Mengatasi Kontaminasi Bakteri Dalam Penyimpanan Trombosit: Panduan Lengkap
INFOLABMED.COM - Penyimpanan trombosit, komponen darah vital untuk mengontrol pendarahan, menghadapi tantangan signifikan terkait potensi kontaminasi bakteri. Suhu penyimpanan trombosit yang direkomendasikan, yaitu 20°C hingga 24°C, meskipun optimal untuk viabilitas trombosit, juga dapat menjadi lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan bakteri.
Sumber kontaminasi dapat berasal dari berbagai tahap, mulai dari lokasi tusukan vena saat pengambilan darah (phlebotomy), infeksi bakteri yang tidak terdeteksi pada donor, hingga kontaminasi lingkungan selama proses pengolahan dan penyimpanan. Kondisi suhu ruangan dan ketersediaan oksigen sangat mendukung proliferasi bakteri.
Komplikasi infeksius pasca-transfusi trombosit yang paling umum dan mengkhawatirkan adalah sepsis akibat kontaminasi bakteri. Studi berskala besar yang dilakukan oleh American Red Cross (ARC) antara tahun 2004 hingga 2006 mendeteksi bakteri dalam 186 dari 1.004.206 donasi, yang berarti tingkat kontaminasi sekitar 1 banding 5.400.
Meskipun angka sepsis pada pasien jauh lebih rendah, fakta bahwa beberapa kasus sepsis telah menyebabkan kematian pasien menjadi sangat mengkhawatirkan. Diperkirakan, 10% hingga 40% pasien yang menerima unit trombosit terkontaminasi bakteri dapat mengalami sepsis yang mengancam jiwa.
Sebagai respons terhadap risiko serius ini, pada tahun 2002, College of American Pathologists (CAP) mengeluarkan persyaratan bagi laboratorium untuk memiliki metode skrining kontaminasi bakteri pada trombosit. AABB menyusul dengan persyaratan serupa pada tahun 2004, menekankan pentingnya keamanan produk darah bagi pasien.
Metode Skrining Kontaminasi Bakteri pada Trombosit
Untuk mengatasi ancaman kontaminasi bakteri, berbagai sistem skrining telah dikembangkan dan disetujui oleh badan regulasi seperti FDA. Saat ini, terdapat tiga sistem komersial utama yang digunakan untuk skrining trombosit: BacT/ALERT (bioMérieux), eBDS (Pall Corp.), dan Scansystem (Hemosystem).
Sistem BacT/ALERT dan eBDS beroperasi berdasarkan prinsip kultur bakteri. Mengingat bahwa jumlah bakteri pada saat pengumpulan darah mungkin sangat rendah, pengambilan sampel untuk pengujian ini biasanya dilakukan setelah setidaknya 24 jam penyimpanan.
Periode inkubasi ini memberikan waktu bagi bakteri yang mungkin ada untuk berkembang biak hingga mencapai level yang dapat dideteksi. BacT/ALERT mendeteksi pertumbuhan bakteri dengan mengukur perubahan kadar karbon dioksida yang diasosiasikan dengan metabolisme bakteri.
Sistem ini menyediakan pemantauan berkelanjutan terhadap botol kultur yang berisi sampel trombosit, yang dijaga selama masa simpan unit trombosit atau hingga reaksi positif terdeteksi. Sementara itu, sistem eBDS bekerja dengan mengukur kadar oksigen di dalam kantong sampel setelah masa inkubasi 18 hingga 30 jam.
Penurunan kadar oksigen mengindikasikan adanya pertumbuhan bakteri. Kedua sistem, BacT/ALERT dan eBDS, merupakan metode yang paling umum digunakan di Amerika Serikat untuk skrining trombosit.
Berbagai studi telah mendokumentasikan sensitivitas dan spesifisitas yang baik dari kedua sistem ini, namun, perlu dicatat bahwa hasil positif palsu atau negatif palsu tetap dapat terjadi, meskipun jarang.
Salah satu keterbatasan utama dari kedua sistem berbasis kultur ini adalah adanya jeda waktu yang diperlukan untuk inkubasi sebelum hasil dapat dikeluarkan. Hal ini menyebabkan penundaan dalam memasukkan produk trombosit ke dalam inventaris yang siap didistribusikan.
