Eosinofilia Adalah: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Interpretasi Hasil Laboratorium

Table of Contents

 

Eosinofilia Adalah: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Interpretasi Hasil LaboratoriumEosinofilia Adalah: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Interpretasi Hasil Laboratorium


INFOLABMED.COM - Eosinofilia adalah kondisi ketika jumlah eosinofil, salah satu jenis sel darah putih (leukosit), meningkat melebihi nilai normal dalam sirkulasi darah. 

Peningkatan eosinofil sering dikaitkan dengan reaksi alergi, infeksi parasit, penyakit autoimun, hingga beberapa jenis keganasan hematologi. 

Oleh karena itu, temuan eosinofilia pada hasil pemeriksaan laboratorium tidak boleh diabaikan dan perlu diinterpretasikan bersama kondisi klinis pasien.

Dalam praktik laboratorium klinik, eosinofilia umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan Complete Blood Count (CBC) yang dilengkapi dengan hitung jenis leukosit (Differential Leukocyte Count/DLC) atau melalui evaluasi apus darah tepi.

Apa Itu Eosinofil?

Eosinofil merupakan salah satu jenis granulosit yang diproduksi di sumsum tulang dan berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh.

Secara morfologi, eosinofil memiliki karakteristik:

  • Diameter sekitar 12–17 µm.

  • Inti terdiri atas dua lobus (bilobus).

  • Sitoplasma mengandung granula besar berwarna jingga hingga merah bata setelah pewarnaan Wright atau Giemsa.

  • Mengandung berbagai protein sitotoksik yang berfungsi melawan parasit dan berperan dalam respons imun.

Eosinofil hanya menyumbang sebagian kecil dari total leukosit, tetapi memiliki fungsi yang sangat spesifik.

Fungsi Eosinofil

Eosinofil berperan dalam berbagai mekanisme pertahanan tubuh, di antaranya:

  • Melawan infeksi parasit, terutama cacing (helminth).

  • Berpartisipasi dalam reaksi alergi.

  • Mengatur respons inflamasi.

  • Membantu mengendalikan aktivitas sel mast dan basofil.

  • Berkontribusi pada proses penyembuhan jaringan.

  • Berinteraksi dengan sistem imun adaptif melalui pelepasan berbagai mediator inflamasi.

Nilai Normal Eosinofil

Nilai eosinofil dapat dilaporkan dalam bentuk persentase maupun jumlah absolut.

Nilai Persentase

  • 1–6% dari total leukosit.

Nilai Absolut

  • 50–500 sel/µL darah (dapat sedikit berbeda sesuai nilai rujukan laboratorium).

Interpretasi hasil sebaiknya mempertimbangkan jumlah absolut eosinofil, karena persentase dapat berubah akibat peningkatan atau penurunan jenis leukosit lainnya.

Apa yang Dimaksud dengan Eosinofilia?

Eosinofilia adalah peningkatan jumlah eosinofil di atas nilai rujukan normal.

Secara umum, eosinofilia dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Derajat Eosinofilia        Jumlah Absolut Eosinofil
Ringan500–1.500 sel/µL
Sedang1.500–5.000 sel/µL
Berat>5.000 sel/µL

Semakin tinggi jumlah eosinofil, semakin besar kemungkinan terdapat proses patologis yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Penyebab Eosinofilia

Berbagai kondisi dapat menyebabkan peningkatan jumlah eosinofil.

1. Penyakit Alergi

Merupakan penyebab eosinofilia yang paling sering ditemukan.

Contohnya:

  • Asma bronkial.

  • Rinitis alergi.

  • Dermatitis atopik.

  • Urtikaria.

  • Alergi makanan.

2. Infeksi Parasit

Infeksi cacing jaringan sering menyebabkan eosinofilia yang cukup tinggi.

Misalnya:

  • Askariasis.

  • Filariasis.

  • Strongiloidiasis.

  • Schistosomiasis.

  • Toksokariasis.

Tidak semua infeksi parasit menyebabkan eosinofilia. Misalnya, infeksi protozoa seperti malaria umumnya tidak disertai peningkatan eosinofil yang bermakna.

3. Reaksi Obat

Beberapa obat dapat memicu eosinofilia akibat reaksi hipersensitivitas, seperti:

  • Antibiotik tertentu.

  • Antikonvulsan.

  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS).

  • Allopurinol.

4. Penyakit Autoimun

Eosinofilia juga dapat ditemukan pada:

  • Eosinophilic granulomatosis with polyangiitis (EGPA).

  • Lupus eritematosus sistemik (SLE) pada kondisi tertentu.

  • Beberapa bentuk vaskulitis.

5. Penyakit Hematologi

Beberapa keganasan darah dapat menyebabkan eosinofilia, antara lain:

  • Leukemia eosinofilik.

  • Leukemia mieloid kronis.

  • Limfoma Hodgkin.

  • Sindrom hipereosinofilik.

6. Penyakit Lain

Eosinofilia juga dapat ditemukan pada:

  • Penyakit inflamasi usus tertentu.

  • Penyakit paru eosinofilik.

  • Insufisiensi adrenal.

  • Penyakit jaringan ikat tertentu.

Gejala Eosinofilia

Eosinofilia sendiri sering kali tidak menimbulkan gejala khusus. Keluhan yang muncul umumnya berasal dari penyakit yang mendasarinya.

Beberapa gejala yang dapat ditemukan antara lain:

  • Gatal atau ruam kulit.

  • Sesak napas dan mengi.

  • Batuk kronis.

  • Nyeri perut.

  • Diare.

  • Demam.

  • Penurunan berat badan.

  • Pembengkakan kelenjar getah bening.

Pada eosinofilia berat atau berkepanjangan, infiltrasi eosinofil ke organ dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, paru, kulit, maupun saluran cerna.

Pemeriksaan Laboratorium

Evaluasi eosinofilia tidak hanya bergantung pada satu jenis pemeriksaan.

Beberapa pemeriksaan yang sering dilakukan meliputi:

Complete Blood Count (CBC)

Digunakan untuk mengetahui jumlah leukosit total dan persentase eosinofil.

Hitung Jenis Leukosit

Memberikan informasi mengenai distribusi seluruh jenis leukosit.

Apus Darah Tepi

Bermanfaat untuk:

  • Menilai morfologi eosinofil.

  • Mengidentifikasi sel abnormal.

  • Membantu mengevaluasi dugaan keganasan hematologi.

Pemeriksaan Penunjang

Bergantung pada dugaan penyebab, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan tambahan, seperti:

  • Pemeriksaan feses untuk parasit.

  • Pemeriksaan IgE.

  • Tes alergi.

  • Pemeriksaan autoantibodi.

  • Pemeriksaan molekuler atau biopsi sumsum tulang pada kasus tertentu.

Interpretasi Hasil Laboratorium

Interpretasi eosinofilia harus mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain:

  • Jumlah absolut eosinofil.

  • Riwayat alergi.

  • Riwayat perjalanan ke daerah endemis parasit.

  • Penggunaan obat.

  • Penyakit kronis yang dimiliki pasien.

  • Hasil pemeriksaan laboratorium lainnya.

Peningkatan eosinofil tidak selalu menunjukkan penyakit yang sama, sehingga interpretasi harus dilakukan secara menyeluruh.

Peran ATLM dalam Identifikasi Eosinofilia

Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) memiliki peran penting dalam memastikan hasil pemeriksaan eosinofil akurat. 

Tugas tersebut meliputi verifikasi kualitas spesimen, pengoperasian hematology analyzer sesuai prosedur, evaluasi flag yang muncul pada instrumen, serta pemeriksaan apus darah tepi apabila ditemukan hasil yang tidak sesuai atau terdapat dugaan kelainan morfologi. 

Dokumentasi yang baik dan komunikasi dengan klinisi juga menjadi bagian penting dalam mendukung diagnosis yang tepat.

Kapan Eosinofilia Perlu Diwaspadai?

Eosinofilia memerlukan evaluasi lebih lanjut apabila:

  • Jumlah eosinofil meningkat secara menetap.

  • Nilai absolut melebihi 1.500 sel/µL.

  • Disertai gejala sistemik seperti demam, penurunan berat badan, atau pembesaran organ.

  • Ditemukan kelainan pada apus darah tepi.

  • Diduga berkaitan dengan penyakit hematologi atau kerusakan organ.

Pada kondisi tersebut, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk menentukan penyebab yang mendasarinya.

Eosinofilia adalah kondisi meningkatnya jumlah eosinofil dalam darah yang dapat disebabkan oleh berbagai keadaan, mulai dari alergi dan infeksi parasit hingga penyakit autoimun serta keganasan hematologi. 

Pemeriksaan laboratorium, terutama CBC, hitung jenis leukosit, dan evaluasi apus darah tepi, memiliki peran penting dalam mendeteksi eosinofilia. 

Namun, hasil pemeriksaan harus selalu diinterpretasikan bersama kondisi klinis pasien agar penyebab yang mendasari dapat diidentifikasi secara tepat dan penanganan yang sesuai dapat diberikan.


Fitri Aisyah
Fitri Aisyah Selamat datang di my blog! Blog ini membahas dunia laboratorium medik dengan cara yang mudah dipahami. Dari teknik pemeriksaan, interpretasi hasil laboratorium, hingga tips seputar kesehatan, semuanya dikemas simpel, jelas, dan berbasis bukti ilmiah. Yuk, eksplorasi ilmu laboratorium bersama! 🔬🚀

Post a Comment