Pewarnaan Papanicolaou (Pap Smear): Panduan Lengkap Prosedur Dan Interpretasi Dalam Sitopatologi
Ditulis oleh: Imaduddin Badrawi, S.Tr.Kes (Ahli Teknologi Laboratorium Medik)
Ditinjau oleh: Tim Medis
INFOLABMED.COM - Pewarnaan Papanicolaou, yang lebih dikenal sebagai pewarnaan Pap, merupakan sebuah artefak diagnostik fundamental dalam ranah sitopatologi. Dikembangkan oleh Dr. George Papanicolaou, teknik pewarnaan multiwarna ini memegang peranan vital dalam identifikasi kelainan seluler, terutama yang berkaitan dengan kondisi prakanker dan kanker, yang paling sering diaplikasikan dalam skrining Pap Smear.
Keunggulan utama metode ini terletak pada kemampuannya untuk membedakan morfologi inti (nukleus) dan sitoplasma sel melalui penggunaan tiga larutan pewarna utama: Harris hematoksilin, Orange G (OG-6), dan Eosin Azure (EA).
Kombinasi ini memungkinkan para ahli sitopatologi untuk mengamati perubahan seluler yang halus namun signifikan di bawah mikroskop dengan akurasi tinggi.
Prosedur Teknis Pewarnaan Papanicolaou: Langkah Demi Langkah
Keberhasilan interpretasi hasil pewarnaan Pap sangat bergantung pada ketelitian dan keakuratan setiap tahapan prosedur. Berikut adalah uraian detail mengenai alur kerja teknis yang harus dilalui:
1. Tahap Fiksasi dan Rehidrasi: Fondasi Kesiapan Sediaan
Tahap awal ini krusial untuk menghentikan proses degradasi seluler yang dapat terjadi pasca-pengambilan sampel, sekaligus mempersiapkan sediaan agar mampu menyerap zat warna berbasis air secara optimal. Fiksasi yang tepat harus dilakukan segera pada sediaan apusan yang masih basah.
Fiksasi: Sediaan harus segera direndam dalam larutan Alkohol 95%–96% selama minimal 15 hingga 30 menit. Penting untuk ditekankan bahwa sediaan tidak boleh dibiarkan mengering di udara sebelum proses fiksasi dimulai, karena hal ini dapat merusak morfologi sel.
Rehidrasi: Setelah fiksasi, sediaan secara bertahap direhidrasi dengan memasukkannya ke dalam larutan alkohol dengan konsentrasi yang menurun: Alkohol 90% → 80% → 70% → 50%. Setiap konsentrasi direndam selama kurang lebih 1 menit atau sekitar 10-20 kali celupan.
Tujuan dari rehidrasi bertahap ini adalah untuk mengurangi kadar alkohol secara perlahan guna mencegah kerusakan sel.
Pembilasan: Dilanjutkan dengan pembilasan menggunakan air suling (distilled water) selama 1 menit untuk menghilangkan sisa alkohol.
2. Tahap Pewarnaan Inti (Nuclear Staining): Menyoroti Struktur Krusial
Pada tahap ini, pewarna basa digunakan untuk menonjolkan karakteristik morfologi kromatin dan detail penting lainnya pada inti sel. Kualitas pewarnaan inti secara langsung mempengaruhi kemampuan identifikasi perubahan nuklear.
Pewarnaan Utama: Sediaan direndam dalam larutan Harris Hematoxylin (atau varian Gill Hematoxylin) selama 3 hingga 5 menit. Larutan ini mengandung pewarna hematoksilin yang memiliki afinitas terhadap materi asam dalam inti sel.
Pencucian: Setelah pewarnaan inti, sediaan dicuci menggunakan air suling mengalir. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan kelebihan zat warna bebas yang tidak terikat pada sel, mencegah latar belakang yang keruh.
Bluing (Diferensiasi): Sediaan kemudian dicelupkan ke dalam larutan "bluing agent" seperti air ketuk, larutan Lithium Carbonate, atau Scott's Tap Water selama sekitar 30 detik. Proses ini bertujuan untuk mengonversi warna inti dari coklat/keunguan (hasil reaksi kimia hematoksilin) menjadi warna biru tua/ungu yang stabil dan jelas, menandakan reaksi yang sempurna.
Pencucian Kedua: Sediaan kembali dibilas dengan air mengalir selama 1 menit untuk menghilangkan sisa "bluing agent".
3. Tahap Dehidrasi I dan Pewarnaan Sitoplasma Pertama: Mempersiapkan Serapan Pewarna
Sebelum sel dapat menyerap zat warna sitoplasma yang umumnya berbasis alkohol, kadar air dalam sel harus kembali dikurangi.
Dehidrasi Pertama: Sediaan dimasukkan ke dalam larutan Alkohol 70% diikuti oleh Alkohol 95%. Setiap tahapan ini memakan waktu sekitar 10 celupan, bertujuan untuk secara bertahap menghilangkan air dari dalam sel.
Pewarnaan Sitoplasma (Maturasi): Sediaan direndam dalam larutan Orange G (OG-6) selama 1 hingga 2 menit. Pewarna OG-6 secara spesifik akan mewarnai komponen keratin dan sel-sel skuamosa yang telah mencapai tingkat kematangan (matur) tinggi dengan warna jingga terang.
Ini merupakan indikator penting dari diferensiasi sel skuamosa.
Pembilasan Cat: Kelebihan sisa pewarna OG-6 dihilangkan dengan mencelupkan sediaan ke dalam dua wadah terpisah yang berisi Alkohol 95%.
Proses ini dilakukan bergantian, masing-masing sekitar 10 celupan, untuk memastikan pembersihan yang efektif.
4. Tahap Pewarnaan Sitoplasma Kedua (Counterstaining): Membedakan Berbagai Jenis Sel
Tahap ini menggunakan pewarna majemuk untuk membedakan berbagai jenis sel fungsional berdasarkan karakteristik sitoplasmanya.
Pewarnaan Lawan: Sediaan direndam dalam larutan Eosin Azure (EA-50 atau EA-65) selama 3 hingga 5 menit. Larutan ini merupakan campuran kompleks.
Komponen Eosin Y dalam EA akan mewarnai sitoplasma sel skuamosa superfisial dan sel darah merah dengan warna merah muda hingga merah (asidofilik). Sementara itu, komponen Light Green akan mewarnai sitoplasma sel intermediet, sel parabasal, dan sel kolumnar dengan warna hijau kebiruan (basofilik).
Pembilasan Cat: Sisa pewarna penanding (counterstain) dihilangkan dengan proses serupa pada tahap pembilasan OG-6, yaitu dengan mencelupkan sediaan secara bergantian ke dalam dua wadah Alkohol 95%.
5. Tahap Dehidrasi II, Clearing, dan Mounting: Menjernihkan dan Mengawetkan Sediaan
Ini adalah tahapan akhir yang krusial untuk membuat sediaan jernih transparan sehingga siap diperiksa di bawah mikroskop, sekaligus mengawetkannya.
Dehidrasi Akhir: Sediaan dicelupkan ke dalam larutan Alkohol Absolut (100%) sebanyak dua kali pergantian wadah. Tujuannya adalah untuk memastikan seluruh kadar air dalam sel dan jaringan telah dihilangkan sepenuhnya.
Clearing (Penjernihan): Sediaan kemudian direndam dalam larutan Xylol (Xylene). Proses ini dilakukan 2 hingga 3 kali pergantian wadah, masing-masing selama 1 hingga 2 menit, atau hingga sediaan terlihat jernih dan transparan.
Xylol menggantikan alkohol dan membuatnya kompatibel dengan media mounting.
Mounting (Pelekatan): Tahap terakhir melibatkan penetesan media perekat hidrofobik (seperti Entellan atau DPX) secukupnya di atas area apusan sel.
Kaca penutup (coverslip) kemudian diletakkan perlahan di atasnya. Penting untuk memastikan tidak ada gelembung udara yang terperangkap di antara sediaan dan kaca penutup, karena gelembung dapat mengganggu visualisasi di bawah mikroskop.
Interpretasi Hasil Berdasarkan Karakteristik Warna Sel (Hasil Teknis)
Keberhasilan prosedur pewarnaan Papanicolaou akan termanifestasi dalam perbedaan warna yang kontras antara berbagai komponen seluler. Berikut adalah panduan interpretasi berdasarkan karakteristik warna yang seharusnya terlihat pada sediaan yang diwarnai dengan baik:
| Komponen Sel | Warna yang Dihasilkan | Keterangan Teknis |
|---|---|---|
| Inti Sel (Nukleus) | Biru tua hingga Hitam | Diwarnai oleh Harris Hematoxylin. Batas membran inti dan pola kromatin harus terlihat tajam/krispi. |
| Sitoplasma Sel Epitel Superfisial | Merah Muda / Pink (Asidofilik) | Menandakan sel skuamosa yang matang, diwarnai oleh komponen Eosin Y pada EA. |
| Sitoplasma Sel Epitel Intermediet & Parabasal | Hijau Toska / Biru-Hijau (Basofilik) | Menandakan sel yang lebih muda/belum matang penuh, diwarnai oleh Light Green pada EA. |
| Keratin | Jingga / Oranye Terang | Sel-sel yang mengalami hiperkeratosis atau diferensiasi skuamosa tingkat tinggi (diwarnai oleh Orange G). |
| Sel Darah Merah (Eritrosit) | Jingga Kemerahan / Pink Tua | Terlihat jelas di latar belakang sediaan. |
| Mikroorganisme (Bakteri/Jamur) | Bervariasi (Umumnya Merah/Keabuan) | Candida akan berwarna merah, sedangkan Trichomonas vaginalis berwarna hijau-keabuan. |
Perubahan abnormal pada inti, seperti peningkatan rasio inti terhadap sitoplasma, perubahan pola kromatin (misalnya, menjadi kasar atau ireguler), serta penebalan membran inti, merupakan indikator penting yang harus diperhatikan. Demikian pula, perubahan pada sitoplasma, seperti kehilangan diferensiasi atau munculnya perubahan degeneratif, juga memerlukan evaluasi.
Penggunaan teknik pewarnaan Papanicolaou yang akurat dan interpretasi yang cermat oleh tenaga medis profesional adalah kunci dalam deteksi dini berbagai kondisi kesehatan ginekologis, berkontribusi signifikan terhadap pencegahan penyakit dan peningkatan kualitas hidup pasien.
Frequently Asked Questions (FAQ)
Q1: Apa tujuan utama dari Pewarnaan Papanicolaou? A1: Tujuan utama Pewarnaan Papanicolaou (Pap Smear) adalah untuk mendeteksi perubahan seluler abnormal pada leher rahim (serviks) yang dapat mengindikasikan kondisi prakanker atau kanker, serta infeksi.
Q2: Mengapa fiksasi seluler sangat penting dalam prosedur ini? A2: Fiksasi segera setelah pengambilan sampel bertujuan untuk menghentikan proses autolisis (pembusukan sel) dan menjaga integritas morfologi sel, sehingga perubahan seluler dapat diamati dengan jelas di bawah mikroskop.
Q3: Bagaimana cara membedakan sel-sel normal pada Pap Smear berdasarkan warnanya? A3: Sel-sel superfisial yang matang cenderung berwarna merah muda (asidofilik), sedangkan sel intermediet dan parabasal yang lebih muda berwarna hijau kebiruan (basofilik). Inti sel normal berwarna biru tua hingga hitam.
Q4: Apa yang dimaksud dengan "bluing" dalam pewarnaan Pap? A4: "Bluing" adalah proses mengonversi warna inti sel dari coklat/keunguan menjadi biru tua/ungu yang stabil menggunakan larutan bluing agent, yang menandakan reaksi hematoksilin yang berhasil.
Q5: Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh prosedur pewarnaan Pap? A5: Secara keseluruhan, prosedur pewarnaan Pap di laboratorium dapat memakan waktu sekitar 45-60 menit, tergantung pada protokol spesifik dan efisiensi alur kerja.
Q6: Apakah ada risiko dalam menjalani prosedur Pap Smear yang menggunakan pewarnaan ini? A6: Pap Smear sendiri adalah prosedur yang aman. Risiko yang mungkin timbul sangat minimal dan biasanya terkait dengan pengambilan sampel (misalnya, sedikit pendarahan atau rasa tidak nyaman ringan) dan bukan pada proses pewarnaannya.
Referensi:
Andola, S. K., Andola, U. S., Andola, S. S., Antony, A. T., Masgal, M., Patil, A. G., & Andola, K. S. (2024). Should Liquid-Based Cytology (LBC) be Preferred than Conventional Pap Smear (CPS): A Comparative Analysis. PubMed Central. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11399523/ (Diakses pada 8 Agustus 2026).
Deodhar, K. K. (2012). Screening for Cervical Cancer and Human Papilloma Virus: Indian Context. Clinics in Laboratory Medicine. https://doi.org/10.1016/j.cll.2012.04.003 (Diakses pada 8 Agustus 2026).
Meliana. (2024). Perbedaan Pap Smear Konvensional dan Pap Smear LBC. OneOnco. https://www.oneonco.co.id/blog/world-cancer-day-perbedaan-pap-smear-konvensional-dan-pap-smear-lbc/ (Diakses pada 8 Agustus 2026).
%20Panduan%20Lengkap%20Prosedur%20Dan%20Interpretasi%20Dalam%20Sitopatologi.png)
Post a Comment