Pewarnaan BTA (Basil Tahan Asam): Teknik Esensial Diagnosis Tuberkulosis Dan Infeksi Mikobakteria Lainnya
Ditulis oleh: Imaduddin Badrawi, S.Tr.Kes (Ahli Teknologi Laboratorium Medik)
Ditinjau oleh: Redaksi Infolabmed
INFOLABMED.COM - Pewarnaan BTA, atau yang dikenal luas sebagai metode Ziehl-Neelsen, merupakan salah satu pilar diagnostik mikrobiologi dalam mendeteksi keberadaan bakteri dari genus Mycobacterium, yang paling relevan adalah Mycobacterium tuberculosis, agen penyebab tuberkulosis (TB). Teknik pewarnaan ini memanfaatkan karakteristik struktural dinding sel bakteri yang unik, yakni kaya akan komponen lipid seperti asam mikolat.
Sifat lipofilik ini memberikan ketahanan luar biasa terhadap pelunturan oleh larutan asam-alkohol, sebuah ciri khas yang menjadi dasar diferensiasi antara bakteri tahan asam (BTA) dan bakteri non-BTA.
Dalam konteks klinis, identifikasi BTA melalui pewarnaan adalah langkah awal yang krusial. Hasil positif yang menunjukkan adanya basil berwarna merah cerah pada latar belakang biru menjadi indikasi kuat perlunya investigasi lebih lanjut dan penegakan diagnosis tuberkulosis atau infeksi mikobakteria lainnya.
Meskipun metode kultur dan tes molekuler semakin berkembang, pewarnaan BTA tetap memegang peranan penting karena kecepatan, biaya yang relatif rendah, dan kemampuannya untuk dilakukan di berbagai tingkatan fasilitas kesehatan.
Prinsip Ilmiah di Balik Pewarnaan BTA
Keunikan dinding sel Mycobacterium adalah kunci keberhasilan metode Ziehl-Neelsen. Dinding sel ini tersusun atas lapisan peptidoglikan yang dilapisi oleh arabinogalaktan, yang selanjutnya teresterifikasi dengan asam mikolat.
Lapisan asam mikolat yang tebal dan bersifat hidrofobik ini menciptakan semacam "perisai" yang sulit ditembus oleh zat pewarna konvensional. Namun, dengan bantuan pemanasan, pewarna utama seperti Karbol Fuchsin 0.3% yang bersifat fenolik dapat menembus dan berikatan kuat dengan dinding sel bakteri.
Setelah proses pewarnaan awal dan pemanasan, langkah kritis berikutnya adalah aplikasi agen dekolorisasi, yaitu larutan asam alkohol 3%. Pada bakteri non-BTA, gugus lipid yang minim atau tidak ada pada dinding selnya tidak mampu mengikat pewarna Karbol Fuchsin dengan kuat.
Akibatnya, warna merah akan luntur sepenuhnya saat terpapar asam alkohol, menyebabkan sel bakteri menjadi tidak berwarna. Sebaliknya, BTA, berkat lapisan lipidnya yang tebal, mampu mempertahankan Karbol Fuchsin bahkan setelah proses dekolorisasi yang intensif.
Tahap terakhir adalah pemberian pewarna kontras, biasanya Methylene Blue 0.3%. Pewarna ini akan menempel pada seluruh sel yang telah kehilangan warna aslinya (bakteri non-BTA), sehingga tampak berwarna biru.
Sementara itu, BTA yang telah mengikat Karbol Fuchsin akan tetap mempertahankan warna merahnya, menciptakan kontras visual yang jelas di bawah mikroskop. Dengan demikian, BTA akan teramati sebagai basil (bentuk batang) berwarna merah cerah dengan latar belakang sel yang berwarna biru.
Alat dan Bahan yang Diperlukan
Pelaksanaan pewarnaan BTA memerlukan serangkaian alat dan bahan yang spesifik:
Sampel: Bahan pemeriksaan yang paling umum adalah sputum (dahak). Namun, spesimen lain seperti urin, cairan serebrospinal (CSF), bilasan bronkus, atau jaringan biopsi juga dapat digunakan tergantung pada lokasi infeksi.
Pewarna Utama: Karbol Fuchsin 0.3% (menghasilkan warna merah).
Agen Dekolorisasi: Asam Alkohol 3%.
Pewarna Kontras: Methylene Blue 0.3% (menghasilkan warna biru).
Alat Laboratorium: Objek gelas (kaca sediaan), lampu spiritus atau Bunsen, rak pewarnaan, pipet tetes, pinset, ose (jarum inokulasi).
Mikroskop: Mikroskop cahaya yang dilengkapi dengan lensa objektif imersi (pembesaran 100x) untuk pengamatan pada pembesaran total 1000x.
Lainnya: Minyak imersi, tisu lensa, wadah spesimen (misalnya pot sputum).
Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Ziehl-Neelsen
Proses pewarnaan BTA, khususnya metode Ziehl-Neelsen, melibatkan beberapa tahapan yang harus dilakukan dengan cermat:
1. Pembuatan Sediaan (Apusan): Mengambil sejumlah kecil sampel (misalnya dahak) dan mengoleskannya secara merata di atas permukaan objek gelas yang bersih.
Usahakan membentuk lapisan tipis dan merata dengan ukuran sekitar 2 x 3 cm. 2.
Fiksasi: Sediaan apusan yang telah dibuat dikeringkan pada suhu ruang. Selanjutnya, kaca objek dilewatkan secara hati-hati sebanyak tiga kali di atas nyala api lampu spiritus.
Proses ini bertujuan untuk mematikan bakteri dan melekatkan sel pada objek gelas tanpa membuatnya terbakar. 3.
Pewarnaan Utama (Karbol Fuchsin): Permukaan apusan digenangi dengan larutan Karbol Fuchsin 0.3%. Kaca objek kemudian dipanaskan dari bawah menggunakan api hingga keluar uap (jangan sampai mendidih) selama kurang lebih 5 menit.
Setelah itu, sediaan dibilas perlahan dengan air mengalir. 4.
Dekolorisasi (Asam Alkohol): Larutan asam alkohol 3% diteteskan ke atas sediaan hingga warna merah dari Karbol Fuchsin tampak luntur sepenuhnya, menunjukkan bahwa sel telah kehilangan kemampuan menahan pewarna. Sediaan kemudian dibilas kembali dengan air mengalir.
5. Pewarnaan Kontras (Methylene Blue): Sediaan digenangi dengan larutan Methylene Blue 0.3% selama sekitar 10 hingga 20 detik.
Larutan ini akan mewarnai sel-sel yang tidak lagi merah. Setelah itu, sediaan dibilas dengan air mengalir.
6. Pengeringan dan Pengamatan: Kaca objek yang telah diwarnai dikeringkan di udara pada rak pengering.
Teteskan satu tetes minyak imersi pada area apusan yang akan diamati. Periksa sediaan di bawah mikroskop dengan menggunakan lensa objektif imersi (pembesaran 100x), sehingga diperoleh pembesaran total 1000x.
Interpretasi Hasil dan Skala Pelaporan IUATLD
Interpretasi hasil pewarnaan BTA didasarkan pada visualisasi basil batang berwarna merah di bawah mikroskop, dengan latar belakang sel yang berwarna biru. Penilaian kuantitatif terhadap jumlah BTA yang ditemukan sangat penting untuk penentuan diagnosis dan manajemen pasien.
International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (IUATLD) telah menetapkan skala pelaporan standar untuk hasil pewarnaan BTA:
| Skala Pelaporan IUATLD | Kriteria Penemuan BTA | Cara Pelaporan |
|---|---|---|
| Negatif (-) | Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang (LP) | Ditulis "Negatif" |
| Scanty (Jarangan) | Ditemukan 1–9 BTA dalam 100 LP | Ditulis jumlah kuman yang ditemukan (misalnya: "Ditemukan 3 BTA dalam 100 LP") |
| 1+ (Positif 1) | Ditemukan 10–99 BTA dalam 100 LP | Ditulis "Positif 1" atau "+1" |
| 2+ (Positif 2) | Ditemukan 1–10 BTA dalam setiap 1 LP (memeriksa minimal 50 LP) | Ditulis "Positif 2" atau "+2" |
| 3+ (Positif 3) | Ditemukan lebih dari 10 BTA dalam setiap 1 LP (memeriksa minimal 20 LP) | Ditulis "Positif 3" atau "+3" |
Skala ini memberikan gambaran kuantitatif yang sangat berharga. Hasil "Negatif" mengindikasikan tidak adanya BTA yang terdeteksi dalam jumlah banyak, sementara hasil positif dengan tingkat tertentu (1+, 2+, 3+) menunjukkan tingkat keparahan infeksi yang lebih tinggi dan potensi penularan yang lebih besar.
Hasil "Scanty" menunjukkan adanya infeksi, namun dalam jumlah yang lebih sedikit, yang tetap memerlukan perhatian medis.
Keunggulan dan Keterbatasan Pewarnaan BTA
Pewarnaan BTA memiliki keunggulan signifikan dalam hal kecepatan pelaporan hasil, biaya yang relatif murah, dan kemudahan dalam implementasi di laboratorium dengan sumber daya terbatas. Teknik ini memberikan diagnosis awal yang cepat bagi pasien yang membutuhkan penanganan segera, terutama di daerah dengan prevalensi tuberkulosis tinggi.
