Pengawet Urine: Jenis, Fungsi, dan Cara Memilihnya agar Hasil Pemeriksaan Tetap Akurat
INFOLABMED.COM - Spesimen urine merupakan salah satu bahan pemeriksaan yang paling sering digunakan di laboratorium klinik. Namun, urine bukanlah spesimen yang dapat dibiarkan begitu saja setelah dikumpulkan.
Setelah dikeluarkan dari tubuh, komposisi urine dapat berubah seiring waktu. Sel, bakteri, kristal, bilirubin, glukosa, dan berbagai komponen lainnya dapat mengalami perubahan akibat suhu, waktu, paparan cahaya, maupun aktivitas mikroorganisme.
Karena itu, dalam kondisi tertentu laboratorium membutuhkan pengawet urine untuk membantu mempertahankan karakteristik spesimen hingga pemeriksaan dilakukan.
Namun, penggunaan pengawet tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
Pengawet yang salah dapat justru mengubah komponen yang ingin diperiksa.
Apa Itu Pengawet Urine?
Pengawet urine adalah bahan yang digunakan untuk membantu mempertahankan stabilitas dan karakteristik spesimen urine selama periode penyimpanan tertentu sebelum pemeriksaan.
Tujuan penggunaannya adalah memperlambat perubahan yang dapat terjadi pada spesimen.
Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh:
pertumbuhan bakteri;
metabolisme sel;
perubahan pH;
pembentukan atau pelarutan kristal;
degradasi zat tertentu;
paparan cahaya; dan
perubahan suhu.
Namun, tidak semua pemeriksaan urine membutuhkan bahan pengawet.
Pada pemeriksaan rutin, pemeriksaan urine sesegera mungkin setelah pengumpulan biasanya lebih diutamakan daripada mengandalkan pengawet.
Mengapa Urine Perlu Diawetkan?
Urine merupakan spesimen yang relatif mudah mengalami perubahan.
Jika dibiarkan pada suhu ruang terlalu lama, beberapa perubahan dapat terjadi.
Misalnya:
Bakteri dapat berkembang biak
Pertumbuhan bakteri dapat menyebabkan perubahan pH dan memengaruhi beberapa parameter pemeriksaan.
Sel dapat mengalami degenerasi
Eritrosit dan leukosit dapat mengalami perubahan morfologi, terutama pada kondisi urine tertentu.
Glukosa dapat menurun
Glukosa dapat digunakan oleh sel atau mikroorganisme sehingga konsentrasinya dapat berubah.
Bilirubin dapat terdegradasi
Paparan cahaya dapat menyebabkan perubahan bilirubin.
Kristal dapat berubah
Perubahan suhu dan pH dapat memengaruhi pembentukan atau pelarutan kristal.
Artinya, semakin lama spesimen tidak diperiksa, semakin besar kemungkinan hasilnya tidak lagi menggambarkan kondisi saat urine pertama kali dikumpulkan.
Apakah Semua Urine Harus Menggunakan Pengawet?
Tidak.
Ini merupakan salah satu hal penting yang perlu dipahami.
Untuk urinalisis rutin, praktik yang umum adalah menggunakan spesimen yang masih segar dan melakukan pemeriksaan sesegera mungkin.
Jika pemeriksaan harus tertunda, spesimen dapat ditangani sesuai prosedur laboratorium, termasuk pendinginan bila sesuai, kemudian dikembalikan ke kondisi yang dipersyaratkan sebelum pemeriksaan.
Pengawet lebih relevan pada jenis pemeriksaan atau pengumpulan urine tertentu, terutama ketika stabilitas analit menjadi perhatian.
Jadi, pertanyaannya bukan:
“Pengawet urine apa yang paling bagus?”
Tetapi:
“Pemeriksaan apa yang akan dilakukan dan bagaimana stabilitas analitnya?”
Jenis Pengawet Urine
Tidak ada satu pengawet yang cocok untuk seluruh pemeriksaan.
Beberapa bahan yang dapat digunakan dalam kondisi tertentu antara lain:
1. Asam Borat
Asam borat dapat digunakan sebagai pengawet untuk membantu mempertahankan spesimen urine pada pemeriksaan tertentu, terutama ketika diperlukan pengendalian pertumbuhan bakteri selama transportasi atau penundaan pemeriksaan.
Namun, konsentrasi dan penggunaannya harus mengikuti metode atau sistem pengumpulan yang telah ditetapkan.
Asam borat bukan berarti cocok untuk semua parameter urinalisis.
2. Formalin
Formalin dapat membantu mempertahankan elemen berbentuk tertentu dalam urine pada kondisi tertentu.
Namun, formalin dapat mengganggu beberapa pemeriksaan kimia.
Karena itu, penggunaannya harus disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan.
3. Asam Klorida
Asam klorida (HCl) dapat digunakan pada pengumpulan urine tertentu untuk mempertahankan kondisi kimia yang diperlukan bagi analit tertentu.
Penggunaannya harus sangat spesifik terhadap pemeriksaan karena perubahan pH yang ekstrem dapat memengaruhi analit lain.
4. Asam Asetat
Asam asetat dapat digunakan dalam kondisi tertentu sebagai bagian dari sistem preservasi spesimen.
Penggunaannya bergantung pada jenis pemeriksaan dan prosedur yang diterapkan.
5. Pengawet Komersial
Laboratorium juga dapat menggunakan urine preservative tube atau sistem pengawet komersial yang telah dirancang untuk tujuan tertentu.
Keuntungannya adalah sistem tersebut dapat memiliki prosedur penggunaan yang lebih terstandar.
Namun, petugas tetap harus memastikan:
jenis tabung;
jenis pengawet;
volume urine;
jenis pemeriksaan;
stabilitas analit; dan
petunjuk penggunaan dari produsen.
Pengawet Urine 24 Jam
Salah satu situasi yang sering berkaitan dengan pengawet adalah pengumpulan urine 24 jam.
Pada pemeriksaan urine 24 jam, bukan hanya konsentrasi analit yang penting.
Total volume urine selama periode pengumpulan juga merupakan bagian penting dari hasil.
Karena itu, kesalahan pengumpulan dapat menyebabkan hasil yang tidak akurat.
Tergantung pada analit yang diperiksa, wadah urine 24 jam dapat memerlukan pengawet tertentu.
Contohnya, beberapa analit memiliki persyaratan pH dan stabilitas yang berbeda.
Karena itu:
Pengawet untuk urine 24 jam harus ditentukan berdasarkan analit yang diperiksa.
Bukan berdasarkan kebiasaan semata.
Contoh Pengawet Berdasarkan Tujuan Pemeriksaan
Secara konseptual, pemilihannya dapat digambarkan seperti berikut:
| Tujuan/Pemeriksaan | Pertimbangan Preservasi |
|---|---|
| Urinalisis rutin | Spesimen segar, pemeriksaan segera |
| Kultur urine tertentu | Sistem transport/preservasi yang sesuai |
| Urine 24 jam | Bergantung pada analit |
| Pemeriksaan metabolit tertentu | Stabilitas analit dan pH |
| Elemen seluler | Waktu pemeriksaan dan metode preservasi |
| Analit yang sensitif cahaya | Perlindungan dari cahaya |
Tabel tersebut merupakan gambaran umum.
Persyaratan spesifik harus mengikuti SOP laboratorium dan metode pemeriksaan yang digunakan.
Pengawet Bisa Mengganggu Hasil Pemeriksaan
Ini adalah konsep yang sangat penting bagi TLM.
Pengawet memang bertujuan mempertahankan spesimen.
Tetapi:
Pengawet juga merupakan bahan kimia tambahan.
Artinya, bahan tersebut dapat berinteraksi dengan sistem pemeriksaan atau mengubah kondisi spesimen.
Contohnya, pengawet yang mengubah pH dapat memengaruhi:
kelarutan kristal;
reaksi kimia;
aktivitas enzim;
stabilitas beberapa analit; dan
interpretasi hasil tertentu.
Jadi, penggunaan pengawet harus mempertimbangkan prinsip:
Preserve what you need to measure.
Pertahankan komponen yang ingin diperiksa tanpa menciptakan interferensi baru.
Bagaimana Cara Memilih Pengawet Urine?
Gunakan pendekatan sederhana berikut.
1. Tentukan Analit
Apa yang akan diperiksa?
Misalnya:
Protein?
Kreatinin?
Katekolamin?
Metabolit tertentu?
Elemen sedimen?
2. Pelajari Stabilitas Analit
Tanyakan:
apakah analit stabil pada suhu ruang?
apakah sensitif terhadap cahaya?
apakah dipengaruhi pH?
apakah mudah terdegradasi?
apakah dipengaruhi pertumbuhan bakteri?
3. Pilih Metode Preservasi
Preservasi tidak selalu berarti menambahkan bahan kimia.
Dalam kondisi tertentu, pendinginan dan perlindungan dari cahaya dapat menjadi bagian penting dari penanganan spesimen.
4. Pastikan Kompatibilitas
Pengawet harus kompatibel dengan metode pemeriksaan.
Jika pengawet mengganggu metode, maka penggunaan bahan tersebut justru dapat menurunkan kualitas hasil.
5. Ikuti SOP dan Instruksi Metode
Jika menggunakan tabung atau sistem komersial, ikuti petunjuk penggunaan yang berlaku.
Jangan mengubah:
volume;
konsentrasi;
waktu;
suhu; atau
cara pencampuran
tanpa dasar prosedur yang tervalidasi.
Apa yang Terjadi Jika Urine Terlalu Lama Dibiarkan?
Spesimen urine yang tidak segera diperiksa dapat mengalami berbagai perubahan.
Beberapa di antaranya:
pH dapat meningkat akibat pertumbuhan bakteri tertentu.
Glukosa dapat menurun akibat metabolisme.
Keton dapat menurun dalam kondisi tertentu.
Bilirubin dapat mengalami degradasi, terutama jika terkena cahaya.
Urobilinogen dapat mengalami perubahan.
Sel dapat mengalami lisis atau degenerasi.
Bakteri dapat meningkat.
Kristal dapat terbentuk atau menghilang tergantung kondisi spesimen.
Inilah alasan mengapa waktu antara pengumpulan → transportasi → pemeriksaan perlu dikendalikan.
Apakah Menyimpan Urine di Kulkas Sudah Cukup?
Tidak selalu.
Pendinginan dapat membantu memperlambat sejumlah perubahan pada spesimen, tetapi bukan berarti semua analit otomatis stabil pada suhu dingin.
Selain itu, pendinginan dapat menyebabkan perubahan tertentu, termasuk pembentukan kristal yang mungkin tidak terlihat pada suhu awal spesimen.
Karena itu, jika spesimen didinginkan, laboratorium perlu mengikuti prosedur pemeriksaan yang sesuai sebelum melakukan analisis.
Pengawet Urine dan Tugas TLM
Bagi TLM, pemahaman mengenai pengawet urine merupakan bagian dari pengendalian fase pra-analitik.
Kesalahan pada tahap ini dapat menghasilkan masalah yang tidak dapat diperbaiki oleh analyzer.
Misalnya:
Spesimen salah preservasi
↓
Analit berubah
↓
Analyzer menghasilkan angka
↓
Hasil terlihat normal
↓
Padahal spesimen sudah tidak merepresentasikan kondisi awal
Inilah mengapa:
“Analyzer menghasilkan angka” tidak selalu berarti spesimen diperiksa dengan benar.
Kualitas hasil dimulai jauh sebelum spesimen masuk ke alat.
Kesalahan Umum dalam Penggunaan Pengawet Urine
Menggunakan Pengawet untuk Semua Pemeriksaan
Tidak semua pemeriksaan membutuhkan pengawet.
Menggunakan Jenis Pengawet yang Sama
Setiap analit memiliki karakteristik stabilitas yang berbeda.
Mengabaikan Volume
Rasio urine dan pengawet dapat memengaruhi kondisi akhir spesimen.
Tidak Mencatat Pengawet
Informasi mengenai jenis preservasi penting untuk interpretasi dan penelusuran spesimen.
Mengabaikan Suhu
Pengawet bukan pengganti seluruh prosedur penyimpanan.
Tidak Memperhatikan Metode Pemeriksaan
Bahan preservasi dapat berinteraksi dengan metode tertentu.
Jadi, Apa Pengawet Urine yang Paling Tepat?
Jawabannya:
Tergantung pemeriksaannya.
Tidak ada satu bahan yang dapat disebut sebagai pengawet urine terbaik untuk semua pemeriksaan.
Pemilihan harus mempertimbangkan:
Analit → stabilitas → metode → preservasi → kondisi penyimpanan → waktu pemeriksaan.
Untuk urinalisis rutin, prioritas utamanya adalah spesimen yang segar dan pemeriksaan yang dilakukan sesegera mungkin.
Sementara pada pengumpulan urine 24 jam atau pemeriksaan analit tertentu, pengawet dapat digunakan sesuai persyaratan metode.
Pengawet urine berfungsi membantu mempertahankan stabilitas spesimen ketika pemeriksaan tidak dapat dilakukan segera atau ketika jenis pemeriksaan memang membutuhkan preservasi tertentu.
Namun, penggunaan pengawet tidak boleh dilakukan secara universal.
Setiap pemeriksaan memiliki kebutuhan stabilitas yang berbeda.
Asam borat, formalin, asam klorida, dan sistem preservasi lainnya memiliki kegunaan serta keterbatasan masing-masing.
Bagi TLM, prinsip yang paling penting adalah:
Jangan memilih pengawet berdasarkan kebiasaan. Pilih berdasarkan analit dan metode pemeriksaan.
Karena tujuan preservasi bukan sekadar membuat urine “awet”.
Tujuannya adalah mempertahankan spesimen agar hasil pemeriksaan tetap merepresentasikan kondisi yang ingin diukur.

Post a Comment