Hemolysis vs Lipemia vs Icterus: Mengenal 3 Interferensi Utama yang Mengancam Akurasi Hasil Laboratorium

Table of Contents

Hemolysis vs Lipemia vs Icterus: Mengenal 3 Interferensi Utama yang Mengancam Akurasi Hasil Laboratorium


INFOLABMED.COM - Hemolisis, lipemia, dan ikterus—disingkat HIL—adalah tiga interferensi preanalitik yang paling sering ditemui di laboratorium klinik. Ketiganya dapat menyebabkan hasil yang tidak akurat, baik meningkat palsu (positif palsu) maupun menurun palsu (negatif palsu), sehingga berpotensi menyesatkan diagnosis dan terapi pasien.

Hemolysis (Hemolisis) — Si Paling Sering Muncul

Hemolisis mengacu pada pecahnya sel darah merah (eritrosit) dan keluarnya isi sel (hemoglobin, enzim, kalium) ke dalam plasma atau serum. Hemolisis adalah interferensi paling umum dalam biokimia, dengan insiden 30% atau lebih pada populasi berisiko tinggi seperti neonatus dan pasien UGD. Hemolisis terjadi akibat teknik venipuncture yang buruk (jarum kecil, tourniquet terlalu lama), penanganan sampel yang tertunda, atau pengocokan tabung yang berlebihan.

Dampak pada Pemeriksaan:

ParameterEfek Hemolisis
Kalium, LDH, AST, Fosfat, Folat, MagnesiumMeningkat palsu (karena zat tersebut banyak di dalam sel)
Bilirubin, InsulinMenurun palsu (enzim intraseluler memecah analit)

Hemolisis juga dapat mengaktifkan kaskade koagulasi melalui pelepasan tissue factor dan fosfolipid, sehingga pemeriksaan koagulasi pada sampel hemolisis harus ditolak.

Lipemia — Si Keruh yang Mengganggu Cahaya

Lipemia adalah kekeruhan plasma akibat tingginya kadar trigliserida dan kilomikron (VLDL). Lipemia dapat terjadi setelah makan (postprandial) atau pada pasien dengan hipertrigliseridemia berat. Sampel lipemik tampak keruh seperti "susu". Interferensi lipemia terutama disebabkan oleh hamburan cahaya (light scattering) yang mengganggu pembacaan fotometrik, terutama pada panjang gelombang rendah (<500 nm).

Dampak pada Pemeriksaan:

ParameterEfek Lipemia
AST, ALTEfek bervariasi
Magnesium, LipaseMeningkat palsu
IronMenurun palsu
HematologiPengenceran palsu karena lipid menggantikan volume plasma

Lipemia dapat diatasi dengan ultracentrifugasi (memisahkan lipid dari plasma), pengenceran sampel, atau lipid-clearing agent seperti LipoClear.

Icterus (Ikterus) — Si Kuning yang Mengganggu Spektrum

Icterus (ikterus) merujuk pada warna kuning plasma akibat kadar bilirubin tinggi. Interferensi ikterus terutama disebabkan oleh tumpang tindih spektral (spectral overlap) karena bilirubin menyerap cahaya pada panjang gelombang 400-540 nm—sama dengan banyak reaksi fotometrik dalam pemeriksaan kimia klinik.

Berbeda dengan hemolisis dan lipemia, pengambilan ulang sampel tidak akan membersihkan ikterus karena bilirubin adalah kondisi klinis pasien (bukan artefak teknis).

Dampak pada Pemeriksaan:

ParameterEfek Ikterus
Kolesterol total, HDLMenurun palsu
GGT, Laktat, LipaseMenurun palsu

Perbandingan Cepat: HIL

KarakteristikHemolysisLipemiaIcterus
PenyebabPecahnya sel darah merah (teknik venipuncture buruk)Trigliserida tinggi (postprandial, hiperlipidemia)Bilirubin tinggi (penyakit hati, obstruksi bilier)
PenampakanPlasma merah muda/merahPlasma keruh seperti susuPlasma kuning
Mekanisme InterferensiPelepasan isi sel + absorpsi hemoglobinHamburan cahaya (light scattering)Tumpang tindih spektral
SolusiPerbaiki teknik venipuncture, inversi lembutUltracentrifugasi, pengenceran, LCATidak bisa dihilangkan (kondisi pasien)

Cross-Interference HIL: Saat Ketiganya Saling Mengganggu

Interferensi antar ketiganya dapat terjadi: hemolisis level tinggi (>2.5 g/L) dapat menyebabkan peningkatan palsu pada indeks lipemia (20-150%) dan penurunan palsu pada indeks ikterus (10-60%). Sebaliknya, lipemia dapat meningkatkan indeks ikterus palsu hingga 150%.

Kesimpulan

Hemolysis, lipemia, dan icterus adalah tiga interferensi preanalitik yang paling sering ditemui di laboratorium. Hemolisis (pecahnya sel darah merah) paling sering terjadi dan dapat menyebabkan peningkatan palsu kalium, LDH, dan AST. Lipemia (plasma keruh) mengganggu fotometri melalui hamburan cahaya. Icterus (plasma kuning) mengganggu melalui tumpang tindih spektral.

Deteksi dini melalui HIL indices (indeks hemolisis, ikterus, lipemia) memungkinkan laboratorium untuk menilai kualitas sampel sebelum melaporkan hasil, sehingga mencegah keputusan klinis yang salah.

Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment