Penyimpanan Sel Darah Merah: Kunci Viabilitas Dan Transfusi Aman

Table of Contents
penyimpanan sel darah merah, RBC preservation, viabilitas RBC, lesi penyimpanan, 2,3-DPG, transfusi darah, standar FDA, integritas sel darah merah, hemoglobin bebas, kurva disosiasi oksigen


INFOLABMED.COM - Penyimpanan sel darah merah (RBC) merupakan proses krusial yang bertujuan untuk memastikan ketersediaan komponen darah yang viabel dan fungsional bagi pasien yang membutuhkan transfusi. 

Viabilitas RBC sendiri mengacu pada kemampuan sel darah merah untuk bertahan hidup di dalam tubuh pasien setelah proses transfusi.

Karena darah harus disimpan sejak waktu donasi hingga saat transfusi, menjaga viabilitas RBC selama periode penyimpanan menjadi sangat penting. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menetapkan standar ketat, yaitu rata-rata kelangsungan hidup RBC pasca-transfusi selama 24 jam harus lebih dari 75%.

Selain itu, FDA juga mewajibkan integritas sel darah merah tetap terjaga sepanjang masa simpan. Hal ini diukur dengan kadar hemoglobin bebas yang harus kurang dari 1% dari total hemoglobin.

Kedua kriteria ini menjadi tolok ukur utama dalam mengevaluasi solusi pengawetan dan wadah penyimpanan darah yang baru.

Untuk menentukan kelangsungan hidup RBC pasca-transfusi, prosedur yang dilakukan adalah mengambil RBC dari subjek sehat, menyimpannya, melabelinya dengan radioisotop, menginfuskannya kembali ke donor asli, dan mengukurnya 24 jam setelah transfusi. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa dalam praktiknya, kelangsungan hidup RBC pasca-transfusi pada saat masa kedaluwarsa terkadang bisa kurang dari 75%, terutama pada pasien yang kritis, di mana angka ini bisa lebih rendah lagi.

Dalam upaya menjaga viabilitas optimal, darah disimpan dalam keadaan cair pada suhu antara 1°C hingga 6°C selama jangka waktu tertentu, yang ditentukan oleh jenis larutan pengawet yang digunakan. Penurunan viabilitas RBC berkorelasi erat dengan fenomena yang dikenal sebagai 'lesi penyimpanan' (storage lesion).

Lesi ini merupakan serangkaian perubahan biokimia yang terjadi pada sel darah merah selama penyimpanan.

Lesi Penyimpanan Sel Darah Merah dan Dampaknya

Lesi penyimpanan adalah konsekuensi tak terhindarkan dari penyimpanan sel darah merah dalam jangka waktu lama. Perubahan ini memengaruhi berbagai aspek fungsional dan struktural RBC, yang pada akhirnya dapat berdampak pada efektivitas transfusi.

Karakteristik perubahan yang diamati meliputi penurunan jumlah sel yang viabel, penurunan kadar glukosa yang merupakan sumber energi utama sel, serta penurunan kadar ATP (adenosine triphosphate), molekul energi vital seluler. Sebaliknya, terjadi peningkatan asam laktat yang merupakan produk sampingan metabolisme anaerobik, dan penurunan pH karena akumulasi asam laktat dan pelepasan ion.

Salah satu perubahan paling signifikan terkait lesi penyimpanan adalah penurunan kadar 2,3-difosfogliserat (2,3-DPG). Senyawa ini memainkan peran krusial dalam mengatur kurva disosiasi oksigen hemoglobin.

Penurunan kadar 2,3-DPG akan menyebabkan pergeseran kurva disosiasi oksigen ke kiri. Pergeseran ke kiri ini berarti peningkatan afinitas hemoglobin terhadap oksigen, sehingga kemampuan RBC untuk melepaskan oksigen ke jaringan menjadi terganggu.

Ini dapat menjadi masalah serius, terutama pada pasien yang membutuhkan pasokan oksigen yang optimal, seperti pada kondisi syok atau hipoksia.

Selain perubahan metabolik, lesi penyimpanan juga memengaruhi komposisi plasma di sekitar RBC. Terjadi peningkatan kadar kalium (K+) plasma akibat kebocoran dari sel yang mengalami kerusakan, serta peningkatan kadar hemoglobin bebas dalam plasma akibat lisis sel (hemolisis).

Peningkatan hemoglobin bebas ini dapat menimbulkan beban toksik pada ginjal dan sistem retikuloendotelial jika kadarnya terlalu tinggi.

Konsep Lanjutan dalam Pemeliharaan Viabilitas RBC

Memahami dampak lesi penyimpanan, terutama terkait kadar 2,3-DPG, menjadi kunci dalam inovasi solusi pengawetan. Karena kadar 2,3-DPG yang rendah sangat memengaruhi kurva disosiasi oksigen hemoglobin, RBC yang mengalami defisiensi DPG dapat memiliki kapasitas pengiriman oksigen yang terganggu ke jaringan.

Selama penyimpanan, kadar 2,3-DPG dalam RBC akan menurun.

Pergeseran kurva disosiasi oksigen ke kiri ini, yang ditandai dengan peningkatan afinitas hemoglobin terhadap oksigen, berarti lebih sedikit oksigen yang dilepaskan ke jaringan. Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa 2,3-DPG dapat direformasi dalam RBC setelah transfusi dan bersirkulasi di dalam tubuh, yang pada akhirnya memulihkan kemampuan pengiriman oksigen.

Tingkat pemulihan 2,3-DPG ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk status asam-basa resipien, metabolisme fosfor, tingkat keparahan anemia, dan kondisi medis pasien secara keseluruhan.

Menariknya, dilaporkan bahwa sebagian besar pembersihan RBC yang ditransfusikan terjadi dalam satu jam pertama setelah transfusi. Mengingat satu unit RBC mengandung sekitar 220 hingga 250 mg zat besi, pembersihan cepat bahkan hanya 25% dari satu unit darah dapat memberikan beban zat besi hemoglobin yang sangat besar ke sistem monosit dan makrofag.

Beban zat besi yang berlebihan ini berpotensi menimbulkan efek merugikan pada tubuh pasien.

Oleh karena itu, pengembangan solusi pengawetan yang tidak hanya menjaga integritas struktural sel tetapi juga mempertahankan atau memulihkan fungsi metaboliknya, termasuk kadar 2,3-DPG, menjadi area penelitian yang aktif. Inovasi dalam bidang ini sangat penting untuk meningkatkan hasil klinis pasien yang menerima transfusi darah, terutama dalam jangka panjang dan pada populasi pasien yang rentan.

FAQ (Tanya Jawab)

1. Apa tujuan utama dari penyimpanan sel darah merah (RBC)? 

Tujuan utama penyimpanan RBC adalah untuk memastikan ketersediaan komponen darah yang viabel dan fungsional bagi pasien yang membutuhkan transfusi, sehingga dapat berfungsi optimal di dalam tubuh penerima.

2. Apa saja standar yang ditetapkan oleh FDA terkait penyimpanan RBC? 

FDA menetapkan dua kriteria utama: rata-rata kelangsungan hidup RBC pasca-transfusi selama 24 jam harus lebih dari 75%, dan kadar hemoglobin bebas dalam masa simpan harus kurang dari 1% dari total hemoglobin untuk menjaga integritas sel.

3. Apa yang dimaksud dengan 'lesi penyimpanan' (storage lesion) pada RBC? 

Lesi penyimpanan adalah serangkaian perubahan biokimia dan fisik yang terjadi pada sel darah merah selama periode penyimpanan, yang dapat memengaruhi viabilitas dan fungsi sel, seperti penurunan kadar 2,3-DPG dan peningkatan asam laktat.

*4. Kadar 2,3-DPG sangat penting karena memengaruhi kemampuan hemoglobin untuk melepaskan oksigen ke jaringan.

Penurunan 2,3-DPG selama penyimpanan menyebabkan pergeseran kurva disosiasi oksigen ke kiri, sehingga mengurangi pasokan oksigen ke jaringan.

*5. Ya, 2,3-DPG dapat direformasi dalam RBC setelah berada di dalam tubuh penerima, yang membantu memulihkan kemampuan pengiriman oksigen.

Namun, kecepatan pemulihan ini dipengaruhi oleh kondisi fisiologis pasien.

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment