Laporan Praktikum Pemeriksaan Feses Secara Makroskopis dan Mikroskopis: Panduan Lengkap untuk Mahasiswa dan ATLM
INFOLABMED.COM - Pemeriksaan feses atau tinja merupakan prosedur laboratorium dasar yang sangat penting untuk mendiagnosis berbagai penyakit, terutama yang berkaitan dengan saluran pencernaan . Dalam praktikum laboratorium, pemeriksaan feses terbagi menjadi dua metode utama: pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis. Artikel ini menyajikan panduan lengkap laporan praktikum pemeriksaan feses, mulai dari pengertian, prosedur, hingga interpretasi hasil.
Pengertian Pemeriksaan Feses
Pemeriksaan feses adalah pemeriksaan laboratorium dengan tinja sebagai bahan pemeriksa yang bertujuan untuk melihat ada tidaknya kelainan pada tinja, baik secara makroskopis maupun mikroskopis . Feses merupakan sisa hasil pencernaan dan absorbsi dari makanan yang dikeluarkan melalui anus . Dalam kondisi normal, produksi feses sekitar 100-200 gram per hari, terdiri dari air, sisa makanan, sel epitel, debris, selulosa, bakteri, dan bahan patologis .
Indikasi dilakukannya pemeriksaan feses meliputi: adanya diare atau konstipasi, darah dalam tinja, lendir dalam tinja, ikterus, gangguan pencernaan, dan kecurigaan penyakit gastrointestinal .
Pemeriksaan Makroskopis Feses
Pemeriksaan makroskopis dilakukan sebelum pemeriksaan mikroskopis dengan mengamati parameter-parameter berikut :
1. Warna Feses
Feses normal berwarna kuning kecoklatan yang disebabkan oleh urobilin . Perubahan warna dapat mengindikasikan berbagai kondisi:
| Warna | Kemungkinan Penyebab |
|---|---|
| Kuning kecoklatan | Normal |
| Hijau | Sayuran mengandung klorofil, biliverdin pada bayi baru lahir |
| Kelabu / pucat | Ikterus obstruktif (akholis), defisiensi enzim pankreas |
| Merah muda | Perdarahan di bagian distal saluran cerna, makanan (bit, tomat, buah naga) |
| Hitam (melena) | Perdarahan di bagian proksimal, obat mengandung besi, arang, atau bismuth |
| Coklat tua | Perdarahan di bagian proksimal, urobilin berlebihan (anemia hemolitik) |
2. Bau Feses
Bau normal feses disebabkan oleh indol, skatol, dan asam butirat . Bau busuk terjadi jika terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna, sedangkan bau tengik/asam disebabkan oleh peragian gula yang tidak dicerna (pada diare) .
3. Konsistensi
Feses normal memiliki konsistensi agak lunak dan berbentuk . Perubahan konsistensi meliputi:
- Cair/ sangat lunak: Pada diare
- Keras (skibala): Pada konstipasi
- Berbentuk pita: Pada penyakit Hirschsprung
- Berminyak: Pada malabsorpsi usus
4. Lendir, Darah, dan Nanah
Keberadaan lendir, darah, atau nanah dalam feses merupakan tanda kelainan:
| Temuan | Interpretasi |
|---|---|
| Lendir di luar feses | Iritasi pada usus besar |
| Lendir bercampur feses | Iritasi pada usus halus |
| Darah segar (merah) | Perdarahan di bagian distal (hemoroid, karsinoma rektum) |
| Darah hitam (melena) | Perdarahan di bagian proksimal (ulkus lambung, varises esofagus) |
| Lendir + darah | Keganasan, peradangan rektal anal |
| Lendir + nanah + darah | Kolitis ulseratif, disentri basiler |
| Nanah | Kronik ulseratif kolon, fistula colon sigmoid, abses |
5. Parasit dan Sisa Makanan
Pada pemeriksaan makroskopis, dapat ditemukan cacing dewasa (Ascaris, Enterobius) atau proglotid cacing pita . Sisa makanan yang tidak tercerna juga dapat diamati, terutama serat otot, serat elastik, dan pati .
Pemeriksaan Mikroskopis Feses
Pemeriksaan mikroskopis dilakukan untuk mendeteksi unsur-unsur patologis yang tidak terlihat secara makroskopis .
Prosedur Pemeriksaan Mikroskopis Langsung (Direct Wet Mount)
Alat dan Bahan:
- Kaca objek (object glass)
- Kaca penutup (cover glass)
- Lidi atau aplikator steril
- Larutan NaCl 0.9% (garam fisiologis)
- Larutan eosin 1-2% atau Lugol iodine
- Mikroskop
Langkah Kerja:
- Teteskan 1 tetes larutan NaCl 0.9% di bagian kiri kaca objek dan 1 tetes eosin/Lugol di bagian kanan
- Ambil sedikit feses (sebesar kacang tanah) menggunakan lidi, ambil dari bagian yang mengandung lendir, darah, atau nanah jika ada
- Campurkan feses dengan tetesan larutan hingga homogen, buang bagian-bagian kasar
- Tutup dengan kaca penutup, hindari gelembung udara
- Periksa di bawah mikroskop: mulai dengan perbesaran 10x (lapang pandang kecil/LPK), kemudian 40x (lapang pandang besar/LPB)
Parameter yang Diamati dalam Pemeriksaan Mikroskopis
1. Telur Cacing
Telur cacing yang mungkin ditemukan:
- Ascaris lumbricoides (cacing gelang)
- Trichuris trichiura (cacing cambuk)
- Necator americanus / Ancylostoma duodenale (cacing tambang)
- Enterobius vermicularis (cacing kremi)
- Strongyloides stercoralis
- Taenia spp. (cacing pita)
2. Protozoa
Protozoa dapat ditemukan dalam bentuk kista (pada tinja padat) atau trofozoit (pada tinja cair) , meliputi:
- Entamoeba histolytica
- Entamoeba coli
- Giardia lamblia
- Balantidium coli
- Blastocystis spp.
3. Leukosit (Sel Darah Putih)
Jumlah leukosit meningkat pada disentri basiler, kolitis ulseratif, dan peradangan lain. Untuk memperjelas leukosit, dapat ditambahkan larutan asam asetat 10%.
4. Eritrosit (Sel Darah Merah)
Keberadaan eritrosit dalam feses selalu bersifat patologis, menandakan perdarahan di kolon, rektum, atau anus .
5. Sel Epitel
Beberapa sel epitel dari dinding usus distal dapat ditemukan normal. Jumlah yang meningkat menandakan peradangan dinding usus .
6. Kristal
Jenis kristal yang mungkin ditemukan:
- Kristal Charcot-Leyden: Pada kelainan ulseratif usus
- Kristal tripelfosfat dan kalsium oksalat: Dapat ditemukan normal
- Kristal hematoidin: Pada perdarahan usus
7. Makrofag
Sel berinti satu dengan kemampuan fagositosis, dalam plasmanya sering terlihat sel-sel lain (leukosit, eritrosit) .
8. Sisa Makanan
Sisa pati (amylum) yang tidak sempurna dicerna terlihat sebagai butir-butir biru atau merah dengan larutan Lugol. Lemak netral terlihat sebagai tetes merah atau jingga dengan Sudan III/IV .
Sistem Pelaporan Hasil
Karena unsur-unsur patologik tidak merata dalam feses, hasil pemeriksaan mikroskopis dilaporkan secara semikuantitatif :
| Simbol | Arti |
|---|---|
| - | Negatif (tidak ditemukan) |
| + | Ada / sedikit |
| ++ | Banyak |
| +++ | Banyak sekali |
Untuk eritrosit dan leukosit, dilaporkan sebagai jumlah rata-rata per lapang pandang (LPK atau LPB) .
Kontrol Kualitas dan Kesalahan Umum
Kesalahan yang sering terjadi dalam praktikum pemeriksaan feses :
| Kesalahan | Solusi |
|---|---|
| Sediaan tidak homogen | Aduk sampel hingga merata |
| Sediaan terlalu tebal | Gunakan sedikit sampel |
| Banyak gelembung udara | Tutup dengan hati-hati, tekan pelan |
| Sediaan berlepotan | Bersihkan tepi kaca penutup |
Kesimpulan
Laporan praktikum pemeriksaan feses secara makroskopis dan mikroskopis merupakan kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh setiap analis laboratorium medis. Pemeriksaan makroskopis memberikan informasi awal tentang warna, konsistensi, bau, lendir, darah, dan adanya parasit, yang menjadi petunjuk awal kondisi saluran pencernaan pasien. Pemeriksaan mikroskopis melengkapi dengan mendeteksi telur cacing, protozoa, sel darah, kristal, dan unsur patologis lainnya yang tidak terlihat secara kasat mata. Kombinasi kedua metode ini sangat penting untuk diagnosis infeksi parasit usus dan berbagai gangguan gastrointestinal .
Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592.
Post a Comment