Panduan Lengkap Penyimpanan Trombosit: Menjaga Kualitas Dan Viabilitas Untuk Transfusi Darah

Table of Contents
penyimpanan trombosit, trombosit, transfusi darah, viabilitas trombosit, kualitas trombosit, suhu penyimpanan trombosit, agitasi trombosit, wadah penyimpanan trombosit, pH trombosit


INFOLABMED.COM - Penyimpanan trombosit merupakan salah satu aspek krusial dalam dunia medis transfusi darah. Kualitas trombosit yang optimal sangat penting untuk memastikan efektivitas dan keamanan transfusi bagi pasien yang membutuhkan.

Artikel ini akan mengupas secara mendalam mengenai berbagai aspek penting dalam penyimpanan trombosit, mulai dari kondisi ideal, sejarah perkembangannya, hingga tantangan yang dihadapi. Memahami prinsip-prinsip dasar dan teknologi yang digunakan dalam penyimpanan trombosit adalah kunci untuk memelihara viabilitas dan fungsionalitasnya, sehingga siap digunakan saat dibutuhkan.

Dasar-Dasar Penyimpanan Trombosit yang Efektif

Trombosit, baik yang diperoleh dari darah utuh maupun komponen apheresis, secara rutin disimpan pada suhu 20°C hingga 24°C. Suhu ini dianggap sebagai suhu kamar yang optimal untuk menjaga viabilitas trombosit.

Selama proses penyimpanan, agitasi berkelanjutan (gerakan menggoyang secara terus-menerus) sangat diperlukan. Agitasi ini berfungsi untuk memastikan pertukaran oksigen yang memadai dan mencegah trombosit menggumpal, yang dapat merusak strukturnya.

Standar yang ditetapkan, misalnya oleh FDA di Amerika Serikat, menetapkan batas waktu penyimpanan hingga 5 hari, dengan tanggal kedaluwarsa dihitung pada tengah malam hari kelima. Berbagai jenis agitator, seperti agitator datar (flatbed) dan sirkular, umum digunakan untuk memenuhi kebutuhan agitasi ini.

Wadah penyimpanan juga memainkan peran penting. Di Amerika Serikat, trombosit umumnya disimpan dalam medium plasma murni, kecuali jika digunakan larutan aditif trombosit khusus yang dirancang untuk meningkatkan kualitas penyimpanan.

Meskipun ada data yang menunjukkan bahwa trombosit dapat disimpan pada suhu dingin (1°C hingga 6°C) selama 48 jam, praktik ini tidak umum dilakukan karena potensi penurunan viabilitas yang signifikan.

Perkembangan Sejarah dan Rasionalisasi Kondisi Penyimpanan Saat Ini

Sejarah penyimpanan trombosit menunjukkan evolusi yang signifikan sejak tahun 1960-an. Awalnya, para ilmuwan mengadopsi metode penyimpanan trombosit yang serupa dengan penyimpanan sel darah merah (eritrosit), yaitu pada suhu dingin (1°C hingga 6°C).

Namun, sebuah studi penting oleh Murphy dan Gardner pada tahun 1969 mengungkapkan temuan yang mengubah paradigma ini. Studi tersebut menunjukkan bahwa penyimpanan pada suhu dingin selama lebih dari 18 jam menyebabkan penurunan drastis dalam viabilitas trombosit di dalam tubuh (in vivo).

Trombosit yang disimpan dingin menunjukkan penurunan masa hidup yang signifikan setelah diinfuskan ke dalam tubuh penerima. Temuan ini menjadi dasar identifikasi bahwa suhu 20°C hingga 24°C (suhu kamar) adalah rentang suhu yang lebih disukai untuk penyimpanan trombosit, berdasarkan hasil viabilitas yang lebih baik.

Penurunan viabilitas pada penyimpanan dingin sangat terkait dengan perubahan morfologi trombosit. Trombosit yang seharusnya berbentuk cakram (discoid) berubah menjadi bentuk bulat yang tidak dapat kembali ke bentuk semula secara permanen.

