Memahami Perbedaan Tes Sifilis: VDRL, RPR, Dan TPHAUntuk Diagnosis Akurat

Table of Contents

tes sifilis, VDRL, RPR, TPHA, diagnosis sifilis, infeksi menular seksual, Treponema pallidum, tes skrining, tes konfirmasi, positif palsu, pemantauan pengobatan, tabel perbandingan tes medis


Ditulis oleh: Imaduddin Badrawi, S.Tr.Kes (Ahli Teknologi Laboratorium Medik)

Ditinjau oleh: Tim Medis

INFOLABMED.COM - Infeksi menular seksual (IMS) seperti sifilis, yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, memerlukan diagnosis yang akurat untuk penatalaksanaan yang efektif dan pencegahan komplikasi jangka panjang. Dalam ranah medis, deteksi sifilis mengandalkan serangkaian tes laboratorium yang memiliki karakteristik dan tujuan berbeda.

Tiga metode diagnostik yang paling umum digunakan adalah Venereal Disease Research Laboratory (VDRL), Rapid Plasma Reagin (RPR), dan Treponema Pallidum Haemagglutination Assay (TPHA). Masing-masing tes ini memainkan peran krusial, mulai dari skrining awal hingga konfirmasi diagnosis yang spesifik, serta memantau respons terhadap terapi.

Memahami perbedaan fundamental antara tes skrining non-spesifik (non-treponemal) seperti VDRL dan RPR dengan tes konfirmasi spesifik (treponemal) seperti TPHA adalah esensial bagi para profesional kesehatan dan pasien.

Skrining Awal: Gerbang Deteksi Sifilis

Tes VDRL dan RPR mewakili lini pertahanan pertama dalam mendeteksi kemungkinan adanya sifilis. Keduanya termasuk dalam kategori tes non-treponemal, yang berarti mereka tidak mendeteksi antibodi spesifik terhadap bakteri Treponema pallidum.

Sebaliknya, tes ini mendeteksi reagin, yaitu antibodi yang dihasilkan tubuh sebagai respons terhadap kerusakan sel yang mungkin terjadi akibat infeksi Treponema pallidum, atau bahkan kondisi peradangan lain.

Venereal Disease Research Laboratory (VDRL): Fondasi Skrining

Tes VDRL merupakan salah satu tes skrining non-spesifik tertua dan paling banyak digunakan. Prinsipnya adalah mengukur kadar reagin dalam serum atau cairan serebrospinal pasien.

Ketika sampel serum atau cairan serebrospinal yang mengandung reagin dicampur dengan antigen tertentu, akan terjadi presipitasi atau aglutinasi yang dapat diamati di bawah mikroskop. Kuantifikasi presipitasi ini dinyatakan dalam satuan titer, yang menunjukkan tingkat keparahan respons reagin.

Kelebihan utama VDRL, seperti halnya RPR, adalah kemampuannya untuk memantau keberhasilan pengobatan. Penurunan titer yang signifikan atau hilangnya reaktivitas (menjadi non-reaktif) setelah terapi antibiotik mengindikasikan respons positif terhadap pengobatan.

Namun, tes ini memiliki kelemahan inheren berupa potensi positif palsu yang relatif tinggi.

Rapid Plasma Reagin (RPR): Alternatif Skrining yang Lebih Cepat

Tes RPR dikembangkan sebagai alternatif yang lebih cepat dan praktis dibandingkan VDRL, terutama untuk skrining massal di laboratorium yang sibuk. Secara prinsip, RPR bekerja dengan mekanisme yang serupa dengan VDRL, yaitu mendeteksi reagin.

Namun, RPR menggunakan antigen yang berbeda dan proses pengujian yang lebih disederhanakan, seringkali memungkinkan pembacaan hasil secara visual tanpa memerlukan mikroskop. Seperti VDRL, RPR juga sangat berharga dalam memantau respons terapi; penurunan titer RPR pasca-pengobatan adalah indikator positif dari keberhasilan eradikasi infeksi.

Namun, keterbatasan RPR serupa dengan VDRL, yaitu tingkat positif palsu yang perlu dipertimbangkan dengan cermat.

Risiko Positif Palsu pada Tes Non-Treponemal

Salah satu tantangan terbesar dalam interpretasi hasil tes VDRL dan RPR adalah risiko positif palsu. Kondisi-kondisi yang tidak terkait langsung dengan infeksi sifilis dapat memicu produksi reagin, sehingga menghasilkan hasil positif pada tes skrining ini.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan positif palsu meliputi:

Infeksi Virus Lain: Beberapa infeksi virus, seperti HIV, Hepatitis, atau Mononukleosis, dapat menyebabkan peningkatan reagin. 

Kehamilan: Perubahan fisiologis selama kehamilan terkadang dapat memengaruhi hasil tes skrining sifilis.

Penyakit Autoimun: Kondisi autoimun seperti Lupus Eritematosus Sistemik (LES) atau Sindrom Sjögren, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri, seringkali dikaitkan dengan hasil positif palsu pada tes VDRL dan RPR. 

Usia Lanjut: Perubahan pada sistem kekebalan tubuh seiring bertambahnya usia juga dapat berkontribusi pada positif palsu.

Vaksinasi Tertentu: Dalam kasus yang jarang terjadi, beberapa jenis vaksinasi dapat memicu respons reagin. 

Penyakit Kronis Lainnya: Kondisi medis kronis tertentu, seperti tuberkulosis atau malaria, juga dilaporkan dapat menyebabkan hasil positif palsu.

Oleh karena itu, hasil positif pada tes VDRL atau RPR tidak serta-merta mengkonfirmasi diagnosis sifilis. Diperlukan langkah konfirmasi lebih lanjut untuk memastikan keakuratan diagnosis.

Konfirmasi Diagnosis: Menegakkan Kepastian dengan TPHA

Untuk mengatasi keterbatasan tes skrining non-spesifik, tes konfirmasi spesifik, yang dikenal sebagai tes treponemal, menjadi sangat penting. Di antara tes treponemal, Treponema Pallidum Haemagglutination Assay (TPHA) adalah salah satu yang paling umum digunakan.

Treponema Pallidum Haemagglutination Assay (TPHA): Menemukan Jejak Spesifik

TPHA adalah tes yang sangat spesifik yang dirancang untuk mendeteksi keberadaan antibodi yang secara langsung ditujukan terhadap bakteri penyebab sifilis, yaitu Treponema pallidum. Berbeda dengan VDRL dan RPR, TPHA mendeteksi antibodi spesifik yang dihasilkan tubuh sebagai respons terhadap infeksi aktif maupun laten oleh Treponema pallidum.

Prinsip tes ini melibatkan penggunaan partikel (biasanya sel darah merah) yang telah dilapisi dengan antigen Treponema pallidum. Jika serum pasien mengandung antibodi spesifik terhadap Treponema pallidum, antibodi ini akan berikatan dengan antigen pada partikel yang dilapisi, menyebabkan aglutinasi atau penggumpalan.

Hasil TPHA umumnya dilaporkan sebagai reaktif atau non-reaktif. Keunggulan utama TPHA terletak pada spesifisitasnya yang tinggi, sehingga risiko positif palsu sangatlah rendah.

Peran TPHA dalam Diagnosis dan Pemantauan

TPHA memegang peranan krusial sebagai tes konfirmasi. Jika hasil tes skrining VDRL atau RPR positif, langkah selanjutnya yang direkomendasikan adalah melakukan tes TPHA.

Jika TPHA juga positif, maka diagnosis sifilis dapat ditegakkan dengan tingkat kepastian yang tinggi. Namun, satu kelemahan TPHA yang perlu dicatat adalah bahwa hasil tes ini cenderung tetap positif seumur hidup, bahkan setelah infeksi sifilis berhasil diobati dan pasien dinyatakan sembuh.

Hal ini dikarenakan tubuh akan terus memproduksi antibodi memori terhadap Treponema pallidum. Oleh karena itu, TPHA tidak dapat digunakan untuk memantau efektivitas pengobatan sifilis.

Pendekatan Diagnostik Kombinasi: Kunci Akurasi

Dalam praktik klinis, pendekatan diagnostik yang paling optimal untuk mendeteksi sifilis adalah dengan menggabungkan tes skrining non-spesifik (VDRL atau RPR) dengan tes konfirmasi spesifik (TPHA). Urutan pengujian yang umum adalah sebagai berikut:

1. Skrining Awal: Pasien menjalani tes VDRL atau RPR.

Tes ini dipilih berdasarkan ketersediaan dan preferensi laboratorium. 2.

Konfirmasi Hasil Positif: Jika hasil tes skrining positif (reaktif), maka sampel serum pasien akan dilanjutkan untuk tes TPHA. Ini bertujuan untuk memverifikasi apakah reaktivitas pada tes skrining memang disebabkan oleh infeksi Treponema pallidum atau oleh faktor lain yang menyebabkan positif palsu.

3.  VDRL/RPR Reaktif dan TPHA Reaktif: Mengindikasikan infeksi sifilis yang aktif atau pernah terinfeksi.

VDRL/RPR Reaktif dan TPHA Non-Reaktif: Sangat mungkin merupakan hasil positif palsu pada tes skrining. Perlu dipertimbangkan faktor-faktor lain atau dilakukan pengujian lanjutan jika dicurigai sifilis.

VDRL/RPR Non-Reaktif dan TPHA Reaktif: Ini merupakan skenario yang jarang terjadi, namun bisa mengindikasikan infeksi sifilis stadium sangat awal yang belum terdeteksi oleh tes non-spesifik, atau infeksi sifilis kronis yang titer reaginnya sangat rendah. Pengujian lanjutan atau evaluasi klinis mendalam mungkin diperlukan.

VDRL/RPR Non-Reaktif dan TPHA Non-Reaktif: Menunjukkan tidak adanya infeksi sifilis.

Pendekatan kombinasi ini tidak hanya meningkatkan akurasi diagnostik tetapi juga membantu mengelola biaya perawatan kesehatan dengan menghindari konfirmasi yang tidak perlu pada individu yang hasil skriningnya negatif, serta meminimalkan risiko diagnosis yang salah akibat positif palsu pada tes skrining.

Tabel Perbandingan Tes Sifilis

Untuk mempermudah pemahaman, berikut adalah perbandingan rinci antara tes VDRL, RPR, dan TPHA:

Aspek VDRL RPR TPHA
Jenis Pemeriksaan Non-treponemal (Skrining) Non-treponemal (Skrining) Treponemal (Konfirmasi)
Apa yang Dideteksi Reagin (antibodi non-spesifik terhadap kerusakan sel) Reagin (antibodi non-spesifik terhadap kerusakan sel) Antibodi spesifik terhadap Treponema pallidum
Fungsi Utama Skrining awal, pemantauan pengobatan Skrining awal, pemantauan pengobatan Konfirmasi diagnosis
Pemantauan Pengobatan Ya (titer menurun setelah pengobatan) Ya (titer menurun setelah pengobatan) Tidak (tetap positif seumur hidup)
Risiko Positif Palsu Cukup Tinggi Cukup Tinggi Sangat Jarang
Spesifisitas Rendah hingga Sedang Rendah hingga Sedang Tinggi
Sensitivitas (Infeksi Aktif) Baik Baik Sangat Baik

Kesimpulan

Dalam diagnosis sifilis, tes VDRL, RPR, dan TPHA masing-masing memiliki peran yang saling melengkapi. VDRL dan RPR berperan sebagai alat skrining awal yang efektif dan dapat digunakan untuk memantau respons terhadap pengobatan, meskipun rentan terhadap positif palsu.

Sebaliknya, TPHA berfungsi sebagai konfirmasi diagnostik yang sangat spesifik, yang memastikan keberadaan infeksi *Treponema pallidum*, namun tidak dapat digunakan untuk pemantauan pengobatan karena hasil yang persisten positif. Kombinasi strategis dari tes skrining non-treponemal diikuti dengan tes konfirmasi treponemal adalah standar emas dalam mencapai diagnosis sifilis yang akurat dan dapat diandalkan, yang sangat penting untuk intervensi medis yang tepat waktu dan efektif.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ):

1. Kapan tes VDRL atau RPR pertama kali dilakukan?

Tes VDRL atau RPR biasanya dilakukan sebagai tes skrining awal ketika ada kecurigaan terhadap infeksi sifilis, baik berdasarkan gejala klinis maupun riwayat paparan.

2. Mengapa tes TPHA diperlukan jika VDRL/RPR sudah positif?

Tes TPHA diperlukan untuk mengkonfirmasi bahwa hasil positif VDRL/RPR memang disebabkan oleh infeksi Treponema pallidum, karena VDRL/RPR dapat memberikan hasil positif palsu pada kondisi lain.

3. Apakah hasil TPHA yang positif berarti saya masih terinfeksi sifilis?

Tidak selalu. Hasil TPHA yang positif berarti Anda pernah terpapar atau terinfeksi Treponema pallidum.

Hasil ini akan tetap positif seumur hidup, terlepas dari apakah infeksi tersebut sudah diobati dan sembuh.

4. Bagaimana cara memantau efektivitas pengobatan sifilis?

Pemantauan efektivitas pengobatan sifilis dilakukan dengan mengulang tes VDRL atau RPR secara berkala. Penurunan titer yang signifikan atau menjadi non-reaktif menunjukkan respons positif terhadap pengobatan.

5. Apa saja kondisi yang dapat menyebabkan hasil positif palsu pada tes VDRL/RPR?

Kondisi seperti infeksi virus lain, kehamilan, penyakit autoimun (misalnya lupus), dan usia lanjut dapat menyebabkan hasil positif palsu pada tes VDRL/RPR.

6. Apakah tes VDRL dan RPR sama?

Meskipun keduanya adalah tes skrining non-treponemal dan memiliki tujuan serupa, VDRL dan RPR menggunakan antigen yang sedikit berbeda dan memiliki prosedur pengujian yang sedikit berbeda pula. RPR umumnya lebih cepat dan praktis untuk skrining massal.

Referensi:

Sinaga, H., & Said, T. A. (2019). Hasil Pemeriksaan Treponema pallidum Haemagglutination Assay dan Treponema pallidum Rapid pada Penderita Sifilis di Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Papua. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes, 10(2), 125-130.

SCT STI Clinic Team. (2026, 1 Juni). Understanding Syphilis Blood Markers: Differentiating Between RPR and TPHA Lab Results. SCT STI Clinic. https://www.sticlinic.co.uk/blog/understanding-syphilis-blood-markers-differentiating-rpr-tpha-lab-results (Diakses pada 17 Juli 2026).

Sribulogin. (2026, 16 April). Tes VDRL dan TPHA untuk Apa? Ini Fungsi, Tujuan, dan Kegunaannya. Kehamilan Sehat. https://kehamilansehat.com/id/tes-vdrl-dan-tpha-untuk-apa-ini-fungsi-tujuan-dan-kegunaannya/ (Diakses pada 17 Juli 2026).


Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment