Types of Fixation in Cytopathology: Panduan Langkah demi Langkah Memilih Fiksatif yang Tepat untuk Setiap Sediaan

Table of Contents

Types of Fixation in Cytopathology: Panduan Langkah demi Langkah Memilih Fiksatif yang Tepat untuk Setiap Sediaan


INFOLABMED.COM – Dalam sitopatologi, kualitas sediaan tidak hanya ditentukan oleh keterampilan pengambilan sampel atau pewarnaan, tetapi juga oleh satu langkah krusial yang sering dianggap remeh: fiksasi. Jenis fiksatif yang dipilih, konsentrasinya, durasi, dan cara aplikasinya dapat menentukan apakah sel-sel dalam sediaan tetap utuh secara morfologis, mempertahankan antigenisitas untuk imuno-sitokimia, atau menyimpan DNA/RNA yang berkualitas untuk analisis molekuler. Artikel ini menyajikan panduan langkah demi langkah mengenai types of fixation in cytopathology yang paling umum digunakan, beserta pertimbangan praktis di laboratorium.

Langkah 1: Pahami Tujuan Fiksasi Sebelum Memilih Jenisnya

Fiksasi bertujuan menghentikan proses autolisis dan degradasi enzimatik, mempertahankan struktur seluler, serta mengawetkan komponen kimiawi agar dapat diperiksa. Namun, tidak ada satu fiksatif yang ideal untuk semua tujuan. Fiksatif berbasis alkohol sangat baik untuk mempertahankan morfologi inti dan sitoplasma pada pewarnaan Papanicolaou, tetapi dapat menurunkan intensitas beberapa penanda imunosito-kimia dibandingkan formalin . Sebaliknya, formalin memberikan hasil imunohistokimia yang lebih konsisten, tetapi kurang optimal untuk preservasi DNA/RNA pada beberapa platform . Oleh karena itu, langkah pertama adalah menetapkan tujuan pemeriksaan: apakah untuk diagnostik morfologis rutin, imuno-sitokimia, atau analisis molekuler.

Langkah 2: Kenali Fiksatif Berbasis Alkohol (Ethanol/Methanol)

Ethanol 95% adalah fiksatif standar untuk sediaan apus sitologi konvensional, terutama yang akan diwarnai dengan Papanicolaou. Sebuah studi pada fine needle aspiration biopsy (FNAB) membandingkan berbagai metode fiksasi dan menemukan bahwa fiksasi kontinu dalam etanol 95% menghasilkan 96,6% sediaan dengan kualitas excellent, menjadikannya pilihan paling andal untuk sediaan yang akan dikirim atau diproses dengan penundaan . Sediaan yang difiksasi etanol kemudian di-spray-fix juga memberikan hasil setara (93,2% excellent), sedangkan pengeringan udara (air drying) tanpa fiksasi yang memadai justru menghasilkan 93,2% sediaan unsatisfactory atau suboptimal .

Methanol absolut juga digunakan, terutama pada metode pewarnaan tertentu. Sebuah penelitian di Indonesia pada sediaan sitologi efusi pleura menemukan bahwa fiksasi dengan methanol absolut selama 3 menit memberikan kualitas pewarnaan Papanicolaou terbaik (rerata skor 6,55; kategori baik) dibandingkan 1 menit dan 2 menit, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik (p = 0,009) . Temuan ini menegaskan bahwa durasi fiksasi adalah variabel yang tidak boleh diabaikan.

Langkah 3: Kenali Fiksatif Berbasis Formalin

Formalin buffer netral 10% (NBF) adalah fiksatif standar emas untuk jaringan histologi dan juga digunakan pada blok sel sitologi. Keunggulannya terletak pada konsistensi hasil imuno-sitokimia. Sebuah studi pada blok sel efusi pleura dengan adenokarsinoma paru metastatik menunjukkan bahwa penanda seperti TTF-1 (klon 8G7G3/1) dan EpCAM (klon MOC-31) menunjukkan proporsi pewarnaan positif tertinggi pada blok sel yang difiksasi formalin (95,8%), jauh lebih tinggi dibandingkan CytoLyt (33,3% dan 83,3%) atau PreservCyt (62,5% dan 83,3%) . Namun, formalin juga memiliki keterbatasan: formaldehida bersifat toksik dan kurang ramah lingkungan, serta dapat menyebabkan fragmentasi DNA pada kondisi tertentu.

Langkah 4: Kenali Fiksatif untuk Liquid-Based Cytology (LBC)

Liquid-Based Cytology (LBC) menggunakan larutan fiksatif sekaligus pengawet yang memungkinkan sediaan dibuat dari sampel cair. Beberapa jenis yang umum digunakan memiliki karakteristik berbeda:

PreservCyt (berbasis metanol) adalah fiksatif LBC yang banyak digunakan. Sebuah studi pada biopsi limfoma vitreoretinal menemukan bahwa PreservCyt adalah fiksatif terbaik untuk mempertahankan morfologi seluler dan integritas RNA/DNA berkualitas tinggi dari sampel vitreus, memungkinkan analisis molekuler seperti deteksi mutasi MYD88 dan klonalitas IgH . Namun, untuk imuno-sitokimia, hasilnya bergantung pada antibodi: pada studi blok sel paru, PreservCyt menunjukkan intensitas pewarnaan yang lebih lemah untuk TTF-1 dan napsin A dibandingkan formalin .

CytoRich Red memiliki keunggulan khusus: kemampuannya melisiskan eritrosit dan mengurangi latar belakang pada spesimen yang berdarah. Studi pada apusan Pap dan FNA berdarah menunjukkan bahwa perendaman dalam CytoRich Red selama hingga 30 detik sebelum fiksasi alkohol 95% secara signifikan mengurangi eritrosit tanpa mengganggu pewarnaan, dan sel-sel diagnostik tetap terjaga dengan baik . Pada studi lain, 92,5% spesimen yang diproses dengan CytoRich Red menunjukkan sedikit atau tanpa eritrosit, dibandingkan hanya 22,5% pada fiksatif konvensional . Namun, untuk penanda imunosito-kimia tertentu, CytoRich Red dapat memberikan hasil yang lebih rendah dibandingkan formalin; pada studi blok sel paru, TTF-1 positif pada 76,5% kasus dengan CytoRich Red versus 95,8% dengan formalin .

CytoRich Blue menunjukkan karakteristik yang berbeda pula. Pada studi sel kanker pankreas, CytoRich Blue menyebabkan kontraksi sel setelah fiksasi 9 hari, dan tingkat positivitas p53 lebih rendah dibandingkan CytoRich Red bahkan sejak fiksasi 1 jam .

Langkah 5: Pertimbangkan Durasi dan Suhu Fiksasi

Jenis fiksatif bukan satu-satunya variabel. Durasi dan suhu juga memengaruhi hasil. Pada studi sel kanker pankreas, fiksasi dalam CytoRich Red hingga 14 hari masih mempertahankan positivitas p53 dan CK20 yang tinggi, meskipun terjadi peningkatan Ct value yang mengindikasikan fragmentasi DNA seiring waktu . Sebaliknya, pada studi sitologi eksfoliatif oral, penyimpanan pada suhu rendah (-70°C hingga -22°C) memberikan preservasi ekspresi keratin terbaik, tetapi ekspresi masih adekuat setelah 4 hari pada suhu ruang (20°C) . Untuk sediaan yang akan dianalisis secara molekuler, waktu tunggu harus diminimalkan, atau fiksatif yang mendukung preservasi asam nukleat (seperti PreservCyt atau CytoRich Blue) harus dipilih.

Langkah 6: Sesuaikan dengan Downstream Assay

Keputusan akhir harus mempertimbangkan pemeriksaan yang akan dilakukan. Untuk diagnostik morfologis rutin dengan Papanicolaou, etanol 95% atau methanol absolut adalah pilihan utama. Untuk imuno-sitokimia, formalin memberikan konsistensi terbaik, tetapi jika sampel berasal dari LBC, validasi antibodi terhadap fiksatif yang digunakan adalah keharusan . Untuk analisis molekuler (PCR, FISH, NGS), PreservCyt dan CytoRich Blue menunjukkan preservasi asam nukleat yang lebih baik, sementara formalin dapat menyebabkan fragmentasi . Untuk spesimen berdarah, CytoRich Red menawarkan keunggulan dalam melisiskan eritrosit tanpa mengorbankan morfologi .

Implikasi bagi Laboratorium Medik

Dari panduan di atas, beberapa poin praktis dapat dirumuskan. Pertama, standardisasi prosedur fiksasi—termasuk jenis, konsentrasi, durasi, dan suhu—harus didokumentasikan dan dipatuhi secara konsisten, karena variasi sekecil apa pun dapat memengaruhi interpretasi. Kedua, validasi internal untuk setiap penanda imunosito-kimia pada fiksatif yang digunakan di laboratorium adalah langkah yang tidak boleh dilewati, mengingat hasil dapat berbeda secara signifikan antar fiksatif . Ketiga, untuk laboratorium yang melayani analisis molekuler dari sediaan sitologi, pemilihan fiksatif harus mempertimbangkan kompatibilitas dengan platform downstream, dan sisa spesimen dalam fiksatif LBC dapat menjadi sumber material genetik yang berharga .

Fiksasi bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan keputusan strategis yang memengaruhi seluruh rantai diagnostik. Dengan memahami types of fixation in cytopathology dan menerapkannya secara tepat, tenaga laboratorium medik dapat memastikan bahwa setiap sediaan sitologi memberikan informasi maksimal—dari morfologi hingga molekuler—untuk mendukung keputusan klinis yang akurat.

Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.mae/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA [Link : https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592].

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment