Urine ACR vs. Urine PCR: Two Ratios, Different Stories! Memahami Kapan Rasio Albumin dan Rasio Protein Memberi Jawaban Berbeda

Table of Contents

Urine ACR vs. Urine PCR: Two Ratios, Different Stories! Memahami Kapan Rasio Albumin dan Rasio Protein Memberi Jawaban Berbeda


INFOLABMED.COM – Dalam praktik nefrologi dan laboratorium klinik, dua rasio urin spot sering digunakan secara bergantian untuk menilai ekskresi protein: urine albumin-to-creatinine ratio (ACR) dan urine protein-to-creatinine ratio (PCR). Keduanya sama-sama menggantikan koleksi urin 24 jam yang merepotkan, dan pada banyak kondisi, keduanya memberikan informasi yang sejalan. Namun, anggapan bahwa ACR dan PCR dapat saling menggantikan tanpa konsekuensi adalah penyederhanaan yang berbahaya. Di balik kesamaannya, kedua rasio ini mengukur komponen yang berbeda—dan pada situasi tertentu, perbedaan itu menjadi sangat bermakna.

Dua Rasio, Dua Komponen yang Berbeda

Perbedaan mendasar antara ACR dan PCR terletak pada apa yang diukur. ACR secara spesifik mengukur albumin, protein yang paling dominan dalam urin pada kondisi kerusakan glomerulus. PCR mengukur total protein urin, yang mencakup albumin ditambah protein non-albumin seperti globulin, protein tubular, dan fragmen imunoglobulin. Pada kerusakan glomerulus murni, albumin mendominasi proteinuria, sehingga ACR dan PCR umumnya berkorelasi baik. Namun, ketika terdapat komponen proteinuria tubular atau overproduksi protein non-albumin, kedua rasio dapat menceritakan kisah yang berbeda.

Sebuah studi pada 808 pasien penyakit ginjal kronik (CKD) menemukan bahwa albuminuria dan proteinuria memang berkorelasi baik secara keseluruhan (β = 1,114; p < 0,001), tetapi korelasi tersebut melemah pada pasien dengan ekskresi protein rendah atau konsentrasi kreatinin urin yang rendah . Artinya, pada pasien dengan proteinuria minimal, PCR dan ACR bisa tidak sejalan, dan pilihan pemeriksaan menjadi lebih kritis.

Kapan ACR dan PCR Sepakat: Bukti Kesetaraan dalam Prediksi Outcomes

Untuk tujuan prognostik umum, bukti menunjukkan bahwa ACR dan PCR sering kali setara. Sebuah studi kohort retrospektif pada 5.586 pasien CKD di Skotlandia membandingkan kinerja kedua rasio dalam memprediksi kematian, kebutuhan terapi penggantian ginjal (RRT), dan penggandaan kreatinin serum. Hasilnya, hazard ratio yang disesuaikan hampir identik antara PCR dan ACR untuk ketiga luaran tersebut . Kurva ROC juga menunjukkan kinerja yang hampir sama, dan keduanya sama efektifnya dengan koleksi urin 24 jam .

Studi pada resipien transplantasi ginjal juga mendukung kesetaraan ini. Pada 500 pasien dengan fungsi graft yang berfungsi, PCR dan ACR menunjukkan konkordansi yang serupa dengan kejadian kehilangan graft (c = 0,82 untuk PCR; c = 0,83 untuk ACR), dan keduanya lebih baik daripada dipstick konvensional . Temuan ini memberikan keyakinan bahwa untuk stratifikasi risiko umum, laboratorium dapat memilih salah satu sesuai ketersediaan dan kebiasaan klinis.

Kapan Kisahnya Berbeda: Titik Kritis yang Perlu Diwaspadai

Namun, kesetaraan tersebut tidak berlaku universal. Studi pada 77 pasien CKD stabil mengungkap nuansa penting: microalbuminuria dapat hadir pada pasien tanpa proteinuria patologis . Ini berarti ACR dapat mendeteksi albuminuria derajat rendah yang tidak tertangkap oleh PCR, atau sebaliknya, PCR dapat mencerminkan proteinuria tubular yang tidak terdeteksi oleh ACR. Studi tersebut juga menemukan bahwa fraksi albumin dalam elektroforesis protein urin—bukan rasio albumin-terhadap-protein total (APR)—merupakan penanda independen untuk penyakit ginjal glomerular .

Pada pasien dengan proteinuria berat, PCR justru menunjukkan keterbatasan. Sebuah studi yang membandingkan PCR spot dengan ekskresi protein urin 24 jam menemukan korelasi yang kuat secara keseluruhan (r = 0,92), tetapi kesepakatan antara keduanya buruk pada tingkat ekskresi protein yang tinggi . Penulis menyimpulkan bahwa PCR spot tidak boleh digunakan pada pasien dengan proteinuria tinggi kecuali koleksi urin 24 jam tidak tersedia . Ini mengisyaratkan bahwa pada rentang proteinuria tinggi, PCR mungkin kurang akurat, dan ACR—yang berfokus pada albumin—dapat memberikan gambaran yang lebih spesifik tentang kebocoran glomerulus.

Nilai Klinis yang Berbeda: Mengapa ACR Lebih dari Sekadar Penanda Ginjal

Salah satu alasan mengapa ACR increasingly dipromosikan sebagai standar adalah karena maknanya melampaui ginjal. Sebuah tinjauan tahun 2025 menegaskan bahwa uACR adalah penanda diagnostik untuk CKD dan penanda prognostik untuk progresi CKD, gagal jantung, dan luaran kardiovaskular . Penurunan uACR pada uji klinis terapi medis terbukti disertai dengan penurunan risiko kardiovaskular dan ginjal . Dalam konteks ini, ACR bukan sekadar alat nefrologi, melainkan alat stratifikasi risiko kardiorenal yang penting.

Data dari studi kohort besar di Tiongkok pada 14.367 pasien diabetes kidney disease (DKD) menunjukkan bahwa fenotip yang menggabungkan eGFR rendah dan UACR tinggi memiliki risiko tertinggi untuk progresi ke end-stage kidney disease (ESKD) dan kematian setelah major adverse cardiovascular events (MACE) . Albuminuria tetap menjadi penanda prognostik penting bahkan ketika eGFR masih terjaga . Ini memperkuat argumen bahwa ACR, yang secara spesifik mengukur albumin, memiliki nilai klinis yang tidak sepenuhnya tergantikan oleh PCR.

Implikasi bagi Laboratorium Medik

Dari uraian di atas, beberapa poin praktis dapat dirumuskan. Pertama, untuk skrining dan pemantauan rutin CKD, ACR dan PCR dapat dianggap setara dalam hal prediksi luaran, sehingga laboratorium dapat memilih berdasarkan ketersediaan reagen dan preferensi klinisi . Kedua, pada pasien dengan proteinuria rendah atau konsentrasi kreatinin urin rendah, korelasi antara keduanya melemah, sehingga interpretasi harus lebih hati-hati . Ketiga, pada proteinuria berat, PCR spot kurang dapat diandalkan, dan hasilnya perlu dikonfirmasi dengan koleksi 24 jam atau ditafsirkan bersama ACR .

Yang paling penting, laboratorium perlu memahami bahwa ACR dan PCR bukan sinonim. Memilih salah satu tanpa memahami apa yang diukurnya berisiko melewatkan informasi klinis yang penting. Albuminuria dan proteinuria total dapat mencerminkan proses patologis yang berbeda—glomerular versus tubular—dan pemilihan pemeriksaan yang tepat bergantung pada pertanyaan klinis yang ingin dijawab.

Two ratios, different stories. Memahaminya adalah langkah pertama menuju interpretasi laboratorium yang lebih cermat dan bermakna.

Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA [Link : https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592].

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment