Platelet Refractory, But HLA-Negative: What Are You Missing?
INFOLABMED.COM – Platelet refractory, but HLA-negative. What are you missing? Ini adalah salah satu skenario paling menantang di bank darah. Ketika pasien terus-menerus gagal mencapai kenaikan trombosit yang memadai setelah transfusi, dan skrining antibodi HLA ternyata negatif, kita tidak boleh berhenti di situ. Ada penyebab lain yang lebih jarang namun tetap signifikan, yang jika terlewat dapat berujung pada perdarahan yang tidak terkontrol.
Melampaui HLA: Mengapa Hasil Negatif Bukan Akhir
HLA (Human Leukocyte Antigen) kelas I memang merupakan penyebab imunologis paling umum dari Platelet Transfusion Refractoriness (PTR), mencakup sekitar 80-90% kasus imun . Namun, angka tersebut menyisakan 10-20% kasus yang disebabkan oleh mekanisme lain. Ketika HLA negatif, kita harus mulai memikirkan antibodi terhadap antigen spesifik trombosit (HPA) dan antibodi terhadap CD36, serta penyebab non-imunologis yang mungkin luput dari perhatian.
1. Antibodi HPA: Penyebab yang Sering Terlupakan
HPA (Human Platelet Antigen) adalah antigen yang terletak pada glikoprotein membran trombosit. Antibodi terhadap HPA dapat menyebabkan destruksi trombosit yang diperantarai komplemen atau fagositosis, serupa dengan mekanisme HLA .
Mengapa ini penting? Meskipun HPA antibody jarang menjadi satu-satunya penyebab PTR (diperkirakan kurang dari 2% kasus PTR murni imun), keberadaannya dapat memperburuk respons transfusi, terutama jika pasien juga memiliki antibodi HLA . Yang lebih kritis, ketika HLA sudah negatif, HPA adalah tersangka utama berikutnya. Pedoman JPAC secara eksplisit merekomendasikan skrining antibodi HPA ketika pasien tetap tidak merespons platelet yang sudah cocok HLA .
2. Antibodi CD36 (Anti-Nakª): Faktor Geografis yang Krusial
CD36 (glikoprotein IV) adalah antigen yang diekspresikan pada trombosit dan monosit. Defisiensi CD36 bawaan lebih umum di populasi Asia (3-11%) dan Afrika Sub-Sahara (8%), dibandingkan Kaukasia (0,4%) . Individu dengan defisiensi CD36 dapat membentuk antibodi anti-CD36 setelah terpapar melalui transfusi atau kehamilan.
Kasus nyata: Sebuah laporan kasus pada seorang wanita Afrika-Amerika dengan PTR menunjukkan bahwa setelah antibodi HLA tidak ditemukan, investigasi lebih lanjut mengungkap adanya antibodi anti-CD36. Pasien tersebut berhasil ditransfusi dengan trombosit dari donor yang defisien CD36 . Di Indonesia, dengan prevalensi defisiensi CD36 yang mungkin lebih tinggi dibanding Kaukasia, kemungkinan ini tidak boleh diabaikan.
3. Penyebab Non-Imunologis: Musuh dalam Selimut
Bahkan jika semua antibodi negatif, PTR bisa tetap terjadi. Faktanya, penyebab non-imunologis menyumbang porsi yang sangat besar, diperkirakan mencapai 80% dari seluruh kasus PTR .
| Penyebab Non-Imunologis | Mekanisme |
|---|---|
| Splenomegali | Limpa yang membesar menangkap dan menghancurkan trombosit yang ditransfusikan |
| Demam dan Sepsis | Peningkatan konsumsi trombosit akibat proses inflamasi sistemik |
| Obat-obatan | Beberapa obat (misalnya amfoterisin B, vankomisin) dapat memperpendek masa hidup trombosit |
| Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) | Konsumsi trombosit yang berlebihan akibat aktivasi koagulasi sistemik |
| Perdarahan aktif | Kehilangan trombosit yang ditransfusikan melalui perdarahan |
4. Mekanisme Lain yang Sedang Diteliti: Desialilasi dan Apoptosis
Penelitian terbaru membuka wawasan baru tentang PTR yang tidak sepenuhnya dijelaskan oleh antibodi. Sebuah studi tahun 2026 menunjukkan bahwa desialilasi trombosit (hilangnya asam sialat dari permukaan trombosit) dan apoptosis dapat menyebabkan pembersihan trombosit bahkan tanpa adanya antibodi yang terdeteksi . Studi tersebut menemukan bahwa pasien dengan desialilasi tinggi memiliki jumlah trombosit yang lebih rendah, independen dari status antibodi mereka. Ini menunjukkan bahwa PTR bisa memiliki komponen yang sepenuhnya non-imunologis atau setidaknya tidak bergantung pada antibodi yang dapat dideteksi dengan metode konvensional.
Apa yang Harus Dilakukan Selanjutnya?
Ketika menghadapi pasien PTR dengan HLA negatif, pendekatan sistematis berikut direkomendasikan:
- Konfirmasi PTR: Pastikan diagnosis PTR ditegakkan dengan benar (CCI 1 jam < 7.500 dan CCI 24 jam < 4.500 pada dua kali transfusi berturut-turut).
- Singkirkan Penyebab Non-Imunologis: Evaluasi ada tidaknya splenomegali, sepsis, DIC, atau obat-obatan yang dapat memengaruhi survival trombosit.
- Skrining Antibodi HPA: Lakukan pengujian untuk antibodi terhadap HPA-1, HPA-2, HPA-3, HPA-5, dan HPA-15, serta CD36, terutama jika pasien memiliki riwayat transfusi berulang atau kehamilan .
- Pertimbangkan Crossmatch Platelet: Jika antibodi spesifik tidak ditemukan, uji crossmatch antara serum pasien dan trombosit donor dapat membantu memilih unit yang kompatibel .
- Pilihan Donor: Jika antibodi HPA atau CD36 teridentifikasi, carilah donor yang defisien antigen tersebut. Untuk antibodi HPA, ini mungkin memerlukan registri donor yang telah dikarakterisasi secara imunogenetik.
Kesimpulan
Platelet refractory, but HLA-negative bukanlah akhir dari jalan. Ini adalah panggilan untuk memperluas investigasi. Antibodi HPA dan CD36 adalah kandidat utama berikutnya, sementara penyebab non-imunologis harus selalu disingkirkan. Mekanisme yang lebih baru seperti desialilasi juga mulai mendapatkan perhatian. Dengan pendekatan diagnostik yang komprehensif, kita dapat menemukan "apa yang terlewat" dan memberikan dukungan trombosit yang tepat bagi pasien yang membutuhkannya.
Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592.
.png)
Post a Comment