Namun, metode ini juga memiliki keterbatasan. Sensitivitasnya lebih rendah dibandingkan dengan kultur bakteri atau metode diagnostik molekuler.
Ini berarti bahwa hasil negatif tidak sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan adanya infeksi, terutama pada pasien dengan tuberkulosis laten atau infeksi oleh basil yang tidak banyak diekskresikan. Selain itu, pewarnaan BTA tidak dapat mengidentifikasi spesies *Mycobacterium* secara spesifik; identifikasi lebih lanjut memerlukan metode kultur atau tes molekuler.
Kesimpulan
Pewarnaan BTA (Basil Tahan Asam) atau metode Ziehl-Neelsen tetap menjadi alat diagnostik mikrobiologi yang esensial dalam deteksi dini tuberkulosis dan infeksi mikobakteria lainnya. Dengan memahami prinsip ilmiah, mengikuti prosedur standar, dan menginterpretasikan hasil sesuai skala pelaporan yang ditetapkan, tenaga kesehatan dapat memanfaatkan teknik ini secara optimal untuk memberikan diagnosis yang tepat waktu dan mengarahkan strategi penatalaksanaan pasien secara efektif.
Penting untuk terus meningkatkan kualitas pemeriksaan dan mempertimbangkan penggunaan metode diagnostik tambahan untuk melengkapi hasil pewarnaan BTA demi penanganan tuberkulosis yang komprehensif.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa yang dimaksud dengan BTA?
BTA adalah singkatan dari Basil Tahan Asam, yaitu kelompok bakteri yang memiliki dinding sel kaya lipid dan mampu mempertahankan pewarna utama (Karbol Fuchsin) saat dicuci dengan asam alkohol.
Mengapa bakteri Mycobacterium disebut tahan asam?
Mereka disebut tahan asam karena komposisi dinding selnya yang unik, kaya akan asam mikolat, yang membuatnya tahan terhadap pelunturan oleh larutan asam.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil pewarnaan BTA?
Hasil pewarnaan BTA umumnya dapat diperoleh dalam beberapa jam, menjadikannya metode diagnostik yang relatif cepat.
Apakah pewarnaan BTA dapat mengidentifikasi jenis spesifik dari Mycobacterium?
Tidak, pewarnaan BTA hanya dapat mengidentifikasi keberadaan bakteri tahan asam secara umum. Untuk identifikasi spesies spesifik (misalnya, Mycobacterium tuberculosis), diperlukan metode kultur bakteri atau tes molekuler.
Apa saja sampel yang dapat digunakan untuk pewarnaan BTA?
Sampel utama adalah sputum (dahak), namun cairan tubuh lain seperti urin, cairan serebrospinal, bilasan bronkus, atau jaringan juga dapat diperiksa jika dicurigai adanya infeksi mikobakteria pada area tersebut.
Apa perbedaan utama antara BTA positif dan negatif?
BTA positif berarti ditemukan bakteri tahan asam di bawah mikroskop, yang mengindikasikan kemungkinan infeksi. BTA negatif berarti tidak ditemukan bakteri tahan asam dalam jumlah yang signifikan pada sampel yang diperiksa, namun tetap tidak sepenuhnya menyingkirkan infeksi.
Referensi:
Ariyani, F., Inggriani, M., & Ilsan, N. A. (2019). Perbedaan Hasil Deteksi Pewarnaan Bakteri Tahan Asam dan Rapid Antigen pada Pasien Diagnosa Tuberkulosis Paru. Jurnal Mitra Kesehatan (JMK), 1(2), 101–105. https://doi.org/10.47522/jmk.v1i2.19
Diagnos. (n.d.). Pewarnaan BTA. PT Diagnos Laboratorium Utama. Diakses pada 16 Juli 2026, dari https://diagnos.co.id/id/test-laboratorium/pewarnaan-bta/
Halodoc, R. (2026, 8 April). Pewarnaan BTA: Cara Mudah Deteksi TBC Akurat. Halodoc. Diakses pada 16 Juli 2026, dari https://www.halodoc.com/artikel/pewarnaan-bta-cara-mudah-deteksi-tbc-akurat
Kardi, Huda, M., & Aminah, S. (2023). Perbedaan Hasil Pembacaan Mikroskopik Preparat Basil Tahan Asam (BTA) Cara Zigzag Dengan Horizontal Di Puskesmas Batu Brak Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat (Repository/Tugas Akhir). Politeknik Kesehatan Tanjungkarang. Diakses pada 16 Juli 2026, dari https://repository.poltekkes-tjk.ac.id/id/eprint/3923/11/11%20Lampiran.pdf
%20Teknik%20Esensial%20Diagnosis%20Tuberkulosis%20Dan%20Infeksi%20Mikobakteria%20Lainnya.png)
Post a Comment