Mungkinkah Makan Protein Lebih Sedikit Dapat Memperlambat Penuaan?
INFOLABMED.COM - Protein adalah salah satu nutrisi paling vital yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi penting, mulai dari membangun dan memperbaiki jaringan, hingga memproduksi enzim dan hormon. Ketersediaannya yang melimpah dalam berbagai produk makanan, mulai dari sereal, keripik, hingga kopi, seolah menegaskan bahwa protein adalah elemen yang selalu baik untuk dikonsumsi.
Namun, benarkah demikian? Kian banyak penelitian, terutama yang dilakukan pada hewan non-manusia, mulai menunjukkan temuan menarik: membatasi asupan protein justru berpotensi memperlambat proses penuaan dan memperpanjang usia harapan hidup.
Pertanyaannya, apakah ini berarti konsumsi protein berlebihan justru berbahaya?
"Kita memiliki persepsi bahwa asupan protein dalam makanan adalah sesuatu yang secara universal baik," ujar Dudley Lamming dari University of Wisconsin-Madison. Namun, menurut tinjauan terbaru terhadap bukti-bukti ilmiah, "meningkatkan asupan protein, melebihi kebutuhan, bagi individu atau hewan yang tidak aktif secara fisik dapat menyebabkan masalah metabolisme dan bahkan memperpendek usia harapan hidup," tambahnya.
Temuan ini tentu menimbulkan pertanyaan baru di benak banyak orang yang selama ini beranggapan bahwa semakin banyak protein yang dikonsumsi, semakin baik bagi kesehatan.
Namun, pandangan ini tidak serta-merta diterima oleh semua pihak. Beberapa peneliti menekankan bahwa studi nutrisi yang dilakukan pada hewan seperti tikus tidak selalu dapat diterjemahkan secara langsung ke manusia.
Di sisi lain, asupan protein yang tinggi justru dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan pada manusia. Perdebatan inilah yang mendorong banyak peneliti untuk menggali lebih dalam hubungan kompleks antara asupan protein, penuaan, dan kesehatan secara keseluruhan.
### Studi Pembatasan Protein pada Hewan dan Implikasinya
Dalam upaya memahami lebih lanjut, Lamming dan timnya telah meninjau lebih dari 300 studi. Mayoritas penelitian ini berfokus pada hewan pengerat yang tidak aktif secara fisik, dan mengeksplorasi bagaimana pembatasan asupan protein hingga tingkat minimum yang diperlukan untuk mencegah defisiensi memengaruhi proses penuaan dan usia harapan hidup.
Dalam studi-studi ini, hewan pengerat umumnya diberi dua jenis diet: satu setara dengan rekomendasi minimum asupan protein menurut pedoman Amerika Serikat (0,8 gram protein per kilogram berat badan), dan yang lainnya sekitar dua kali lipatnya. Asupan yang lebih tinggi ini mirip dengan rekomendasi pedoman diet AS terbaru untuk kesehatan optimal, yaitu 1,2 hingga 1,6 gram protein per kilogram berat badan.
Hasilnya cukup mencengangkan. Salah satu studi menemukan bahwa tikus yang mengonsumsi protein mendekati batas minimum hidup hampir 120 hari lebih lama, atau lebih dari 50 persen lebih lama, dibandingkan dengan tikus yang mengonsumsi protein dua kali lipatnya.
Mekanisme di balik fenomena ini diduga terkait dengan peningkatan kadar hormon FGF21. Pada hewan pengerat, hormon ini bekerja pada otak, jaringan lemak, dan hati untuk meningkatkan kadar gula darah serta mengurangi jumlah sel senescent.
Sel senescent adalah sel yang telah berhenti membelah diri dan seringkali terakumulasi seiring bertambahnya usia, menyebabkan peradangan kronis yang berkontribusi pada proses penuaan.
Lebih lanjut, pembatasan asupan protein juga terbukti dapat menekan aktivitas protein yang disebut mTORC1 pada tikus. mTORC1 secara normal merangsang pertumbuhan sel, namun mengurangi aktivitasnya diketahui dapat meningkatkan perbaikan seluler.
"Ini pada dasarnya mengalihkan sel dari kondisi proliferatif, di mana sel tumbuh dan menggunakan banyak metabolisme, ke kondisi di mana sel membelah lebih lambat, jika sama sekali, dan fokus pada perbaikan," jelas Lamming. Studi-studi menunjukkan bahwa mekanisme ini dapat mengurangi risiko kondisi yang berkaitan dengan usia dan memperpanjang usia harapan hidup pada tikus.
### Perdebatan Translasi pada Manusia
Temuan-temuan dari studi hewan ini mengarah pada kesimpulan bahwa tren peningkatan asupan protein belakangan ini mungkin tidak menjadi masalah bagi individu yang aktif secara fisik, karena mereka mungkin memerlukan lebih banyak protein untuk memperbaiki kerusakan otot. Namun, bagi individu yang tidak aktif, konsumsi protein yang berlebihan justru berpotensi menimbulkan kerugian.
Meskipun demikian, pandangan ini tidak sepenuhnya tanpa sanggahan.
Donald Layman dari University of Illinois Urbana-Champaign menyoroti perbedaan signifikan dalam metabolisme protein antara hewan pengerat dan manusia. Sebagai contoh, mTORC1 diaktifkan oleh makanan.
Sementara manusia cenderung makan beberapa kali makan besar dalam sehari, hewan pengerat cenderung makan dalam porsi kecil namun lebih sering. Perbedaan pola makan ini berpotensi memengaruhi jalur mTORC1 secara berbeda pada kedua spesies tersebut.
Selain itu, manusia lebih terpapar pada faktor-faktor yang mempercepat penuaan, seperti infeksi dan panas ekstrem, dibandingkan hewan laboratorium.
Yang lebih penting lagi, tinjauan yang dilakukan Lamming tidak mencakup sebagian besar studi pada manusia yang menunjukkan bahwa peningkatan asupan protein di luar batas minimum justru dapat mengurangi risiko kerapuhan (frailty) seiring bertambahnya usia. Lamming menyatakan bahwa tidak ada studi yang sengaja dihilangkan; fokus tinjauan tersebut adalah pada pembatasan protein, bukan pada banyak studi yang meneliti tingkat asupan protein yang lebih tinggi.
Ia mengakui bahwa di luar fungsi membangun otot dan mencegah kerapuhan, bukti mengenai manfaat asupan protein yang lebih tinggi terhadap penuaan masih beragam.
### Protein, Penuaan, dan Manusia
Ada studi yang mengaitkan asupan protein yang lebih tinggi dengan penurunan risiko kehilangan massa otot terkait usia, atau sarkopenia, pada lansia di Inggris. Namun, tingkat sarkopenia yang rendah dalam studi tersebut membuat hubungan ini dianggap kurang reliabel oleh beberapa ahli.
Meskipun demikian, beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa membatasi asupan asam amino tertentu, seperti isoleusin dan valin (yang banyak terkandung dalam daging, ikan, dan produk susu), pada tikus menunjukkan efek serupa dengan membatasi asupan protein secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya jumlah total protein, tetapi juga komposisi asam aminonya mungkin berperan dalam proses penuaan.
Perlu dicatat bahwa kebutuhan protein setiap individu bisa berbeda, tergantung pada usia, tingkat aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan tujuan spesifik seperti membangun massa otot atau pemulihan pasca-olahraga. Sementara penelitian pada hewan memberikan wawasan yang berharga, penting untuk mengonsultasikan dengan profesional kesehatan atau ahli gizi sebelum membuat perubahan signifikan pada pola makan, terutama terkait pembatasan asupan protein secara drastis.
Kehati-hatian dan pendekatan yang personal adalah kunci untuk memastikan diet yang seimbang dan mendukung kesehatan jangka panjang.
### Tanya Jawab Seputar Protein dan Penuaan
Q1: Apakah semua orang perlu mengurangi asupan protein untuk memperlambat penuaan?
A1: Tidak, tidak semua orang. Studi yang ada sebagian besar dilakukan pada hewan yang tidak aktif.
Bagi individu yang aktif secara fisik, protein tetap penting untuk perbaikan otot. Kebutuhan protein bervariasi tergantung pada faktor individu.
Q2: Bagaimana protein yang berlebihan dapat berbahaya bagi kesehatan?
A2: Bagi individu yang tidak aktif, protein berlebihan dapat menyebabkan masalah metabolisme dan berpotensi memperpendek usia harapan hidup, meskipun penelitian lebih lanjut pada manusia masih diperlukan untuk mengkonfirmasi hal ini secara pasti.
Q3: Selain jumlah total, apakah jenis protein yang dikonsumsi penting terkait penuaan?
A3: Ya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa membatasi asupan asam amino tertentu yang banyak terdapat dalam sumber protein hewani dapat memberikan efek serupa dengan pembatasan protein total dalam memperlambat penuaan pada hewan.
Q4: Apa rekomendasi umum untuk asupan protein bagi orang dewasa?
A4: Rekomendasi umum untuk orang dewasa yang tidak aktif adalah sekitar 0,8 gram protein per kilogram berat badan. Namun, pedoman yang lebih baru untuk kesehatan optimal menyarankan antara 1,2 hingga 1,6 gram per kilogram berat badan, terutama jika Anda aktif.
Q5: Kapan sebaiknya saya berkonsultasi dengan ahli gizi mengenai asupan protein saya?
A5: Anda sebaiknya berkonsultasi dengan ahli gizi jika Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu, berencana untuk melakukan perubahan diet yang signifikan, atau ingin memastikan asupan protein Anda optimal untuk tujuan kesehatan jangka panjang Anda.
Post a Comment