Reagen Hitung Jumlah Trombosit: Panduan Lengkap Jenis, Fungsi, dan Cara Penggunaan
INFOLABMED.COM - Pemeriksaan hitung jumlah trombosit secara manual masih menjadi pilihan utama di banyak laboratorium, terutama untuk verifikasi hasil atau di fasilitas dengan keterbatasan alat otomatis. Keberhasilan pemeriksaan ini sangat bergantung pada reagen hitung jumlah trombosit yang digunakan. Dua reagen utama yang paling dikenal adalah Rees-Ecker dan Amonium Oksalat 1% .
Dua Reagen Utama Hitung Trombosit Manual
1. Reagen Rees-Ecker (Rees-Ecker Fluid)
Rees-Ecker adalah reagen yang mengandung brilliant cresyl blue (BCB) sebagai pewarna vital, sehingga mampu mewarnai trombosit dan membuatnya lebih mudah terlihat di bawah mikroskop . Reagen ini merupakan larutan berair dari natrium sitrat, sukrosa, dan BCB . Natrium sitrat berfungsi sebagai antikoagulan, sementara sukrosa menjaga tekanan osmotik.
Komposisi Pembuatan Reagen Rees-Ecker:
- Natrium Sitrat 3,8 gram
- Brilliant Cresyl Blue (BCB) 0,1 gram
- Formalin 40% 0,2 ml
- Akuades hingga 100 ml
Cara Pembuatan:
- Timbang Natrium Sitrat dan BCB, masukkan ke dalam gelas kimia .
- Tambahkan akuades sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai semua zat larut .
- Tambahkan 0,2 ml Formalin menggunakan pipet ukur .
- Aduk rata, saring sebelum digunakan .
Keunggulan dan Kekurangan:
- Keunggulan: Mampu mewarnai trombosit sehingga mudah diidentifikasi, cocok untuk laboratorium dengan mikroskop standar.
- Kekurangan: Tidak mampu melisiskan sel selain trombosit (eritrosit dan leukosit), sehingga sel-sel lain masih terlihat dan dapat mengganggu penghitungan. Tingkat kesalahan metode ini berkisar 16-25% .
2. Reagen Amonium Oksalat 1% (Brecher-Cronkite)
Berbeda dengan Rees-Ecker, Amonium Oksalat 1% adalah reagen yang bersifat hemolitik, artinya mampu melisiskan (menghancurkan) eritrosit dan leukosit sehingga hanya trombosit yang tersisa dalam larutan . Reagen ini merupakan larutan amonium oksalat 1% dan tersedia dalam kemasan siap pakai dengan nama dagang seperti ThromboCount® pur .
Keunggulan dan Kekurangan:
- Keunggulan: Menghasilkan lapangan pandang yang lebih bersih karena selain trombosit telah lisis; hasil lebih akurat dengan tingkat kesalahan 8-10% .
- Kekurangan: Trombosit tampak jernih (tidak berwarna), sehingga memerlukan ketelitian lebih saat menghitung .
3. Metode Estimasi Barbara Brown (Metode Cepat)
Selain kedua reagen di atas, terdapat metode estimasi cepat yang tidak memerlukan reagen khusus, yaitu metode Barbara Brown. Metode ini dilakukan dengan menghitung rata-rata jumlah trombosit per lapang pandang pada sediaan apus darah tepi, lalu mengalikannya dengan faktor konversi 20.000 . Hasil dari metode ini menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dengan metode langsung menggunakan kamar hitung .
Pengaruh Reagen terhadap Hasil Pemeriksaan
| Parameter | Rees-Ecker | Amonium Oksalat 1% |
|---|---|---|
| Fungsi | Mewarnai trombosit | Melisiskan sel selain trombosit |
| Kelebihan | Trombosit berwarna jelas | Lapangan pandang lebih bersih |
| Kekurangan | Sel lain masih terlihat | Trombosit tidak berwarna |
| Tingkat Kesalahan | 16-25% | 8-10% |
Inovasi terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas reagen hitung trombosit. Salah satunya adalah penelitian yang memodifikasi Amonium Oksalat 1% dengan ekstrak bit merah (Beta vulgaris L) sebagai pewarna alami, yang terbukti mampu mewarnai trombosit dengan lebih tajam .
Prosedur Pemeriksaan dengan Reagen
Secara umum, pemeriksaan hitung trombosit manual menggunakan kamar hitung Improved Neubauer dengan langkah:
- Pengenceran: Darah EDTA (10 µL) dicampur dengan reagen (490 µL), menghasilkan pengenceran 1:50 .
- Pengisian Kamar Hitung: Campuran dimasukkan ke kamar hitung dan didiamkan selama 15-20 menit agar trombosit mengendap.
- Penghitungan: Trombosit dihitung pada 25 kotak sedang di area tengah kamar hitung.
- Perhitungan: Hasil dikalikan dengan faktor pengenceran untuk mendapatkan jumlah trombosit per µL.
Kesimpulan
Reagen hitung jumlah trombosit adalah komponen krusial dalam pemeriksaan manual yang menentukan akurasi hasil. Dua reagen utama—Rees-Ecker (pewarna trombosit) dan Amonium Oksalat 1% (pelisis sel)—memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Amonium oksalat 1% umumnya menjadi pilihan utama karena tingkat kesalahan yang lebih rendah, sementara Rees-Ecker masih digunakan untuk memudahkan identifikasi trombosit di bawah mikroskop. Pemilihan reagen harus disesuaikan dengan kebutuhan, ketersediaan, dan tingkat akurasi yang diinginkan.
Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592.
Post a Comment