Selain itu, metode kultur secara umum memiliki beberapa kelemahan yang perlu dipertimbangkan, antara lain hilangnya sebagian produk karena pengambilan sampel, penundaan rilis produk yang memperpendek masa simpan trombosit yang sudah terbatas, potensi hasil negatif palsu, biaya yang relatif tinggi, serta tantangan logistik dalam melakukan kultur untuk trombosit yang berasal dari sumbangan darah utuh (Whole Blood Derived - WBD).
Metode deteksi bakteri ketiga yang disetujui oleh FDA adalah Scansystem, sebuah metode berbasis laser yang menggunakan teknologi pemindaian sitometri. Di Amerika Serikat, 100% trombosit apheresis diuji oleh fasilitas pengumpul menggunakan metode berbasis kultur.
Namun, untuk trombosit WBD, skrining setiap unit secara individual dengan metode kultur seringkali dianggap memakan waktu, mahal, dan menghabiskan sebagian besar produk. Akibatnya, metode yang kurang sensitif seperti pewarnaan Gram dan tes celup untuk pH dan glukosa awalnya digunakan.
Namun, karena metode-metode ini hanya memiliki sensitivitas sekitar 50%, banyak layanan transfusi memilih untuk tidak menggunakan trombosit WBD, yang pada gilirannya menyulitkan beberapa bank darah untuk memenuhi permintaan trombosit apheresis dan menyebabkan underutilisasi trombosit WBD.
Inovasi dalam Skrining Trombosit: PGD Test
Menyadari kebutuhan akan metode skrining yang lebih cepat dan sensitif, pada November 2009, FDA menyetujui tes cepat pertama untuk mendeteksi bakteri dalam trombosit WBD, yaitu Pan Genera Detection (PGD) test (Verax Biomedical). PGD test, yang sebelumnya telah disetujui oleh FDA sebagai pelengkap kultur untuk pengujian trombosit yang dikurangi leukositnya, merupakan immunoassay yang mendeteksi asam lipoteikoat pada bakteri Gram-positif dan lipopolisakarida pada bakteri Gram-negatif.
Tes ini mampu mendeteksi baik bakteri aerob maupun anaerob. Keunggulan PGD test adalah kemampuannya untuk dilakukan pada kumpulan (pool) hingga 6 unit trombosit WBD, hanya membutuhkan sampel sekecil 500 µl.
Setelah pra-perlakuan, sampel dimasukkan ke dalam kartrid plastik sekali pakai yang dilengkapi kontrol internal. Perubahan warna dari kuning menjadi biru-violet menandakan tes siap dibaca, yang biasanya memakan waktu sekitar 20 menit.
Munculnya garis berwarna merah muda pada jendela tes Gram-positif atau Gram-negatif menunjukkan hasil positif. Produsen mengklaim sistem ini memiliki spesifisitas 99,8% dan dapat mendeteksi bakteri pada konsentrasi 10³ hingga 10⁵ colony-forming units (CFU) per mililiter.
Kelebihan PGD test adalah dapat dilakukan oleh layanan transfusi sesaat sebelum produk trombosit dirilis. Waktu optimal untuk pengambilan sampel adalah setidaknya 72 jam setelah pengumpulan.
Dengan tersedianya metode yang cepat dan sensitif untuk skrining trombosit WBD, AABB mengeluarkan Interim Standard 5.1.5.1.1 yang melarang penggunaan metode yang kurang sensitif (mikroskopi, pH, glukosa) setelah 31 Januari 2011. Layanan transfusi kini diwajibkan untuk mendapatkan trombosit dari fasilitas pengumpul yang melakukan tes yang disetujui untuk kontaminasi bakteri, atau melakukan tes yang disetujui itu sendiri.
Hingga saat ini, tes yang disetujui mencakup kultur bakteri atau Verax PGD test. Meskipun metode skrining telah berkembang pesat, praktik skrining trombosit untuk kontaminasi bakteri belum sepenuhnya menghilangkan risiko transfusi produk yang terkontaminasi.
Hasil kultur negatif palsu dapat terjadi ketika jumlah bakteri rendah atau jika patogennya tumbuh lambat. American Red Cross melaporkan 20 reaksi transfusi sepsis dari tahun 2004 hingga 2006 setelah transfusi trombosit yang hasil kulturnya negatif.
Mayoritas reaksi sepsis disebabkan oleh Staphylococcus spp., dan sebagian besar terjadi pada produk yang ditransfusikan pada hari kelima pasca-pengumpulan. Tiga dari reaksi ini berakibat fatal, menunjukkan tingkat kematian 1 per 498.711 produk yang didistribusikan.
Strategi Pencegahan Tambahan dan Inovasi Penyimpanan
Mengingat metode skrining yang ada belum 100% sensitif, perlu dilengkapi dengan tindakan pencegahan tambahan. Wawancara donor yang cermat dan disinfeksi lengan donor yang benar tetap menjadi lini pertahanan pertama.
Pendekatan yang lebih baru adalah dengan mengalihkan aliquot pertama darah yang terkumpul (sekitar 20-30 mL) ke dalam kantong pemisah (diversion pouch) yang terhubung. Prosedur ini meminimalkan masuknya sumbatan kulit, yang merupakan sumber paling umum kontaminasi bakteri, ke dalam produk trombosit.
Survei Nasional Pengumpulan dan Pemanfaatan Darah tahun 2007 menemukan bahwa 50,4% fasilitas pengumpul darah menggunakan alat pengalih untuk pengumpulan trombosit apheresis, dan satu studi menemukan bahwa penggunaan alat pengalih ini mengurangi kontaminasi bakteri sebesar 40% hingga 88%.
Dalam pandangan kemampuan pengujian kontaminasi bakteri, penggunaan kantong pengalih, dan instrumen docking steril, minat kini tertuju pada kemampuan untuk menyimpan kumpulan trombosit (pooled platelets) hingga batas kedaluwarsa konsentrat individu. Kemampuan trombosit untuk mempertahankan kualitasnya selama penyimpanan dalam bentuk kumpulan telah ditunjukkan dalam beberapa studi.
Secara tradisional, empat hingga enam unit trombosit WBD digabungkan ke dalam satu kantong oleh layanan transfusi sesaat sebelum dikeluarkan. Ini memfasilitasi transfusi tetapi mengurangi masa simpan trombosit menjadi hanya 4 jam, karena proses penggabungan dilakukan dalam sistem terbuka.
Pada tahun 2005, FDA menyetujui penggunaan trombosit yang digabungkan sebelum penyimpanan (prestorage pooled platelets) yang diproduksi oleh Acrodose Systems (Pall Corp.). Trombosit Acrodose adalah trombosit WBD yang dicocokkan ABO, dikurangi leukositnya, digabungkan, telah dikultur, dan siap untuk transfusi.
Karena diproduksi dalam sistem tertutup, trombosit ini dapat disimpan selama 5 hari sejak pengumpulan. Produk ini memberikan dosis terapeutik yang setara dengan trombosit apheresis dengan biaya lebih rendah, namun memang mengekspos penerima pada beberapa donor.
Sebuah studi terbaru yang membandingkan reaksi transfusi dari prestorage-pooled platelets, apheresis platelets, dan poststorage-pooled WBD platelets tidak menemukan perbedaan dalam tingkat reaksi di antara berbagai produk tersebut. Prestorage-pooled platelets dapat menjadi tambahan yang berguna untuk trombosit apheresis yang seringkali stoknya terbatas, dan berpotensi meningkatkan pemanfaatan trombosit WBD.
FAQ (Tanya Jawab):
1. Risiko utama adalah sepsis, infeksi serius yang dapat mengancam jiwa, yang terjadi ketika bakteri dari trombosit yang terkontaminasi masuk ke dalam aliran darah pasien.
Dalam beberapa kasus, kontaminasi ini dapat berujung pada kematian.
2. Kedua sistem ini bersifat berbasis kultur.
BacT/ALERT mendeteksi pertumbuhan bakteri dengan memantau perubahan kadar karbon dioksida. Sementara itu, eBDS mengukur penurunan kadar oksigen di dalam kantong sampel setelah masa inkubasi, yang menandakan adanya metabolisme bakteri.
3. PGD Test menawarkan skrining yang jauh lebih cepat (sekitar 20 menit) dan dapat mendeteksi berbagai jenis bakteri (Gram-positif dan Gram-negatif, aerob dan anaerob).
Selain itu, PGD Test membutuhkan sampel yang lebih sedikit dan dapat digunakan untuk menguji kumpulan beberapa unit trombosit WBD sekaligus.
4. Selain metode skrining, tindakan pencegahan apa lagi yang penting untuk mencegah kontaminasi bakteri pada trombosit? Pencegahan dini sangat penting, termasuk wawancara donor yang ketat, disinfeksi lengan donor yang benar, dan penggunaan kantong pemisah (diversion pouch) untuk meminimalkan kontaminasi dari kulit.
Post a Comment