Bahaya Terapi Bekam di Tempat yang Tidak Higienis dan Steril
INFOLABMED.COM - Terapi bekam kini semakin populer di Indonesia sebagai salah satu metode pengobatan alternatif untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan, mulai dari nyeri otot hingga migrain. Namun, di balik popularitasnya, masyarakat perlu bersikap kritis terhadap pemilihan lokasi praktik. Fenomena menjamurnya tempat bekam yang tidak higienis dan steril menimbulkan kekhawatiran medis yang serius. Dalam dunia kesehatan, memahami konsep bahaya dan risiko adalah langkah pertama untuk perlindungan diri. Sebagaimana pepatah medis menyebutkan, bahaya adalah sesuatu yang inheren, sedangkan risiko berhubungan dengan tingkat paparan terhadap bahaya. Artinya, ketika Anda melakukan bekam di tempat yang tidak memenuhi standar sanitasi, Anda sedang meningkatkan paparan diri terhadap risiko infeksi yang sebenarnya bisa dihindari.
Pentingnya Sterilisasi dalam Prosedur Bekam
Bekam melibatkan proses pelukaan kulit atau penyedotan darah, yang secara teknis memasukkannya ke dalam kategori tindakan medis invasif. Oleh karena itu, sterilisasi alat bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban mutlak. Jarum yang digunakan untuk menyayat kulit haruslah jarum sekali pakai (disposable) yang segera dibuang setelah satu kali pemakaian. Begitu pula dengan kop atau cawan bekam, yang harus disterilkan secara menyeluruh atau menggunakan bahan sekali pakai.
Di tempat bekam yang tidak higienis, sterilisasi sering kali diabaikan demi efisiensi biaya. Penggunaan kembali jarum atau kop yang hanya dicuci dengan air biasa tanpa proses sterilisasi standar (seperti autoklaf atau disinfektan level tinggi) menjadi pintu masuk utama bagi berbagai patogen berbahaya. Kurangnya pemahaman terapis mengenai prosedur aseptik menciptakan lingkungan yang ideal bagi penyebaran penyakit menular.
Risiko Penyakit Akibat Praktik Bekam yang Buruk
Lantas, apa saja ancaman nyata yang mengintai pasien yang memilih tempat bekam tidak steril? Risiko utamanya adalah penularan penyakit melalui darah (blood-borne pathogens). Jika jarum yang terkontaminasi darah pasien sebelumnya digunakan kembali pada pasien berikutnya, risiko transmisi penyakit seperti Hepatitis B, Hepatitis C, hingga HIV meningkat secara signifikan.
Selain virus yang mematikan, ancaman infeksi bakteri juga sangat nyata. Infeksi kulit lokal seperti selulitis atau abses akibat bakteri Staphylococcus aureus sering dilaporkan sebagai efek samping dari bekam yang tidak higienis. Gejala infeksi ini biasanya berupa kemerahan yang meluas, rasa panas, nyeri hebat di area bekam, hingga nanah. Tanpa penanganan medis yang tepat, infeksi lokal ini berisiko berkembang menjadi sepsis, sebuah kondisi darurat medis di mana infeksi menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.
Cara Memilih Tempat Bekam yang Aman
Untuk menghindari risiko tersebut, sangat penting bagi masyarakat untuk menjadi konsumen yang cerdas. Berikut adalah panduan mendasar dalam memilih tempat bekam yang profesional:
- Observasi Kebersihan Ruang: Pastikan tempat praktik bersih, tidak berdebu, dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
- Ketersediaan Alat Sekali Pakai: Jangan ragu untuk bertanya apakah jarum bekam yang digunakan adalah baru dan dalam kemasan tersegel. Jika terapis enggan menunjukkan jarum baru, sebaiknya batalkan sesi tersebut.
- Sertifikasi Terapis: Praktisi bekam yang profesional biasanya memiliki sertifikasi atau pelatihan resmi yang diakui oleh asosiasi kesehatan atau dinas kesehatan setempat.
- Penggunaan Sarung Tangan: Terapis wajib menggunakan sarung tangan lateks (handscoon) baru untuk setiap pasien guna mencegah kontaminasi silang.
Kesimpulan
Bekam memang menawarkan manfaat kesehatan yang diakui oleh banyak kalangan, namun keamanan pasien harus tetap menjadi prioritas utama. Mengingat bahaya infeksi adalah ancaman yang nyata, maka risiko tersebut harus ditekan dengan memilih tempat praktik yang mengutamakan sterilisasi dan higienitas. Jangan tergiur dengan harga murah atau klaim pengobatan instan tanpa memperhatikan aspek sanitasi. Ingatlah bahwa kesehatan Anda tidak bisa ditukar dengan biaya yang lebih murah namun mengabaikan standar keselamatan medis yang ketat.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa tanda utama bahwa tempat bekam tidak higienis?
Tanda-tandanya meliputi alat (kop) yang terlihat kotor atau tidak dicuci setelah dipakai, jarum yang tidak dikeluarkan dari kemasan tersegel di depan Anda, terapis tidak menggunakan sarung tangan sekali pakai, dan lingkungan praktik yang tidak tertata rapi.
Apakah bekam bisa menularkan HIV atau Hepatitis?
Ya, sangat mungkin. Jika jarum yang terkontaminasi darah pasien sebelumnya digunakan kembali, risiko penularan virus darah seperti Hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV sangat tinggi.
Bagaimana cara memastikan jarum bekam aman?
Pastikan jarum masih berada dalam kemasan blister yang tersegel dan baru dibuka tepat sebelum tindakan dilakukan. Terapis profesional akan menunjukkan kemasan baru tersebut kepada pasien sebagai bentuk transparansi.
Apa yang harus dilakukan jika muncul luka setelah bekam?
Jika muncul kemerahan yang meluas, bengkak, nyeri hebat, atau bernanah di area bekas bekam, segera bersihkan dengan cairan antiseptik dan kunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan infeksi.
Post a Comment