Perubahan struktural ini dianggap sebagai penyebab utama efek merusak dari penyimpanan dingin. Bahkan setelah dihangatkan kembali, trombosit yang telah disimpan dingin tidak mampu kembali ke bentuk cakramnya.

Fenomena ini diperkirakan disebabkan oleh terdisosiasinya mikrotubulus, komponen penting dalam menjaga bentuk sel.

Studi-studi lanjutan mengkonfirmasi pentingnya penyimpanan pada suhu kamar dan memunculkan pemahaman tentang faktor-faktor yang memengaruhi retensi viabilitas trombosit. Salah satu faktor kunci yang teridentifikasi adalah kebutuhan akan agitasi selama penyimpanan, meskipun pada awalnya alasan di balik kebutuhan ini belum sepenuhnya dipahami.

Penelitian selanjutnya membuktikan bahwa agitasi berperan penting dalam memfasilitasi transfer oksigen ke dalam kantong trombosit dan konsumsi oksigen oleh trombosit itu sendiri. Ketersediaan oksigen yang cukup ini berkorelasi positif dengan pemeliharaan pH trombosit.

Menjaga tingkat pH yang stabil menjadi parameter krusial untuk mempertahankan viabilitas trombosit di dalam tubuh ketika disimpan pada suhu 20°C hingga 24°C.

Penurunan pH yang signifikan selama penyimpanan trombosit pada suhu kamar dapat menyebabkan penurunan viabilitas pasca-transfusi. Ketika pH turun dari kisaran awal sekitar 7 ke 6.8-6.5, terjadi penurunan viabilitas yang terukur.

Penurunan ini menjadi lebih drastis lagi ketika pH turun di bawah 6.4. Pada awalnya, standar pH yang dianggap memuaskan adalah 6.

Namun, seiring dengan ketersediaan data tambahan, standar ini kemudian ditingkatkan menjadi 6.2. Penurunan pH dari 6.8 ke 6.2 menyebabkan perubahan bentuk trombosit dari cakram menjadi bulat secara progresif.

Perubahan bentuk ini menjadi ireversibel jika pH turun di bawah 6.2.

Pada era 1970-an, ketika trombosit konsentrat dari darah utuh pertama kali disimpan, masalah utama yang dihadapi adalah penurunan pH yang signifikan dalam banyak konsentrat. Hal ini membatasi periode penyimpanan hanya sampai 3 hari.

Wadah penyimpanan yang digunakan pada masa itu diidentifikasi sebagai penyebab penurunan pH karena sifat transfer gasnya yang terbatas untuk oksigen dan karbon dioksida. Akumulasi karbon dioksida dari respirasi aerobik, serta produk akhir dari deplesi bikarbonat plasma, turut memengaruhi penurunan pH.

Sifat transport gas dari suatu wadah dipengaruhi oleh bahan pembuatnya, permeabilitas dinding plastik, luas permukaan wadah yang tersedia untuk pertukaran gas, dan ketebalan wadah. Kurangnya agitasi juga dapat berkontribusi pada penurunan pH karena agitasi memfasilitasi transportasi gas ke dalam wadah.

Inovasi Wadah Penyimpanan Generasi Kedua dan Pertimbangan Lainnya

Pemahaman mendalam mengenai faktor-faktor yang menyebabkan penurunan pH dalam wadah penyimpanan trombosit generasi pertama mendorong pengembangan wadah generasi kedua, yang mulai diperkenalkan sekitar tahun 1982. Wadah generasi kedua ini memiliki sifat transfer gas yang lebih baik, memungkinkan peningkatan masuknya oksigen dan pelepasan karbon dioksida.

Dengan wadah ini, trombosit dapat disimpan hingga 5 hari tanpa mengalami penurunan pH yang signifikan. Wadah ini kini digunakan baik untuk konsentrat trombosit dari darah utuh maupun komponen apheresis.

