membuat vaksin untuk hidrofobia, atau rabies, suatu penyakit yang ditularkan pada manusia melalui gigitan anjing, kucing atau binatang lainnya. Karena dia seorang kimiawan dan bukan seorang dokter, maka ia berfikir - fikir dahulu sebelum menerima tantangan ini. Begitu dia setuju maka langsung dia merencanakan pembuatan vaksin. Kendatipun penyebab penyakit rabies belum diketahui, Pasteur melanjutkan pekerjaannya dengan mengandalkan nalurinya yang kuat yang menyatakan bahwa penyebab penyakit adalah mikroorganisme. 

 Ia berhasil menimbulkan penyakit tersebut pada kelinci dengan cara menyuntikannya dengan air liur anjing yang gila. Setelah kelinci yang diinokulasi itu mati, Pasteur mengeluarkan benak dan urat saraf tulang belakang kelinci tersebut, dikeringkannya selama beberapa hari, kemudian ditumbuknya halus - halus dan disuspensikannya bubuk tersebut didalam cairan. Anjing - anjing yang diinokulasi dengan campuran ini menjadi terlindung dari penyakit rabies. Tetapi memvaksinasi anjing tidaklah sama dengan mengobati orang sakit. Karena rabies ini hampir selalu fatal, maka barulah sejak si anak yang bernama Josesph Meister itu telah digigit anjing hutan yang gila, keluarganya dengan senang hati mengizinkan Pasteur menginokulasi anaknya dengan vaksin dengan harapan anak tersebut tertolong jiwanya. Pasteur yang merasa khawatir itu sama terperanjatnya seperti yang lain - lain ketika setelah percobaan yang menentukan itu, yang memakan beberapa minggu, Joseph Meister ternyata tidak meninggal.

FAGOSITOSIS

Dalam waktu yang bersamaan, Elie metchnikoff (1845 - 1916) yang bekerja di laboratorium Pasteur, mengamati bahwa leukosit, semacam sel darah manusia, dapat memakan bakteri penyebab penyakit yang ada dalam tubuh. Pelindung terhadap infeksi ini dinamakan fagosit atau "pemakan sel" dan prosesnya disebut fagositosis. Dari pengamatan ini Metchnikoff membuat hipotesis bahwa fagosit merupakan barisan pertahanan pertama yang penting bagi si penderita terhadap mikroorganisme yang menyerbu tubuhnya.

ANTISEPSIS

Dalam pengertian umum, kata sepsis berarti infeksi; antisepsis berkenaan dengan cara - cara pemberantasan atau pencegahan infeksi. Telah dikemukakan mengenai diperkenalkannya oleh Semmelweis tentang cara -  cara aseptik selama kelahiran agar mengurangi terjadinya demam nifas karena mikrobe. Dalam tahun 1860-an seorang ahli bedah Inggris, Joseph Lister (1827 - 1912), sedang mencari cara - cara menjauhkan mikrobe dari luka dan torehan (insisi) yang dibuat para ahli bedah karena kematian akibat sebab - sebab tersebut tinggi sekali.

Dalam tahun 1864, misalnya, Lister mancatat 45 persen dari pasiennya sendiri meninggal setelah pembedahan. Desinfektan pada waktu itu belum dikenal, tetapi asam karbolat (fenol) sudah diketahui membunuh bakteri, maka Lister menggunakan larutan encer asam tersebut untuk merendam perlengkapan bedan dan menyemprot ruang bedah. Luka dan torehan yang dilindungi dengan cara ini jarang kena infeksi dan dengan cepat menajdi sembuh. Demikian gemilangnya keberhasilannya itu sehingga tekniknya dengan cepat diterima oleh para ahli bedah lain, dan praktek antisepsis inilah yang mendasari prinsip teknik aseptik masa kini yang digunakan untuk mencegah masuknya mikrobe kedalam luka atau insisi.

Sekarang banyak sekali macam zat kimia, seperti alkohol dan larutan iodium, dan teknik fisik, seperti misalnya saringan udara dan lampu ultraviolet germisdal (dapat membunuh kuman), yang digunakan untuk menurunkan jumlah mikrobe ditempat  - tempat seperti kamar bedah dan kamar anak - anak untuk merawat bayi yang prematur. 

KEMOTERAPI

Untuk memberantas penyakit, selama beratus - ratur tahun telah digunakan bahan kimia: air raksa dipakai untuk mengobati sifilis sedini mungkin tahun 1495 dan pepagan kina di Amerika Selatan digunakan dalam abad ketujuh belas untuk melawan malaria. Tetapi barulah setelah ada penelitian dan tulisan yang cemerlang oleh ahli fisika Jerman, Paul Ehrlich (1845 - 1915), kemoterapi modern dimulai. Tujuan Ehrlich ialah mengembangkan bahan - bahan kimia yang dapat membunuh mikrobe - mikrobe tertentu tanpa merugikan sipenderita. Secara sistematis ia mensisntesis beratus - ratus senyawa dalam usahanya mencari bahan kemoterapeutik yang berpotensi. Pada tahun1909, diketeahui bahwa senyawa arsenat Salvarsan, senyawa yang ke 606 dari suatu seri yang disintesis Ehrlichm dapat membunuh bakteri penyebab sifilis.

Pada akhirnya, dalam tahun 1930-an mimpi Ehrlich tentang terciptanya bahan - bahan terapeutik terkabul. Seorang ilmuan Jerman bernama Gerhard Domagk, menemukan sekelompok senyawa imia yang disebut sulfonamid (lebih dikenal dengan nama obat sulfa) ternyata amat efektif untuk pengobatan beberapa infeksi oleh bakteri. Senyawa ini menghancurkan sel - sel bakteri dengan cara khas dan tidak merugikan si penderita, benar - benar seperti yang diharapkan oleh Ehrlich.

Baca juga :
PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website Kami. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya

Sumber :
  1. Michael J. pelczar dan E.C.S Chan. (1986). Dasar - Dasar Mikrobiologi. Hal ; 19 - 27. Jakarta ; Penerbit Univeristas Indonesia (UI-press).


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »