RBCs (Red Blood Cells) in Urine: Panduan Lengkap Identifikasi, Mikroskopi, Pelaporan, hingga Makna Klinisnya

Table of Contents

RBCs (Red Blood Cells) in Urine: Panduan Lengkap Identifikasi, Mikroskopi, Pelaporan, hingga Makna Klinisnya


INFOLABMED.COM - Pemeriksaan sedimen urin merupakan salah satu alat diagnostik yang paling terjangkau namun kaya informasi di laboratorium klinis. Di antara berbagai unsur yang ditemukan, RBCs (Red Blood Cells) in Urine atau eritrosit dalam urin memegang peranan sentral. Kehadirannya tidak sekadar menandakan adanya perdarahan, tetapi morfologinya dapat memberikan petunjuk penting tentang lokasi sumber perdarahan—apakah berasal dari glomerulus atau saluran kemih bagian bawah . Artikel ini akan membahas secara komprehensif mulai dari identifikasi, teknik mikroskopi, cara pelaporan, hingga signifikansi klinisnya.

Identifikasi Eritrosit dalam Urin

Eritrosit normal dalam urin memiliki diameter sekitar 6–8 µm, berbentuk cakram bikonkaf, dan berwarna kuning pucat hingga oranye akibat kandungan hemoglobin . Namun, sifat urin—terutama osmolalitas dan pH—sangat memengaruhi morfologi sel. Dalam urin hipertonik atau asam, eritrosit mengalami krenasi (mengerut dengan tepi bergerigi). Sebaliknya, dalam urin hipotonik atau basa, sel dapat membengkak hingga kehilangan hemoglobin dan menjadi ghost cells (sel hantu) yang tampak sebagai lingkaran transparan .

Tantangan utama dalam identifikasi adalah membedakan eritrosit dari benda mirip lainnya. Beberapa look-alike yang sering mengecoh antara lain ragi (yeast), butir serbuk sari, tetesan lemak, gelembung udara, dan kristal tertentu . Penggunaan mikroskop cahaya dengan pembesaran 400x (high power field/HPF) dan, bila perlu, teknik kontras fase atau polarisasi sangat membantu memastikan identifikasi.

Teknik Mikroskopi dan Pelaporan

Pemeriksaan mikroskopis sedimen urin sebaiknya dilakukan pada sampel urin pagi hari (midstream) yang segar. Sampel yang terlambat diperiksa dapat menyebabkan eritrosit lisis atau berubah bentuk secara artifisial . Setelah sentrifugasi, sedimen diperiksa di bawah mikroskop dan jumlah eritrosit dilaporkan per HPF.

Terdapat variasi standar pelaporan antar laboratorium. Di Indonesia, banyak laboratorium mengacu pada nilai rujukan ≤ 4 eritrosit/HPF sebagai batas normal, sementara guidelines internasional seperti AUA/SUFU menggunakan ambang ≥ 3 eritrosit/HPF untuk definisi hematuria . Untuk standardisasi, sebuah rekomendasi terbaru menekankan pentingnya pelaporan yang konsisten dan penyertaan komentar interpretatif untuk temuan yang bermakna klinis, seperti eritrosit dismorfik atau silinder eritrosit .

Sistem grading sederhana yang sering digunakan adalah: <1, 1–4, 5–9, 10–29, dan ≥30 per HPF . Selain jumlah, pelaporan juga harus mencakup deskripsi morfologi: apakah eritrosit tampak isomorphic (seragam, mengarah ke sumber non-glomerular) atau dysmorphic (bervariasi bentuk dan ukuran, mengarah ke glomerular).

Makna Klinis: Isomorphic vs. Dysmorphic

Perbedaan morfologi eritrosit urin adalah kunci untuk mempersempit diferensial diagnosis. Eritrosit isomorphic umumnya berasal dari perdarahan di saluran kemih bagian bawah (ureter, buli, uretra) atau dari trauma. Sel-sel ini mempertahankan bentuk cakram normal atau hanya mengalami perubahan seragam akibat osmolalitas urin .

Sebaliknya, eritrosit dysmorphic—terutama akantosit (sel dengan tonjolan seperti duri) dan sel dengan bentuk cincin atau target—mengindikasikan bahwa eritrosit telah melewati glomerulus yang mengalami kerusakan. Tekanan mekanis dan perubahan osmotik di tubulus ginjal menyebabkan deformasi khas ini . Kehadiran akantosit ≥5% dari total eritrosit memiliki spesifisitas tinggi untuk perdarahan glomerular .

Sebuah studi korelasi dengan biopsi ginjal menunjukkan bahwa kombinasi hematuria dismorfik dengan akantosit dan/atau silinder eritrosit memiliki odds ratio yang signifikan untuk glomerulopati proliferatif, menegaskan nilai diagnostik pemeriksaan sedimen yang teliti . Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua perdarahan glomerular menunjukkan dismorfisme yang jelas, dan sebaliknya, beberapa kondisi non-glomerular dapat menghasilkan morfologi yang menyerupai. Oleh karena itu, interpretasi harus selalu dikorelasikan dengan temuan klinis dan laboratorium lain, termasuk proteinuria.

Kesimpulan

RBCs (Red Blood Cells) in Urine bukan sekadar angka dalam laporan laboratorium. Identifikasi yang cermat, teknik mikroskopi yang tepat, pelaporan yang standar, dan pemahaman mendalam tentang makna morfologisnya memberikan nilai diagnostik yang besar—tanpa memerlukan biaya besar. Di era otomatisasi, keterampilan manual dalam menilai sedimen urin tetap tak tergantikan. Bagi klinisi, hasil pemeriksaan eritrosit urin harus menjadi titik awal untuk investigasi lebih lanjut, bukan akhir dari penelusuran.

Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.mae/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA [Link : https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592].

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment