Hitung Jenis Leukosit: Panduan Lengkap Pemeriksaan Differential Leukocyte Count dan Interpretasi Hasil

Table of Contents

 

Hitung Jenis Leukosit: Panduan Lengkap Pemeriksaan Differential Leukocyte Count dan Interpretasi Hasil

INFOLABMED.COM - Pemeriksaan hitung jenis leukosit atau Differential Leukocyte Count (DLC) merupakan bagian penting dalam pemeriksaan hematologi yang bertujuan untuk mengetahui persentase masing-masing jenis sel darah putih di dalam darah tepi. 

Pemeriksaan ini tidak hanya menunjukkan jumlah total leukosit, tetapi juga memberikan gambaran mengenai respons sistem imun terhadap infeksi, inflamasi, alergi, hingga kelainan hematologi.

Bagi Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM), kemampuan melakukan dan menginterpretasikan hitung jenis leukosit merupakan kompetensi dasar yang sangat penting. 

Hasil pemeriksaan ini sering digunakan sebagai dasar diagnosis, pemantauan perjalanan penyakit, serta evaluasi efektivitas terapi.

Apa Itu Hitung Jenis Leukosit?

Hitung jenis leukosit adalah pemeriksaan untuk menentukan proporsi masing-masing jenis leukosit dalam sediaan apus darah tepi yang telah diwarnai menggunakan pewarna hematologi, seperti Wright, Giemsa, atau Wright-Giemsa.

Pemeriksaan dilakukan dengan menghitung 100 leukosit secara sistematis di bawah mikroskop, kemudian mengelompokkannya berdasarkan jenis sel.

Jenis leukosit yang dihitung meliputi:

  • Neutrofil segmen

  • Neutrofil batang (bila ditemukan)

  • Limfosit

  • Monosit

  • Eosinofil

  • Basofil

Tujuan Pemeriksaan

Pemeriksaan hitung jenis leukosit bertujuan untuk:

  • Menilai distribusi jenis leukosit.

  • Membantu diagnosis infeksi bakteri, virus, jamur, maupun parasit.

  • Mendeteksi reaksi alergi.

  • Mengevaluasi penyakit autoimun.

  • Membantu diagnosis leukemia dan kelainan hematologi lainnya.

  • Memantau respons terapi.

  • Mengidentifikasi adanya pergeseran maturasi leukosit (shift to the left/right).

Prinsip Pemeriksaan

Prinsip pemeriksaan adalah melakukan identifikasi morfologi leukosit pada sediaan apus darah tepi yang telah diwarnai. 

Setiap jenis leukosit dikenali berdasarkan ukuran sel, bentuk inti, warna sitoplasma, serta karakteristik granula.

Jumlah masing-masing jenis leukosit kemudian dinyatakan dalam bentuk persentase dari total 100 sel yang dihitung.

Alat dan Bahan

Alat

  • Mikroskop cahaya.

  • Object glass.

  • Immersion oil.

  • Counter cell (manual counter) atau aplikasi penghitung digital.

Bahan

  • Darah vena EDTA atau darah kapiler.

  • Pewarna Wright, Giemsa, atau Wright-Giemsa.

  • Buffer sesuai prosedur.

  • Akuades.

Prosedur Pemeriksaan

Secara umum, tahapan pemeriksaan meliputi:

  1. Membuat apus darah tepi yang tipis dan merata.

  2. Mengeringkan preparat di udara.

  3. Melakukan fiksasi dan pewarnaan sesuai metode yang digunakan.

  4. Mengamati preparat menggunakan objektif imersi (100×).

  5. Memilih area monolayer, yaitu daerah tempat eritrosit tersebar merata tanpa saling bertumpuk.

  6. Menghitung minimal 100 leukosit secara sistematis menggunakan pola zig-zag atau battlement.

  7. Mengelompokkan leukosit berdasarkan jenisnya.

  8. Menghitung persentase masing-masing jenis leukosit.

Nilai Normal Hitung Jenis Leukosit

Berikut kisaran nilai rujukan yang umum digunakan pada orang dewasa.

Jenis LeukositNilai Normal
Neutrofil Segmen40–70%
Neutrofil Batang0–5%
Limfosit20–45%
Monosit2–8%
Eosinofil1–6%
Basofil0–1%

Nilai rujukan dapat berbeda tergantung usia, kondisi klinis, dan kebijakan laboratorium.

Fungsi Setiap Jenis Leukosit

1. Neutrofil

Neutrofil merupakan leukosit terbanyak dalam sirkulasi darah dan menjadi garis pertahanan pertama terhadap infeksi bakteri.

Fungsi utama:

  • Fagositosis bakteri.

  • Menghancurkan mikroorganisme.

  • Merespons inflamasi akut.

Neutrofil meningkat (Neutrofilia)

Dapat ditemukan pada:

  • Infeksi bakteri.

  • Inflamasi akut.

  • Trauma.

  • Luka bakar.

  • Penggunaan kortikosteroid.

Neutrofil menurun (Neutropenia)

Dapat terjadi pada:

  • Infeksi virus.

  • Kemoterapi.

  • Gangguan sumsum tulang.

  • Penyakit autoimun.

2. Limfosit

Limfosit berperan dalam sistem imun adaptif.

Fungsi:

  • Produksi antibodi oleh limfosit B.

  • Imunitas seluler oleh limfosit T.

  • Aktivitas sel Natural Killer (NK).

Limfositosis

Sering ditemukan pada:

  • Infeksi virus.

  • Tuberkulosis.

  • Leukemia limfositik kronis.

Limfopenia

Dapat terjadi pada:

  • HIV/AIDS.

  • Penggunaan steroid.

  • Imunodefisiensi.

  • Stres berat.

3. Monosit

Monosit akan berkembang menjadi makrofag di jaringan.

Fungsinya meliputi:

  • Fagositosis.

  • Membersihkan jaringan yang rusak.

  • Presentasi antigen.

  • Regulasi inflamasi.

Monositosis dapat ditemukan pada infeksi kronis, penyakit granulomatosa, serta fase pemulihan infeksi.

4. Eosinofil

Eosinofil berperan dalam respons terhadap infeksi parasit dan reaksi alergi.

Peningkatan eosinofil sering ditemukan pada:

  • Infeksi cacing.

  • Asma.

  • Rinitis alergi.

  • Dermatitis atopik.

  • Reaksi hipersensitivitas obat.

5. Basofil

Basofil merupakan leukosit dengan jumlah paling sedikit.

Fungsinya antara lain:

  • Melepaskan histamin.

  • Menghasilkan heparin.

  • Berperan dalam reaksi alergi.

Basofilia dapat ditemukan pada beberapa penyakit mieloproliferatif maupun reaksi alergi tertentu.

Pergeseran Hitung Jenis Leukosit

Shift to the Left

Ditandai dengan meningkatnya neutrofil muda, terutama neutrofil batang, metamyelosit, atau mielosit.

Umumnya terjadi pada:

  • Infeksi bakteri berat.

  • Sepsis.

  • Inflamasi akut.

Shift to the Right

Ditandai dengan dominasi neutrofil hipersegmentasi.

Sering dijumpai pada:

  • Anemia megaloblastik.

  • Defisiensi vitamin B12.

  • Defisiensi asam folat.

Faktor yang Memengaruhi Hasil

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi hasil pemeriksaan antara lain:

  • Kualitas apus darah.

  • Pewarnaan yang kurang optimal.

  • Area pembacaan yang tidak tepat.

  • Kesalahan identifikasi morfologi sel.

  • Jumlah leukosit yang terlalu sedikit untuk dihitung.

  • Keterampilan operator.

Oleh karena itu, pemeriksaan harus dilakukan oleh tenaga laboratorium yang kompeten dan mengikuti prosedur operasional standar (SOP).

Peran Hitung Jenis Leukosit dalam Diagnosis

Pemeriksaan ini sangat membantu dalam berbagai kondisi klinis, seperti:

  • Infeksi bakteri.

  • Infeksi virus.

  • Infeksi parasit.

  • Penyakit alergi.

  • Leukemia akut dan kronis.

  • Gangguan mieloproliferatif.

  • Penyakit autoimun.

  • Pemantauan kemoterapi.

  • Evaluasi gangguan imun.

Hasil hitung jenis leukosit sebaiknya diinterpretasikan bersama jumlah leukosit total, morfologi sel pada apus darah tepi, serta kondisi klinis pasien.

Peran ATLM dalam Menjamin Akurasi Hasil

Ahli Teknologi Laboratorium Medik memiliki tanggung jawab penting dalam memastikan kualitas sediaan apus darah, melakukan pewarnaan sesuai prosedur, mengenali morfologi setiap jenis leukosit secara tepat, serta mendokumentasikan hasil pemeriksaan dengan benar. 

Selain itu, ATLM juga berperan dalam melakukan verifikasi hasil analyzer otomatis apabila ditemukan flag, jumlah leukosit yang abnormal, atau adanya dugaan sel atipikal yang memerlukan pemeriksaan mikroskopis lanjutan.

Pemeriksaan hitung jenis leukosit merupakan bagian penting dari evaluasi hematologi yang memberikan informasi mengenai distribusi dan fungsi masing-masing jenis sel darah putih. 

Dengan memahami prinsip pemeriksaan, teknik identifikasi morfologi, nilai normal, serta interpretasi hasil, tenaga laboratorium dapat membantu klinisi dalam menegakkan diagnosis dan memantau berbagai penyakit secara lebih akurat. 

Walaupun hematology analyzer telah banyak digunakan, pemeriksaan mikroskopis tetap menjadi standar penting untuk konfirmasi dan evaluasi morfologi leukosit.

Fitri Aisyah
Fitri Aisyah Selamat datang di my blog! Blog ini membahas dunia laboratorium medik dengan cara yang mudah dipahami. Dari teknik pemeriksaan, interpretasi hasil laboratorium, hingga tips seputar kesehatan, semuanya dikemas simpel, jelas, dan berbasis bukti ilmiah. Yuk, eksplorasi ilmu laboratorium bersama! 🔬🚀

Post a Comment