Memahami Platelet Storage Lesion: Tantangan Dan Solusi Dalam Penyimpanan Trombosit
INFOLABMED.COM - Penyimpanan trombosit, atau platelet, masih menjadi salah satu tantangan terbesar bagi bank darah. Keterbatasan dalam proses penyimpanannya seringkali berujung pada pemborosan yang signifikan.
Di Amerika Serikat, misalnya, dengan batas penyimpanan trombosit yang hanya 5 hari, diperkirakan sekitar 30% dari total persediaan trombosit harus dibuang, baik oleh pemasok darah maupun bank darah rumah sakit. Situasi ini dipicu oleh dua alasan utama: kontaminasi bakteri pada suhu inkubasi 22°C dan penurunan kualitas trombosit selama penyimpanan, fenomena yang dikenal sebagai *Platelet Storage Lesion* (PSL) atau Lesi Penyimpanan Trombosit.
Selama penyimpanan, trombosit mengalami berbagai perubahan. Tingkat aktivasi trombosit yang bervariasi terjadi, mengakibatkan pelepasan beberapa granula intraseluler dan penurunan kadar ATP dan ADP.
Aktivasi trombosit ini seringkali memicu agregasi trombosit sementara menjadi gumpalan besar. Untuk membalikkan agregasi ini, trombosit perlu 'beristirahat', terutama jika konsentrat trombosit (PC) disiapkan menggunakan metode plasma kaya trombosit (PRP).
Pemahaman mendalam mengenai mekanisme ini krusial untuk mengoptimalkan kualitas trombosit yang didonasikan.
Penurunan Oksigen dan Perubahan Metabolik Trombosit
Salah satu faktor utama yang memicu perubahan dalam trombosit selama penyimpanan adalah penurunan tekanan oksigen (pO2) di dalam kantong penyimpanan plastik. Kondisi hipoksia ini mendorong trombosit untuk meningkatkan laju glikolisis, sebagai upaya mengkompensasi penurunan regenerasi ATP dari metabolisme oksidatif (siklus TCA).
Peningkatan glikolisis ini berakibat pada peningkatan konsumsi glukosa dan produksi asam laktat yang lebih banyak. Peningkatan asam laktat ini memerlukan penyangga (buffer) untuk menetralkannya, yang pada akhirnya menyebabkan penurunan pH.
Dalam penyimpanan konsentrat trombosit dalam plasma, penyangga utama yang berperan adalah bikarbonat. Ketika cadangan bikarbonat habis selama penyimpanan, pH akan menurun drastis hingga di bawah 6,2.
Nilai pH yang rendah ini sangat erat kaitannya dengan hilangnya viabilitas trombosit, atau kemampuan trombosit untuk tetap hidup dan berfungsi. Lebih lanjut, ketika pH turun di bawah 6,2, trombosit akan membengkak dan mengalami transformasi morfologi dari bentuk cakram (discoid) menjadi bulat (sphere).
Perubahan bentuk ini disertai dengan hilangnya integritas membran sel trombosit. Akibatnya, trombosit menjadi bengkak secara ireversibel, menggumpal bersama, atau bahkan lisis (pecah).
Trombosit yang mengalami kerusakan ini, ketika ditransfusikan, tidak akan bersirkulasi dengan baik atau berfungsi sebagaimana mestinya dalam tubuh pasien.
Secara umum, pH trombosit akan tetap stabil selama penyimpanan asalkan produksi asam laktat tidak melebihi kapasitas penyangga yang tersedia dalam plasma atau larutan penyimpanan lainnya. Namun, menjaga keseimbangan ini adalah tantangan berkelanjutan yang dihadapi oleh bank darah.
Inilah mengapa pemahaman tentang *Platelet Storage Lesion* menjadi sangat penting.
Dampak Platelet Storage Lesion pada Kualitas dan Fungsi Trombosit
Platelet Storage Lesion* secara langsung berkontribusi pada hilangnya kualitas dan viabilitas trombosit. Saat trombosit mengalami degradasi selama penyimpanan, membran sel mereka kehilangan kemampuan untuk mempertahankan asimetri lipid normal.
Akibatnya, fosfatidilserin (PS) yang seharusnya berada di lapisan dalam membran sel, kini terekspos di permukaan luar membran. Fenomena ini dapat dideteksi menggunakan teknik seperti *flow cytometry* dengan mengikatkan *annexin V*, protein yang memiliki afinitas tinggi terhadap fosfolipid bermuatan negatif seperti PS.
Pengukuran ekspresi PS ini menjadi salah satu indikator hilangnya integritas membran trombosit.
Selain itu, *flow cytometry* juga digunakan untuk mengukur proses degranulasi trombosit selama penyimpanan. Deteksi ekspresi penanda permukaan seperti CD62P (P-selectin) atau CD63 pada trombosit menunjukkan pelepasan isi granula sel.
Pengukuran *marker* spesifik dari granula-α trombosit, seperti β-tromboglobulin dan *platelet factor 4* (PF4), juga dapat digunakan untuk menilai tingkat degranulasi selama penyimpanan. Secara umum, pengukuran kontrol kualitas yang diwajibkan oleh berbagai organisasi akreditasi untuk konsentrat trombosit meliputi volume konsentrat trombosit, jumlah trombosit per unit, pH unit, dan jumlah leukosit residual (jika diklaim bebas leukosit).
Sebelum didistribusikan ke rumah sakit, seringkali dilakukan inspeksi visual yang mencakup penilaian terhadap 'kemilau trombosit' (*platelet swirl*). Ketiadaan *platelet swirl* ini seringkali diasosiasikan dengan hilangnya integritas membran sel selama penyimpanan, yang menyebabkan hilangnya bentuk cakram dan transformasi ireversibel menjadi bentuk bulat.
Berbagai uji *in vitro* juga telah dikorelasikan dengan kelangsungan hidup trombosit *in vivo*, seperti pH, perubahan bentuk, respons terhadap syok hipotonik, produksi laktat, dan pO2. Pemahaman akan indikator-indikator ini membantu bank darah untuk memastikan kualitas trombosit yang disalurkan.
Penggunaan Klinis Trombosit dan Inovasi dalam Penyimpanan
Komponen trombosit memiliki peran krusial dalam pengobatan perdarahan yang terkait dengan trombositopenia, yaitu penurunan jumlah trombosit yang signifikan. Efektivitas trombosit yang ditransfusikan biasanya diperkirakan berdasarkan *corrected count increment* (CCI) yang diukur setelah transfusi.
Penting untuk dicatat bahwa CCI hanya menilai jumlah trombosit, bukan fungsi fungsional dari trombosit yang ditransfusikan.
Trombosit juga ditransfusikan secara profilaksis untuk meningkatkan jumlah trombosit bersirkulasi pada pasien hematologi-onkologi yang mengalami trombositopenia, guna mencegah perdarahan sekunder akibat terapi obat dan radiasi. Selain itu, trombosit juga digunakan dalam beberapa kasus untuk mengobati kelainan lain di mana trombosit secara kualitatif atau kuantitatif mengalami defek karena alasan genetik.
Pemilihan terapi trombosit harus mempertimbangkan kondisi spesifik pasien dan kualitas trombosit yang tersedia.
Pada era 1950-an dan 1960-an, transfusi trombosit masih diberikan dalam bentuk darah utuh segar atau plasma kaya trombosit. Komplikasi utama dari metode pemberian ini adalah kelebihan cairan (circulatory overload).
Sejak tahun 1970-an, trombosit mulai diproses sebagai konsentrat, dengan volume per unit yang lebih kecil (sekitar 50 mL) dibandingkan dengan unit plasma kaya trombosit (250-300 mL). Saat ini, trombosit diproduksi sebagai konsentrat dari darah utuh dan semakin banyak melalui proses afaresis.
Data dari survei nasional di Amerika Serikat menunjukkan bahwa hanya 17% dosis trombosit yang berasal dari darah utuh pada tahun 2007. Meskipun demikian, trombosit tetap menjadi sarana utama pengobatan trombositopenia, meskipun responsivitas terapeutik dapat bervariasi tergantung pada kondisi pasien dan konsekuensi yang belum sepenuhnya dipahami dari kondisi penyimpanan trombosit.
Upaya untuk mengatasi *Platelet Storage Lesion* terus dilakukan, termasuk pengembangan media penyimpanan yang lebih baik, penggunaan aditif, modifikasi suhu penyimpanan, dan pengembangan teknologi pemantauan kualitas trombosit secara real-time. Penelitian di bidang ini sangat vital untuk memastikan ketersediaan trombosit yang berkualitas tinggi dan aman bagi pasien yang membutuhkannya, sekaligus meminimalkan pemborosan stok darah.
Post a Comment