Secara historis, wadah penyimpanan trombosit dibuat dari plastik polivinil klorida (PVC) yang mengandung pemlastis ftalat. Wadah generasi kedua, dalam beberapa kasus, masih menggunakan PVC, namun ada juga yang menggunakan plastik poliolefin.

Untuk wadah PVC, pemlastis alternatif seperti trimellitat dan sitrat telah banyak digunakan untuk meningkatkan kemampuan transfer gas. Volume nominal wadah berkisar antara 300-400 mL untuk konsentrat trombosit dari darah utuh, dan 1-1.5 L untuk komponen apheresis.

Ukuran wadah yang lebih besar untuk komponen apheresis mencerminkan jumlah trombosit yang lebih banyak disimpan, sehingga memerlukan luas permukaan yang lebih besar untuk memastikan transport gas yang memadai guna menjaga tingkat pH mendekati level awal (sekitar 7) bahkan setelah 5 hari penyimpanan.

Terdapat beberapa faktor penting yang perlu dipertimbangkan saat menggunakan kantong penyimpanan plastik untuk trombosit selama 5 hari. Pertama, kontrol suhu pada rentang 20°C hingga 24°C adalah krusial, baik selama persiapan maupun penyimpanan trombosit.

Kedua, penanganan kantong plastik yang hati-hati saat mengekstraksi plasma bebas trombosit (platelet-poor plasma) sangat penting untuk mencegah penyebaran gumpalan trombosit dan pembuangan trombosit berlebih bersama plasma. Ketiga, volume plasma residual yang direkomendasikan untuk penyimpanan konsentrat trombosit dari darah utuh adalah antara 45 hingga 65 mL.

Keempat, untuk trombosit apheresis, luas permukaan kantong penyimpanan harus memadai untuk menampung jumlah trombosit yang akan disimpan, memastikan pertukaran gas yang optimal.

Viabilitas dan Fungsionalitas Trombosit Selama Penyimpanan

Viabilitas trombosit mengacu pada kemampuan trombosit untuk beredar di dalam tubuh setelah transfusi tanpa mengalami penghancuran atau pembuangan prematur. Trombosit memiliki masa hidup alami sekitar 8 hingga 10 hari setelah dilepaskan dari sel megakaryosit.

Proses penyimpanan, meskipun telah dioptimalkan, tetap dapat menyebabkan penurunan viabilitas. Viabilitas trombosit yang disimpan biasanya diukur dengan membandingkan jumlah trombosit sebelum dan sesudah transfusi (misalnya, pada 1 jam dan/atau 24 jam pasca-transfusi) dan menghitung peningkatan jumlah trombosit terkoreksi (corrected count increment).

Metode lain yang digunakan adalah dengan melacak laju hilangnya trombosit yang dilabeli radioaktif pada individu normal yang mendonorkan trombosit tersebut.

Fenomena visual 'swirling' yang ditunjukkan oleh trombosit berbentuk cakram ketika ditempatkan di depan sumber cahaya, telah lama digunakan sebagai metode evaluasi semi-kualitatif untuk menilai retensi viabilitas trombosit dalam unit yang disimpan. Perubahan bentuk sel dan respons terhadap kejutan hipotonik dalam uji in vitro juga memberikan indikasi mengenai kemampuan trombosit untuk mempertahankan viabilitasnya.

Fungsi trombosit didefinisikan sebagai kemampuan trombosit yang masih hidup untuk merespons kerusakan pembuluh darah dalam mempromosikan hemostasis (penghentian pendarahan). Penilaian klinis hemostasis semakin sering digunakan sebagai tolok ukur fungsionalitas trombosit.

Pemeliharaan pH selama penyimpanan pada suhu 20°C hingga 24°C telah terbukti berkorelasi positif dengan retensi viabilitas trombosit pasca-transfusi. Ini menjadi fokus utama dalam upaya peningkatan kondisi penyimpanan.

Selain viabilitas, retensi fungsionalitas trombosit selama penyimpanan juga menjadi perhatian. Secara historis, penyimpanan pada suhu kamar dianggap dapat mengurangi sifat fungsional trombosit.

Namun, pengalaman transfusi global yang luas dengan trombosit yang disimpan pada suhu kamar menunjukkan bahwa trombosit tersebut memiliki fungsi yang memadai. Ada spekulasi bahwa trombosit yang disimpan pada suhu kamar mungkin mengalami semacam 'peremajaan' atau aktivasi kembali proses-proses yang diperlukan untuk fungsi yang optimal saat masuk ke dalam sirkulasi.

Beberapa studi, terutama yang dilakukan pada tahun 1970-an, sempat menunjukkan fungsionalitas yang lebih baik pada trombosit yang disimpan dingin. Namun, hal ini mungkin mencerminkan aktivasi trombosit yang tidak diinginkan akibat penyimpanan pada suhu rendah.

Aktivasi adalah prasyarat untuk fungsi trombosit dalam hemostasis. Selama penyimpanan, aktivasi dapat terjadi dalam berbagai bentuk.

Bahkan pada penyimpanan suhu kamar, terjadi sejumlah aktivasi yang dapat dideteksi dari pelepasan protein granular seperti p-selectin (CD62) dan faktor trombosit 4, serta nukleotida adenin granular. Terdapat data yang menunjukkan bahwa inhibitor spesifik untuk proses aktivasi mungkin memiliki efek menguntungkan selama penyimpanan.

Tabel yang merangkum perubahan trombosit selama penyimpanan (lesi penyimpanan trombosit) menunjukkan bahwa, kecuali perubahan pH, efek dari perubahan in vitro terhadap kelangsungan hidup dan fungsi trombosit pasca-transfusi masih belum sepenuhnya diketahui. Beberapa perubahan ini bahkan mungkin bersifat reversibel setelah transfusi.

Penyimpanan Trombosit Tanpa Agitasi untuk Jangka Waktu Terbatas

Meskipun agitasi berkelanjutan direkomendasikan untuk penyimpanan trombosit, beberapa data menunjukkan bahwa sifat trombosit, berdasarkan studi in vitro, tetap terjaga jika agitasi dihentikan selama maksimal 24 jam dalam periode penyimpanan 5 hari. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan kemampuan wadah generasi kedua untuk mempertahankan kadar oksigen yang memadai meskipun agitasi dihentikan sementara.

Kondisi ini bisa terjadi secara inheren, misalnya saat pengiriman trombosit jarak jauh melalui kurir semalam.

FAQ (Tanya Jawab)

*1. Suhu optimal untuk menyimpan trombosit adalah antara 20°C hingga 24°C (suhu kamar).

Penyimpanan pada suhu dingin (1°C-6°C) dapat menurunkan viabilitas trombosit secara signifikan.

2. Mengapa agitasi penting dalam penyimpanan trombosit? Agitasi berkelanjutan penting untuk memastikan sirkulasi oksigen yang memadai di dalam kantong trombosit, mencegah penggumpalan, dan membantu memelihara pH yang stabil, yang semuanya krusial untuk menjaga viabilitas dan fungsionalitas trombosit.

*3. Trombosit secara rutin dapat disimpan hingga 5 hari pada suhu 20°C-24°C dengan agitasi berkelanjutan dan menggunakan wadah penyimpanan yang sesuai.

Tanggal kedaluwarsa biasanya dihitung pada tengah malam hari kelima penyimpanan.

4. Apa yang terjadi jika pH trombosit menurun selama penyimpanan? Penurunan pH yang signifikan selama penyimpanan trombosit dapat menyebabkan perubahan bentuk trombosit menjadi bulat secara ireversibel, yang berdampak pada penurunan viabilitas dan efektivitas trombosit saat ditransfusikan.

*5. Viabilitas trombosit dapat diukur dengan memantau peningkatan jumlah trombosit terkoreksi setelah transfusi, atau melalui metode pelacakan trombosit berlabel radioaktif.

Secara visual, fenomena 'swirling' juga dapat memberikan indikasi semi-kualitatif.

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment