Mitos Kerokan Saat Masuk Angin: Apakah Aman Menurut Panduan Dokter?

Table of Contents
mitos kerokan saat masuk angin apakah aman menurut panduan dokter
Mitos Kerokan Saat Masuk Angin: Apakah Aman Menurut Panduan Dokter?

INFOLABMED.COM - Di Indonesia, kerokan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat saat merasa tidak enak badan atau 'masuk angin'. Meskipun zaman telah berkembang pesat dengan kemajuan teknologi medis, metode pengobatan tradisional ini tetap bertahan dan dipercaya secara turun-temurun. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah praktik kerokan ini benar-benar aman menurut panduan dokter, atau justru berisiko bagi kesehatan tubuh?

Masuk angin sendiri bukanlah istilah medis yang dikenal dalam kedokteran barat, melainkan istilah lokal untuk sekumpulan gejala seperti kembung, pusing, mual, dan pegal-pegal. Kerokan dilakukan dengan cara mengerik kulit menggunakan benda tumpul seperti koin atau sendok hingga timbul guratan merah. Banyak orang merasa tubuhnya lebih ringan setelah melakukan kerokan, namun klaim ini perlu ditelaah dari perspektif ilmiah.

Mengenal Mekanisme Kerokan dalam Pandangan Medis

Secara medis, kerokan sebenarnya bekerja melalui mekanisme yang mirip dengan teknik pijat atau akupresur. Gesekan berulang pada kulit menyebabkan dilatasi (pelebaran) pembuluh darah kapiler di bawah permukaan kulit. Proses ini meningkatkan sirkulasi darah di area yang dikerik dan memicu pelepasan hormon endorfin, yang merupakan pereda nyeri alami tubuh. Inilah sebabnya mengapa banyak orang merasa rileks dan rasa nyeri otot berkurang setelah dikerok.

Penelitian mengenai kerokan, yang terkadang disebut sebagai Gua Sha dalam pengobatan tradisional Tiongkok, menunjukkan bahwa praktik ini dapat memberikan efek relaksasi otot. Namun, dokter menekankan bahwa ini bukanlah penyembuh penyakit utama, melainkan tindakan pendukung untuk meredakan gejala ketidaknyamanan sementara. Penting untuk dipahami bahwa kerokan tidak membuang 'angin' dari dalam tubuh seperti mitos yang selama ini beredar, melainkan merangsang respons saraf dan aliran darah.

Risiko dan Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Mengenal Mekanisme Kerokan dalam Pandangan Medis

Meskipun sering dianggap sebagai solusi praktis, dokter memperingatkan adanya risiko jika kerokan dilakukan secara berlebihan atau dengan teknik yang salah. Risiko yang paling umum adalah iritasi kulit. Penggunaan alat yang tidak steril dapat memicu risiko infeksi bakteri atau virus, terutama jika kulit mengalami luka terbuka akibat gesekan yang terlalu keras.

Selain itu, terdapat batasan yang jelas bagi mereka yang tidak disarankan melakukan kerokan. Individu dengan gangguan pembekuan darah atau mereka yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah harus sangat berhati-hati. Kerokan yang terlalu intens dapat menyebabkan memar atau pecahnya pembuluh darah halus secara berlebihan. Pasien dengan kondisi medis tertentu, seperti diabetes, juga harus menghindari kerokan karena kulit mereka cenderung lebih lambat dalam proses penyembuhan, sehingga risiko infeksi menjadi jauh lebih tinggi.

Panduan Aman Jika Ingin Melakukan Kerokan

Jika Anda memutuskan untuk tetap menggunakan metode kerokan sebagai cara meredakan gejala masuk angin, para ahli memberikan panduan agar praktik tersebut dilakukan dengan aman. Pertama, pastikan alat yang digunakan, seperti koin atau sendok, dalam keadaan bersih atau disterilkan terlebih dahulu dengan alkohol.

Kedua, gunakan pelumas seperti minyak zaitun, minyak kelapa, atau minyak urut untuk meminimalisir gesekan kasar pada permukaan kulit. Jangan menekan terlalu keras; cukup lakukan dengan tekanan lembut hingga kulit tampak kemerahan. Jangan pernah melakukan kerokan pada area leher depan, area yang terdapat luka, ruam, atau di atas tulang yang menonjol secara ekstrem. Jika gejala masuk angin tidak kunjung membaik setelah beberapa hari, atau disertai demam tinggi dan sesak napas, segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan yang lebih akurat.

Pada akhirnya, kerokan adalah praktik budaya yang bisa memberikan kelegaan bagi sebagian orang. Namun, memposisikannya sebagai terapi pelengkap—bukan pengganti pengobatan utama—adalah langkah bijak agar kita tetap bisa menjaga kesehatan secara optimal tanpa mengabaikan keselamatan medis.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah kerokan bisa menyembuhkan masuk angin secara total?

Tidak. Kerokan hanya membantu meredakan gejala nyeri otot dan memberikan efek relaksasi melalui pelebaran pembuluh darah, namun tidak menyembuhkan penyebab dasar penyakit.

Mengapa kulit menjadi merah setelah dikerok?

Warna merah tersebut disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah kapiler di bawah permukaan kulit akibat gesekan, yang merupakan reaksi alami tubuh terhadap stimulasi fisik.

Siapa saja yang dilarang keras melakukan kerokan?

Penderita gangguan pembekuan darah, pengguna obat pengencer darah, penderita diabetes dengan luka terbuka, dan orang dengan kondisi kulit sensitif atau infeksi kulit sebaiknya menghindari kerokan.

Bolehkah melakukan kerokan pada anak-anak?

Dokter umumnya tidak menyarankan kerokan pada anak-anak karena kulit mereka jauh lebih tipis dan sensitif dibandingkan orang dewasa, sehingga risiko iritasi dan luka jauh lebih besar.

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment