Leukosit di Feses: Penanda Penting Infeksi Bakteri dan Peradangan Usus yang Wajib Dikenali
INFOLABMED.COM – Leukosit di feses atau sel darah putih dalam tinja adalah temuan yang tidak normal dan menjadi penanda penting adanya proses peradangan pada saluran pencernaan . Pemeriksaan ini membantu dokter membedakan penyebab diare, apakah disebabkan oleh infeksi bakteri invasif atau kondisi non-inflamasi seperti infeksi virus dan parasit.
Mengapa Leukosit Bisa Muncul di Feses?
Secara normal, leukosit tidak ditemukan dalam feses . Keberadaan sel darah putih dalam tinja menandakan adanya peradangan pada mukosa usus akibat infeksi atau invasi jaringan . Leukosit muncul sebagai respons sistem imun terhadap mikroorganisme yang menyerang dinding usus.
| Penyebab Umum Leukosit di Feses | Contoh Patogen / Kondisi |
|---|---|
| Infeksi Bakteri Invasif | Shigella, Salmonella, Campylobacter, Yersinia, E. coli invasif |
| Infeksi Toksigenik | Clostridium difficile (toksin merusak mukosa) |
| Penyakit Radang Usus | Kolitis ulseratif, Penyakit Crohn |
| Lainnya | Kolitis amebiasis, abses kolon, demam tifoid (monosit) |
Infeksi virus, kolera, dan parasit seperti Giardia biasanya tidak menyebabkan leukosit di feses karena patogen ini tidak menginvasi mukosa usus secara langsung .
Interpretasi Hasil Pemeriksaan Leukosit Feses
Pemeriksaan leukosit feses biasanya dilakukan dengan pewarnaan metilen biru pada sampel tinja segar . Hasil dilaporkan secara semi-kuantitatif berdasarkan jumlah neutrofil per lapang pandang besar (LPB) :
| Hasil | Jumlah Neutrofil / LPB | Interpretasi |
|---|---|---|
| Negatif | 0 | Tidak ada peradangan signifikan |
| Rare / Jarang | <1 | Bisa normal, atau awal infeksi |
| Few / Sedikit | 1 | Peradangan ringan |
| Occasional | 2-4 | Peradangan sedang |
| Moderate | 5-10 | Peradangan aktif |
| Many / Banyak | >10 | Peradangan berat |
Penting: Hasil negatif tidak sepenuhnya menyingkirkan diagnosis infeksi bakteri atau peradangan. Leukosit dapat cepat rusak dalam sampel yang disimpan terlalu lama atau terdistribusi tidak merata dalam tinja .
Keterbatasan Pemeriksaan dan Perkembangan Terbaru
Meskipun berguna, pemeriksaan leukosit feses memiliki sensitivitas yang terbatas—hanya sekitar 65-70% untuk mendeteksi infeksi Shigella . Karena keterbatasan ini, beberapa pedoman terbaru dari American College of Gastroenterology (ACG) dan Infectious Diseases Society of America (IDSA) tidak lagi merekomendasikan pemeriksaan leukosit feses sebagai tes rutin .
Sebagai alternatif yang lebih stabil dan sensitif, laboratorium kini lebih sering menggunakan pemeriksaan kalprotektin dan laktoferin sebagai penanda peradangan usus .
Persiapan dan Pengambilan Sampel
Pasien diberikan wadah steril untuk mengumpulkan sampel tinja. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
- Hindari urin, air toilet, atau tisu toilet yang dapat mengontaminasi sampel
- Sampel sebaiknya segera diperiksa karena leukosit cepat rusak
- Beri label wadah dengan nama, tanggal, dan waktu pengambilan
- Cuci tangan dengan sabun setelah mengambil sampel
Kesimpulan
Leukosit di feses adalah penanda penting adanya peradangan pada saluran pencernaan, terutama akibat infeksi bakteri invasif (Shigella, Salmonella) dan penyakit radang usus (kolitis ulseratif, Crohn). Pemeriksaan ini membantu membedakan diare inflamasi dari diare non-inflamasi (virus, parasit). Namun, karena sensitivitas yang terbatas, hasil negatif tidak menyingkirkan kemungkinan infeksi bakteri, dan pemeriksaan penunjang seperti kultur tinja atau tes kalprotektin seringkali diperlukan untuk diagnosis yang lebih akurat .
Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592.
Post a Comment